
Suara burung-burung kecil berkicau diluar rumah gadis itu, dengan malas Reyna turun dari tangga untuk menemui neneknya yang sedang menyiapkan makanan untuknya.
"Hoammmhhp" Reyna menguap, disusul rambutnya yang masih acak-acakan dan baju tidur berwarna pink itu tampak kusut membuat wajahnya tampak terlihat masih merasa ngantuk.
Reyna segera duduk di bangku makannya terlihat matanya yang masih mengerjap beberapa kali membuat Kumala menggeleng.
"Nenek nggak mau kamu pulang malam-malam lagi kaya tadi malam," kata Kumala sambil mengambil piring.
"Kamu itu anak gadis Reyna, kalau ada preman yang ganggu kamu gimana? nenek tau kalau kamu datang ke toko Zayn, tapi nenek nggak percaya kalau kamu pulang dari sana selarut itu, pasti ibunya Zayn juga akan menyuruhmu menginap" lanjut Kumala mengomel.
"Nenek, nenek pagi-pagi udah cerewet aja, hem aku masih ngantuk nih" ucap Reyna dengan suara seraknya sambil menyangga kepalanya menggunakan satu tangan yang ia sandarkan di meja.
"Iya deh, aku nggak bakalan pulang malam lagi, lagian tadi malem aku cuma mampir ngopi di cafe kok" lanjut Reyna menjelaskan sambil membuka matanya yang terlihat menghitam.
ting tong ting tong....
Suara bel berbunyi menggema di seluruh rumah membuat Reyna bangkit dari duduknya.
"Ada tamu, itu pasti Kanaya, bentar ya nek" ujar gadis itu penuh semangat. Ia bahkan baru ingat ada janji dengan sahabatnya. Semenjak ngopi di cafe, ia semakin sulit tidur semalaman, jadinya wajahnya sekarang masih kusut walau jiwanya tergugah oleh kedatangan Kanaya.
Reyna segera berlari dan membukakan pintu.
"Reyna, hati-hati, jangan lari, nanti kamu jatuh" teriak Kumala membuat Reyna beralih berjalan santai
"Iya nek" teriaknya terdengar samar-samar ditelinga wanita renta itu.
"Hemm Reyna, meskipun fikiranmu sudah dewasa, tapi masih saja ceroboh" gumam kumala dengan pelan sambil menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
Ceklek
"Reyna!" teriak Kanaya.
"Kanaya!" jawab Reyna dengan senyuman.
"Gue kangen banget sama lo, uhhh" kata Kanaya dan segera memeluk sahabatnya itu, membuat Reyna membalas pelukannya.
"Eh, masuk yuk, nenek udah masak loh, lo pasti belum sarapan kan" ujar Reyna sambil menggandeng tangan sahabatnya untuk masuk kedalam rumahnya.
"Udah ah, gue tadi udah sarapan dirumah, elo mandi sana, jam segini baru bangun tidur ya lo" kata Kanaya membuat Reyna menggaruk tengkuknya.
"Hehehe, maklum, nggak bisa tidur."
Reyna berjalan sambil merangkul pundak gadis itu dan membawanya kedalam.
"Nenek, ini Kanaya" perkataan sang cucu dibalas senyuman untuk Kanaya yang kini juga tersenyum ramah padanya.
"Hallo nenek, saya Kanaya" kata gadis disamping Reyna itu memperkenalkan diri.
"Oh iya, salam kenal. Pasti kamu belum sarapan ya, ayo kita makan sama-sama."
"Ah nggak perlu nek, aku udah sarapan kok tadi pagi."
"Nggak perlu sungkan, anggap rumah sendiri, lagipula nenek dan Reyna cuma tinggal berdua disini, kalau nggak ada yang bantuin habisin makan siapa lagi"
"Nnek jangan dipaksa kalo dia nggak mau, lagi diet nek"
Ucap Reyna dengan nada jail, membuat Kanaya menyenggol perut Reyna.
"Ihh paan sih lo" kata Kanaya kesal.
"Hahahaha" tawa Reyna pecah disela mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi itu.
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk sarapan bersama dengan candaan dari Reyna dan Kanaya.
***
__ADS_1
Hari ini adalah hari dimana Yasya akan melaksanakan wisuda.
Dirinya tengah duduk disamping mahasiswa lainnya dikursi panjang dengan deretan para wali di belakangnya.
Meski hatinya saat ini sedang merasa tidak nyaman, tapi dirinya harus tampak profesional.
Jauh dibelakangnya duduk, ada seseorang yang sekarang tengah berstatus sebagai tunangannya.
Tapi tetap saja, Yasya tidak ingin menyakiti Syahbilla.
Sudah beberapa hari ini Reyna tidak terlihat olehnya, hatinya merasakan rindu terhadap gadis yang sangat ia cintai.
Sebelumnya dia mencoba melupakan gadis itu berulang kali, namun hatinya seperti menolak. Ada rasa sakit yang datang bersamaan ketika jauh dari gadis itu, sehingga Yasya memutuskan untuk membiarkan perasaannya mengalir begitu saja.
Kini akhirnya prosesi wisuda yang dilaksanakan oleh Yasya berakhir dengan lancar
Yasya tengah berdiri di ambang pintu kaca kampusnya, lengkap dengan pakaian toga ia berjalan menuju teman-temannya yang kini tengah menunggu kehadirannya untuk foto bersama.
"Ayo teman-teman, baris yuk" kata seorang teman perempuan yang mengintruksikan kepada para sarjana yang baru saja selesai melaksanakan sesi upacara kelulusan.
cekrek... cekrek... cekrek...
Setelah acara foto bersama teman-temannya, mereka semua segera berhamburan termasuk Yasya.
"Eh Yasya, mau kemana kamu? kita foto dulu" kata Dian yang menahan lengan Yasya dan Syahbilla yang tepat berada dibelakangnya.
"Oke" jawabnya pasrah dengan keinginan Dian.
"Sayang, selamat ya, kamu sekarang udah jadi sarjana, aku jadi ikut seneng. Tahun depan aku susul" ucap Syahbilla dan langsung memeluk tubuh pria itu. Yasya hanya terdiam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya, dia hanya tersenyum tipis kearah Syahbilla.
"Ah kalian ini, mami jadi inget masa muda deh," kata Dian menggoda, membuat Syahbilla melepaskan pelukannya dengan pipi bersemu merah.
"Ah tante, bisa aja" ujar Syahbilla menunduk malu.
Syahbilla segera memeluk lengan Yasya dan tersenyum kearah kamera dan Yasya juga ikut tersenyum paksa.
"Eh, kalian lanjutin foto-foto dulu ya, mami tiba-tiba pengen buang air, sebentar ya" kata Dian dengan buru-buru.
"Iya mi" sahut Yasya datar dan diberi anggukan oleh Syahbilla.
Dian segera pergi untuk meninggalkan mereka. Terlihat langkahnya tergopoh-gopoh memasuki gedung itu kembali, hendak mencari kamar mandi.
"Sayang, aku seneng banget kamu bisa lulus, setelah ini kamu mau kerja apa?" tanya Syahbilla dengan serius.
Yasya hanya membisu, tatapannya kosong menghadap rumput dibawahnya.
Cup...
Kecupan dipipi Yasya dari bibir Syahbilla membuat pria itu menoleh kearah gadis yang tengah memeluk lengan nya saat ini.
"Kamu nih sukanya ngelamun, ngelamunin apa sih" kata Syahbilla seraya bergelayut manja di lengan tunangannya.
Mata Yasya menatap kearah sosok yang tengah mengintip dirinya dibalik tembok. Meski sosok itu mengalihkan dirinya dengan cepat, namun Yasya tidak asing dengan dia.
Hatinya bergetar hebat, ada tasa khawatir dalam batinnya. Ia takut jika Reyna menyaksikan apa yang dilakukan Syahbilla padanya.
Pandangannya gusar disusul rasa bahagia karena kedatangan gadis pujaannya itu.
'Reyna!' batinnya, membuat matanya membulat dan tersenyum.
"Bil, Bila, kamu disini sebentar ya, aku mau ambil tas aku didalam, sebentar okay" kata Yasya dengan buru-buru, membuat Syahbilla mengangguk dan tersenyum patuh.
"Jangan lama-lama" pesannya dan langsung dibalas anggukan oleh Yasya.
Yasya berlari, mendekati tiang tembok yang sebelumnya berdiri sosok Reyna.
__ADS_1
Namun ketika didekati, sosok itu seperti hilang ditelan bumi. Yasya terus mencari disekitar bangunan itu, namun tidak ada satupun orang yang dapat ia temui.
Yasya melepas topi toganya dan melemparnya kesembarang tempat, dia beralih mengacak rambutnya dan berteriak memanggil nama Reyna.
"Reyna! Reyna! kamu dimana?" pandangannya mengedar kesegala arah, namun lagi-lagi harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
Pria itu menunduk, berjalan kembali dengan langkah gontai.
krekkk...
Sesuatu seperti telah diinjaknya, matanya menatap buket bunga berwarna merah di atas tanah. Diraihnya bunga itu, dilihatnya ada sebuah kartu terselip diantara bunga-bunga.
'Happy Graduation day pak Yasya'
'Reyna, jadi benar itu adalah kamu' batin Yasya dengan senyuman mengembang diwajah tampannya.
***
"Reyna" panggilan dari Kanaya membuat Reyna menorehkan senyum palsunya.
"Hem" jawaban singkat dari gadis itu membuat Kanaya menatap sahabatnya itu dengan pandangan bersalah.
"Maafin gue ya, nggak seharusnya gue nyaranin lo buat datang ke acara kelulusannya pak Yasya, gue..." kata Kanaya penuh penyesalan sampai-sampai ia tak dapat melanjutkan perkataannya lagi.
"Naya, gue nggak apa-apa kok," kata Reyna menenangkan, meski hatinya terus bergejolak tidak tenang.
Mereka berjalan beriringan dengan pohon-pohon palem disamping jalanan aspal yang sepi dan beberapa bunga yang sengaja ditanami oleh pemerintah.
"Seharusnya gue ngehibur lo, tapi tanpa sengaja gue malah nambahin sakit dihati lo, maafin gue Rey" ucap Kanaya dengan nada yang melemah dan berhenti seketika.
"Hey, gue nggak apa-apa Nay, dari awal kan kita juga udah tau kenyataannya, kenapa harus sakit sekarang? tenang, haha, gue udah biasa kok kaya gini" ujar Reyna dengan senyuman yang tak ia lepaskan sedari tadi.
Kanaya memeluk tubuh sahabatnya itu, dipelukanya dengan nyaman dan dibalas oleh Reyna.
"Rey, gue tau, hiks betapa sakitnya elo, jadi lo nggak perlu ngerasa bahagia, hiks kalau lo pengen nangis lo bisa nangis sepuas yang lo mau" ucap Kanaya panjang lebar dengan masih mempertahankan pelukannya. Sedangkan Reyna dengan matanya yang berkaca-kaca dan menitikkan beberapa air mata disana.
Rasanya sangat pedih, Ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Syahbilla telah mencium pria itu, pria yang selama ini menjadi idaman untuknya. Bahkan kekecewaan yang harus ia tanggung berkali-kali lipat karena Yasya tidak pernah jujur perihal statusnya.
Rasanya teramat perih untuk dirasakan oleh gadis itu.
Reyna menghapus jejak air matanya dan mengelus punggung Kanaya. meskipun ia menangis, ia tak ingin Kanaya tau tentang perasaannya. Baginya cukup dia yang merasakan kesedihan jangan ada orang lain yang terlibat didalamnya.
"Sstt, gue nggak apa-apa kok Nay, gue baik-baik aja kok" kata Reyna sambil melepas pelukan dan menatap sahabatnya itu dengan lekat.
"Nay, lo fikir deh, gue itu udah banyak kesandung masalah, mulai dari gue diusir dari rumah, gue dicaci-maki sama bang rey dan papa, gue dihajar sama mereka, dan gue juga kehilangan mama gue. Apa lo fikir itu masalah kecil ha?" lanjutnya menjelaskan.
Kanaya menggeleng, dihapusnya air mata yang menetes karena sahabatnya itu.
"Nah lo tau, kalau gue lemah disaat-saat yang kaya gini, itu berarti gue bodoh Nay. Coba deh, kalau keluarga itu meninggalkan kita, apakah kita bisa mencari pengganti mereka untuk jadi keluarga? nggak kan?."
Pertanyaan Reyna membuat Kanaya menggeleng untuk kedua kalinya.
"Sedangkan, kalau cuma masalah cowok, kita bisa cari sebanyak yang kita mau, ya nggak?" kata Reyna dengan senyuman membuat tangisan Kanaya mulai mereda.
.
"Reyna elo" kata-kata Kanaya terpotong oleh ucapan Reyna yang menghibur dirinya.
"Ssttttt , Selama Zayn Malik dan Charlie Puth belum ketemu jodohnya, gue masih ada kesempatan buat nggak menjomblo untuk selamanya hahahaha" kata Reyna membuat Kanaya ikut tertawa dan mencubit perut Reyna hingga gadis itu berlari menjauh darinya.
"Hahahaha, sialan lo Rey" ujar Kanaya mencubit perut Reyna membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aw, sakit tau, ihhh."
Kanaya berlari menjauh dengan Reyna yang berada dibelakangnya yang tengah mengejarnya.
__ADS_1