The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Perasaan ku tak sekuat baja


__ADS_3

Dua gadis berseragam putih abu-abu lengkap dengan tas kecil dipunggung mereka tengah duduk di halte bus tak jauh dari gedung sekolah dibelakang mereka.


Terlihat mereka menahan bosan dengan bercerita untuk mengungkapkan beberapa perasaan satu sama lainnya.


"Jadi lo beneran sama Putra?" tanya gadis itu penasaran pada hubungan percintaan sahabatnya yang sampai kini masih menjomblo.


"Beneran apa maksud lo?" tanya Kanaya balik dengan suaranya yang meninggi.


"Haha keliatan dari kalian berdua, lo pikir gue nggak tau?" Kanaya memutar bola mata malas mendengar ocehan dari Reyna yang tak jelas.


"Kalo elo sama pak Yasya?" tiba-tiba pandangan Reyna menatap arah jalanan didepannya. Rasa gugup mulai menjalar keseluruh tubuhnya, kala sahabatnya menyinggung soal guru yang pernah magang ditempatnya belajar itu.


"Gu...gue sama pak Yasya nggak ada apa-apa kok."


"Ah yang bener? kok gue nggak percaya ya... kalo dari wajahnya pak Yasya setiap kali mandang lo, kayanya dia naksir deh sama lo."


"Ngomong apa sih lo? gak jelas banget" kata Reyna menahan wajahnya yang kini mulai merona.


"Bilang aja lo juga suka kan sama pak Yasya, siapa sih yang nggak tertarik sama wajah gantengnya dia... gue aja pas pertama kali ketemu, udah ngefans banget sama dia."


Reyna mulai gelisah, hatinya ingin sekali mengungkapkan perasaannya, namun dia takut bahwa perasaannya akan mengkhianati hatinya. Bukan hanya suka, tapi Reyna bahkan mencintai Yasya.


"Rey.." teriak Naya dan menepuk pundak sahabatnya itu. Membuat Reyna tersentak dan mengalihkan pandangannya menatap sahabatnya itu.


"Tuh kan bener... lo bener-bener nggak bisa menolak pesona pak Yasya... bahkan Hengky aja kalah hahaha."


"Nay, sebenernya gue... gue bingung sama perasaan gue sendiri."


"Hahahaha akhirnya lo ngaku juga kan."


"Jangan keras-keras... nanti ada yang tau" ucap Reyna menutup mulut Naya yang sembarangan itu.


"Oke... oke... lo cerita deh, gue dengerin... gue janji kok nggak bakal ngasih tau siapa-siapa" ucap Naya dengan menunjukkan dua jarinya keatas tanda janji bahwa ceritanya aman.


Reyna menghembuskan nafas beratnya, dia menatap Kanaya dengan lekat.


"Gue..."


tin tin....


Kata-kata Reyna menggangtung kala terdengar suara klakson dari sebuah mobil yang tiba-tiba datang didepan tempat mereka duduk.


Reyna tertegun melihat Yasya yang tengah tersenyum kearah mereka berdua.


Pandangannya seolah terkunci oleh sosoknya yang tampan kini dengan aksennya yang selalu rapi. Apalagi kemeja putih yang ia kenakan itu, memperlihatkan tubuh atletisnya dari bagian dalam kemeja membayangi fikiran Reyna.


"Tuh.. pangeran lo datang" bisik Kanaya ditelinga Reyna, membuat Reyna menatap mata sahabatnya dengan tajam.


"Lo diem bisa nggak sih... nanti pak Yasya bisa denger."


"Hehehe santai... santai" ujar gadis itu sembari menepuk pelan pundak Reyna.

__ADS_1


"Reyna... Kanaya... kalian ngobrolin apa disitu, ayo masuk" ucap Yasya dengan senyuman yang menawan, membuat jantung Reyna berdebar-debar.


"Saya nggak lah pak... saya nungguin cowok saya aja.. nih nih... biar Reyna aja" ucap Kanaya mendorong tubuh Reyna hingga dirinya terpaksa masuk kedalam mobil sendirian.


"Ihhh resek lo" ucap Reyna kesal. Hal itu membuat pria disampingnya terkekeh.


"Nay, lo beneran nggak mau bareng? takutnya nanti kalo lo nungguin jemputan malah makin lama lagi" ujar Reyna memperingatkan.


"Enggak deh, lo duluan aja, bentar lagi jemputan gue juga nyampe kok, lo tenang aja" katanya dengan senyum sahabat yang biasa ia pancarkan.


"Yaudah, gue duluan ya" kata Reyna yang hanya dibalas anggukan oleh Kanaya pertanda setuju.


Didalam mobil suasana tampak hening. Gadis itu melihat pemandangan diluar kaca mobil. Bahkan saat ini ia enggan untuk melirik pria yang berada disampingnya. Ia takut menangkap bayangan dada bidang Yasya yang transparan dari balik kemejanya itu.


"Gimana ujian kamu tadi? lancar...?" pertanyaan Yasya seolah mencairkan suasana yang terlihat canggung.


Reyna menghapus fikirannya yang nakal. Ia enggan menatap Yasya yang kali ini beberapa kali meliriknya. Pandangannya tetap berada diluar mobil sedang fikirannya berkutat oleh pria disampingnya itu.


"Lan... lancar" jawabnya dengan nada terbata membuat Yasya menaikkan sebelah alisnya.


"Reyna... kamu kenapa?" tanya Yasya yang kini mulai bertanya-tanya tentang perubahan sifat Reyna.


"Hah? maksud bapak apa?" tanya Reyna lagi yang kini hanya bisa melirik sedikit kearah wajah tampan pria itu membuat Yasya terkekeh kecil.


"Kamu kelihatan gugup... hehehe, apa gara-gara ujian tadi ya?"


"Eng .. enggak kok" Reyna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kini dia memberanikan diri untuk menatap Yasya yang tengah fokus pada jalanan didepannya.


Entah fikiran apa yang mempengaruhi gadis itu. Ia sempat memikirkan bagaimana tampannya Yasya saat wajahnya mendekat.


Apalagi setelah mendengar penuturan Kanaya tentang Yasya, membuat wajahnya merah merona dibuatnya.


"Reyna kayaknya pak Yasya naksir sama elo deh."


"Lo bener-bener nggak bisa menolak pesonanya pak Yasya Rey."


"*I*tu tuh pak Yasya... guru magang dikelas X IPA II, ganteng banget."


"*Reyna saya akan selalu ada untuk kamu Rey, saya nggak akan ninggalin kamu."


Cup...


Sebuah kecupan berlanjut menjadi ciuman yang menggairahkan.


"Pak Yasya?"


"Reyna*?"


Entah darimana asalnya suara itu. Yang jelas fikiran Reyna telah penuh tentang pria yang kini duduk disampingnya.


"Reyna....?!" panggil Yasya dengan suaranya yang meninggi membuat gadis itu tersentak.

__ADS_1


"Aku cinta kamu!"


Entah hal bodoh apa yang baru saja ia katakan. Kata-katanya seolah keluar begitu saja. Sedang bayang-bayang itu telah pergi entah kemana.


Baru saja sadar, ia membulatkan matanya dan melirik Yasya sekilas untuk memastikan ekspresinya.


Pandangan mata Yasya masih menatap Reyna tidak percaya, entah apa yang dia fikirkan.


"Kamu tadi ngomong apa Rey?" tanya pria itu membuat hati Reyna kini berdebar tak karuan. Namun dengan segera ia merubah ekspresinya takut jika Yasya menyadari apa yang ia katakan barusan.


"Saya? saya nggak ada ngomong apa-apa, emang pak Yasya dengernya apa?."


"Kamu ngigau ya... bukannya tadi kamu bilang sesuatu, saya masih bisa dengar kok."


"Bilang apa pak?" tanya Reyna dengan jantungnya yang berdegup kencang. Ia takut jika Yasya menyadarinya. Fikirannya dipenuhi rasa gugup yang luar biasa. Ia meremas jemarinya sendiri sambil beberapa kali mengerjapkan matanya, menunggu kata-kata dari Yasya selanjutnya.


"Yasudah mungkin kamu ngantuk, cepat naik keatas, jangan lupa belajar yang rajin ya, saya masih ada urusan" tuturnya membuat Reyna akhirnya bisa bernafas lebih lega dan tersenyum kearah Yasya.


"Iya... makasih ya pak, pak Yasya hati-hati dijalan."


Yasya mengangguk dan tersenyum kearah Reyna yang masih duduk disampingnya, dengan segera gadis itu keluar dari mobil yang baru saja ia tumpangi.


Dengan hanya hitungan detik, mobil yang dikendarai Yasya melesat dengan cepat.


"Untung aja aku bisa ngatasin dia... mana aku sendiri bodoh banget, dasar Reyna! kenapa sih sampai keceplosan segala" ujarnya merutuki kebodohannya yang tak ada habisnya.


Kini Reyna berjalan menuju apartemen Yasya. Setelah masuk ia segera berganti pakaian dan berkutat pada buku yang telah menjadi pedomannya.


Ia tengah duduk di sofa apartemen, dibukanya lembar demi lembar buku pelajaran untuk mengahadapi ujian esok hari.


Sesekali ia tiduran, dan duduk lagi, dan terkadang minum jus untuk melegakan tenggorokan.


"Huhhhh... udah dua jam... bosan juga belajar terus" katanya sembari menghela nafas.


Dengan gerakan cepat, gadis itu keraih ponsel yang berada disampingnya dan memainkannya sebentar untuk mengatasi kebosanan. Hanya Instagram yang dapat menenangkan hatinya yang tengah suntuk.


Ia men-scroll kebawah untuk melihat foto dari teman-temannya. Tiba-tiba saja ia tak sengaja melihat akun dari Reyhan yang membuat Reyna bernafas berat.


'Potret keluarga kecilku... mereka segalanya bagiku' tutur caption yang ditulis oleh pemilik akun @m.reyhan yang menampilkan wajah Reyhan, Reynaldi, Cintya dan juga Keyla.


Mata Reyna seolah memanas, ia merasakan sesak di dadanya. Apalagi melihat komen dari teman-teman Reyhan yang membuat hatinya tambah semakin ngilu.


'Dimana adek lu yang bening itu? lo buang ya?' komentar dari akun @tino12. Reyna menghela nafasnya yang terasa sesak, ia masih bisa sabar dengan kata-kata teman Reyhan yang memang bermaksud jahil.


Namun komentar selanjutnya membuat dadanya semakin sesak dengan air mata yang siap tumpah.


'Tau! mati kali' jawab akun Reyhan yang membuat wajah Reyna memanas menahan amarahnya.


"Sebegitu bencinya abang sama aku. Meskipun kita ini beda ayah, tapi tetep aja kan aku ini adiknya, adik kandungnya. Apa aku sekotor itu?" gumam Reyna dengan matanya yang kini mulai sembab oleh air mata.


Reyna mencoba untuk menyeka air matanya yang mengalir perlahan. Dilemparnya pelan ponsel itu kesembarang tempat. Reyna merebahkan tubuhnya disofa yang empuk untuk membuka buku dan kembali belajar melupakan masalahnya dengan tegar.

__ADS_1


Baginya hanya memikirkan itu tidak akan membuatnya kembali seperti dulu lagi. Fikiran bodohnya harus berhenti bermain untuk kembali pada keluarganya yang nyaris mustahil untuk ia jangkau.


Kini tugasnya hanyalah belajar, dengan begitu Yasya akan menepati janjinya untuk mempertemukan dirinya dengan Almira.


__ADS_2