
"ADA APA INI?! KENAPA KALIAN BERKUMPUL DISINI?!" suara tegas dan berat itu membuat siswa-siswi menyingkir, mempersilahkan sang kepala sekolah untuk memasuki kerumunan itu.
"Pak kepala sekolah, apa ini cara anda mendidik siswa disini?" ucapan yang keluar dari mulut Reyhan membuat pria berkumis tebal berbadan besar itu mengernyitkan keningnya.
"Maksud anda apa tuan Malik? apa yang terjadi disini?" sejuta pertanyaan mengambang, membuat kepala sekolah kebingungan.
Reyhan tersenyum sinis sambil menatap Reyna yang kini diam membisu, sikapnya yang acuh membuat gadis itu seperti sengaja ingin membuat dirinya sendiri bermasalah.
"Apa bapak tau siapa dia?" tanya Reyhan sambil menyunggingkan senyum.
Pak kepala sekolah menatap gadis yang ditunjuk oleh Reyhan barusan, membuatnya semakin diliputi tanda tanya dikepalanya.
"Bukankah dia?" ucap pria paruh baya itu sambil mengerutkan keningnya.
"Usir dia dari sini! keluarkan dari sekolah ini!" ucapan tegas dari Reyhan membuat semua orang tercengang, Reyna yang berada ditengah-tengah kerumunan menatap seluruh teman-temannya yang kini telah melihat dirinya dengan cap negatif.
Terkecuali Hengky dan Kanaya, Reyna beralih menatap mereka berdua yang memandangnya dengan tatapan sendu. Meski begitu gadis itu seperti tidak menyangka dengan sikap acuh keduanya.
"Apa maksud pak Malik?, Reyna adalah siswi berprestasi disekolah kami, mana mungkin kami akan mengeluarkan dia tanpa alasan yang masuk akal?" ucap pak kepala sekolah dengan tegas memberikan pernyataan.
"Dia mencekik adik saya Keyla, dan kemudian menyerang saya, jika bapak tidak percaya tanyakan pada dia dan semua orang yang berada di sini" ucapan Reyhan membuat Keyla tampak tersenyum puas. Terlihat tipu muslihatnya kali ini berjalan dengan sempurna oleh bantuan Reyhan secara tiba-tiba.
Sedangkan Reyna, masih bertahan dengan tatapan dingin yang dia ekspresikan sedari tadi. Mengingat apa yang dilakukan oleh Keyla, Reyna tidak ingin dirinya lebih dihina, karena apapun yang dia katakan, mustahil untuk dipercayai semua orang.
"Iya, Reyna tadi mencekik anak baru itu" kata salah satu siswi yang sempat melihat perlakuan Reyna.
"Iya, dia juga mendorong kakak itu" bisikan dari siswa-siswi disana membuat tatapan intens kepala sekolah pada gadis yang tengah berada dihadapannya itu.
"Jika orang itu menginginkan saya keluar, maka saya akan keluar tapi saya tidak ingin minta maaf apalagi menyesal, karena saya tidak melakukan kesalahan, saya hanya membela diri ketika saya ditindas" ucap Reyna tegas, membuat semua yang berada disana semakin mencibir kearah gadis itu.
"Reyna sebaiknya lo pergi dari sini sekarang... lo nggak malu apa ha? udah ketauan kalo anak haram, masih aja disini" ucapan kasar dari Keyla membuat Reyna menatapnya tajam.
"Kalau sampai dia mengganggu ketertiban sekolah ini lagi, dan sampai membahayakan adik saya satu-satunya saya akan menuntut sekolah ini pak."
Ucapan Reyhan menimpali, membuat murid-murid disana dengan setuju memberikan beberapa pernyataan untuk ikut membela Keyla dan Reyhan.
Membuat Reyna merasa panas ditelinganya. Kini air mata gadis itu telah terkuras habis, ingin rasanya dia pergi dari tempat itu saat ini juga.
Dimana selalu ada kekacauan ketika Keyla mengikutinya. Kini Reyna lelah terus berdebat dan bersandiwara, hidupnya yang kelam dan penuh dengan tindasan dari orang-orang yang ia pedulikan kini membuat dirinya merasa ingin menghempaskan semua itu.
Mungkin ini saatnya, Reyna harus pergi dari sana, terlebih Hengky dan Kanaya membuat hatinya kian merasa sakit oleh ketidakpedulian mereka.
"CUKUP!" teriakan Reyna dengan tegas membuat semua orang yang bergumam dan mencibir kini diam seketika, menatapnya dengan tatapan sinis dan benci.
"Reyna, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan?! Saya benar-benar tidak menyangka jika kamu bertingkah senekat ini" kata pak kepala sekolah dengan raut wajah kecewa.
Reyna hanya diam membisu, rasanya dia ingin jujur pada semua orang saat itu. Namun apa yang dia katakan pasti akan menjadi bahan tertawaan bagi semua orang.
"Dengan terpaksa karena telah adanya kesaksian dari seluruh siwa dan kamu juga tidak menyangkalnya, saya mau tidak mau harus mengeluarkan mu dari sekolah ini" ucapan pak kepala sekolah membuat semua orang semakin mencibir, membuat Reyna hanya menyunggingkan senyumnya dan pergi dari sana tanpa permisi.
Bagi Reyna, urusan dengan gadis kecil yang selalu membahayakan hidupnya itu telah selesai. Psikopat itu akhirnya menghindar dari hidup Reyna meski yang dilakukannya harus membuat masalah bagi dirinya sendiri.
Reyna mengambil tasnya yang berada dikelas, sepi, tiada murid yang
berada disana satupun.
"Reyna, lo mau kemana?" pertanyaan seseorang pria dari belakangnya membuat Reyna yang tengah membereskan buku-bukunya kini membalikkan tubuhnya menatap pria yang tak asing baginya.
"Eh Putra, gue, gue mau pulang" kata Reyna tergagap.
"Kenapa pulang? ini kan masih jam istirahat" tanya Putri membuat Reyna hanya bisa menyunggingkan senyumnya.
Reyna menggeleng pelan, tatapan pasrah dimatanya membuat Putra mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Lo tanya aja sama semua murid diluar, gue keluar dari sini" kata Reyna dengan senyum nanar.
Putra menatap tak percaya pada gadis dihadapannya ini.
"Apa lo bilang?! Rey, lo itu mau direkrut sekolah buat mewakili lomba MIPA seprovinsi loh, masa lo mau keluar gitu aja?"
Reyna hanya mengedikkan bahu, dan menatap acuh pada Putra dan segera pergi mendahuluinya.
"Reyna!!" teriakan dari pria itu masih tak dihiraukan oleh nya.
Di Halte sekolahan.
Reyna duduk di halte itu sambil memandangi kakinya yang lelah beberapa saat lalu. Gadis itu mendengus kesal, sambil sesekali menatap jalanan didepannya.
Reyna masih menunggu kedatangan Yasya yang berada dijalan untuk menjemputnya.
Fikirannya melayang, mengingat kejadian barusan yang membuatnya harus dikeluarkan dari sekolah dengan alasan konyol.
Rasanya Reyna ingin tertawa hanya memikirkannya saja. Bukan Reyna tidak sedih, namun orang-orang bodoh itu berhasil masuk dalam perangkap Keyla.
Reyna merasa lelah untuk setiap
hari meladeni sikap Keyla yang menyerangnya secara tiba-tiba. Namun yang tidak habis fikir olehnya adalah, gadis itu yang telah membunuh ibu kandungnya.
Rasanya Reyna begitu tidak terima, hatinya seperti ditusuk dengan pedang yang tajam. Reyna menyeka air matanya yang kini mengalir tanpa sengaja dipipi cantiknya.
Seseorang dari arah sampingnya menyentuh bahunya dengan lembut, membuat gadis itu menoleh.
Sosok itu membuat Reyna bangkit dan menatap kembali arah jalanan didepannya.
"Rey, maaf" suara itu keluar dari mulut pria yang sebelumnya pernah menjadi sahabatnya, membuat Reyna tidak bergeming dan hanya diam membisu dengan tatapan mata kosong.
"Rey, kenapa sih lo nggak ngelawan aja?! lo itu direndahkan tapi nggak mau bela diri lo sendiri, apa sih yang ada di fikiran lo?" ucapan dari Kanaya membuat Reyna menatap tajam kearahnya.
Reyna terisak, air matanya jatuh menggenang dipipi mulusnya. Gadis itu masih menunduk, tiada penyesalan yang dapat membuatnya menderita, namun hanya tidak menyangka mereka yang dibilang sahabat hanya diam menyaksikan bagaimana Reyna dihina, walaupun dia tau itu semua hanyalah kekeliruan semata.
"Kalian berdua pergi aja, aku nggak mau lihat kalian lagi. Dan Hengky, tolong ya jangan biarkan pacar mu menjadi seorang pembunuh lagi, sudah cukup ibuku yang dia lenyap kan jangan ada korban lain."
Ucapan menohok dari Reyna barusan membuat keduanya saling melirik dan membelalakkan mata. Apa yang dimaksud
membunuh? bahkan Hengky sendiri pun tidak tau tentang kabar Almira.
"Rey, jadi lo mau mutusin persahabatan sama gue?" pertanyaan dari Kanaya membuat Reyna bangkit dan membelakangi dua sahabatnya itu.
"Semenjak gue dihina, gue baru tau kalau gue nggak punya sahabat selama ini, makasih kalian berdua udah nyadarin gue" kata Reyna dengan kerutan didahinya.
"Reyna, kamu salah, aku dan Keyla,"
"CUKUP Ky, jangan membuat ini tambah rumit lagi. Apapun yang terjadi denganmu dan Keyla bukanlah urusan ku semenjak kamu sendiri yang meminta ku untuk tidak lagi berurusan dengan mu" ucapan dari Hengky membuat Reyna tidak ingin mendengar apapun lagi, baginya semuanya sudah tidak penting sekarang. Semuanya sudah terjadi termasuk kehancuran yang berada di depan matanya.
"Rey, maafin gue, seharusnya gue tadi belain lo" kata Kanaya tidak dipedulikan oleh Reyna, yang masih tak bergeming membelakangi tubuh mereka. Tanpa sadar wajah Reyna begitu sembab dengan air mata yang menetes tanpa henti.
Tak lama setelah itu mobil putih datang dari arah depan Reyna, tampak plat nomor dan juga bayangan dari kaca mobil bagian depan memantulkan wajah pria yang sangat ia rindukan setiap saat.
Mobil itu berhenti, membuat Reyna langsung memasukinya. Tanpa memperdulikan kedua sahabatnya yang kini telah menjadi orang asing bagi Reyna.
"Ada apa sayang?" kata Yasya sambil menangkup wajah Reyna dengan lembut membuatnya menggeleng.
"Kanaya dan Hengky? kenapa mereka melihat kearah sini?" tanya Yasya yang menatap curiga pada dua teman Reyna itu.
"Pak, jalan saja, nanti saya jelaskan" ucapan lemah dari Reyna membuat pria disampingnya menatap sendu gadis yang tengah berusaha menahan tangisannya dan segera menginjak gas mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan halte.
"Nay, jadi bener apa kata Keyla. Reyna jadi simpanan pak Yasya?" pertanyaan dari Hengky membuat Kanaya menatap pria disampingnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Lo bodoh banget sih, dikibulin sama nenek lampir aja percaya, sini gue ceritain" sahut Kanaya sambil menarik lengan Hengky dan membawanya ke suatu tempat.
Yasya menghentikan mobilnya ditempat sepi diatas bukit yang terdapat pohon besar dibawahnya.
Sudah hampir setengah jam mereka menempuh perjalanan panjang dan akhirnya sampai ditempat ini. Tempat yang dulu pernah dikunjungi oleh Yasya dan Reyna kala Yasya memutuskan untuk melupakan gadis yang sekarang bersamanya itu.
"Reyna, apa kamu ingat tempat ini?" seru Yasya sambil terus tersenyum kearah Reyna.
Reyna tak menjawab, hanya diam tanpa bersuara membuat Yasya mengalihkan pandangannya kearah gadis cantik yang duduk disampingnya.
Yasya menggeleng kala mendapati Reyna tengah tertidur pulas dengan kepalanya bersandar pada jendela mobil yang tertutup sempurna.
Yasya melepaskan sabuk pengamannya dan tersenyum menatap wajah cantik gadis disampingnya. Menyentuh wajahnya dengan kelembutan yang biasa ia berikan.
cup...
Satu kecupan hangat dipipi Reyna membuat gadis itu menggeliat, dan membuka matanya, melihat pria tampan disampingnya yang kini menatapnya dengan tatapan mata penuh kelembutan.
"Pak Yasya, ini dimana? maaf saya ketiduran" kata Reyna masih dengan suara seraknya.
Yasya menggenggam tangan Reyna, membuat gadis itu tersenyum simpul.
"Sayang, apa yang terjadi padamu? kamu tidak apa-apa kan? kenapa tadi kamu nangis?" pertanyaan bertubi-tubi dari Yasya membuat Reyna tersenyum tenang dan beralih memeluk lengan pria itu dengan nyaman.
Yasya tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatir yang ia rasakan sedari tadi, seperti terjadi sesuatu pada gadis itu yang sempat mengganggu benaknya.
Dibalasnya pelukan Reyna dan dengan lembut, pria itu mengecup puncak kepala gadis itu, memberikan sebuah ketenangan yang Reyna inginkan.
Reyna mulai mau membuka diri. Tiada yang ia tutupi lagi dari Yasya termasuk masalah yang terjadi padanya hati ini.
"Apa?! kamu dikeluarkan dari sekolah?" kata Yasya dengan nada tinggi serta, hembusan berat nafasnya yang meninggalkan jejak amarah pada pria yang tengah duduk bersebelahan dengan Reyna dibawah pohon rindang, dengan pemandangan bukit indah didepan matanya.
Yasya tampak tidak terima dengan apa yang diceritakan oleh Reyna, amarahnya memuncak mengingat bagaimana Reyna dipermalukan oleh kakaknya sendiri.
Betapa Reyna tegar dan nampak masih tersenyum dengan tenang saat ini, membuat hatinya merasa sedikit lega meskipun masih ada amarah yang tersisa.
"Pak Yasya, jangan dibahas lagi, saya benar-benar tidak apa-apa. Malahan saya senang karena tidak berurusan lagi dengan mereka" Reyna menyentuh punggung Yasya dan menyandarkan kepalanya disana.
Disaat seperti ini, Reyna hanya membutuhkan topangan dan sandaran di bahu Yasya yang sangat nyaman.
Yasya menatap manik mata gadis yang masih mengagumi pemandangan dihadapannya dengan senyuman manis, memeluk tubuh gadis itu dengan pelukan hangat.
"Reyna, saya mengerti perasaan kamu, kamu tidak perlu bersikap kuat dihadapan saya jika kamu ingin menangis, menangis lah sayang."
Ucapan Yasya membuat Reyna mendongak menatap wajah tampan pria yang sangat ia cintai.
Cup...
Satu kecupan lembut dibibir Yasya membuat pria itu tersenyum dan menyatukan wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti.
"Sayang, jangan menggodaku. Disaat seperti ini, kamu masih saja mau mencium ku, sepertinya, kamu sudah mulai berani ya" kata Yasya sambil tersenyum menang menatap gadis yang memeluknya erat.
Gadis yang masih memakai seragam sekolah itu melingkarkan kedua tangannya dileher Yasya.
"Saya tidak ingin masalah ini menjadi lebih panjang lagi, yang penting sekarang, bapak berada disamping saya saat ini"
Yasya menarik tubuh Reyna, dan memeluknya dengan erat.
"Kamu sangat kuat sayang, jika saya berada diposisi kamu, mungkin saya tidak akan menahan diri untuk membalaskan dendam pada ibu Almira" ujar Yasya dengan tegas sambil mengusap rambut Reyna dengan lembut.
"Dibalik kepergiannya, mama menulis surat yang membuat ku ikhlas pak, aku tidak ingin ada dendam yang membuat mama merasa tidak tenang."
Pelukan hangat semakin erat ditubuh Reyna yang kini tengah menahan air matanya, mengingat kejadian tragis yang dialami oleh Almira. Rasa lelah dan sedih kini hilang seketika saat Yasya memberikan kenyamanan untuknya.
__ADS_1