The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Kelemahan yang sesungguhnya


__ADS_3

Reyna mengangkat kepalanya tatkala telah selesai membaca sepucuk surat yang berada ditangannya, beserta sebuah kotak dengan banyak foto-foto keluarga dan dirinya pada waktu masih kecil.


Matanya berkaca-kaca, ingin sekali menumpahkan rasa sedih yang ia rasakan sekarang, namun apalah daya.


Jika dia menangis keadaan tidak akan berubah begitu saja, itu akan membuat tangisannya sia-sia.


Reyna masih termenung, perlahan air mata menetes disudut matanya, namun senyuman manis tetap ia pancarkan. Dia tidak ingin bersedih dihadapan nenek dan Yasya.


"Maaf... jika saya dapat bergerak lebih cepat hari itu, mama mu pasti bisa tertolong" ucap Yasya dengan menepuk pundak gadis yang duduk disampingnya dengan perasaan bersalah.


"Pak Yasya tidak perlu minta maaf, saya yang harusnya berterima kasih, terimakasih telah menolong mama saya."


"Hari itu setelah beliau selesai menulis surat ini, dia bilang ingin istirahat, tapi saya tidak tau kalau istirahat itu ternyata...." kata pria itu dengan sengaja tak melanjutkan perkataannya.


Reyna menatap wajah pria itu dengan senyuman, dia mengangguk pelan dan menyentuh punggung tangan Yasya.


"Mama pasti sangat bahagia, ternyata dugaan saya selama ini salah, mama sangat sayang pada saya."


"Reyna.... mama mu menitipkan ini padamu" ucapan Kumala membuat Reyna mendongak menatap sang nenek yang tengah menyodorkan sebuah map.


"Ini apa nenek?" tanya Reyna dengan alisnya yang terangkat sebelah.


"Warisan dari mama mu untuk Reyhan dan kamu" lanjut Kumala menjelaskan.


"Tapi nek... aku nggak bisa..." Reyna menggeleng dengan cepat.


"Terimalah... mama memberikan cafe, dan perusahaan untuk kalian berdua, mama mu juga meninggalkan sebuah rumah untuk kamu tinggali dan apartemen, kelak ini lah rumah mu, nenek sudah renta, nenek tinggal sendirian disini, kamu harus menjaganya ya."


Reyna memeluk tubuh renta Kumala, tak sadar air matanya menetes, merasakan sakit. Bagaimana keadaan mamanya saat tengah merasakan musibah seperti itu.


***


Reyna tengah berdiri diatas batu nisan bertuliskan nama ibunya, Almira Syakieb binti Heri Muhammad Syakieb.


Perlahan dielusnya batu nisan itu, selang beberapa detik kemudian, tubuhnya membungkuk dan berlutut untuk mengulurkan sebuket bunga besar untuk ditaruh diatas gundukan tanah yang menandakan makam dari orang yang sangat ia sayangi.


"Mama... Reyna punya hadiah untuk mama, mama tau nggak, Reyna dapat juara satu loh. Andai mama bisa ada dihadapan ku, pasti Reyna bakal peluk mama seharian, hiks hiks... mama, abang sekarang udah hebat banget, selama ini abang sayang sama Reyna, abang, abang... juga kangen mama."


Ucap Reyna tak tahan dengan air matanya yang ingin ia tumpahkan sedari tadi, namun dibalik tangisannya, dia tidak pernah melepaskan senyum diwajahnya. Itulah yang membuat Yasya kagum pada gadis ini, sesakit apapun ujian yang diberikan Tuhan untuknya dia masih sempat untuk membuat tenang orang-orang disekitarnya. Dia tak ingin ada yang tau betapa rapuhnya ia.


"Reyna, kamu harus sabar."


"Saya nggak apa-apa kok pak" kata Reyna sambil menghapus air matanya yang kian deras mengalir.


"Saya tau kamu sangat terluka, tapi saya sudah berjanji untuk menyeka air matamu tiap kali kamu menangis."


"Saya sudah terbiasa seperti ini, mungkin memang takdir saya" ujar gadis itu dengan suaranya yang mulai melemah.


"Setidaknya, kamu jadi tau kalau masalah dalam keluarga mu itu hanyalah salah paham saja."

__ADS_1


"Tidak semudah itu, papa tidak akan mudah percaya."


"Jadi... maksud kamu? kamu tidak akan memberitahu mereka?" tanya Yasya dengan tatapan sayunya kepada Reyna.


Reyna bangkit dan menatap kedua bola mata Yasya dan tersenyum tenang.


Dia menggeleng, membuat Yasya mengernyitkan keningnya.


"Kenapa?" kata pria itu lagi membuat Reyna menggeleng pelan.


"Pada akhirnya, pasti mereka akan tau sendiri."


"Reyna... kamu tidak bisa begitu... kamu jangan egois dengan dirimu sendiri" ucap Yasya dengan memegang kedua pundak gadis dihadapannya itu.


"Tidak... biarkan saja, untuk saat ini mereka sangat membenci saya, pasti mereka tidak akan pernah mempercayai apa yang saya katakan."


"Reyna" Yasya memeluk tubuh ramping gadis dihadapannya itu yang tengah menunduk pasrah. Reyna hanya diam, entah apa yang dia rasakan saat ini, namun dibalik rasa sakit yang ia rasakan, ada rasa bahagia saat Yasya memeluk dirinya.


Dibalasnya pelukan hangat dari pria yang lebih tinggi darinya itu.


"Pak Yasya... terimakasih" suara Reyna mulai melemah dengan matanya yang sembab disusul suara seraknya.


"Menangislah... tumpahkan semua beban mu, saya akan selalu mendekap tubuh mu, membantumu dalam menyangga beban terberat dalam kehidupan mu. Jangan kamu tahan lagi, jika menangis membuat mu lega, jangan ragu untuk mengeluarkannya."


Tangisan gadis itu semakin menjadi ketika Yasya mengeratkan pelukannya. Tak sadar, air mata mulai mengalir dipipi pria tampan itu, betapa besar derita yang ditanggung oleh gadis pujaannya.


Keluarganya bahkan meninggalkan dia, ibu yang selama ini ia rindukan dan ia dambakan keberadaannya telah beristirahat selamanya.


Semua masalah terjadi begitu saja. Tangisan yang selama ini ia tahan kini tertumpah ruah dengan berbagai emosi didalam lubuk hatinya.


"Sa.. saya mau pulang" ucapan Reyna begitu lemah, dia merenggangkan pelukannya pada Yasya.


Perlahan Yasya melepaskan pelukannya dari gadis cantik itu, membuat dirinya menghapus air mata yang tersisa agar tidak diketahui oleh Reyna.


"Apa kamu ingin tinggal bersama nenekmu?" Reyna menggeleng pelan, hatinya belum siap untuk menerima kenyataan akan kepergian ibu kandungnya. Ibu yang selama ini tidak pernah ia sangka begitu sangat mencintai dia.


"Baiklah... kita kembali ke apartemen saya dulu, kamu tinggal disana saja oke."


Reyna mengangguk patuh dengan masih menunduk. Diangkatnya dagu gadis mungil itu, membuat Reyna mengikuti arahan dari Yasya yang tengah tersenyum menyemangati Reyna kembali.


Cup...


Dikecupnya bibir manis Reyna sekilas, membuat Reyna mematung.


"Sudah???" pertanyaan Yasya dibalas anggukan oleh Reyna.


Reyna merasa wajahnya memanas, mungkin hanya Yasya yang bisa menaklukkan hatinya saat ini.


Digenggamnya tangan Reyna dengan lembut, pria itu menariknya keluar dari area pemakaman yang membuat Reyna begitu lega.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju mobil, hendak kembali ke apartemen.


Drttt drttt...


Getaran dari ponsel Reyna membuat dirinya yang sebelumnya termenung kini membuka layar android yang berada di genggamannya.


"Ha... hallo" ucap Reyna seraya sedikit mengeluarkan suara seraknya.


"Halo... Reyna, kamu lupa ya, hari ini aku pulang. Katanya mau jemput? hayooo pasti lagi kencan kan sama Iryasya."


Reyna membelalak matanya, membuat dirinya melirik wajah pria disampingnya itu yang masih menatap arah jalan didepannya.


"Iiishhh kak Zayn, bisa nggak sih ngomongnya jangan keras-keras" ucap Reyna dengan berbisik.


"Haha.. kenapa? pasti ada Iryasya kan disitu, makanya kamu malu."


"KAKAK! iiihhhh ngeselin" ucap Reyna dengan wajah yang cemberut, membuat Yasya sadar akan kegiatan gadis cantik yang duduk disampingnya itu.


"Reyna, titip salam buat adik ipar kakak ya, kakak tunggu di toko, oke... daaa adikku."


"Kak Zayn... awas kalo kakak macam-macam, nanti aku bilangin ke tante kalo anaknya suka ngusilin aku, kakak ini selalu..." belum sempat ia menyelesaikan perkataannya namun Zayn segera mematikan panggilan itu dengan jail.


tut...


Telepon seluler itu tertutup membuat wajah Reyna terlihat semakin kesal.


"Dasar, kakak nggak berbakti sama adeknya."


"Hihihi" Yasya tertawa kecil mendengar perbincangan mereka yang terdengar samar-samar.


"Pak Yasya kenapa?" tanya gadis itu penasaran.


"Kalian ini seperti kakak adik kandung saja, hehehe bisa-bisanya bertingkah seperti itu."


"pak Yasya" panggilan dari Reyna dengan wajahnya yang sedikit merengek.


"Heummm?" Yasya memandangi wajah Reyna yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip, gadis itu menatap manik mata Yasya dengan tatapan berharap.


"Ada apa? kamu mau minta sesuatu?" Reyna mengangguk dan menunjukkan wajah polosnya.


"Katakan saja" kata pria itu membuat Reyna menunduk.


"Apapun yang dikatakan kak Zayn, pak Yasya jangan dengarkan ya."


Yasya masih fokus pada jalanan didepannya, sambil melirik sesekali pada gadis dengan ekspresi wajah memohon itu membuat dirinya mengernyitkan dahinya.


"Pak Yasya..." panggil Reyna lagi dengan suaranya yang agak meninggi.


"Ah... iya iya, memangnya Zayn sudah pulang ya?" tanya Yasya penasaran.

__ADS_1


"Iya, kak Zayn selalu menggoda ku."


"Hahahaha... baiklah baiklah, kita kesana saja bagaimana?" Reyna hanya mengangguk patuh tanda setuju.


__ADS_2