
Hari libur panjang telah berlalu, kini akhirnya semua siswa-siswi telah ramai memenuhi halaman sekolah.
Tampak beberapa anak baru dari kelas X yang telah bersiap mengikuti kegiatan ospek dengan tertib dan beberapa anggota OSIS lainnya.
"Sekarang, keluarkan pembekalan kalian."
Ucap salah seorang anggota OSIS kepada murid-murid baru yang memakai atribut baju serba putih dan topi kertas berbentuk kerucut beserta papan dada bertuliskan biodata mereka.
***
Reyna tengah berjalan santai melewati lorong-lorong kelas yang hanya terdapat beberapa siswa disana.
Rambutnya yang dikuncir dengan beberapa buku di tangannya membuat gadis yang telah beranjak dewasa itu terlihat semakin cantik setiap hari.
Reyna memasuki kelas barunya yang kali ini telah ramai teman-temannya yang berebut bangku.
"Rey, sini" teriakan dari Kanaya lantas membuatnya segera berlari dari ambang pintu menuju bangku paling depan.
"Tumben lo nyariin bangku paling depan sendiri?."
"Rey, gue aja syukur banget kalo masih sekelas sama lo, gue masuk tiga puluh besar tahun ini, tapi tahun depan, gue bakalan bisa nyusul lo."
"Nah gitu donk semangat, kalo ada apa-apa tanya aja ke gue, kita belajar sama-sama okay."
"Okay, sampai lulus ya?" ucap Kanaya di susul jari kelingkingnya yang mengacung dan mengedipkan sebelah matanya.
"Sampai lulus," balas sahabatnya itu dengan senyuman yang penuh semangat.
Kanaya dan Reyna berjalan melalui lorong-lorong kelas, melewati beberapa kelas di lantai dua.
Tak sengaja tatapan mata Kanaya melirik kearah lapangan basket dibawahnya yang terdapat anak-anak baru dan anggota OSIS tengah melaksanakan ospek dihari pertama sekolah.
"Rey, Rey, lihat dulu yuk" ajak Kanaya antusias pada pemandangan ospek dibawah lantai dua tersebut.
"Apaan sih yang dilihat? orang cuman ospek doang kok, males gua" kata Reyna yang hendak melangkah menjauh, namun dengan cepat Kanaya menarik lengan Reyna dan terpaksa menuruti ajakan dari sahabatnya itu.
Dilihatnya beberapa anak yang sedang dihukum scout jump oleh para senior mereka saat itu, tampak wajah tampan Hengky yang membelakangi tubuh tegap beberapa anggota osis lain.
Tiba-tiba saja, salah seorang siswi yang tengah menyelesaikan hukumannya tak sadarkan diri dan jatuh ditengah lapangan.
Meski agak pagi, namun saat kejadian itu banyak sekali murid-murid yang menonton kejadian itu, mulai dari lantai satu dan tepat dibelakang dan disamping tubuh Reyna yang terasa sesak oleh orang-orang yang mengerumuninya.
"Rey, ada yang pingsan tuh."
__ADS_1
Reyna yang awalnya hanya membaca majalah yang ia bawa kini mengarahkan pandangannya kearah gadis yang digendong ala bridal style oleh Hengky.
"Key, Keyla!" teriak Reyna yang terdengar samar-samar karena riuh dan bisikan juga ujaran dari teman-temannya yang berebut tempat untuk hanya sekedar melihat pemandangan dibawahnya.
"Siapa Rey?" tanya Kanaya dengan keningnya yang berkerut penasaran.
"Sini, ikut gue."
Reyna menarik lengan gadis itu dan mengeluarkan mereka dari kerumunan siswa yang amat menjadi kala itu.
"Huh... huh... huh... aduhhh gue sampe gak bisa nafas nih" kata gadis itu dengan nafasnya yang masih terengah-engah, membuat sahabatnya yang kini berdiri disampingnya memutar bola matanya.
"Aelah, cuma kaya gitu aja, gue tau kalo lo itu nggak suka rame" sahut Kanaya dengan tatapan malasnya.
"Nay, dia itu Keyla" ujar Reyna membuat Kanaya menatap sahabatnya dengan tatapan tajam.
"Sialan! Keyla yang nggak tau diri itu? oh jadi itu tadi si Keyla, gue denger namanya aja udah muak, eh sekalinya liat sosoknya pengen muntah aja bawaannya."
Kata Kanaya dengan wajah geramnya, membuat Reyna tersenyum lembut kearah sahabatnya itu.
Diraihnya kedua pundak Kanaya berusaha untuk menghibur hati sahabatnya.
"Udah lah, jangan kaya gitu, walau bagaimanapun, dia itu tetep anak angkatnya papa. Lagian, gue juga udah nyerah kali," ucap Reyna dengan lemah, membuat genggaman dibahu Kanaya melemah.
"Maksud lo apa Rey?" tanya Naya antusias, membuat Reyna hanya tersenyum dan segera pergi mendahului sahabatnya itu.
***
Hal itu tak disia-siakan oleh Reyna untuk kembali belajar sendiri, sesekali dia membawa buku novel ke tempat kesukaannya, dimana lagi kalau bukan taman kecil belakang sekolah.
Seperti saat ini, langkah kaki gadis itu melewati lorong-lorong kelas yang sedikit sepi meski hanya beberapa siswa saja yang berada disana.
"Kak Hengky, makasih ya, aku percaya sama kata-kata kak Rey, ternyata kakak Hengky memang benar bisa menjagaku."
Tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya tatkala mendengar suara kecil yang tak asing baginya mendengarnya memanggil nama Hengky dan Rey.
Diintipnya ruang UKS yang hanya ada dua orang lelaki dan satu perempuan berpelukan didalamnya.
Dua orang yang Reyna kenal itu berpelukan dengan sangat mesra, membuat mata Reyna membelalak tak percaya.
"Hengky dan Keyla? kenapa mereka berpelukan?" gumam Reyna pelan.
Ada rasa heran dan takut menyelimuti hatinya, seperti firasat buruk yang berulang kali di rasakan oleh gadis itu tatkala merasakan hal yang sama saat tempo hari Keyla mulai masuk dan mendekati keluarganya.
__ADS_1
**"
Reyna akhirnya bisa bernafas lega, dan bisa bersantai sesaat di tempat favoritnya, meski hatinya terganggu oleh kedekatan sahabatnya dan Keyla, namun fikiran itu dihiraukannya begitu saja. Bak angin berlalu lalang, Reyna sama sekali tidak ingin fikirannya mempengaruhi kesehatan tubuhnya yang saat ini tengah ia jaga.
"Rey," suara Kanaya yang duduk disampingnya, membuat gadis itu tak menoleh karena tengah fokus pada buku yang ia bawa.
"Reyna, stop" kata Kanaya sambil meraih buku yang masih dinikmati oleh sang empunya. Membuat wajah sang sahabat mengerutkan keningnya.
"Lo kenapa sih Nay, dateng-dateng maen serobot aja."
"Gue mau ngasih tau, kalau si Keyla itu berani deketin si Hengky."
"Keyla dibawa Hengky ke UKS dan mereka pelukan, bukannya lo mau ngomong gitu?" Reyna melanjutkan perkataan Naya yang ingin meracau tidak karuan. Dengan cepat tangannya meraih buku yang tengah dijauhkan oleh sahabatnya itu kembali, membuat Kanaya menganga tidak percaya.
"Lo tau darimana?" tanya Kanaya keheranan.
"Gue udah liat sendiri. Mending lo jangan bawel deh, nanti kalo mood gue ancur, awas lo, lo bakal jadi objek pertama yang gue makan" ujar Reyna membuat sahabatnya itu memutar bola matanya malas.
"Sialan lo," kata Kanaya memberikan jeda pada kalimat berikutnya.
"Lo kenapa sih Rey? bukannya Hengky itu sahabat baik lo, kenapa lo fine fine aja waktu si Keyla genit sama dia."
Pakkkk.....
Reyna menutup bukunya dengan keras. Ditatapnya sahabat karibnya itu.
"Gue tau kok, nanti gue bakal tanyain langsung ke Kyky, lagian kan dia sahabat gue, gue bakal marah kalo dia nggak cerita."
Kanaya menatap sahabatnya itu dengan senyuman palsu.
"Hem hem hem, ya, ya, ya, gue ngerti kalo si Hengky kita ceritain masalah lo gimana? gue yakin deh, kalo dia tau pasti dia nggak bakalan mau deh deketin di cewek sok kecantikan itu" kata Kanaya dengan nada ketus, membuat Reyna menimbang-nimbang perkataan dari sahabatnya barusan.
Meski Keyla sangat membenci Reyna, tapi Reyna sendiri belum tau motif yang dibalik anak angkat Reynaldi itu. Yang dia tau hanyalah, Cintya dan Keyla seperti sengaja membuat sebuah konspirasi untuk keluarganya.
"Naya, kayanya nggak perlu dulu deh, gue bakal cerita soal masalah keluarga, tapi untuk Keyla, gue nggak mau melibatkan dia diantara cerita yang gue bagi ke Hengky."
"Kenapa? lo pengen jaga citra si cewek idiot yang nggak ada cantik-cantiknya itu haaa?."
"Hemmm gini nih, kalo kebanyakan makan udang lupa buang cangkangnya, nggumpel kan otak lo" kata Reyna kesal.
"Ishh, sialan lo" ucap Kanaya kesal seraya mencubit lengan Reyna pelan, membuat sang empunya merasa kesakitan.
"Aw, sakit tau, ihhh maksud gue bukan gitu, emang kalo lo ngomong gitu aja terus dia bakal percaya gitu?" kata Reyna menjelaskan
__ADS_1
,"Nggak sih" jawab Kanaya yang kini menghela nafasnya.
"Yaudah diem aja, daripada lo nantinya yang kena masalah" ucap Reyna dengan malas.