
Suster bersama rekan-rekannya tengah mendorong bangsal yang membawa Reynaldi untuk kembali keruang pemulihan setelah operasi. Membuat Zayn dan Hengky yang berada di sana segera menghentikan langkah beberapa suster untuk mengetahui perihal keadaan gadis didalam sana.
"Suster bagaimana keadaan Reyna sus?."
"Suster, Reyna baik-baik saja kan?."
Pertanyaan dari mereka membuat salah satu perawat berhenti untuk memberikan penjelasan singkat.
"Tolong kalian tenang dulu, pasien mengalami pendarahan yang cukup parah akibat kecelakaan yang menimpanya, kalian berdoa saja semoga keadaannya cepat stabil kembali."
Ucapan dari sang suster yang segera berlalu pergi membuat mereka merasa lemah begitu saja. Terutama sahabatnya Kanaya yang kini tak bisa menghentikan derai air matanya sedari tadi.
Peristiwa yang dialami Reyna seperti hujan disiang bolong tanpa mendung diatasnya. Tiba-tiba saja wajah ceria itu seperti hilang didunia ini. Bukan hanya kenangannya namun orang-orang yang menyayanginya seperti takut untuk membayangkan hal negatif tentang hidupnya.
"TIDAK BISA!! REYNAAA!!" teriakan dari Zayn membuat Ajeng meraih pundak putranya, memberikan kekuatan dan juga semangat padanya.
"Reyna, kamu pasti kuat Rey, aku yakin, kamu pasti bisa bertahan" kata Hengky sambil mengintip kondisi Reyna di balik pintu kaca didepannya.
Al berusaha semaksimal mungkin untuk dapat bisa menghentikan pendarahan yang dialami gadis cantik yang kini terbaring di bawahnya, tampak keringat membanjiri keningnya yang tengah serius menangani detak jantung Reyna yang kian melemah.
"Dokter, detak jantungnya kembali stabil".
Ucap salah satu suster membuat Al memperhatikan layar yang menunjukkan detak jantung Reyna yang telah berjalan normal, namun sedetik kemudian mengalami peningkatan yang drastis, detak jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari sebelumnya, membuat Al tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Cepat ambil kantong darah lagi" dokter Irfan memberikan dua buah kantong darah untuk terus ditransfusikan pada pasien itu.
"Dokter Al detak jantungnya melemah lagi."
tit...
tit..
"Kita tidak bisa melakukan ini dok, kemungkinannya sangat kecil untuk menyelamatkan dia, ditambah lagi tubuhnya yang banyak mengalami kerusakan".
"JANGAN BERKATA SEPERTI ITU!! Reyna saya akan menyelamatkan mu, apapun caranya" ucapan tegas dari Al membuat dokter muda itu tak gentar dan terus memberikan pertolongan untuk Reyna.
tiiiiiiiiiiiiiiiittttt....
Suara detak jantung Reyna yang berhenti membuat tangan penuh darah dari Al bergetar, segera diraihnya defiblilator untuk mengejutkan jantung gadis itu kembali.
"Reyna, cepat bangun!" teriak dokter muda itu yang kini seperti tidak ada gunanya.
deg....
deg ...
deg....
Tampak tubuh Reyna yang lemah kejang beberapa kali bersamaan dengan kejutan dari defibrilator yang ditempelkan pada dada gadis itu.
Namun usahanya beberapa kali tak membuahkan hasil, wajah Reyna semakin pucat menandakan bahwa dirinya sudah tidak bernyawa.
"REYNAAAAA! BANGUUUNNN!" teriakan dari Al membuat dokter Irfan dan beberapa suster mendengus. Penyesalan berat menimpa Alfian yang selama ini tidak pernah melakukan kesalahan pada operasinya.
Meskipun begitu Al sangat merasa bersalah, dia bahkan belum sempat menyampaikan permintaan maaf pada gadis yang telah terbujur kaku itu.
***
"Reyna" suara itu membangunkan Reyna, suaranya bagai lautan lepas menghanyutkan jiwanya.
"Siapa?" Reyna mencoba untuk bangkit, kini tubuhnya seperti kapas yang terbang, dengan pakaian putih dan rambut panjangnya yang tergerai indah.
"Aku dimana? apa ini mimpi?" Reyna menutup matanya, dan membukanya lagi. Terlihat sekelilingnya penuh dengan taman hijau indah dengan bunga-bunga bermekaran bagai musim semi.
Reyna sangat menyukai tempat ini, apalagi pepohonan yang rindang dengan buah-buahan diatasnya, membuatnya mengingat sesuatu.
"Sayang" suara lembut itu terdengar tepat ditelinganya, membuat gadis itu membalikkan tubuhnya dan dilihatnya sosok Almira yang tengah tersenyum kearahnya.
"Mama" Reyna segera berhamburan memeluk sang ibu yang kali ini membalas pelukan hangat darinya. Indah dan bahagia seperti itu yang Reyna rasakan. Ada suatu hal janggal, seperti samar-samar terngiang dihatinya, Reyna melupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Dirinya hanyut dalam suasana hangat yang diberikan oleh sang ibu.
"Mama kangen kamu Reyna" ucapan dari Almira membuat Reyna mendongak, ditatapnya sang ibu yang tersenyum cantik padanya.
"Reyna juga kangen mama" kata Reyna membuat Almira bernafas lega, diraihnya lengan Reyna.
"Nak, apa kamu ingin ikut bersama mama?" Reyna tersenyum lembut, membuat sang ibu memeluknya kembali.
"Aku akan ikut mama."
***
"Reyna hiks hiks, jangan tinggalin gue! huuuuhuhu, gue nggak mau lo pergi, gue belum minta maaf ke elo Rey" teriakan dari sahabatnya Kanaya membuat Hengky menarik gadis itu yang kini mengguncangkan tubuh Reyna yang terbujur kaku dengan wajahnya yang begitu pucat dan bibirnya yang membiru.
Hengky sendiri tidak bisa menahan kesedihannya, tangisnya pecah kala melihat gadis ceria yang selalu ia rindukan kini kurus kering akibat kehilangan banyak darah dalam tubuhnya.
"NAYA! LO HARUS TENANG, LO HARUS TERIMA KENYATAAN NAY, REYNA UDAH MENINGGAL!" teriakan dari Hengky membuat Kanaya tak bisa menahan emosinya yang saat ini terisak-isak dalam kesedihannya kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya.
"Reyna, hiks hiks, kenapa lo pergi Rey, gue memang sahabat yang gak guna, hiks tapi lo jangan ngerjain gue Rey, gue nggak suka bercanda."
Naya bersujud, dibawah bangsal dimana gadis itu menutup matanya.
"Naya.... kita sama-sama kehilangan... jangan tambah menyakiti dia dengan cara seperti ini" kata Zayn sambil menyentuh punggung gadis itu yang sedang menangis sesenggukan diatas lantai.
Ajeng memeluk tubuh gadis itu dengan air matanya sedari tadi, semua orang menangis atas kepergian Reyna. Termasuk Zayn yang awalnya selalu dirundung kecemasan dan kegelisahan kini tak bisa menyembunyikan perasaan sakit karena kehilangan sosok adik seperti Reyna.
***
__ADS_1
Yasya terbangun ditempat yang begitu sunyi, hanya bayangan putih dimana-mana.
Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan keberadaan dirinya, namun dia tak menemukan sesuatu apapun.
"Dimana aku? kenapa aku disini?" yasya mencoba mengingat kejadian yang ia alami, namun ingatannya seperti hilang begitu saja.
Yasya melihat cahaya putih tak jauh dari tempatnya berdiri.
Pria itu berlari, meraih cahaya itu yang kian membesar, dilihatnya sosok dua orang perempuan yang sangat ia kenal.
"REYNA!" teriakan Yasya membuat keduanya menghentikan langkah mereka dan segera berbalik untuk menatap Yasya.
"Pak Yasya...." gumaman dari gadis itu membuat Yasya tersenyum dan mencoba berlari untuk mengejar gadis itu.
Namun langkahnya seperti tak bisa mendekati gadis itu dan Almira, seperti ada penghalang dimana dirinya tak bisa menjangkau bayangan Reyna.
"Reyna.. kenapa semakin saya berlari semakin saya jauh dari mu?" pertanyaan dari Yasya membuat Reyna mengerutkan keningnya, gadis itu beralih menatap sang ibu dengan tatapan sayu miliknya.
"Ma?" Reyna meremas baju putih sang ibu, ia menatap Yasya dan Almira bergantian dengan tatapan bingung.
"Reyna?" Reyna menggeleng pelan seraya menundukkan kepalanya, tak berani menatap pria yang kini telah semakin jauh darinya.
"Sayang, apa kamu tidak ingin tinggal bersama ku?" pertanyaan dari Yasya membuat Reyna terdiam tanpa bersuara.
***
"REYNAAAAA!"
Setelah beberapa jam Yasya pingsan tak sadarkan diri, akhirnya pria bertubuh tinggi tegap itu bangun dengan mimpi buruk yang membangunkannya.
"Aw... ahh... kenapa aku ada disini?" Yasya baru menyadari jika kepalanya terluka, sedetik kemudian ia baru ingat kejadian yang dialami oleh Reyna. Debaran dihatinya tersakiti kembali oleh bayangan kecelakaan yang Reyna alami.
Yasya segera keluar dari ruangan itu, mencari keberadaan Reyna yang kini entah ada dimana.
"Reyna... kamu dimana sayang?" gumamnya sambil berlari, pria itu memandang Al yang saat itu berdiam dengan wajah muram didepan pintu sudut ruangan.
Yasya berlari menemui sahabatnya itu yang kini lemas tak berdaya, seperti memikul beban berat dipundaknya.
"Al... dimana Reyna? lo kok nggak bangunin gue sih pas pingsan? Reyna dimana Al? gue kangen nih sama calon istri gue."
Pertanyaan dari sahabatnya, membuat Alfian memandang lekat l wajah Yasya dengan senyuman nanar, membuat Yasya semakin tidak mengerti.
Al baru menyadari betapa Yasya sangat mencintai gadis itu, entah apa yang akan ia rasakan jika mengetahui kondisi Reyna yang saat ini telah berbaring tak bernyawa.
"Sya... lo harus sabar" ucapan lemah dari Alfian membuat Yasya semakin bingung dibuatnya. Al hanya menunjuk ruangan didepannya yang menunjukkan ruang operasi yang telah selesai dilakukan.
"Reyna ada didalam?" anggukan dari Al membuat Yasya segera memasuki ruangan itu tanpa basa-basi.
"REYNA" senyuman mengembang dan kata-kata Yasya seperti hilang entah kemana, tatkala melihat Zayn, Ajeng dan kedua sahabat Reyna tengah menangis disamping bangsal yang terbaring gadis cantik yang dicintainya itu.
Tampak wajahnya yang semula tersenyum kini menatap sedih orang-orang disekelilingnya, rasa sakit itu menjalar di seluruh tubuh Yasya.
Hatinya seperti dihantam batu besar. Air matanya tanpa sadar menetes.
"Apa yang terjadi?" pertanyaan dingin dari Yasya membuat Zayn mendekat kearah pria itu dan memeluknya dengan pelukan untuk menenangkan hatinya.
"Iryasya... Reyna sekarang telah berada ditempat yang indah... kamu harus sabar."
Yasya mendorong tubuh kekar Zayn yang kini tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Apa yang kalian lakukan? kenapa selang oksigen Reyna dilepas? dia bisa kehabisan nafas."
Kata Yasya sambil mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu.
"Reyna sayang, bangun... aku akan membantumu, akan aku pasang selang oksigen ini, agar kamu bisa bernafas lagi" kata Yasya sambil mengambil sebuah selang oksigen itu untuk menyalurkan kehidung Reyna. Meski Yasya tau keadaan Reyna yang sekarang, namun hatinya masih tidak bisa menerima kenyataan.
Bibirnya tersenyum, namun tangisannya pecah tanpa henti, membuat semua orang yang berada disana merasa iba dan ikut menangis.
"Yasya... Reyna sudah pergi, dia sudah meninggal" ucapan dari Zayn seperti tak digubris olehnya.
"zpak Yasya... hiks... Reyna tidak akan bangun lagi" ucap Kanaya dengan geram, membuat pria itu menatap tajam kearah gadis yang tengah berdiri disampingnya itu.
"OMONG KOSONG APA INI?! HAA?! bagaimana mungkin Reyna ku meninggalkan ku begitu saja! dia tidak sejahat itu, dia hanya tertidur... aku tau itu."
Teriakan Yasya membuat semua orang semakin menatap iba pada pria yang kini memegangi lengan Reyna dan mencium keningnya.
Yasya merasa sangat sakit, hatinya seperti ikut mati ketika dirinya tak bisa merasakan nafas maupun denyut jantung gadis yang sangat ia cintai itu.
Perasaan bersalah kembali menyelimuti dirinya, tatkala Yasya mengingat bagaimana kenangan yang telah mereka lalui bersama hadir begitu saja dalam fikirannya.
Yasya sangat merindukan senyuman itu yang kini tak bisa lagi ia lihat untuk selamanya.
"REYNAAAAAA!" Yasya tak bisa membohongi hatinya, rasanya itu semua hanyalah mimpi. Reyna tidak mungkin pergi, karena takdir mereka adalah bersama. Hanya itu yang ada difikiran Yasya.
"Pak Yasya tenang...." kata Hengky lalu menarik tubuh pria itu dibantu oleh Zayn yang kini beralih memeluk Yasya dengan sangat erat, mencoba menenangkan hatinya.
"Disini yang paling kehilangan sosok Reyna adalah Yasya, dia pasti sangat mencintai Reyna" gumaman pelan Ajeng membuatnya kembali menangis, Kanaya mencoba menenangkannya dengan mengusap lembut kedua pundak wanita setengah baya itu memberikan kenyamanan untuknya.
Zayn dan Hengky menarik tubuh pria itu keluar, mereka tak ingin Yasya semakin merasa bersalah dan tidak rela akan kepergian Reyna.
**
ceklek.....
Suara terbukanya pintu itu membuat seorang suster yang berada didalamnya menoleh dengan cepat.
Terlihat sosok Reyhan dan kedua wanita dibelakangnya, membuat sang suster menatap tanya pada mereka bertiga.
__ADS_1
"Papa? papa saya dimana sus?" tanya Reyhan pada sosok wanita suster itu.
"Siapa yang kamu maksud?" pertanyaan kembali dilontarkan oleh suster membuat Reyhan mengernyitkan keningnya. Begitu juga Cintya dan Keyla yang saat ini saling melirik tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Reynaldi Malik... " terang Reyhan membuat suster mengingat-ingat sesuatu.
"Oh maksud anda yang tinggal di ruangan ini sebelumnya... dia baru saja menjalani operasi mendadak, akibat kerusakan jantungnya yang cukup parah."
"Apa sus?! kenapa tidak ada yang memberi tau saya?!! lalu sekarang papa dimana?."
Reyhan semakin cemas dengan perkatan dari suster itu, bagaimana bisa suatu hal yang besar tidak diberitahukan dulu oleh pihak keluarga.
"Pasien sekarang sudah pulih beliau berada di ruang intensif untuk memulihkan kondisinya pasca operasi, operasinya berjalan dengan lancar... sayangnya pendonor meninggal dunia."
"APA?!" suster itu berjalan menjauh sambil membawa barang-barang alat kedokteran yang baru saja ia bersihkan.
Entah mengapa ada hal mengganjal di hatinya, seperti sesuatu yang tak biasa membuat perasaanya tak nyaman.
Cintya dan Keyla hanya saling melirik, diraihnya bahu pria itu membuat Reyhan terdiam.
"Reyhan... kita segera temui papa mu."
"Gante... apa tante tau siapa pendonor nya?" Cintya menggeleng, membuat Reyhan menatap wajah wanita itu dengan tatapan sayu.
"Sudahlah kak, yang paling penting papa sudah sembuh" ucapan dari Keyla membuat Reyhan mengangguk meski hatinya seperti tak nyaman. Wajahnya lesu tanpa hasrat bahagia yang tersirat dimatanya.
'Seharusnya aku bahagia papa bisa sembuh, setelah masa-masa kritisnya kemarin, tapi kenapa fikiran ku ada pada orang yang mendonorkan hatinya untuk papa... golongan darah ku memang tidak cocok dengan papa, lebih tepatnya golongan darah ku cocok dengan wanita yang paling aku benci itu... tapi siapa? golongan darah papa itu O negatif, sangat sulit untuk menemukan darah yang cocok.... aku harus mencari tahu latar belakang dia... walau bagaimanapun, papa berhutang nyawa pada keluarganya."
Batin Reyhan menenangkan hatinya, sampai dirinya tak sadar kini telah berada didepan ruangan Reynaldi.
Cintya membuka pintu kaca itu, memperlihatkan keadaan Reynaldi yang tampak bugar tak seperti keadaannya kemarin.
"Papa... akhirnya papa bisa sembuh juga."
Kata Reyhan mencoba tersenyum didepan sang ayah yang kini masih memejamkan matanya.
"Keyla... bisa bantu mama sebentar" ucapan dari Cintya membuat putrinya menoleh kearahnya dan mengikuti instruksi dari sang ibu untuk keluar dari ruangan itu.
***
"Key... siapa yang berani-beraninya menghancurkan rencana kita? kenapa tua bangka itu bisa mendapatkan donor dengan mudah?!" kata Cintya membuat Keyla heran. Pasalnya tidak ada yang memberitahukan akan ada pendonor bagi Reynaldi. Tapi tiba-tiba saja dia sudah selamat setelah keritis beberapa waktu lalu.
Kini rencana yang disusun secara matang oleh ibu dan anak itu akhirnya hancur, menyisakan sebuah tanda tanya besar untuk mereka.
"Ma... mana ku tahu, dokter juga tidak bilang apa-apa, lihat saja kak Reyhan, dia sendiri pun juga tidak mengetahuinya... mungkin saja, orang itu memang kebetulan kenal dengan papa, lalu orang itu meninggal duluan, makanya merelakan hatinya untuk papa."
"Analisis mu kurang masuk akal" kata Cintiya sembari memajukan langkahnya menatap kosong kearah lorong didepannya. Matanya tampak berfikir keras untuk mencari sesuatu tentang orang itu.
"Ma... itu dokter menuju kesini, kenapa kita tidak tanyakan dulu padanya."
Cintya mengangguk, menatap Al yang kini mendekati ruangan dibelakang Cintya dan Keyla.
"Dokter" panggil Cintya membuat Al tak menggubris dan menyuruh mereka untuk masuk kedalam ruangan.
"Kita masuk dulu... ada yang ingin saya bicarakan."
Ucapan dari Cintya terpotong oleh kata-kata Al yang dingin tanpa ekspresi dimatanya. Membuat Keyla sedikit kesal pada dokter muda itu.
ceklek....
Pintu itu terbuka, memperlihatkan Reyhan yang kini duduk didepan bangsal sang ayah yang tengah terbaring lemah.
Alfian segera meraih lengan Reynaldi dan mengecek denyut jantungnya yang kini berdetak dengan stabil.
"Dokter... bagaimana keadaan papa dok?"
"Dia baik-baik saja... sebelumnya, kami meminta maaf karena tidak meminta persetujuan dari anda untuk melakukan operasi ini, tapi mengingat waktunya yang tidak bisa menunda operasi ini, maka kami terpaksa harus menyelamatkan dia."
Ucap Alfian membuat Reyhan tersenyum lega.
"Seharusnya saya yang berterima kasih, bukan dokter yang meminta maaf."
Alfian tampak mengangguk meski matanya seperti merasakan kesedihan, mengingat keadaan Reyna yang sekarang.
"Oh ya... siapa pendonor itu?"
Alfian tampak tegang dengan raut wajah gelisah.
"Saya tidak bisa mengatakannya."
"Kenapa dok?" tanya pria itu sembari mengernyitkan dahinya.
"Karena dia tidak mau identitasnya diketahui."
Perkataan dari Alfian membuat Keyla dan Cintya menampakkan wajah kecewa.
"Dok bisa tolong katakan siapa dia, toh dia juga sudah meninggal... kita akan sangat berterimakasih pada nya dan akan selalu mengingat jasanya."
Tatapan mata tajam dari Alfian membuat Cintya membalas dengan tatapan sinis.
"Yang patut kita tanyakan bukan siapa yang membantu tuan Reynaldi... tapi siapa yang tega memberikan obat ini pada dia, hingga keadaannya sekarang hampir mati karena obat yang berdosis besar" kata Alfian sambil mengeluarkan obat disaku jas putih yang ia kenakan, tatapan matanya masih tajam membuat Cintya dan Keyla membelalakkan matanya.
Bahkan Reyhan sendiri tak mengerti apa yang dimaksud oleh dokter Al, bukankah itu adalah obat dari rumah sakit yang diberikan untuk ayahnya sendiri? tapi kenapa dosisnya begitu besar? apakah rumah sakit melakukan kesalahan?.
Pertanyaan itu muncul dibenak pria yang kini bangkit dari duduknya, memperhatikan tatapan Cintiya yang panik seperti tertangkap basah bagai pencuri, membuat Reyhan sendiri curiga pada calon ibu tirinya itu.
__ADS_1