
Kini Reyna telah sampai di rumah. Entah mengapa perasaannya sangat bahagia, senyum yang indah terus terukir diwajah gadis itu.
Padahal ini bukan pertama kalinya Yasya mengantarkan pulang.
"Oma, Reyna udah pulang" Reyna bereteriak sambil terus tersenyum.
Tak seperti biasa ia langsung menuju dapur dimana sudah ia ketahui disanalah keberadaan oma.
Sejujurnya Reyna tidak biasa seperti ini, bahkan saat ia pulang biasanya langsung pergi ke atas, tapi entah kenapa saat ini Reyna begitu senang.
"Dar" teriaknya dibelakang oma, yang sontak membuat beliau terkejut.
"Aduhhh Rey, jangan ngagetin gitu, oma ini sudah tua, nanti kalo oma jantungan gimana?" kata oma sambil menggeleng.
"Hehe ya habis dari tadi di panggil oma gak jawab sih" ujar gadis itu masih tersenyum terus.
"Tumben kamu pulang langsung nyamperin oma, biasanya langsung naik ke atas."
"Hehehe" aku masih tersenyum dan tertawa kecil.
"Apa jangan-jangan kamu gila ya?" kata oma membuat bibir ku mengerucut sebal.
"Oma nih,! ya nggak lah, kalo cucu oma ini gila, otomatis aku ada keturunan gila dong. Ha berarti oma dulu juga pernah?" ucapku menggantung sambil mengerlingkan matanya pada Oma.
"Tidak usah bahas keturunan. Besok oma mau ke Singapura" kata oma, yang sontak membuat Reyna sedikit terkejut.
"Loh kok mendadak banget?" sahut gadis itu yang otomatis disusul raut wajahnya yang berubah drastis dari sebelumnya.
"Oma juga kangen sama Reynaldi, sudah lama oma nggak kesana juga, kamu sama abang mu baik-baik tinggal berdua, jangan berantem lagi kaya kemaren" ucap oma menasehati.
Senyum Reyna yang tadinya merekah kini hilang berganti dengan raut wajah kepasrahan.
Ia sebenarnya ingin ikut oma, Reyna juga merindukan papanya, tapi disana pun mungkin dia juga pasti bakal diabaikan. Reyns sedikit sedih mendengar perkataan oma, sebenernya memang ia dan oma tidak pernah akur selama ini.
Bahkan saat Reyna sakit oma nggak pernah perduli dengannya. Reyna tau oma pasti juga membencinya, tapi dia menutupi semuanya seolah biasa dengan semua ini.
"Reyna?" panggil oma membangunkan lamunan gadis itu.
"Ha?" jawabnya mengangkat kepala sambil tersenyum, menutupi perasaan yang mulai murung kembali.
"Oma udah siapin makan malamnya, kita makan sama-sama yuk" ajak oma.
"Tadi aku udah makan diluar kok oma, aku keatas dulu ya" gadis itu langsung berlalu pergi meninggalkan oma disana.
Tak tau apa yang oma fikirkan. Tapi yang jelas ia hanya ingin sendiri saat ini.
bruuukk....
Reyna merebahkan tubuhnya diatas kasur yang selalu menemani kesehariannya.
Tangannya meraih sebuah foto yag berada diatas nakas.
Foto yang dulunya adalah kehidupan 180° berbanding terbalik dengan keadaannya saat ini, bersama mama, papa, dan abang.
'Kita adalah keluarga kecil yang bahagia, sampai suatu waktu papa tiba-tiba membenciku.
Setiap hari papa selalu membentak ketika marah padaku. Sampai akhirnya papa memutuskan untuk pergi membawa bang Reyhan karena ia begitu muak padaku' batin gadis itu sembari mengelus dadanya yang terasa sesak.
Bahkan ia tidak pernah tau alasannya, namun meskipun Reynaldi begitu sangat mengasingkan diri terhadapnya, tidak bisa mengubah perasaan Reyna untuk tetap mencintainya.
"Papa, bagiku, papa tetap lah Superman buat Reyna, sampai kapanpun" gumamannya lirih sambil mengusap gambar keluarga itu.
Tak terasa air mata Reyns menetes, hingga tak sadar foto yang ia peluk pun ikut basah oleh air matanya.
Reyna merebahkan tubuhnya lagi. Ia ciumi foto keluarganya yang sangat ia rindukan itu.
Lama kelamaan matanya mulai terpejam. Pandangannya menghitam dan ia pun telah hanyut dalam tidur yang nyaman.
Paginya, Reyna bergegas turun kebawah untuk sarapan dan hendak berangkat sekolah.
"Pagi bang" ucap gadis itu langsung duduk disamping Reyhan.
"Pagi juga Rey" balas Reyhan sambil tersenyum kearah adiknya itu.
"Oma mana?" tanya gadis itu yang nampak lupa dengan kejadian kemarin sore.
"Oma udah berangkat tadi pagi jam 3."
"Oh iya ke Singapur ya" kata gadis itu menimpali.
__ADS_1
ting tong... ting tong...
Tiba-tiba suara bel berbunyi.
"Siapa bang, pagi-pagi ada tamu?" tanya Reyna penasaran.
Gadis itu hendak berdiri namun Reyhan langsung menghalang.
"Eh lanjutin makan aja dulu, biar abang yang buka, abang juga udah selesai, tinggal nungguin kamu aja" kata Reyhan yang disusul langkahnya menuju pintu depan.
Tak butuh waktu lama gadis itu langsung melanjutkan sarapannya yang tertunda. Dengan menyantap roti selai coklat yang sebelumnya sempat ia hentikan.
"Rey, temen kamu nih, ayo masuk" ujar Reyhan mempersilahkan membuat gadis itu mengerutkan kening.
"Hengky?!" ujar Reyna kaget.
"Ayo, ikut sarapan sama kita Ky" ajak Reyhan dengan ramah membuat Hengky tersipu.
"Nggak usah kak, aku kesini mau ngajakin Reyna berangkat bareng aja kok" kata Hengky malu-malu.
'Sejak kapan bang Rey bisa baik sama orang? biasanya kalo ada cowok yang lagi deket sama aku, biasanya juteknya minta ampun' batin Reyna sembari menghela nafasnya.
"Nggak usah sungkan Ky, santai aja, sarapan yuk, hehe biasa, dirumah kalo nggak ada oma cuma ada roti sarapannya. Ayo duduk" sahut Reyna mempersilahkan.
"Iya, santai aja."
"Loh emang oma kemana?" tanya Hengky.
"Oma ke Singapura" Hengky langsung duduk berseberangan dengan gadis itu, ia mengambilkan roti untuknya.
Tiba-tiba tangannya memegang tangan gadis itu.
"Ehem" Reyhan berdehem dan membuat mereka sadar dari apa yang mereka lakukan.
"Eh maaf Rey, nggak usah diambilin roti, tadi aku baru aja sarapan dirumah" kata Hengky dengan senyumnya yang khas.
"Oh ya Kamu Hengky yang bawa Reyna kerumah sakit dulu itu kan?" tanya Reyhan pada Hengky membuatnya mengangguk.
"Iya kak, waktu itu aku nggak nyangka bakal terjadi kaya gitu ke Reyna, apalagi waktu itu aku dan Reyna ada janji pulang bareng. Tapi yahhhh mungkin ini juga salah satu dari kesalahan ku."
Reyna berpura-pura tidak terlalu peduli dengan perkataan Hengky pada Reyhan. Ia masih sibuk mengoleskan selai coklat diatas roti.
"Maksud kamu apa? kamu salah apa sama Reyna?" tanya Reyhan dengan nadanya yang sedikit meninggi membuat Reyna tersentak.
"Udahlah Ky, kamu kan juga nggak tau, kalopun kamu nggak langsung respect, aku nggak tau lagi gimana nasibku sekarang, aku benar-benar makasih banget sama kamu."
Kini Reyhan hanya terdiam, menyimak obrolan dari dua sahabat dihadapannya.
"Kalo bukan karena aku, mereka nggak akan nyiksa kamu Rey, mereka itu benar-benar kejam!" Hengky mulai meledak mengingat hal itu lagi.
"Maksud kamu apa? kamu ada hubungannya sama perbuatan mereka ke Reyna?" tanya Reyhan penasaran.
"Aku mau minta maaf banget sama kakak dan Reyna sebelumnya, mungkin kalian nggak tau apa motif mereka ngelakuin itu ke Reyna" kata Hengky menambahi.
"Karena Fani suka kamu kan?" ujar Reyhan melanjutkan dengan tatapan intensnya.
"Iya kak" Hengky menunduk, menyesali yang sudah terjadi. Walau bagaimanapun ia juga termasuk salah satu penyebab dari peristiwa itu.
"Udah, santai aja Ky, kamu udah mau nolongin Reyna, tiap hari juga jagain dia" kata Reyhan menepuk bahu Hengky.
Hal itu membuat Reyna menghela nafas lega sembari mengelus dadanya yang sempat hampir copot karena sikap Reyhan yang tidak mudah ditebak.
"Oh ya Rey... tau nggak siapa yang abang temuin tadi malem?" tanya Reyhan sesaat Reyna mengunyah roti.
"Aelahhh kan abang bilang mau ketemu klien buat rapat yang tertunda, sampe ninggalin aku segala di resto" kata gadis itu santai sembari menelan roti yang hampir menyangkut ditenggorokannya
"Iya klien itu papanya Novi" kata Reyhan dengan wajahnya yang datar.
Reyna dan Hengky yang mendengar itu hanya terdiam dan seolah tidak percaya.
"Apa?!" kata Reyna dan Hengky bersamaan.
"Iya... langsung aja deh, abang batalin kontraknya, dia nggak nyangka juga sih kalo abang pemilik perusahaan Malik group. Dia sempat minta maaf karena perbuatan anaknya, tapi udah terlambat. Abang nggak bisa tolerir, salah sendiri punya anak nggak bisa ndidik!" kata Reyhan kesal.
***
"Sayang kita mau kemana? aku udah telat nih, aku ada jam kedua" kata Yasya yang sedang duduk membujuk pacarnya yang sedang menyetir mobil.
"Aduhh sayang, jam kedua itu masih lama. Temenin aku keliling bentar kek" kata Syahbila santai.
__ADS_1
"Hemmm kamu nih ya..." kata Yasya yang menarik hidung Syahbila gemas.
"Aduhhh, jangan tarik-tarik ishhh" ujar gadis itu menyingkirkan tangan Yasya yang jail ini.
"Emangnya kamu nggak kuliah?" tanya Yasya sedikit kesal.
"Santai aja, kuliah bisa ditunda kok... cinta kita yang nggak bisa."
Sudah hampir 2 jam Syahbila mengajak Yasya berkeliling menaiki mobilnya, Yasya sudah memperingatkan dia dari tadi, tapi Syahbila seperti meremehkan. Yasya pun marah dan minta untuk turun.
"Syahbila... aku mau turun sekarang!" kata Yasya sedikit menekan. Namun alih-alih terkejut gadis itu malah tak perduli seolah kata-kata Yasya hanyalah angin berlalu saja.
"Bentar lagi Sya, abis itu kita langsung ke sekolah deh" ujar gadis itu lagi membujuk membuat pria yang kini duduk disampingnya merasa kesal
"Udah nggak ada waktu 10 menit lagi kelas bakal di mulai... kamu kenapa gak bisa ngertiin profesi aku sekarang sih" kata Yasya sebal.
"Kamu itu cuma magang Sya... udah lah santai aja" teriak Syahbila yang ikut naik pitam saat ini.
"Aku punya tanggung jawab bil, kalau aku nggak lulus magang, aku nggak bakalan lulus kuliah."
"Oke, aku anterin kamu, tapi temenin aku makan dulu" kata Syahbila membuat mata pria itu membelalak tajam.
"Syahbila! kamu turunin aku sekarang atau aku bakal lompat dari mobil kamu!" teriak Yasya emosi.
"Tapi Sya?"
"Berhenti!" Syahbila menghentikan mobilnya dengan kesal.
Bagi Yasya sudah tidak ada waktu lagi, sebentar lagi kelas akan dimulai.
Yasya menaiki ojek dan bergegas mengambil ponselnya.
"Halo... pak, ini saya Yasya" kata pria itu sembari menelfon seseorang yang berada disebrang sana.
"Iya pak Yasya, ada apa?" tanya pak Nugroho diseberang sana.
"Pak agak cepet ya, saya sudah terlambat" kata Yasya pada tukang ojek yang memboncengnya.
"Pak Yasya ada dimana? kelas sebentar lagi akan dimulai" kata pak Nugroho dengan sedikit nada khawatir.
"Maaf pak, tadi saya ada urusan mendadak, karena kesiangan jadi saya naik ojek sekarang, saya mau izin, mungkin saya akan datang terlambat" katanya sembari menghembuskan nafas beberapa kali.
"Iya pak, masalah anak-anak, biar saya yang urus" kata pak Nugroho.
braaaakkkk....
Suara benturan keras dari sebrang sana membuat pria paruh baya itu mengernyitkan keningnya khawatir
"Halo... halo pak Yasya, anda baik-baik saja? pak?" berulang kali pak Nugroho menelfon Yasya kembali, namun suara menjengkelkan seorang wanita yang bernama operator membuat pria itu kesal.
nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
***
Suasana dikelas masih sangat sepi sejak pergantian jam. Mereka tampak menunggu kehadiran Yasya.
"Pak Yasya kemana ya Nay, udah setengah jam juga belum dateng?" tanya Reyna pada Naya.
"Aelahhhh tumben lo peduli, bukannya malah enak ya jamkos gini? hemmm tapi kalo gurunya seganteng pak Yasya sih, mau ga istirahat sekalipun gue rela kok Rey" kata Kanaya membuat Reyna menggeleng sembari menekuk wajahnya.
"Ngmong apa sih lu, hobinya ngaco mulu. firasat gue jadi nggak enak gini" kata Reyna gelisah.
"Kita keluar dulu yuk Nay" ajak Reyns ditengah kebimbangannya.
"Mau kemana sih?" Kanaya memutar ujung rambutnya sembari menahan dagunya.
"Nyari pak Nugroho" ujar Reyna spontan membuat sahabatnya membulatkan matanya.
"Lo mau cari mati ya, ogah ah gue ga mau."
"Ya udah gue cari sendiri" Reyna keluar kelas dengan perasaan gelisah, khawatir.
"Aduh Reyna, ada apa sih sama lo?" ujar Kanaya dengan lirih.
Kali ini gadis itu hendak melangkahkan kakinya menuju ruang guru.
"Pak... bapak mau kemana?" tanya Reyna saat melihat pak Nugroho yang hendak keluar dari kantor guru.
"Oh kebetulan sekali ada kamu. Bapak mau kerumah sakit sekarang, kamu bilang sama temen-temen mu suruh mereka belajar sendiri sampai jam kedua habis" kata pak Nugroho panik.
__ADS_1
"Tapi pak, kenapa?"
"Pak Yasya kecelakaan, sekarang dia dirawat di RS Dharma Sehat... sudah ya, bapak kesana dulu" kata pak Nugroho langsung pergi.