
Reyna mengusap air matanya, mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yg ada didalam kamar miliknya.
Setelah selesai mandi, Reyna menghempaskan tubuhnya di kasur empuk yang selalu menemani tangis dan tawanya setiap hari.
drtt drtt...
Reyna menerima pesan dari seseorang, yaitu Hengky. Tak lama setelah itu rona diwajah cantiknya kembali bersinar dan memerah. Bisa ia pastikan karena tubuhnya mulai memanas dengan perasaan Reyna yang tak karuan.
Hengky: "Selamat malam tuan putri, bagaimana keadaan mu?."
Aku: "Baik kok Ky" balas Reyna sembari tersenyum lembut.
Hengky: "oh ya, ternyata si zombie sudah bebas dari kutukan ya hehehe."
Aku: "Hengkyyyyyyyy!!!!!."
Meski tingkahnya banyak membuat Reyna kesal, tapi lumayan, dengan candaannya Hengky mampu menghapus sedikit rasa sedih yang dirasakan olehnya.
Hengky: "Becanda kok Rey, hehe syukurlah kamu udah baik-baik aja. Oh ya, lain kali jangan sampe telat makan lagi ya."
Aku: "Makasih atas perhatiannya, dan makasih juga tadi kamu udah nolongin aku."
Hengky: "Sama-sama, aku cuma takut aja, klao virus kelaparan kamu nanti malah jadi nular, kan bahaya kalo kamu sampe gigit orang. Untung aku datang diwaktu yg tepat."
Aku: "Ihhhh ngeselin."
Hengky: "Maaf deh, besok aku antar jemput ya?."
'Haaa Hengky mau antar jemput aku lagi?
uuuuhhhh kok jadi seneng gini ya?' batin Reyna sambil tersenyum selebar-lebarnya. Tiba-tiba saja perasaannya semakin tak karuan, jantungnya herpacu dengan cepat dan fikirkan gadis itu melayang entah kemana.
'Aahhh, kenapa dengan perasaan ku ini?. Kita udah lama nggak deket, dan kenapa aku masih merasa seperti yang dulu' lanjutnya dalam hati.
drtt drtt...
Hengky: "Tuan putri?"
Hengky: "sudah tidur ya?."
Mata Reyna membelalak kala pesan masuk dari Hengky membangunkannya lamunannya.
Aku: "Maaf, nggak ada signal"
'Aduhh alasan apa lagi ini, nggak masuk akal banget' batinnya sembari menepuk jidatnya.
Hengky: "Jadi gimana Rey, mau nggak aku jemput besok?."
Aku: "Kayanya nggak dulu deh Ky, ngerepotin nanti malahan."
Hengky: " Nggak perlu sungkan, kita kan temen."
Aku: "Nggak usah, lagian besok aku juga dianterin abang ku kok,"
Hengky: "emmm, abang kamu pulang,?"
Aku: "Udah, tadi sore."
Hengky: "Kenalin dong,"
Aku: "Boleh, tapi maaf ya, besok aku ga bisa bareng kamu."
Hengky: "Iya, lain kali gimana?"
Aku: "em, oke"
Hengky: "Ya udah, udah malam ini, kamu cepet tidur gih"
Aku: " iya."
Hengky: "Selamat malam tuan putri ;)"
Aku: "Malam juga Hengky"
Mereka mengakhiri mesengger. Dengan senyuman Reyna mengakhiri perasaannya yang berlari tiada henti.
Pagi hari yang cerah, gadis itu diantar oleh Reyhan. Ini pertama kalinya ia semobil lagi dengan kakaknya yang super jangkung itu, setelah setahun lalu mereka berpisah. Jujur gadis itu sangat merindukan Reyhan, tapi hatinya ragu dan bibirnya seolah tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Di dalam mobil hanya keheningan tanpa obrolan sepatah kata pun dari kakak beradik itu. Reyna sudah terbiasa dengan hal itu, mengingat apa yang ia rasakan selama ini, sudah cukup membuatnya merasa nyaman dengan keadaan canggung.
Sesamapainya di sekolah Reyna keluar dari mobil dengan ekspresi malas.
Tiba-tiba saja Reyhan ikut keluar dari mobil.
Gadis itu tidak mempedulikan kakaknya dan langsung pergi begitu saja, hingga ketika Reyna hendak menuju arah gerbang, Reyhan menegurnya.
"Kamu nggak mau pamit dulu sama abang mu ini?" kata Reyhan dingin.
Seketika Reyna menghentikan langkahnya dan langsung berbalik menghadap sang kakak, menyalami tangan Reyhan dan mengecup punggung tangannya.
Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya terjadi. Tatapan hangat yang gadis itu rindukan dari seorang keluarga kini seolah kembali. Membuat gadis itu membulatkan mata.
Tiba-tiba saja Reyhan membungkuk dan berkata lembut pada adiknya.
"Kamu sekolah yg pinter ya, jangan bandel-bandel" tuturnya sambil menepuk kepala Reyna pelan.
"Ish... rambut ku jadi berantakan nih bang! ngeselin" ujarnya kesal sambil merapikan rambut Reyna yang sengaja ia gerai.
(Cup) satu kecupan mendarat tepat dikening gadis itu.p
Bang Rey tiba-tiba mengecup kepala ku ini, aku sontak kaget dengan apa yg dilakukan olehnya, aku terpaku menatapnya. Sudah lama sekali bang Rey tidak pernah seperhatian ini padaku. Aku tersenyum dan mendongak karena abang ku ini sangat amat tinggi dariku.
"Nanti bang Rey jemput, kamu jangan pulang duluan oke."
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum membalasnya
"Aku masuk dulu ya bang" lanjut ku.
Bang Rey mengangguk, dia mengawasi langkah ku hingga aku masuk ke gerbang sekolah.
Sampai akhirnya, punggung ku menghilang dari pandangannya, lalu dia pun baru pergi.
"Reyna!"
Panggil seseorang yang berada dibelakang ku. Aku menghentikan langkah ketika mengenali suara itu. Suara yang familiar dari sahabat ku Kanaya.
"Naya, sini" panggil ku dan melambaikan tangan pada sahabat ku yang berdiri sekitar beberapa meter dari kaki ku berdiri.
oceh Kanaya histeris. Dan aku hanya menggelengkan kepala ku heran.
"Aduh udah tinggi, putih, mancung, keren, beruntung banget sih lo dapetin cowok kaya gitu, keliatan serasi banget kalian berdua. Oh ya, gue tadi sempet liat kening lo di cium lo! aduh Rey! jiwa kejombloan gue memberontak!" lanjutnya panjang lebar, membuat Reyna menggeleng, tetap setia dengan obrolannya yang tidak jelas.
Kanaya terus saja mengoceh sedari tadi, tak sadar mereka sudah sampai kelas dan duduk dibangku.
"Udah ngocehnya?!" kata Reyna malas sambil nyengir menahan tawa.
"Aelah gue kan cuma kagum, apalagi itu soal sahabat gue yang udah punya cowok, gue ikut seneng dong" ucap Kanaya seru.
"Hehe,"
"lo kok malah ketawa sih?" kata Naya kesal.
"Asal lo tau aja, dia itu tadi bukan pacar gue tapi abang gue" lanjut Reyna dengan senyum andalannya.
Gadis itu lihat mata sahabatnya membelalak sambil menelan saliva. Terlihat dirinya yang mulai tersenyum girang pada Reyna.
"Serius lo? pantes mirip banget sama lo. Ngomong-ngomong lo kok nggak pernah cerita kalo punya sodara ganteng sih" kata Naya tak menyangka.
"Kan lo tau sendiri, gue punya kakak. Lagian ngapain juga gue cerita ke elo soal abang gue" kata Reyna malas sambil menempelkan dagunya tepat diatas tangan yang telah ia lipat di meja.
"Ya kali aja gitu kita bisa iparan" Reyna masih terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu.
Memang ia akui, Reyhan memang sangat tampan, bisa dibilang mereka adalah blasteran, Reynaldi keturunan Jerman-Indonesia. Dan jika dilihat secara sekilas wajah mereka memang mirip.
Kelas pun dimulai. Hari ini guru magang lagi yang mengajar dikelas, masih seperti kemaren.
Reyna memandang kedepan, dan memperhatikan Yasya yang sedang menerangkan pelajaran bahasa Inggris.
Tiba-tiba tak sengaja mata mereka bertemu dan saling bertatapan. Yasya memalingakan wajahnya seperti malas untuk menatap Reyna, gadis itu membulatkan matanya yang cukup kecewa dengan tingkah pria yang kini mengajar dikelasnya. Kemarin saja pria itu masih ramah terhadap Reyna, kenapa hari ini seperti ada yang berbeda. Batin gadis itu gusar sembari memanyunkan bibirnya.
***
Seorang gadis bersama keempat rekannya mendorong Reyna dari belakang hingga tubuh Reyna tersungkur.
"Aduhhhh" Reyna mencoba berdiri saat ia mulai kuat untuk memaoah diri. Gadis itu membalikkan tubuhnya, alangkah terkejutnya ia melihat Fani dan teman-temannya tengah berdiri dan berkacak pinggang menantangnya.
__ADS_1
"Kalian?" kata Reyna terkejut dengan tubuhnya yang mulai bergetar ketakutan.
"Kenapa? kaget? takut?" suara Fani membuat Reyna mengingat kejadian 8 bulan lalu. Peristiwa yang tidak bisa ia lupakan sampai saat ini.
"Enggak kok kak, ada apa ya?" tanya Reyna gugup tanpa berani mendongak.
"Nggak usah basa-basi deh lo... dasar cewek sok kecakepan! maksud lo apa kemaren jalan sama si Hengky?! udah gue bilang, Hengky itu milik gue! masih nggak ngerti aja lo haaa?!" teriak Fani sambil menarik rambut Reyna, membuat gadis itu meringis kesakitan sembari memohon pada geng berandalan itu.
"Sakit kak" Reyna meringis kesakitan, ia hanya bisa memohonkan pada Fani dan teman-temannya. Meskipun ia bisa melawan, namun ia hanya sendirian, takut jika salah satu dari mereka malah bertindak brutal padanya.
"Dasar cewek *****, kenapa dulu lo nggak mati aja! dasar cewek nggak tau malu! Pelakor lo"
kata salah satu cewek disana.
"Ampun kak" Mohon Reyna sambil menangis. Namun apalah daya, lorong yang sepi ditambah murid sudah berhamburan keluar dari gedung itu membuat Reyna hanya bisa berdoa semoga ada orang yang berbaik hati menyelamatkan nyawanya.
"Nangis aja teroosss! udah Fan, habisin aja nih cewek" ujar si cewek gendut, membuat tubuh Reyna bergetar ketakutan.
Fani hendak melayangkan tangannya memukul Reyna, tapi tangan kekar menahannya tepat didepan wajah gadis itu yang kini memejamkan matanya.
"Pak Yasya!" kata Fani terkejut. Tak kalah terkejutnya dengan Fani, Reyna pun ikut membelalakkan matanya kala mata elang Yasya kini menunjukkan sisi amarahnya.
"Apa yg kalian lakukan?! kalian mau membuly siswi disini? kalian tau, ini adalah tindak kriminal...! kalau Reyna sampai kenapa-kenapa, saya akan menuntut kalian semua" teriak Yasya tegas, dan Reyna hanya menunduk diam sambil berlindung dibelakang badan kekar Yasya.
"Bapak emang siapa? beraninya mengancam kami. Asal bapak tau ya, ayah saya dan ayah dari teman-teman saya ini adalah penyumbang dana terbesar disekolah ini, mana ada guru atau murid disekolah ini yang berani sama kita" kata Fani menyombongkan diri.
"Oohhh jadi begitu, baik... saya tau siapa yang tidak takut pada kalian" Yasya menggantungkan kata-katanya dan dia seperti menelfon seseorang. Terlihat dari seringai di wajahnya yang tersenyum seperti merencanakan sesuatu.
"Kalian ikuti saya, dan Reyna kamu juga" kata Yasya tegas.
"Dia fikir dia siapa, ikut campur urusan kita. Cuma guru magang! nggak tau malu emang, lagian ngapain sih, si Reyna itu dibela sampek segitunya. Jijik banget gue!" ujar mereka dengan sumpah serapah sambil mengikuti langkah kaki Yasya menuju ruang kepala sekolah.
"Oh jadi dia ngajak kita ke ruang kepsek, nggak ada gunanya, malahan kepsek bakal belain kita nantinya" ucap Novi sombong.
Sebenarnya Yasya mendengar bisikan mereka, tapi dia hanya tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya.
"Selamat siang pak" kata Yasya sambil memasuki ruang kepsek.
"Siang pak Yasya... ada apa ya?" tanya kepsek dan memperhatikan murid-murid yang berada dibelakang Yasya. Dengan Reyna yang kini masih menunduk takut.
"Loh ada Reyna, Fani, Novi dan kalian bertiga... ada apa ini pak? apa Fani membuat ulah lagi pada Reyna?" lanjut pak kepsek bertanya.
Lalu Yasya menceritakan kejadian itu panjang lebar.
"Apaa?! kalian tau apa yg kalian lakukan, apa kalian tidak kapok dengan kejadian 8 bulan lalu. Kalian hampir saja membunuh Reyna!" teriak pak kepala sekolah membuat tersulut amarah sambil menatap tajam kearah Fani dan teman-temannya yang kali ini duduk santai seperti tanpa dosa.
"Maksud bapak apa? Reyna hampir meninggal? kenapa?" tanya Yasya terkejut dan Reyna ikut terkejut mendengar suara pria dihadapannya yang begitu lantang ditelinganya.
Pak kepsek lalu menceritakan kejadian delapan bulan silam yang dialami Reyna karena tindak bullyng disekolahnya.
"Apa??! dan mereka masih bisa berkeliaran seperti ini, bahkan mereka tidak dikeluarkan dari sekolah?! benar-benar tidak masuk akal!" kata Yasya dengan wajahnya yang begitu kecewa.
"Itu karena permintaan orang tua mereka pak, selaku penyumbang dana terbesar disekolah ini, tapi tenang saja pak, setelah kejadian itu kami meskors mereka berlima" kata pak kepsek menenangkan Yasya yang kini masih terlihat kilatan amarah di matanya.
"Apa? hanya di skors? bapak tau apa yg bapak lakukan, demi segelintir uang, bapak membela seorang anak yang bertindak kriminal, dan hampir membunuh salah satu siswa bapak sendiri" kini amarah Yasya tidak terbendung lagi.
"Sudah lah pak, itu semua sudah berlalu, lagi pula, untung tadi pak Yasya menghalang Fani, dan sekarang tidak terjadi apa-apa kan?" kata pak kepsek santai.
tok tok tok....
Reyna menatap pintu kaca yang mengarah pada luar ruangan kepala sekolah. Gadis itu terkejut kala pandangannya menatap seseorang pria dengan tubuh tinggi besar dan memakai seragam lengkap aparat tengah mencoba untuk masuk kedalam ruang kepala sekolah.
"Polisi?" kata Fani kaget. Wajahnya terperangah dengan tubuhnya yang bergetar menahan kegugupannya.
"Gimana nih Fan, mampus kita! kita nggak bakalan dipenjara kan?" ucap Novi dengan matanya yang penuh ketakutan.
"Aduhh gue juga nggak tau" jawab Fani khawatir.
"Selamat siang" kata polisi itu setelah pintu ruangan dibuka oleh Yasya.
"Siang om, mari om silahkan masuk" Yasya mempersilahkan.
"Maaf pak, ini adalah om saya, kebetulan beliau kepala polisi resor kota" Pak kepsek terkejut dan tersenyum kikuk sambil menyalami sang kepala polisi. Ia tak tau lagi apa yang harus dilakukan untuk melindungi Fani dan teman-temannya.
Kini niatan Yasya hanya untuk menegur mereka berubah kembali setelah mendengar apa yang mereka perbuat terhadap Reyna.
Senyuman puas ia tunjukkan saat Fani dan teman-temannya kini tak lagi menapakkan kesombongan yang mereka tunjukkan sedari tadi.
__ADS_1