
Reyna keluar dari taksi yang telah sampai mengantarkannya ke sebuah rumah sakit.
Gadis itu berdiri menatap bangunan serba putih dan pintu kaca besar dibawahnya.
Reyna menghembuskan nafasnya dan meraih ponsel yang berada ditas kecil miliknya.
"Hallo Nay" kata Reyna sembari menelfon Kanaya dengan langkahnya yang berjalan mendekati bangunan itu.
"Iya gue udah sampe kok," katanya menjawab pertanyaan dari sahabatnya yang berada jauh darinya itu m
"Syukurlah, maaf ya, gue nggak bisa nemenin lo, nanti kalo udah keluar hasilnya jangan lupa ngasih tau gue ya."
Ucapan Kanaya disebrang sana membuat Reyna tersenyum dan mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
"Oh ya Rey, nggak terasa ya, lusa kita udah masuk sekolah aja, hem padahal gue masih kurang liburannya" kata Kanaya menahan ketawa oleh gurauannya sendiri.
"Dasar Naya, iya sih liburan kerasa cepet banget apalagi ditambah hal yang nggak pernah gue sangka-sangka sebelumnya. Eh btw, berangkat sekolah bareng yuk" seru Reyna pada Kanaya.
"Oke deh, lu kerumah gue ya."
"Iya" Reyna membuka pintu kaca rumah sakit itu dan mengedarkan pandangannya, tak sengaja matanya bertemu dengan sosok pria yang sangat familiar baginya.
'Bang... bang Rey,' batinnya, Reyhan seolah tidak perduli, dia mengalihkan pandangannya dan berjalan kearah yang berlawanan.
"Nay, gue telfon nanti lagi ya."
"Iya, ati-ati lo, jangan sampe ketemu Keyla atau abang lo yang psiko itu, nanti dihajar lagi lo" kata Kanaya memperingati.
Reyna menggaruk tengkuknya dan segera mematikan panggilannya dengan segera.
Gadis itu mencoba acuh pada Reyhan dan tidak ingin berlarut-larut memikirkannya. Baginya kesehatan Reynaldi jauh lebih penting dari apapun saat ini.
Sementara itu, Reyna kembali fokus pada pemeriksaan kesehatan yang ia lakukan hari ini. Banyak sekali yang harus ia lakukan, seperti pengecekan ke stabilan tubuh, metabolisme, darah dan lain sebagainya.
"Reyna, selamat, kamu telah lulus seleksi sebagai seorang pendonor" kata Al tersenyum pada gadis dihadapannya ini yang baru saja melakukan pemeriksaan.
"Syukurlah, kalau begitu, kira-kira kapan kita akan melakukan operasi dok?" tanya Reyna dengan antusias.
"Mungkin sekitar lima hari lagi atau seminggu, doakan saja semoga tuan Rey cepat kembali pulih, nanti saya akan hubungi kamu lagi."
"Amin, terimakasih ya dok, semoga ayah saya akan baik-baik saja setelah menerima donor dari saya" kata Reyna dengan senyuman yang mengembang.
"Ayah?" Al mengerutkan keningnya, ia menatap Reyna dengan pandangan bertanya.
Reyna membelalakkan matanya tatkala dia baru saja sadar apa yang telah ia ucapkan.
"Jadi Reynaldi, adalah ayah mu? pantas saja darah kalian sangat cocok, kenapa kamu tidak bilang sebelumnya Reyna" perkataan dari Al membuat Reyna menunduk.
"Dok, dokter, sebenarnya, ada hal yang sangat rumit yang tidak bisa saya jelaskan, tapi dok, berjanjilah, jangan biarkan mereka tau siapa pendonor hati untuk papa."
Kata Reyna dengan wajahnya yang serius dan pandangan yang sendu. Tatapannya menyiratkan sebuah harapan yang sangat ingin ia perjuangkan. Begitupun juga Al yang kini mulai memahami posisi Reyna.
"Baiklah, tapi kamu harus ingat, jaga kesehatan kamu baik-baik, meskipun setelah mendonorkan hati kamu akan sehat lagi, tapi kita harus mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Dan ini adalah vitamin, kamu minum 2 kali sehari ya untuk menjaga kesehatan kamu." kata dokter menjelaskan sambil menyodorkan sebuah botol vitamin untuk gadis dihadapannya.
__ADS_1
Hati gadis itu tampak kembali senang, wajahnya menyiratkan sebuah semburat merah dipipinya. Rasa bahagia dan rasa lega telah ia rasakan sekaligus, membuat dirinya merasa siap untuk membantu kesembuhan sang ayah. Kini tinggal sedikit lagi Reynaldi akan berjalan di ambang kesembuhannya.
"Kalau begitu saya akan segera pulang, terimakasih banyak dokter" kata Reyna dengan harapan yang begitu besar.
"Sama-sama" balas Al dengan senyuman.
Reyna berjalan dengan hati-hati, rasanya dia sedikit trauma dengan apa yang terjadi tempo hari kala Reyhan tiba-tiba memukul wajahnya.
Diintip nya kegiatan sang ayah yang saat ini tengah makan disuapi oleh Keyla. Tubuhnya semakin kurus dan pucat. Hati Reyna seperti ikut terluka, rasanya dia ingin menggantikan posisi Keyla saat ini.
Di dalam fikiran Reyna, ia sempat menerawang jauh. Pandangannya sendu mengingat betapa inginnya ia berads di posisi Keyla saat ini.
"*Papa, harus makan yang banyak ya, ini Reyna buatkan sup untuk papa" kata Reyna sambil menyodorkan sup dalam sendok makan pada Reynaldi.
"Gimana pa? enak?" tanya Reyna dengan senyuman yang mengembang.
"Wah, masakan peri kecil papa benar-benar luar biasa, sangat enak. Papa mau makan yang banyak ya, boleh tidak?" tanya Reynaldi dengan senyuman yang ditorehkan untuk putrinya seorang.
"Boleh sekali, nanti Reyna buatkan lagi ya. Tapi harus ingat, papa tidak boleh sakit lagi, kalau papa sakit, siapa yang akan jadi Superman untuk peri kecil papa" ujar Reyna manja pada sang Ayah yang kemudian langsung memeluknya.
"Iya sayang, papa akan segera sembuh." Ucap Reynaldi ditengah kehangatan pelukan yang ia bagi untuk Reyna*.
Reyna menggeleng, ia menghapus segala pandangannya yang menjurus entah kemana.
"Superman ya? bahkan aku sudah lupa bagaimana rasanya dilindungi," gumam Reyna dengan pelan, tak terasa air mata menggenang dipipi mulusnya membuat gadis itu membalikkan tubuhnya untuk kembali pulang.
"Superman?" tiba-tiba sosok pria berdiri dihadapan Reyna membuatnya terkejut.
"Kamu nangis?" tanya Satya yang kini memperhatikan gadis dihadapannya dengan seksama.
Reyna menggeleng dan buru-buru menghapus jejak air matanya.
"Aku permisi dulu ya kak, da" kata Reyna dengan senyuman dan segera melangkah menjauh dari Satya.
"Aneh, kalau dia itu orang yang sangat berarti, kenapa dia tidak ingin masuk kedalam? atau jangan-jangan?" batin Satya curiga.
Gadis cantik itu tampak berjalan cepat untuk menuju jalan raya siang ini. Panas terik dari cahaya matahari membuatnya sedikit menutupi kepalanya.
"Reyna, tunggu" tiba-tiba saja seseorang mencekal lengan Reyna dari belakang hingga membuatnya berhenti seketika.
"Kak Satya? ada apa ya?" tanya Reyna dengan kerut di dahinya.
"Ayo ikut aku, aku akan antar kamu pulang" kata Satya, membuat Reyna tersentak.
"Tapi kak" gadis itu sempat ragu, di tatapnya wajah tampan pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Udah ayo" tanpa persetujuan dari gadis itu Satya segera menarik Reyna menuju mobilnya yang berada diparkiran.
***
Suasana hening menyelimuti kedua orang yang berada didalam mobil merah yang melaju dengan kecepatan sedang tersebut.
Sesekali Reyna melirik pria yang tengah fokus pada jalanan didepannya dengan konsentrasi yang tinggi.
__ADS_1
Rasa canggung mulai dirasakan gadis itu.
"Rumah kamu dimana?" tanya Satya, membuat Reyna menoleh kearah pria itu.
"Jalan Wisma Tirta kak," jawab Reyna sekenanya.
"Sebenarnya dia siapa?" pertanyaan dai Satya membuat Reyna tertegun.
Reyna mengernyitkan keningnya, dirinya merasa bingung dengan kata 'dia' yang baru saja diucapkan oleh Satya.
"Dia?"
"ck, calon resipien dari jaringan hati mu."
"Oh, dia, hanya pernah kenal saja" jawab Reyna santai.
"Lalu?" lanjut Satya lagi.
"pernah memberikan ku kesempatan untuk melanjutkan sekolah ku, kenapa kak?" tanya Reyna kembali.
"Kamu yakin?" Reyna mengangguk, mungkin Satya curiga padanya. Namun ia tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kakak tanya begitu?" tanya Falery penasaran.
"Hem, tidak apa kalau kamu tidak ingin cerita, tapi jangan membohongi ku."
Reyna menatap pria disampingnya yang masih tidak bergeming dengan pandangannya.
"Dia adalah ayah ku," kata Reyna membuat tatapan mata penuh tanya itu teralihkan.
"Apa?!" Satya merasa begitu terkejut, ia bahkan menaikkan nada suaranya.
"Maaf, sebelumnya aku nggak jujur, tapi kakak jangan bilang siapa-siapa ya, janji" kata Reyna meyakinkan Satya.
"Oke," ucap Satya dengan santai dan terus fokus menyetir.
Sekitar lima belas menit berlalu kini kendaraan yang dinaiki oleh gadis dan pria itu akhirnya sampai pada rumah mewah yang baru saja Reyna pijaki.
"Kak berhenti disini, disini saja" ucap Reyna dengan menunjuk rumah yang berada tak jauh dari mobil itu melaju, memperlihatkan rumah besar dengan balkon diatasnya.
Inini rumah mu??" tanya Satya membuat Reyna mengangguk.
"Kakak mau mampir dulu?" tawar Reyna dan dibalas gelengan oleh Satya.
"Nggak usah, aku ada urusan."
"Kalo gitu, makasih ya kak, aku masuk dulu."
Satya hanya mengangguk tanpa berekspresi sedikitpun.
Ia memperhatikan Reyna yang kini menjauh pergi dari pandangannya.
__ADS_1