The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Rona dipipinya


__ADS_3

Seorang gadis cantik tengah membaca sebuah buku pelajaran ditempat tidurnya. Dirinya meregangkan tubuhnya di ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan membuat dia terkadang tak nyaman bahkan bosan akan kegiatannya saat ini.


Terlihat lebam diwajahnya yang telah sedikit berkurang, serta baju khas rumah sakit membuat dirinya kini menjadi pasien resmi. senyumnya sangat indah dan menawan, bak malaikat penyejuk bagi dunia yang tak adil baginya.


"Pak Yasya..." Rengek Reyna dengan manja. Gadis itu menatap pria dihadapannya yang sedang memainkan laptop untuk menggarap beberapa tugas mata kuliahnya.


"Ada apa?" tanya Yasya yang masih fokus dengan laptop dihadapannya. Pria yang tengah memakai jaket kulit serta kaos putih didalamnya, membuat siapapun takluk akan ketampanannya.


"Bosan... saya ingin ice cream."


"Reyna... saya sedang sibuk, kamu tahan dulu keinginan kamu."


"Oke" jawab Reyna dengan wajah lesu.


drttt drttt...


Suara getar di ponsel Reyna membangunkan lamunannya yang tengah dilanda kebosanan.


Cepat-cepat dirinya meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan.


"Ha...."


"REYNA! LO KEMANA AJA SIH WOY... ujian malah kabur, alasan sakit lagi, cih... gak mutu alasan lo."


Reyna belum sempat mengatakan 'halo' pada sahabatnya, namun dirinya harus menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Kanaya yang begitu lantang menggema di indra pendengarannya itu.


"Woy... diem lo! mau gue sumpel mulut lo pake taik kucing, maen tereak tereak aja, kaya orang gila, lo kira gendang telinga gue buatan china yang ada garansinya gitu."


"Salah woy... yang ada garansinya itu Kanada" kata Kanaya meralat kata-kata dari Reyna.

__ADS_1


"Mau Kanada kek, mau Afrika atau negara bangsa pluto bagian barat yang penting kalo gue sampek budek... tanggungjawab lo, buat donorin rumah siput gue."


"Iyeee maap... lagian sih elo ngeselin."


Reyna sempat melirik kearah Yasya yang tengah terkekeh mendengar pembicaraannya di telfon. Hal itu membuat Reyna sedikit canggung. Gadis itu bahkan tak sadar akan keberadaan Yasya, ternyata pria itu memperhatikan Reyna sedari telfon dengan sahabatnya.


'Aduhhh keceplosan, pak Yasya jadi tau deh gimana gilanya aku kalo lagi ngobrol sama si udik... aduhhh dasar Naya... nggak bisa apa buat aku emosi melulu.'


"Hallo... Rey... woy... kenapa lo diem?."


"Gu... gue... emang beneran sakit kok, gue emang ada dirumah sakit... tapi lo jangan bilang apa-apa ya ke Hengky" kata Reyna dengan nada berbisik.


"Kenapa?" tanya Kanaya penasaran.


"Udah, pokoknya jangan bilang ke dia, bilang aja gue, kemana kek gitu."


"Iya gue pasti bisa jaga rahasia... tapi kasih tau gue... lo kenapa bisa masuk rumah sakit sih? perasaan kemaren lo biasa-biasa aja deh."


"Yaudah... mau gimana pun lo ngeselinnya kaya apa, gue masih berhati dewi... jadi lo bilang, di rumah sakit mana lo dirawat?" tanya gadis disebrang sana penasaran.


"Alahhhh dasar si udik tukang gengsi... bilang aja lo peduli sama gue... gue semakin hari semakin nggak faham sama kepribadian lo, kadang kalo nggak ketemu meluk-meluk kaya homo... giliran sekarang malah sok nggak peduli" kata Reyna kesal.


"Bukan homo Reyna... kalo cewek makan cewek namanya lesbi" terang Kanaya menjelaskan.


"Repot amat sih ngomong sama lo... udah sama aja pake diributin" kata Reyna dengan nada kesal.


"Yaudah yaudah... jaga diri lo... gue mau masuk ke kelas dulu, bye bye... jangan lupa kirimin alamat rumah sakit jiwanya."


"WHAT!! NAYA!" belum sempat Reyna menyelesaikan kata-katanya, Naya dengan segera mengakhiri telfon. Hal itu membuat Reyna mengerucutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Yasya terkekeh melihat ekspresi kesal Reyna.


Ditatapnya wajah cantik gadis yang berada disebrang tempatnya duduk. Yasya menyunggingkan senyum dan segera mendekat ke arah Reyna.


'Benar-benar lucu sekali gadis ini saat wajahnya mulai kesal' batinnya sambil terkekeh.


"Kamu kesal kenapa? coba ceritakan ke saya" tanya Yasya dengan menyunggingkan senyumnya, yang membuat jantung gadis disebelahnya berdebar-debar.


Yasya menggeser tubuh Reyna, hingga dirinya bisa duduk tepat bersebelahan dengan gadis pujaannya.


"Saya nggak papa kok" balas Reyna sembari mengalihkan pandangannya kearah jendela yang berada tepat diatasnya.


Cup...


Tiba-tiba kecupan dibibir lembut dari pria disampingnya membuat Reyna terkejut.


Yasya menarik tubuhnya kembali, dia menatap Reyna yang tengah merona dan matanya membulat karena kecupannya barusan. Yasya menggeleng dan tersenyum simpul.


"Ehemmm jadi... bagaimana? masih kesal tidak" Reyna merasa malu, dia menggeleng dengan pelan, dia menunduk menyembunyikan wajahnya yang kian lama kian memanas karena merona.


"kamu tadi minta es krim kan, gimaba kalau kita keluar?" buru-buru gadis itu menoleh, dirinya menatap wajah Yasya dengan senyuman hangat.


Reyna dengan semangat mengiyakan kata-kata Yasya. Reyna turun dari ranjangnya dengan hati-hati, dia perlahan menginjakkan kakinya diatas lantai.


"Ah... sakit" gadis itu meringis menahan lututnya yang masih terasa begitu sakit.


"Hati-hati Reyna..." kata Yasya dengan nada khawatir dan langsung menggendong tubuh Reyna untuk meletakkan kembali ke ranjang yang baru saja ia tempati.


"Mana? mana yang sakit?" tanya Yasya dengan panik dan langsung menunduk untuk memeriksa kaki gadis di hadapannya.

__ADS_1


"Pak... sudah tidak apa-apa, ini hanya lutut saya yang sakit, nanti juga pasti nggak akan sakit lagi kok kalau sudah terbiasa berjalan."


"Baiklah... saya akan ambilkan kamu kursi roda."


__ADS_2