
tik tok ti tok....
Suara jam berdetak menjukkan waktu pukul 06.00 menyaksikan dua insan yang saling berpelukan tertidur pulas diatas ranjang yang besar. Serta selimut tebal membungkus tubuh mereka.
Yasya membuka matanya perlahan. Menatap gadis cantik yang tengah memeluknya saat ini dengan dada bidangnya yang terpampang, gadis itu tampak masih nyaman dengan posisinya.
Hari Minggu membuat dirinya malas untuk turun dari ranjang. Dia lebih menikmati wajah imut gadis yang tengah mendekapnya. Yasya tersenyum puas untuk hari-hari dimana Reyna menjadi prioritas utama yang selalu berada disisinya.
Disentuhnya perlahan rambut yang menghalangi kecantikan dari wajah sang pujaan. Reyna begitu tampak mempesona ketika sedang tidur, wajahnya begitu polos dan menggemaskan. Sayangnya, gadis secantik dia harus menerima penderitaan berat. Seketika wajah Yasya berubah sendu mengingat betapa lelahnya gadis ini berjuang sendirian untuk kehidupan remaja yang seharusnya bisa berkumpul bersama keluarga, gadis yang terlihat kuat namun sangat rapuh dalam hati kecilnya.
Begitu tega keluarganya telah mencampakkan dia.
'Andai aku jadi Reyhan, aku takkan pernah membuang gadis yang tidak berdosa dan polos seperti kamu' batin Yasya, tanpa sadar air matanya menetes. Dengan segera disekanya air mata itu.
Reyna menggeliat membuat Yasya yang sedari tadi memperhatikannya mulai tersenyum kembali.
"Reyna.... bangun" Reyna membalikkan badannya membelakangi tubuh Yasya. Yasya terkekeh melihat tingkah gadis itu.
Yasya kemudian turun dari ranjangnya, dan segera meraih kaos dalam yang berada dilemari.
ting tong....
Suara bel berbunyi, membuat Yasya mendekat ke arah pintu.
ceklek....
"Selamat pagi, tuan Iryasya Ferdiansyah? ini ada paket untuk tuan" kata seorang pengantar paket membawa sebuah bingkisan membuat pria itu menyambut pesanannya dengan hangat.
"Terimakasih...." ujarnya dengan senyuman diwajahnya.
"Hoammmhhp" sementara itu suara menguap keluar dari mulut Reyna yang dia tutup oleh telapak tangannya. Dia bangkit dari tidurnya dan memandangi sisi kiri tubuhnya.
"Pak Yasya dimana? apa udah pulang?" Reyna segera turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Langkahnya masih lunglai karena nyawanya yang belum terkumpul sempurna.
ceklek
Reyna membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri ditengah guyuran shower yang mengguyur tubuh telanjang atletisnya.
"AAaaaaaarrrrghh.... pak Yasya!" Yasya menatap Reyna dengan ekspresi terkejutnya. Tampak Reyna dengan segera menutup pintu itu dan segera menjauh dari kamar mandi.
Reyna merasa gugup, dia terlihat mondar-mandir dengan perasaan bimbang.
"Apa yang harus aku katakan padanya? aduuuhhhh... Reyna bodoh sekali kamu! kenapa sembarangan masuk kamar mandi, bikin malu aja" kata Reyna menggerutu, merutuki kebodohan dirinya.
ceklek...
Suara pintu dari belakang tubuhnya yang terbuka membuat Reyna terjingkat.
"Reyna.... kamu sudah bangun?" tanya Yasya yang tengah mengenakan kaos putih lengan pendek dan celana jeans hitam yag berada tak jauh dari tempat Reyna berdiri saat ini.
Reyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia hanya menunduk dan mendongak sesekali karena merasa canggung.
"Maaf pak.... saya nggak sengaja."
"Iya nggak apa-apa... kamu pasti mau mandi kan, silahkan" kata pria itu membuat Reyna tersenyum hangat sembari mengangguk.
Reyna mengangguk patuh, ia segera meraih baju ganti dan handuk yang berada disebelahnya. Dengan langkah cepat dia masuk kamar mandi tanpa menoleh kearah Yasya.
Yasya menggeleng dan terkekeh melihat tingkah gadis itu yang sedang merasa malu.
kring... kring...
Suara ponsel Yasya berdering, membuat dirinya yang tengah menyisir rambutnya berhenti sejenak untuk mengangkat telfon.
"Mami..." kata Yasya mengangkat panggilan itu dengan senyuman.
"Hallo mam."
"Anak nakal... darimana saja kamu? nggak pulang semalaman... bikin mami khawatir aja."
"Aku ada di apartemen ma... maaf, Irya lupa mau ngabarin."
__ADS_1
"Tapi hari ini kamu harus pulang, papa mu akan ada makan malam dirumah sama klien."
"Mi... aku nggak tertarik dengan bisnis, ayolah."
"Sayang.... mengertilah keadaan... sekali ini saja, okay... demi masa depan kamu dan bila."
"Oke... nanti malam pasti Yasya datang... mami tunggu aja kabar dari aku."
"Oke, mami bakal undang Satya sekalian"
Yasya mematikan panggilan dan beralih menatap cermin yang membuat penampilannya semakin keren, dengan kaos putih pendek dan blazer yang ia kenakan membuat penampilannya semakin tampan.
ceklek....
Reyna membuka pintu kamar mandi, dan melangkahkan kakinya kearah kamar.
Reyna memakai kaos putih panjang dan rok pendek dengan rambutnya yang sedikit basah membuat Yasya tersenyum melihat penampilannya yang kian hari kian manis itu.
"Pak Yasya bilang nggak ada baju disini, kok udah pakai baju?" tanya Reyna seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa? kamu nggak suka ya kalau saya pakai baju" kata Yasya membuat gadis itu membelalak.
"Bukan gitu... tapi kemarin bapak sendiri yang bilang..." suara gadis itu mendadak terhenti kala Yasya melangkah kearahnya.
"Bilang apa? hemmm?" Yasya mendekatkan tubuhnya dan berjalan kearah Reyna. Reyna yang terkejut mundur beberapa langkah.
Reyna menatap tajam wajah pria didepannya ini.
"Hahahaha... kamu lucu sekali... ini baju yang saya pesan dari tadi malam" tawa jail Yasya membuat Reyna mengerucutkan bibirnya. Dia tampak kesal dengan sikap Yasya.
Reyna berjalan dengan langkah kesal memasuki kamar dan mengambil sebuah sisir untuk menyisir rambutnya yang tampak kusut.
"Kamu siap-siap ya, kita mau jalan-jalan."
"Kemana pak?" tanya Reyna yang masih dengan tatapan penuh dengan penasaran.
"Nanti kamu juga pasti akan tau."
Reyna merona dibuatnya. Dia tampak tersenyum dan menunduk malu.
"Jangan lama-lama saya tunggu diluar" kata Yasya yang tengah berhenti sejenak saat berada di ambang pintu tanpa memandang wajah merona gadis cantik itu.
Setelah selesai sarapan mereka bergegas untuk keluar dipagi yang cerah.
Yasya mengajak gadis berusia 16 tahun itu kesebuah taman yang dihiasi bunga-bunga cantik dan kolam kecil berisi ikan dan beberapa angsa.
Reyna tampak tersenyum bahagia dengan tempat yang ia kunjungi saat ini. Tak lupa Yasya telah mempersiapkan tikar dan beberapa makanan untuk piknik kecil mereka.
Dan juga beberapa buku untuk belajar gadis pujaannya.
"Wahhhh... pak Yasya... ini bapak yang siapin?" tanya Reyna dengan wajah yang penuh kekaguman akan tempat yang indah itu m
Yasya tersenyum dan mengangguk. Ia bersyukur bisa melihat senyuman indah gadis dihadapannya. Dan dia bahagia karena Yasya.
"Terimakasih...." ujar Reyna dengan senyumnya yang semakin bahagia dan wajahnya yang terlihat memerah.
"Kita duduk dulu yuk..." tangan Yasya menggandeng lengan Reyna dan mereka duduk ditaman itu, dimana dibelakang mereka terlihat bunga-bunga cantik yang bermekaran dan banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan.
"Reyna... apa kamu bahagia?" tanya Yasya dengan tatapannya yang begitu intens membuat gadis itu mengangguk malu-malu seraya menatap Yasya.
"Baiklah... kalau begitu, mari kita belajar."
Seketika ekspresi wajah Reyna berubah. Ia tak menyangka Yasya membawanya kesini untuk mempersiapkan ujiannya.
"Belajar?" mata gadis itu membulat dengan tatapannya yang tidak percaya mengarah pada pria dihadapannya.
"Kamu kira, saya ajak kamu kesini untuk apa?" Reyna terdiam sejenak, tatapannya masih menjurus pada Yasya yang kini tersenyum miring padanya.
"Besok kamu sudah ujian, saya ajak kamu kesini biar nggak bosan, ayo belajar" perintah Yasya membuat Reyna mengangguk pasrah sembari membuka buku dihadapannya dengan perlahan.
m
__ADS_1
"Kalau ada yang tidak tau jangan ragu buat tanya" lanjut Yasya.
Reyna mengangguk patuh, kemudian dia meraih buku pelajaran dan mulai untuk belajar. Sedangkan Yasya mengambil salah satu buku referensi untuk ia baca.
Terlihat Reyna tampak serius dengan belajarnya.
Kadang dia bertanya pada Yasya, dan kadang sesekali mereka bercanda dan tertawa lepas.
Yasya tampak bisa menghibur Reyna untuk sesaat agar melupakan masalahnya. Sedangkan Reyna semakin terpesona dengan pria tampan yang berada disisinya saat ini.
Betapa beruntungnya ia, karena seseorang yang ia butuhkan untuk menjadi sandaran dalam setiap kesedihan adalah pria yang telah menempati hatinya.
Dua jam telah berlalu, Reyna yang awalnya tidak semangat untuk belajar kini hatinya terhibur oleh sang guru yang selalu mengajarinya dan memberikan semangat untuknya.
"Sudah siang... kamu mau makan?" tawar Yasya pada gadis yang tersenyum lembut itu dan mendapat anggukan setuju darinya.
Yasya membuka sebuah kotak makan dan memberikan sebuah kue padanya.
"Cheesecake?" kata Reyna seraya mengerutkan dahi. Sejenak matanya menyiratkan sebuah kenangan dan kerinduan pada dessert ditangannya.
"Ada apa?" Reyna menggeleng pelan dan segera menerima cheesecake dari tangan pria tampan dihadapannya.
"Terimakasih...." kata Reyna dengan senyuman. Reyna tampak tak bisa mengalihkan pandangannya dari cheesecake ditangannya. Sudah lama sekali, bahkan dia menyukai makanan ini karena Reyhan. Reyna tersenyum dan menyantap dessert itu dengan perasaan bahagia. Seolah keluarganya masih berada disisinya.
Reyna jadi ingat masa kecilnya, dulu dia juga diajak keluarga untuk piknik bersama. Persis seperti ini.
"Pak Yasya tau tidak?"
"Tidak..." ujar Yasya menggeleng sambil terus menikmati cheesecake ditangannya, membuat wajah Reyna yang semula terlihat tersenyum berubah menjadi suram....
"Ihhh saya mau ngasih tau" gerutu gadis itu dengan kesal, membuat Yasya terkekeh dibuatnya.
"Haha mau ngasih tau apa?" tanya Yasya terkekeh yang masih asyik menyantap dessert nya.
"Dulu saya juga diajak keluarga kecil saya piknik kaya gini, persis seperti tempat ini... dan saya mulai menyukai cheesecake pada saat itu juga... kebetulan sekali pak Yasya juga suka ini."
"Kebetulan sekali" kata pria itu dengan wajah polosnya.
"Dulu abang yang paling suka cheesecake, tapi gara-gara cuma bawa satu potong dan ditawarkan ke saya, saya makan semua akhirnya abang nggak mau makan sama sekali.... hahahaha... benar-benar masa kecil yang sangat indah."
Reyna tertawa kecut mengingat kembali masa lalu itu.
Yasya tertegun dengan apa yang didengarnya barusan, apa dia salah mengajaknya kesini? Sebenarnya ini adalah idenya agar Reyna bisa semangat lagi untuk belajar. Terutama semangat untuk menemukan ibunya.
Yasya menatap lekat gadis disampingnya itu yang tengah memandangi potongan cheesecake itu dengan senyum sendu.
Betapa rindunya pandangan Reyna pada keluarga. Yasya menepuk pundak gadis itu dan tersenyum lembut.
"Kamu nggak sendirian kok, ada saya... kalau kamu sebelumnya punya keluarga, kamu jangan lupa bahwa kamu masih memiliki mereka, hanya saja hemmm anggap mereka jauh dari kamu, dan kamu harus semangat lagi" tutur Yasya menyemangati sembari menggenggam jemari gadis itu dengan lembut.
"Terimakasih pak, pak Yasya udah ajak saya kesini, itu buat saya jadi lega. Meskipun mereka jauh, tapi kenangan itu adalah kenangan terindah, meski hanya sementara."
"Entah mengapa Reyna... hati saya mengatakan, masalah kamu hanya salah paham saja."
Reyna mengerutkan dahinya, apa yang difikirkan oleh Yasya. Padahal dirinya jelas-jelas telah diusir, dan orang tuanya juga telah bercerai sejak lama.
"Maksud bapak?" tanya Reyna dengan pandangannya yang penuh dengan tanya.
"Kamu adalah anak kandung dari papa kamu, dan menurut saya ibu kamu tidak akan selingkuh dengan pria lain."
"Kenapa pak Yasya bisa berfikir seperti itu?."
"Reyna coba kamu fikir, meskipun saya tidak pernah melihat rupa papamu, tapi kamu dan Reyhan sangatlah mirip... jika dilihat dari foto mamamu kalian tidak terlalu mendominasi, dan lagi... untuk apa mama mu berselingkuh?" jelas Yasya panjang lebar.
"Saya nggak ngerti pak?" Reyna menggeleng, dia menaikkan sebelah alisnya, mencoba mencerna kata-kata Yasya.
"Begini... kalau mama kamu memang selingkuh sudah lama, dan maaf ya... emm kamu adalah anak dari perselingkuhan, bukankah itu sudah sangat lama... dan kenapa baru terungkap waktu kamu sudah menginjak dewasa."
"Pak Yasya benar" kata gadis itu dengan senyuman dan juga semangat dalam memperjuangkan kehidupan keluarganya.
"Reyna... saya yakin kita pasti bisa memecahkan teka-teki ini."
__ADS_1
"Seandainya itu memang benar, pasti rasanya seperti baru bangun dari dunia mimpi" kata Reyna melemah dan dia mencoba menyunggingkan senyum pahitnya.