The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Reyna gadis tercantik di dunia


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Suara mesin mobil berbunyi di pagi hari, disertai dengan siulan burung hinggap di pepohonan hijau diatas kediaman rumah Ferdiansyah.


Lelaki itu tampak masuk kedalam mobil yang baru saja ia nyalakan.


Laju mobil dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya. melintasi jalanan ibukota yang cukup lengang oleh aktivitas pagi para pengendara.


kring... kring....


Suara ponsel berdering, membuat pandangan Yasya teralihkan dan dengan segera mengangkat panggilan dari seseorang disebrang sana.


"Hallo" ucapnya seraya pandangannya yang tak lepas dari jalanan dihadapannya.


"Hallo pak Yasya, pak Yasya sudah dimana?."


Terlihat wajah tampan pria itu tersenyum mendengar suara lembut dari gadis yang sangat ia cintai itu.


"Hoamhp, ini jam berapa? kamu telfon ada apa pagi-pagi begini?" kata Yasya yang sengaja ia katakan pada Reyna, serta senyum jahil pria itu sambil masih fokus untuk menyetir.


"Pak Yasya lupa ya?! katanya hari ini mau nemenin saya ke rumah sakit?" ujar Reyna dengan sedikit emosi.


"Oh rumah sakit? oh iya saya baru ingat" serunya dengan kedutan di sudut bibirnya.


"Pak Yasya, saya sudah siap nungguin bapak dari pagi uhhh" kata Reyna tambah kesal.


"Yasudah, tunggu saya saja dulu" ujar Yasya dengan santai


"Nggak perlu, saya akan kesana sendiri" ucap Reyna dengan kesal, membuat Yasya terkekeh dibuatnya.


Yasya melihat Reyna berdiri didepan gedung apartemen. Mobilnya berjarak sekitar dua ratus meter dari tempat gadis itu berdiri, dilajukan mobil itu dengan kecepatan kecil sampai tepat disamping Reyna berdiri.


"Jangan berangkat sendiri, atau saya akan mencium mu nanti, hehehe" kata Yasya menggoda.


Reyna yang mendengar suara Yasya berada didepannya langsung tersentak dan masih mengerucutkan bibirnya. Terlihat wajah gadis itu yang masih terdapat perban disudut bibirnya. Rasa kesal bertambah ia rasakan kala dirinya baru sadar bahwa Yasya sengaja untuk mengerjainya.


"Ayo masuk, atau saya akan kembali untuk tidur" kata Yasya jahil.


Dengan kesal, Reyna memasuki mobil itu.


Tatapannya mengarah kedepan, membuat Yasya terkekeh.


'Saya rindu kita yang seperti ini Reyna, akhirnya kita bisa seperti dulu lagi, tapi, sampai kapan itu akan terjadi?' batin Yasya dengan tatapannya yang semakin sayu.


"Setelah melepas jahitan, saya akan bawa kamu ke suatu tempat."


Reyna menoleh menatap wajah tampan pria disampingnya. Membuat pria itu mendekat kearah tubuhnya, Reyna yang telah terhimpit oleh tubuh Yasya membelalakkan matanya.


Tangan Yasya meraih sabuk pengaman di atas kursi mobil Reyna membuat wajahnya kian merona, menahan rasa malu ditambah debaran jantungnya yang berdetak tak karuan.


Kini wajah mereka masih sangat dekat, hampir tidak ada jarak sama sekali, Yasya memandangi wajah cantik gadis itu dengan senyuman yang menawan, membuat Reyna salah tingkah dibuatnya.


Cup


Sebuah kecupan singkat dibibir manis Reyna, membuat Reyna tersentak dan memalingkan wajahnya. Yasya masih tersenyum dan segera beralih menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setelah sekitar setengah jam mereka keluar dari rumah sakit untuk melepas jahitan Reyna.


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Tampak wajah Reyna yang murung sedari keluar dari ruangan rumah sakit membuat Yasya dihantui rasa penasaran.


"Kamu kenapa?" tanya Yasya penasaran.


Reyna menggeleng pelan dan masih menunduk dengan wajahnya yang begitu muram.


"Bilang saja, tidak usah sungkan" tawar Yasya membuat Reyna menunduk malu.


"Sebenarnya, baru pertama kali ini saya mengalami luka dan berakhir dijahit, saya baru tau kalau bekas jahitan itu ada" kata Reyna dengan nada yang memelas.


"Lalu?" tanya Yasya lagi.


Reyna menggeleng, dirinya berjalan mendahului Yasya yang sekarang menatapnya dengan mengernyitkan keningnya.


"Reyna" teriak Yasya memanggil nama gadis yang kini berjalan cepat didepannya itu.


Yasya menarik tubuh Reyna dan kemudian dengan cepat menggendong tubuh gadis itu ala bridal style, membuat dia terkejut dan berteriak.


"Kyaaaaa... pak Yasya turunin" teriak Reyna histeris sambil memberontak.

__ADS_1


"Nggak mau" jawab Yasya seraya memutar tubuh Reyna yang berada di gendongannya sambil berteriak dan tertawa.


"REYNA ADALAH GADIS CANTIK SEDUNIA...!! AKU TIDAK PERDULI DENGAN BEKAS LUKANYA...! TAPI BAGIKU DIA TETAP YANG TERCANTIK...!" Teriak Yasya membuat Reyna tertegun, gadis itu sempat merasa malu kala banyak pasang mata yang memandangi mereka.


"Pak Yasya, turunin, malu dilihat orang" kata Reyna dengan melihat sekelilingnya.


"Nggak mau, saya akan gendong kamu sampai ke mobil" kata Yasya tetap kekeuh dengan keputusannya.


"Ihhh pak Yasya, turunin! turunin!" rengek gadis itu dengan tatapan tajamnya.


Yasya enggan untuk menuruti perintah Reyna, dia lebih memilih untuk menggendong tubuh ramping gadis itu yang masih memberontak padanya. Baginya membangun rasa percaya diri Reyna akan lebih baik daripada dirinya harus selalu minder dengan penampilannya.


"Pak Yasya!" teriakan Reyna yang telah sampai didepan mobil Yasya, membuat pria yang tengah menggendongnya itu menatap wajahnya dengan intens.


deg... deg... deg...


Jantung Reyna seakan berdegup lebih kencang ketika mereka diposisi ini, perasaan Reyna tidak bisa dibohongi lagi. Begitu juga dengan Yasya, rasa cintanya begitu dalam membuat pandangannya terhadap Reyna seperti menyiratkan sebuah harapan.


Yasya menurunkan Reyna dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.


Yasya membungkuk untuk menyentuh bagian sudut bibir Reyna dengan lembut.


"Berapapun banyaknya luka ditubuh mu, kamu tetaplah yang tercantik untukku" bisik pria itu tepat ditelinga Reyna, membuat pipi gadis itu kian merona.


Reyna merasakan jantungnya yang kembali berdegup kencang seperti yang ia rasakan pada Yasya selama ini. Rass nyaman yang Yasya berikan membuat Reyna semakin mencintai sosok pria itu.


***


"Pak Yasya kenapa bawa saya kesini?"


tanya Reyna yang tengah berdiri tak jauh dari Yasya.


Mata gadis itu mengerjap, merasakan pupil matanya yang mengecil oleh matahari yang begitu terik.


Matanya memandang bianglala besar yang terlihat dihadapannya, dan roller coaster yang melintasi jalannya dan tampak melengkung menjulang tinggi dibawah atmosfer bumi.


"Saya sudah bilang kan, saya akan memberikan kamu hadiah setelah ujian kamu berhasil, dan ini" kata Yasya mempersembahkan salah satu hadiahnya.


"Ini hadiahnya?" tanya Reyna dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.


Rasanya Reyna seperti bermimpi bisa datang ke tempat ini. Sudah sangat lama ia tak mengunjungi taman hiburan yang membuat ia melupakan segala masalah yang terjadi padanya untuk sementara waktu.


"Kita naik bianglala yuk pak" seru Reyna mengajak Yasya yang kini tersenyum menyetujui.


"Ayo" sahut pria itu semangat membuat gadis itu tersenyum dengan lebar.


Mereka berdua berjalan beriringan, tampak tangan Yasya yang mencoba meraih jemari Reyna dan kini digenggamnya dengan erat.


Mereka berdua tengah naik perlahan dengan bianglala yang mereka tumpangi. Terlihat pemandangan indah perkotaan dengan beberapa gedung besar menjulang disetiap sisi mereka memandang, dan kendaraan yang terlihat tampak sangat kecil dibawah sana.


"Waw, indah sekali" kata gadis itu dengan senyum kebahagiaan yang terpancar diwajah cantiknya.


"Kamu suka?" tanya Yasya yang kini menggenggam erat jemari Reyna, membuat sang empunya tersipu sambil tersenyum kagum.


"Sangat, terimakasih pak Yasya" jawab Reyna dengan wajahnya yang semakin berseri.


Yasya mengangguk, pria itu tersenyum menatap Reyna yang tengah memandang kagum pemandangan disekelilingnya.


"Reyna?" panggilan dari Yasya membuat gadis itu mengalihkan pandangannya menatap Yasya yang kini hendak berbicara serius padanya.


"Heemm?" Reyna menaikkan sebelah alisnya, ia menyelipkan rambutnya yang tergerai.


"Malam ini saya ingin mengajak kamu makan malam, ada yang ingin saya bicarakan."


"Tentang apa pak?" tanya gadis itu penasaran.


"Rahasia, kamu akan mengetahuinya saat kita bertemu nanti bagaimana?" tawar Yasya yang kini mulai antusias berkompromi dengan gadis dihadapannya.


Reyna tampak mengernyitkan keningnya, dia masih menimbang-nimbang tawaran dari Yasya. Namun akhirnya, dengan dilandasi penasaran dan juga suatu hal yang seharusnya ia sampaikan membuatnya mengangguk menyetujui ajakan dari Yasya.


"Oke, saya bisa kok, sebenarnya saya juga ada suatu hal juga yang ingin saya bicarakan"


ucap Reyna dengan kata-katanya yang semakin pelan, membuat pria yang duduk disampingnya menatapnya dengan intens.


"Ada apa? kenapa tidak dikatakan sekarang?" ujar Yasya membuat Reyna mengerlingkan sebelah matanya.


"Emmm, pak Yasya tunggu saja nanti malam" balas Reyna dengan senyuman kemenangan.

__ADS_1


"Baik, saya tunggu, kebetulan saya juga ingin mendengar dengan jelas apa yang ingin kamu katakan" perkataan dari Yasya barusan membuat Reyna membelalakkan matanya, dan menatap wajah tampan Yasya dengan senyuman.


'Reyna, kamu harus berani, ungkapan perasaan mu padanya, jangan ragu lagi, tapi, kira-kira apa yang ingin dia katakan? apakah hal yang sama juga' batin Reyna dengan senyuman yang ia sembunyikan dari Yasya.


'walau bagaimanapun, meskipun aku telah bertunangan, tapi aku harus tetap mengatakannya, aku tidak ingin menahan beban perasaan ini lagi, apapun yang terjadi nanti aku akan tetap mengatakannya, bahwa aku sangat mencintai dia' batin Yasya.


Yasya menatap wajah gadis disampingnya dengan tatapan sendu. Seolah kenyataan mengiris hatinya yang tengah gundah.


Beberapa waktu lalu ketika menjauh dari Reyna dia sudah cukup tersiksa, namun hari ini akan menjadi lurus setelah pertemuannya malam nanti.


Orang yang ia cintai adalah Reyna. Ia dapat merasakan kenyamanan dan juga rasa bahagia saat bersama dengan gadis itu.


Pandangannya menerawang entah kemana saat membayangkan Reyna berada disisinya.


***


Pukul 18.00


Angin malam berhembus menembus kulit mulus Reyna, dia rasakan hawa dingin menyelimuti apartemen dari arah luar jendela yang terbuka, membuat gadis itu tergerak untuk mendekatinya dan segera menutup korden dengan sempurna.


Reyna menghela nafas, tatkala semua gaun yang ia keluarkan dari dalam lemari membuatnya bingung setengah mati.


Tentu saja ini bukan pertama kalinya ia kencan, tapi rasanya berbeda jika ia akan mengatakan sesuatu perihal perasaannya yang selama ini begitu mengganggu.


Kini Reyna berusaha keras memantapkan hatinya untuk berusaha jujur pada perasaannya sendiri.


Memang banyak orang yang bilang, harusnya seorang lelaki yang mengatakannya duluan, lalu apakah perempuan tidak boleh menyatakan perasaannya.


Please god, jika hal itu adalah sebuah dosa, maka seluruh gadis yang berada didunia akan meninggal secara mengenaskan, melawan sesak didada yang tak mampu terucapkan oleh kata.


Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Reyna memutuskan untuk memilih gaun berwarna soft pink untuk di pakai malam ini, tak lupa rambutnya di kuncir setengah agar terlihat anggun, dan sedikit sentuhan di akhir, yaitu sepatu hak berwarna senada.


'Sempurna!' batinnya memuji diri sendiri.


"Reyna, kamu adalah gadis tercantik sedunia" kata gadis itu sambil memperlihatkan dirinya didepan cermin yang memantulkan bayangannya.


Reyna melirik jam yang berada diatas televisi, jam itu menunjukkan pukul 18.45. Ia telah bersiap menunggu kedatangan Yasya untuk menjemputnya.


Ditengah penantiannya. Gadis itu tak bisa menghentikan senyumannya yang mengembang berseri dengan rona dipipinya.


deg... deg... deg...


Bahkan suara jantung yang berdetak kencang dapat ia dengar ditengah kegugupannya yang melanda.


Reyna menggigit bibir bawahnya, ia juga meremas jemarinya menahan gejolak yang ia rasa. Berulangkali ia berfikir, kata pertama apa yang harusnya dikatakan olehnya. Ia takut segalanya tak berjalan dengan semestinya.


drrtt... drttt...


Sebuah panggilan dari ponsel Reyna membuat ia melupakan rasa gugupnya sejenak.


"Pak Yasya" kata Reyna dengan nafasnya yang ia atur sedemikian rupa.


Reyna menarik nafasnya dan melepaskannya dengan perlahan, membuat rasa gugupnya yang kian memuncak kini mulai pudar.


"Hallo pak Yasya," di angkatnya panggilan itu dan mencoba mengatur deruan nafasnya yang mulai tak beraturan.


"Reyna, apa kamu bisa berangkat sendiri?" Reyna membelalakkan matanya, merasa heran dengan sikapnya barusan.


"Kenapa pak?" tanya gadis itu yang kini suaranya mulai melemas.


"Maaf, saya ada urusan mendadak, jadi mungkin agak terlambat" kata Yasya disebrang sana membuat kerutan kecewa diwajah Reyna semakin terlihat.


"Tapi pak," belum sempat ia melanjutkan kata-katanya namun pria disebrang sana mencoba untuk membuatnya mengerti.


"Saya akan segera sampai ketika kamu sudah ada disana, maaf ya."


Reyna menunduk dengan pandangan lesu.


"Baiklah, nggak apa-apa, saya akan segera kesana" kata Reyna dengan suaranya yang melemah.


"Bagus, sampai bertemu Reyna" ucap Yasya membuat Reyna tersenyum kecut.


"Iya," balasnya dengan nada ketus dan langsung menutup panggilan itu.


Sejujurnya ia sedikit kecewa, tapi gadis itu harus menyatakan perasaannya malam ini juga.


Rasa kecewa yang ia rasa mendadak teralihkan oleh tujuan awal yang harusnya ia sampaikan.

__ADS_1



__ADS_2