
Yasya menghela nafas berat lewat tenggorokannya yang tercekat, masih tidak terpikirkan olehnya jika saat-saat ini, ia harus menerima kenyataan pahit yang sebelumnya tidak pernah terfikirian.
Bahkan kedua orang tua mereka sangat berharap tentang pernikahan Yasya dengan Syahbilla, gadis yang tengah memeluknya erat saat ini.
'aku tidak bahagia dengan semua ini, aku hanya mencintai Reyna' ujarnya dalam hati sambil memberontak apa yang sudah direncanakan dengan matang.
Hanya dia Reyna dihatinya selama ini. Perasaan nyaman yang tidak pernah Yasya rasakan sebelumnya, seseorang yang selalu membuat ia rindu saat jauh darinya.
"A... aku mau ketemu mami dulu, aku mau minta penjelasan" kata Yasya yang kini masih tampak kebingungan.
Mendengar perkataan dari Yasya, gadis itu mendongak menatap kedua matanya yang tidak bisa dibohongi lagi sedang menyiratkan sebuah tanda tanya besar.
"Apa kamu nggak bahagia dengan pertunangan kita sya ? maaf, jika ini semua tiba-tiba, tapi orang tua kita telah merencanakan ini sejak lama. Mungkin tante ingin memberi kamu kejutan."
"Sabil, apa semua sudah disiapkan?" tanya Yasya yang kini masih mengerutkan keningnya.
"Tentu sudah... tante bilang kamu jarang pulang, makanya kesempatan itu dibuat kejutan untuk acara kita, apa kamu keberatan?" tanya gadis itu lagi membuat Yasya menelan salivanya dengan kasar.
"Aku... aku mau ketemu mami" Yasya beralih membayar bunga yang baru saja diterima oleh kekasihnya itu. Syahbilla tampak heran dengan sikapnya saat ini. Namun pria itu tak menghiraukannya, segera dia tarik lengannya untuk kembali ke kediaman keluarga Ferdiansyah.
***
Matahari menyisakan langit berwarna orange menghiasi langit ibukota yang perlahan menjadi gelap.
Membuat Reyna tergugah untuk kembali ke apartemen. Dirinya masih duduk, menunggu kedatangan dari Yasya yang telah berjanji untuk menjemputnya sore ini.
Meski wajah ceria selalu tampak diwajah cantiknya, tapi hatinya masih terluka oleh kematian Almira. Luka yang begitu dalam sampai dirinya tidak ingin mengingat itu lagi.
"Reyna" lamunannya terganggu dengan sosok tubuh atletis yang menemaninya seharian.
"Aku tau, kamu pasti sedih... hemmm jangan berpura-pura lagi dihadapan ku, kehilangan orang yang paling kita cintai itu sangat melukai hati kita loh."
"Lalu untuk apa kak, jika aku terus bersedih, apakah akan mengembalikan mama untuk hidup kembali?" tatapannya lembut, memandangi setiap jengkal wajah bule yang ada pada diri Zayn, membuat pria yang selalu terlihat ramah itu tersenyum membalas gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Aku masih tidak terima dengan perlakuan abang mu dan papamu, mereka sangat keterlaluan! mereka telah salah faham tentang kamu dan mama kamu, bahkan mereka tidak menyelidiki terlebih dahulu, dengan kejamnya mereka mengejudge kalau kamu anak haram, kalau aku sampai bertemu mereka" suara Zayn yang terdengar samar namun penuh dengan emosi.
Reyna menatap lembut wajah Zayn yang terlihat menahan amarah, memeluknya bagai seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya.
"Kak Zayn... jangan bilang seperti itu, walaupun begitu, mereka tetap keluarga ku, aku tau kakak marah, tapi kakak lihat kan, aku sudah tidak apa-apa" kata Reyna menenangkan.
"Tapi Rey....?" Reyna tersenyum sambil menggeleng menatap lekat mata pria blasteran itu.
"Kak... hari sudah semakin sore, aku mau pulang" ucap Reyna dengan melepaskan pelukannya dari tubuh kekar pria disampingnya. Membuat pria itu mengacak rambutnya secara perlahan.
"Oke... tapi tunggu Yasya menjemput kamu dulu."
Reyna merasa bimbang, fikirannya melayang mengingat Yasya yang belum tiba keberadaannya. Mungkin saja dia tengah sibuk dengan pekerjaannya atau memang ada urusan.
__ADS_1
"Kak... pak Yasya sudah mengirim pesan, katanya dia ada urusan di kantor, jadi tidak bisa menjemput ku."
"Mau kakak antar?" tawar Zayn membuat gadis itu menggeleng.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, kakak jangan khawatir, nanti kalau aku udah sampai apartemen aku kabari."
"Iya... kalau begitu, hati-hati ya" ucapnya dengan lembut bagai saudara yang begitu akrab sejak lama.
Reyna melangkahkan kakinya menuju jalanan yang terlihat lengang karena hari sudah mulai petang.
Membuat hari itu ditumbuhi rasa dingin yang menjalar keseluruh tubuhnya. Rasanya ia masih ingin bercerita banyak dengan Zayn, tapi ia sudah bilang pada Yasya untuk tidak pulang malam.
Entah apa yang dirasakannya hari ini, begitu berat beban yang harus Reyna terima, Tapi nalurinya terpaksa harus berpura-pura.
Ia sudah bersikeras untuk membujuk Zayn agar tidak termakan oleh amarahnya saat mendengar cerita darinya. Meskipun awalnya dia terkejut.
Ditambah lagi, hubungannya dengan Yasya.
Flashback on.
"Yasya begitu sangat mencintaimu Reyna."
"Apa kakak yakin?" tanya Reyna meyakinkan argumen Zayn.
"Iya... aku bisa melihat tatapannya saat dia melihat kamu."
"kak Zayn, aku juga sangat mencintai dia, aku ingin mengatakan ini tapi" kata-kata Reyna menggantung
"Kak... aku takut, perasaan ku bertepuk sebelah tangan."
"Reyna... jangan pernah takut, kamu percaya pada kakak mu ini kan? aku tidak berbohong, aku melihat matanya ketika melihat mu, dia pasti juga sangat mencintai mu. Aku percaya dia akan menjaga adikku dengan sangat baik."
flashback off
Fikiran Reyna melayang jauh, mengingat setiap kata yang Zayn katakan padanya.
Ia baru kehilangan sosok ibu yang selama ini ia cari, tapi apakah yang dikatakan olehnya memang benar.
Rasanya ada kupu-kupu berterbangan di perutnya ketika ia mengingat pria yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.
Setelah hidup Reyna dibuat hancur oleh takdir, Ia hanya berharap takdir juga tidak akan mengecewakannya kali ini. Dan menyisakan sedikit kebahagiaan tipis untuknya.
Cukup jauh Reyna berjalan sampai pada persimpangan ia menghentikan sebuah taksi yang melaju dari arah berlawanan.
"Taksi" teriaknya sambil melambaikan tangannya pada taksi yang lewat.
Mobil berwarna biru itu berhenti tepat didepan gadis itu. Membuatnya tersenyum kearah pak sopir yang juga menyapa Reyna dengan ramah.
__ADS_1
Ia hendak memasuki mobil itu, namun tampaknya kedua bola mata Falery melihat sosok yang tak asing di penglihatannya.
Reyna seperti melihat Yasya menaiki sebuah mobil dengan gadis yang berada disampingnya. Tapi anehnya itu bukan mobilnya.
"Non... kenapa melamun?" tanya pak supir membuat Reyna terperanjat dan mulai menghilangkan fikirannya yang tidak-tidak.
.
Reyna mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengingat kegiatan yang baru saja terjeda karena fikirannya pada pak Yasya.
Gadis segera masuk dalam taksi dan tersenyum kembali pada sopir itu.
Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul 21.30.
Reyna merebahkan tubuhnya diatas kasur yang besar dan empuk, membuat ia memeluk sebuah guling dan menatap langit-langit apartemen.
Matanya masih belum bisa terpejam, fikirannya menerawang, mengingat sosok pria yang mirip sekali dengan Yasya sore tadi. Terlebih lagi, sampai saat ini belum ada kabar dari dia sama sekali.
Apa itu memang benar dia? atau itu hanya ilusi semata dari penglihatan Reyna yang tiap hari selalu memikirkan sosoknya.
Dibandingkan dengan itu, Reyna selalu mengingat kedekatan mereka berdua. Setiap jengkal wajahnya yang lembut, tampan dan rupawan. Membuat gadis itu terasa berdebar. Ia mengingat pelukannya yang hangat ditubuh Reyna dan juga ciumannya yang begitu manis dibibir tipisnya.
Perilakunya yang sangat hangat dan mesra membuat Reyna candu untuk mengingatnya setiap waktu.
"Kenapa aku memikirkan hal ini, kenapa fikiran ku nakal sekali. Tapi, aku merindukannya" gumamnya pelan sembari tersenyum dengan rona merah diwajah cantiknya.
Meskipun hari ini ia menemui masalah yang dapat menghancurkan hatinya, tapi Reyna sangat bahagia ketika pria itu yang pertama kali menguatkannya, memberikan sebuah semangat untuknya.
***
Langit malam dipenuhi bintang dan bulan purnama diatas pesta yang meriah dibawahnya.
Beberapa diantara mereka ada yang mengobrol seputar pekerjaan dan bisnis masing-masing.
Tak diragukan lagi bahwa pesta pertunangan malam ini adalah yang paling megah diantara pebisnis-pebisnis lain.
"Mami...." seruan dari Yasya membuat Dian membalikkan tubuhnya untuk menatap putra satu-satunya itu.
Dengan kemeja putih dan blazer berwarna coklat membuat dirinya tampak gagah dan semakin tampan. Bahkan siapa saja akan terpana oleh kharismanya yang sangat rupawan.
"Ada apalagi? bukannya kamu harusnya senang, kenapa jadi khawatir gitu? Irya, hemmm mama tau, pasti kamu gugup kan? oke, kita akan keluar sama-sama, kita temui orang-orang diluar sana."
Tatapan pasrah dari Yasya membuat Dian bernafas lega.
Walaupun dihati Yasya dia menolak untuk melangsungkan pertunangan ini, namun apalah daya, semua tamu undangan telah hadir, dia tidak bisa menghancurkan harapan keluarga yang sangat berarti, bahkan dia tidak bisa menjelaskan betapa sulitnya posisi ini untuknya.
Pada akhirnya, Yasya hanya bisa berharap semua akan berakhir baik.
__ADS_1
Apakah dia harus membatalkan pertunangan ini suatu hari?, ditengah-tengah keberlangsungan hubungan yang terikat antara dua buah keluarga yang telah terjalin sejak lama.
Ataukah ia akan mengubur perasaannya pada gadis yang sangat ia cintai?. Entahlah, perasaannya semakin bimbang dan dipenuhi fikiran menyakitkan.