The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Sepucuk surat untuk Reyna


__ADS_3

Reyna berjalan kearah ruang tamu. Namun langkahnya terhenti kala melihat sebuah frame yang menampakkan sosok familiar baginya.


Wanita dengan gaun berwarna hitam dan seorang gadis cantik di pangkuannya dan seorang anak lelaki kecil kira-kira berumur 5 tahun.


Bisa ditebak, itu adalah Almira bersama kedua anaknya, yaitu Reyhan dan Reyna. Mata Reyna berkaca-kaca, rasanya ingin sekali dia bersama kakaknya menemui Almira bersama.


"Mama..." Reyna menguatkan hatinya, dia mulai melangkahkan kakinya lagi tanpa mengembalikan frame itu yang berada digenggaman nya.


"Nenek...." ucapan Reyna menggantung kala Yasya telah duduk disofa ruang tamu.


Tampaknya mereka masih belum menyadari keberadaan Reyna. Reyna tersenyum senang kala melihat keakraban neneknya dengan Yasya, jika neneknya tau apakah dia akan setuju, bahkan dia sudah tidak sabar lagi untuk menceritakan perasaannya pada ibu kandungnya.


"Kamu belum beritahu Reyna?."


"Belum nek, saya takut kalau dia mengetahui kebenaran tentang ibu Almira dan dia menjadi syok pada akhirnya."


"Nak... kamu sangat baik, kamu telah menjaga cucu ku dengan baik, jika saja Almira masih hidup, pasti dia akan sangat senang."


Prannnnkkkkkk....


Sebuah frame terjatuh, meninggalkan bekas serpihan kaca diatas lantai. Memperlihatkan foto seorang ibu dengan kedua anaknya.


"Reyna!" Yasya segera bangkit melihat sorotan tajam dari gadis yang tengah menutup mulutnya itu.


Bahkan dia tidak sadar dengan keberadaan Reyna disana, Yasya menatap sendu gadis yang telah menjatuhkan dirinya, berlutut dengan kedua kakinya itu.


Membiarkan air matanya merembes memenuhi pipi mulusnya yang putih dan cantik.


Matanya memerah menahan amarah, emosi, sakit, kecewa, sedih, dan duka yang menohok hatinya.


"Hiks..." isak Reyna begitu pelan.


"Reyna... saya mohon, jangan begini" ucapan Yasya merengkuh tubuh gadis yang telah lemah itu dalam pelukannya. Reyna memejamkan matanya, menerima kenyataan yang begitu pahit untuknya. Air mata terus mengalir, tanpa terdengar isakan sedikitpun, tampaknya seharian menangis membuatnya lelah untuk bersuara.


"Reyna... maaf kan nenek tidak bisa menjaga ibumu" ucap wanita renta yang ikut menitikkan air mata.


Reyna masih diam membisu, tatapannya kosong. Perlahan dibalasnya pelukan hangat dari Yasya, membuat lelaki itu tercengang.


"Tidak apa-apa...." kata Reyna membuat Yasya melepaskan pelukannya untuk menatap manik mata Reyna yang terus meneteskan air mata. Gadis yang sangat tegar, dia kuat dan berani. Membuat Yasya menghentikan kesedihannya sesaat.


Reyna mencoba menghapus jejak air matanya yang beberapa waktu lalu menggenang di pipinya, membuat dirinya terpaksa tersenyum untuk menerima kenyataan.


Dia duduk bersebelahan dengan neneknya, dan Yasya yang berada dihadapannya.


"Kapan?" tanya Reyna dingin yang Yasya pun sudah tau apa maksud dari pertanyaannya.


"Sekitar satu tahun lalu. Reyna... waktu kamu mengalami penganiayaan....." lanjut Yasya menceritakan segala yang ia ketahui.


.


Flashback on.


kring... kring...


Ponsel Almira berdering, membuat dirinya yang tengah membawa Kumala kerumah sakit terpaksa harus mengabaikannya.


"Ibu... ibu harus bisa sembuh."


Seorang dokter dan beberapa suster segera berlari untuk menangani wanita paruh baya yang tengah masuk keruangan ICU.


Tangannya bergetar, keringat dingin membanjiri tubuhnya.


kring... kring....


"Pasti masalah perusahaan lagi, mereka sudah kuberi tahu bahwa ibuku sedang drop... lain kali akan aku pecat mereka" ucapan wanita itu sambil meraih ponsel yang ada di tas kecil miliknya.


"Hallo, dengan ibu Almira" ucapan seorang lelaki diseberang sana membuat Almira naik pitam.


"Dengar! apapun yang terjadi, tidak usah menghubungi ku lagi! Aku tidak perduli" kata Almira dengan kasar seraya mematikan ponselnya.


tut...


Almira menutup panggilan itu dengan sepihak, membuat dirinya kalut dalam kecemasan.


"Ibu... bagaimana keadaan ibu?" gumam wanita itu sambil mondar-mandir dan sesekali mengintip dibalik pintu yang terdapat kaca diatas engselnya, membuat Almira dengan jelas bisa melihat sang ibu yang tengah terbujur di bangsal dalam ruangan itu.


Setelah sepuluh menit berlalu, seorang dokter keluar dari ruangan ICU, membuat wanita itu bernafas lega.


"Dokter... bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Kumala dengan suaranya yang begitu khawatir.


"Tenang saja... ibu anda sudah siuman."


"Syukurlah... terimakasih banyak dok."


"Ini sudah kewajiban kami sebagai dokter, temui ibu anda karena beliau sudah mencari anda sejak dia siuman."


Almira mengangguk, dan tanpa basa-basi lagi, tubuhnya menerjang pintu yang menghubungkan ruangan ICU itu.


"Ibu.... bagaimana keadaan ibu? apa ada yang sakit?" pertanyaan panik dari Almira dengan memeluk tubuh renta yang tengah berbaring dihadapannya.


"Tidak apa-apa nak, ibu hanya keletihan saja, maafkan ibu, seharusnya kamu ada rapat sekarang."


"Hussssssttt... ibu jangan pikirkan hal lain, sekarang kesehatan ibu lebih penting, pekerjaan bisa ditunda kapan saja, tapi keselamatan ibu tidak."


"Terimakasih nak..." ujar Kumala yang kini mulai tersenyum.

__ADS_1


Suara pesan dari ponsel Almira sedari tadi berbunyi, namun ia sengaja tak menghiraukannya. Beberapa kali pesan masuk membuat telinga wanita itu memanas.


"Sebentar, aku lihat pesan dulu" diraihnya ponsel yang berada di tasnya.


Ada beberapa pesan masuk dari kantor dan beberapa dari rekan-rekan kerjanya, dan satu pesan misterius. Dibukanya dengan perlahan pesan itu, dibacanya dengan seksama.


Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca, jantungnya berdegup kencang, tenggorokannya terasa tercekat, membuat hatinya kian hancur. Almira meneteskan air mata tanpa bersuara, mencoba menyembunyikan masalah pada sang bunda.


"Ada apa nak? apa ada masalah?" tanya Kumala yang kini menatap Almira begitu cemas.


"Ti... tidak ada bu, ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Kalau kita membawa Reyna untuk hidup bersama kita bagaimana?" tanya Almira pada Kumala.


.


"Tentu saja ibu sangat senang, apa kamu mau menjemputnya sekarang?" Almira mengangguk, tatapannya masih sendu.


"Mas Rey telah meninggalkan dia, aku berencana untuk berkomunikasi dengan Reyna, tapi yang kulihat dia sekarang sudah berubah. Bu... sudah hampir 3 bulan aku meninggalkan dia, aku menyesal telah meninggalkan dia bu" tangis Almira pecah bersamaan dengan ingatannya dan juga kecemasannya pada Reyna yang kini entah bagaimana keadaannya.


"Nak... jemput lah Reyna, bawa cucu ku kemari, sudah cukup penderita untuknya, dia juga berhak bahagia."


"Iya bu.. ibu jaga diri baik-baik, aku akan segera kembali."


Wanita renta itu mengangguk pelan dan tersenyum setuju mendengar penuturan dari anaknya.


Jalanan yang semakin macet dan lalu lintas yang memadat, membuat Almira memarkirkan mobilnya disebuah parkiran mobil yang tak jauh dari rumah sakit tempat Reyna tengah dirawat.


"Reyna .. sabar nak, mama akan segera sampai... mama harap kamu baik-baik saja" ucap Almira setelah keluar dari mobil, dia berlari kearah rumah sakit yang berjarak sekitar dua ratus meter dari tempatnya berdiri.


Langkahnya terhenti saat ingin menyebrang jalanan yang padat.


Dengan gesit dia mampu menghindari kendaraan yang berlalu-lalang.


Saat ia hendak menyebrang lagi untuk sampai kerumah sakit itu, tiba-tiba saja sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Braakkkk....


"Aaaahhhhhh" Almira terlempar dengan keras, sampai tubuhnya terbaring lemah di jalanan yang beraspal. Tubuhnya terguling tiga meter dari tempatnya ditabrak.


Mobil yang menabraknya langsung pergi tanpa ada yang mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan tabrak lari itu.


Orang-orang berkerumunan, mengelilingi tubuh penuh darah yang merembes melalui kepalanya.


Pada waktu yang sama, seorang lelaki bertubuh tinggi tegap keluar dari rumah sakit dengan membawa bungkusan obat.


Dia mengernyitkan dahinya tatkala keramaian tak jauh dari pandangannya membuat dirinya penasaran.


"Ada seorang wanita kecelakaan..." ucap salah satu seseorang yang lewat didepannya, membuat dia bergegas untuk lari dan menghampiri lokasi itu. Dia tampak menyingkirkan beberapa orang untuk tak menghalangi jalannya.


"Maaf" segera dia berjongkok untuk melihat keadaan wanita yang telah terbaring itu.


Pria itu dengan segera menggendong wanita itu ditengah kerumunan dan segera berlari untuk menuju kembali kerumah sakit.


Ruang UGD


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya pria itu dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Sepertinya dia terluka cukup parah, kami akan segera melakukan CT-scan, pendarahan pada kepalanya tidak berhenti. Setelah pemeriksaan selesai jika ada hal serius pada otaknya maka kami akan segera melakukan operasi."


"Dokter... lakukan apapun yang bisa menyelamatkan dia, saya mohon."


"Kami akan melakukan yang terbaik, anda berdoa saja."


Pria itu mengangguk patuh dengan raut wajah yang penuh dengan kecemasan. Sedangkan dokter dan beberapa suster membawa pasien ke ruangan CT-scan.


Pria itu kemudian meraih tas berwarna putih yang penuh dengan noda darah bekas kecelakaan yang terjadi barusan.


Diraihnya dompet berwarna hitam legam itu, dan dilihatnya sebuah KTP. Dia duduk diruang tunggu dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran itu.


"Almira Syakieb?" gumamnya.


"Maaf... apakah anda menyelamatkan seorang wanita yang baru saja mengalami sebuah kecelakaan? " kata-kata dari seseorang yang asing baginya, membuat pria itu mendongak menatap wajah seorang polisi dihadapannya.


"Saya dari kepolisian... bisa ikuti saya sebagai saksi."


"Saya Iryasya... mohon maaf pak, untuk kejadian barusan saya tidak mengetahui, saya hanya keluar dari apotik rumah sakit dan melihat kerumunan, setelah mengetahui ada kecelakaan saya langsung membawa korban kemari, jika bapak ingin memanggil orang sebagai saksi, ada salah satu pedagang didepan TKP, saya rasa dia tau kejadian tersebut."


"Baiklah, terimakasih atas informasinya, kami akan segera menangkap pelakunya, dan tolong kabari keluarganya."


"Terimakasih pak" ujar Yasya dengan perasaannya yang masih diliputi kebimbangan.


"Bagaimana keadaannya dokter? apa ada yang serius?" tanya Yasya pada dokter yang telah keluar dari sebuah ruangan. Penampilan Yasya terlihat sangat kacau, kemeja kerja yang ia kenakan penuh dengan noda darah, ditambah dengan wajahnya yang ketakutan akan keadaan Almira.


"Dia kehilangan banyak sekali darah, selain itu tulang belakangnya juga patah, kepalanya terbentur sangat keras hingga menyebabkan luka dibagian kepala dalam."


"Apa dia sudah sadar?" tanyanya lagi memastikan.


"Dia sudah siuman, kalau mau menemuinya silahkan, dan saya harap kamu bisa segera menghubungi keluarganya secepatnya."


Yasya mengangguk, dia segera masuk untuk menemui Almira yang telah membuka matanya.


"Ibu... ibu Almira sudah sadar? bagaimana keadaan ibu saat ini?" tanya Yasya yang kini hanya dibalas senyuman kecil dari Almira.


"Nak? apa ka... mu yang telah membawa ku kemari?" tanya Almira terbata. Wanita itu masih tak bergerak dengan posisinya yang duduk dan gip yang membalut tubuhnya, serta selang oksigen yang menempel di hidungnya. Membuat hati Yasya iba akan keadaannya yang sekarang.


"Ibu... polisi pasti akan menemukan siapa pelakunya, ibu tenang saja, ibu pasti akan segera sembuh."

__ADS_1


"Kamu adalah orang yang sangat baik, bisa ambilkan kertas dan pulpen nak" pinta Almira dengan suara lemahnya.


"Untuk apa ?" tanya Yasya.


"Berikan saja" Yasya kemudian keluar dari ruangan untuk mencari secarik kertas dan pulpen.


Selang beberapa menit kemudian, ia datang dengan membawa pesanan wanita itu.


Dia mencoba menulis sesuatu, surat untuk sang putri yang sangat ia rindukan untuk beberapa bulan ini.


**Dear anakku Reyna Malik...


Sayang, ini mama mu nak, mama rindu sekali dengan mu.


Maaf.... mama meninggalkan mu sendiri selama ini. Tapi percayalah, alasan mama meninggalkan mu bukan karena mama membenci mu, tapi mama ingin papamu tau jika kamu memanglah anak kandungnya.


Tapi perkiraan mama salah nak, mama baru tau kalau kamu ditinggalkan oleh papamu dan Reyhan untuk melanjutkan hidup mereka di Singapura.


Sayang, jangan bersedih lagi.


Maafkan mama, mama benar-benar ibu yang tidak baik untuk Reyhan dan Reyna.


Mama ingin melihat anak-anak mama tumbuh dewasa, tapi mungkin inilah akhirnya. Tubuh mama penuh luka nak, mama sakit, baik lahir maupun batin sama-sama sakit nak.


Mama merasa dingin, sudah tidak kuat lagi. Mama merasa Tuhan lebih sayang mama, hingga mama merasa waktu mama sudah tidak kuat lagi.


Jika kamu membaca surat ini nak, ingatlah bahwa mama sangat mencintai kalian.


Reyhan, Reyna dan Papa.


Kalian adalah semangat hidup mama.


Sejak kalian lahir didunia ini, mama seperti tidak ingin punya apa-apa lagi, karena kalian malaikat kecil dihati mama dan papa.


Malaikat kecil yang selalu memeluk dan mencium kami berdua.


Kita sudah berbagi kasih sayang bersama dalam tahun-tahun yang membahagiakan, itu sudah cukup bagi mama.


Kamu mungkin pada akhirnya akan tau skandal yang dikatakan oleh papa mu.


Tapi, itu semua tidak benar nak, kamu adalah anak kandung dari keluarga Malik.


Sayang....


Hari ini mama baru tau jika kamu dirawat dirumah sakit karena dibully oleh teman-teman mu. Jujur hati mama sangat hancur mendengar hal itu, ditambah lagi pada waktu yang sama, nenekmu terbaring dirumah sakit.


Mama tidak berguna, tidak bisa menjaga Reyna dengan baik. Bahkan mama belum sempat menjengukmu, karena ditengah perjalanan, mama mengalami kecelakaan.


Reyna anakku... mama menulis surat ini karena mama yakin suatu hari kamu pasti akan mencari keberadaan mama.


Kita, ibu dan anak pasti punya ikatan batin yang kuat bukan?


Sayang ku... berikan pesan untuk abangmu, bahwa mama sangat mencintai nya.


Reyna...


Jangan khawatir lagi dengan mama.


Mama sudah merasakan banyak hal, bahagia, tangis, sedih dan duka, semuanya pernah mama rasakan.


Bukan Tuhan tidak adil nak, tapi ini adalah cobaan sebelum datangnya kebahagiaan.


Jangan pernah membenci mama mu ini nak. Jangan membenci papa dan abang mu.


Kami semua sangat menyayangi Reyna.


Mereka hanya tidak tau tentang kebenarannya.


Sayang ku... mama tidak ingin kamu bersedih lagi, tapi kamu harus kuat meski tidak ada mama.


Hari ini, bukan hanya hari dimana Tuhan menghancurkan hati mama dengan keadaan mu dan nenek, tapi Tuhan maha baik, Dia ingin mama istirahat untuk waktu yang lama.


Mama sudah merasakannya sayang, waktu mama tidak banyak lagi.


Andai mama bisa menemui mu dan Reyhan.


Mama ingin memeluk dan mencium kalian untuk yang terakhir kalinya sebelum mama tiada. Mama sangat sayang kalian nak.


Mama juga sangat mencintai papa.


Harapan mama hanya ingin kalian bahagia seperti kenangan kita yang pernah ada sebelumnya.


Selamat tinggal nak.


Tolong jagalah mereka untuk mama. Permata hati mama, keluarga kecil yang sangat bahagia, kini sudah cukup untuk mama hidup.


Mama sangat mencintai kalian semua**...


Flashback off


.



__ADS_1


__ADS_2