The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Jangan biarkan ketakutan menguasai dirimu


__ADS_3

3 hari kemudian


Reyns telah berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang sempurna untuk ujian kali ini, besok akan ada pengumuman hasil ujian. Gadis itu begitu gugup, dengan perasaannya yang tak menentu. Anehnya Yasya jarang sekali datang untuk berkunjung. Hal itu membuat Reyna agak sedikit murung ketika kesepian di apartemen.


'Mungkin dia sibuk untuk ujian skripsi, tapi rasanya sangat sepi ketika dia tak lagi menemani hari-hari ku' batinnya menyemangati diri.


Dengan seragam putih abu-abu dan tas kecil dipunggungnya melengkapi langkah Reyna sebagai salah satu murid di SMA Pelita.


Gadis itu berjalan menuju taman belakang sekolah, taman yang biasanya menjadi persinggahan saat hatinya menjadi sunyi seperti saat ini.


Hari ini adalah hari terakhir dia menyelesaikan ujian semester beserta ujian susulan yang belum sempat ia ikuti tempo hari karena keberadaannya di rumah sakit.


Reyna sudah belajar mati-matian demi mengejar ketinggalannya. Tak ada yang ia fikirkan lagi selain kesabarannya selama ini.


'Sudah seminggu... rasanya cepat sekali... mungkin luka lebam diwajahku sudah menghilang sejak lama, namun rasa sakit kehilangan keluarga ku masih tersimpan sangat rapi ditempat terpencil disana' batin Reyna memegangi wajahnya yang kini mulai kembali seperti biasa.


Reyna duduk disebuah kursi panjang, ia melihat pemandangan sekitar. Tidak banyak murid yang mendiami tempat ini, karena meskipun seperti taman namun hanya satu pohon dibawah sana yang berdiri kokoh dan satu gazebo beserta bunga-bunga kecil yang mengelilinginya.


Membuat siapa saja yang bertahan disini akan merasa panas oleh teriknya matahari. Meskipun begitu Reyna sangat menyukai taman kecil sekolah, karena disinilah tempat sepi yang menjadi curhatan indah maupun pilu dari setiap keadaannya.


'Tante Cintya dan Keyla. Aku ragu mereka baik untuk bang rey dan papa... Tapi meskipun begitu, aku harus apa? walaupun aku menjerit, menangis, maupun bersujud, tidak akan merubah keputusan mereka, yang meninggalkan ku dan memilih mereka untuk menggantikan posisi ku dan mama' batinnya dalam diam sambil menunduk memandang kedua kakinya yang terpasang sepatu disana.


.


'Mama... apa mama memang benar seperti itu? aku sangat tidak percaya, mama adalah wanita yang lembut, berhati baik, tapi papa juga tidak mungkin menuduh mama sembarangan... aku tidak tau kejadian itu seperti apa? Siapa sebenarnya ayah kandung ku?' batinnya lagi dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Entah, semua teka-teki itu membuat Reyna semakin pusing. Harapannya hanya ingin membanggakan orang-orang yang ia sayangi saat ini.


"Reyna...." seorang gadis menepuk pundak gadis itu dan mengambil posisi duduk bersebelahan dengannya.


Suara familiar itu membuat Reyna menoleh, memandangi wajahnya dengan senyum yang biasanya ia lempar kepada semua orang.


.


",Naya... lo ngapain kesini?" tanyanya antusias melihat kehadiran Kanaya.


"Gue tau kok, pasti lo bakal kesini.. setiap kali lo pengen sendiri, lo pasti datang ketempat ini" katanya seolah tau luar dalam tentang Reyna.


"Gue takut Nay... gue takut gagal... gue udah janji sama pak Yasya buat dapat yang terbaik di ujian kali ini."


"Gue tau ketakutan lo, tapi lo udah berusaha, gue yakin kok lo bisa menuai hasil yang lo tanam sendiri... apa yang belum kita coba akan menjadi ketakutan besar ketika kita tidak berusaha menaklukkannya"


Reyna tersenyum simpul mendengar penuturan dari sahabatnya satu ini. Dibalik sifatnya yang kekanak-kanakan dan ngeselin, ternyata dia bisa bersikap dewasa dan serius.


"Makasih ya Nay.... lo bener-bener sahabat terbaik gue."


"Llo bukan hanya sahabat, tapi lo adalah saudara gue" jawabnya membuat suasana menjadi haru.


***


Reyna dan Kanaya berjalan santai keluar dari sekolah. Biasanya mereka nongkrong dulu di halte tak jauh dari letak bangunan sekolah.


"Tumben Hengky seharian nggak nyariin elo... apa dia udah nemuin gadis impiannya ya?" ucap Kanaya menyenggol lengan gadis disampingnya.


"Katanya dia lagi ada urusan buat acara MOS nanti... lagian kalo dia nemuin cewek ya syukur lah."


"Lo nggak cemburu kan? haha" kata Kanaya sembari menyenggol lengan Reyna pelan membuat gadis itu ikut terkekeh.


"Yah ngapain gue cemburu, lo tau kan Hengky itu sama gue sahabatan... mana mungkin gue cemburu."

__ADS_1


"Hengky emang sahabat lo atau elonya aja yang udah suka sama... PAK..... emmm emm umm."


Sada akan apa yang hendak Kanaya katakan gadis itu membungkam mulut Kanaya, Ia menatap tajam sorot mata Kanaya.


"Hahahaha... muka lo merah, nggak usah panik gitu kali Rey."


"Ya makanya lo jangan ngaco mulu didepan umum... mau malu-maluin gue lo ya."


"Sorry sorry... terus, kapan lo mau jujur sama perasaan lo sendiri sama dia?"


Reyna mengajak Kanaya untuk duduk dibangku halte.


Ia mendekati telinga Kanaya dan mulai berbisik pelan.


"Gu... gue mau jujur sama perasaan gue, dan gue juga mau ngenalin pak Yasya sama mama gue."


"Whatttt?! bukannya mama lo belum ketemu ya Rey?."


"Gue yakin kok, pak Yasya bakal nemuin keberadaan mama, meskipun gue nggak tau nanti respon nyokap kaya gimana, karena sebelumnya gue belum pernah deket sama cowok manapun."


"Gue dukung elo Rey... gue yakin kok, dia pasti juga naksir sama lo, lo kan juga cantik... si Hengky idola sekolah aja bisa jatuh cinta sama lo."


"Gue sebenernya nggak mau percaya sih sama lo."


"Kenapa?" tanya Kanaya penasaran.


"Gue takut aja nggak sama dengan kenyataan.. gue takut cinta gue bertepuk sebelah tangan... meskipun gue sebenernya juga rada yakin sih kalo pak Yasya punya rasa ke gue."


"Nah lo tau kan... makanya jangan biarkan ketakutan menguasai diri lo... apa-apa yang belum dicoba nggak akan bisa ngerti kalo nggak ada usaha."


"Lo bener juga... tapi."


"Nggak usah tapi-tapian... lagian ya, tante Mira itu pasti sayang banget sama lo, ya... meskipun gue nggak pernah ketemu sama nyokap lo, tapi gue yakin kok tante bakalan setuju... apalagi dari latar belakang pak Yasya yang kaya gitu... siapa sih yang nggak mau menantu yang ganteng, tajir dan berpendidikan."


"Asal ngomong aja terus... gue masih SMA kali Nay."


***


Malam yang tenang, diiringi musik dari sebuah alunan melodi dari permainan gitar disebuah kamar apartemen yang cukup luas, membuat Reyna leluasa sambil bernyanyi santai.


"Pukul 18.30... aku sangat bosan... apa aku keluar aja ya?"


drttt drttt.....


Reyna mengalihkan pandangannya kearah ponselnya yang bergetar.


"Hallo kakak" sapa Reyna penuh dengan semangat...


"Reyna gimana ujian kamu dalam seminggu ini lancar?."


"Lancar kak, besok pengumuman hasil ujian."


.


"Oh ya? bagus dong, aku akan pulang lusa Rey... kamu maen ke toko ya... nanti aku ajak ketemu ibu ku."


Reyna tampak ragu dengan tawaran Zayn, dia berfikir sejenak.


"Nggak apa-apa ya kak?" tanya gadis itu lagi memastikan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok, lagian mommy juga pengen punya anak cewek... kebetulan kakak laki-laki ku tinggal di Amerika sama Daddy jadi Daddy cuma sebentar disini... aku ajak aja deh sekalian ke ibukota, dari pada mommy tinggal di Jogja sendirian."


"Tapi kak..." Reyna sempat ragu, ia berfikir sejenak.


"Udah tenang aja, mommy juga pengen ketemu sama kamu kok."


"Kak Zayn udah cerita soal tante ke aku?"


"Udah... mommy orangnya baik kok."


"Zayn.... sini nak..." suara lantang seorang wanita paruh baya menggema, terdengar samar-samar, namun sampai dipendengaran Reyna, membuat kata-kata dari pria disebrang sana terhenti.


"Rey... aku dipanggil mommy, nanti kakak telfon lagi ya."


"Ya udah, kakak hati-hati ya disana... nanti kalau pulang kabari aku."


"Oke... jangan lupa kasih aku hadiah nilai kamu yang terbaik ya."


"Iya kak" jawabnya singkat.


.tut tut tut.....


Panggilan telepon terputus dari mereka berdua. Niat Reyna yang awalnya ingin keluar malam kini ia urungkan.


drttt... drttt...


Suara getar dari ponsel Reyna bergetar kembali, awalnya dia mengira bahwa nama Zayn yang ada di layar ponselnya, namun ternyata dia salah. Untuk kali ini sahabatnya yang menelfon dia, membuat dia menarik nafas dalam-dalam.


"Hallo... Kyky" sapa nya pada sahabatnya disebrang sana.


"Reyna... maaf untuk hari-hari ini aku jarang banget ngabarin kamu" kata Hengky tiba-tiba membuatnya mengernyitkan dahi


"Aku tau kok Ky, kamu adalah ketua OSIS... jadi wajar buat kamu kalo sibuk, jangan khawatir sama aku, aku nggak apa-apa kok."


"Reyna... udah lama kita nggak barengan, gimana kalo besok aku jemput kamu?" Reyna membelalak matanya, dia merasa gugup, keningnya berkeringat, membuat dia bingung harus mengatakan apa pada sahabatnya itu.


"Anu... ky... aku aku" Reyna merasa gugup, ia merasa canggung dengan Hengky beberapa hari ini.


"Rey... ada yang mau aku omongin, kalau kamu ada masalah cerita ke aku... aku nggak mau ada rahasia diantara kita."


"Masalah apa maksud kamu? aku nggak ada... atau Kanaya ya yang ngomong macem-macem soal aku?."


"Kanaya nggak cerita apa-apa... tapi aku pengen denger semuanya dari kamu, bukan dari orang lain."


Reyna semakin gugup, keringat bercucuran didahi dan lehernya, perlahan dia turun dari atas ranjang.


"Aku nggak ngerti ky... kamu ngomong apa?" Reyna berjalan mondar-mandir, terlihat dia tengah mengusap keringat yang membanjiri lehernya. Rasa pengap dan gugup membuat pendingin ruangan tak mampu menahan rasa panik yang ia rasakan.


"Kita obrolin ini besok... dan kamu harus jujur sama aku... aku butuh penjelasan."


"Ky... tapi."


tut tut tut


Reyna mendengus kesal, Dirinya menggigit bibir tipis miliknya. Perasaannya kalut, apakah Hengky mengetahui sesuatu? apakah dia sebenarnya tau bahwa dirinya sudah tidak lagi tinggal di rumah?.


Fikirannya dipenuhi dengan tanda tanya akan masalah yang terjadi. Reyna menghembuskan nafas panjangnya.


Perlahan langkahnya menuju teras samping apartemen dan terlihat ramainya ibukota, dengan lampu-lampu kendaraan dan gedung-gedung bertingkat menghiasi pandangannya.

__ADS_1


Reyna duduk dibangku yang tersedia dengan beberapa pot bunga disana.


"Tuhan... apa yang harus aku lakukan?" gumam Reyna dalam hatinya.


__ADS_2