The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Rapuh


__ADS_3

Yasya tengah berjabat tangan dengan beberapa rekan kerja Adi. Berakhirnya makan malam dan acara yang penuh kecanggungan membuat dirinya bisa bernafas lega.


Jam telah menunjukkan pukul 20.00, Yasya menatap arloji yang tengah ia kenakan.


Wajahnya suram dilanda kekhawatiran. Hal itu membuat sahabatnya penasaran akan perasaannya. Didekatinya sahabat yang telah bagai saudara dalam masa kecilnya itu yang tengah berdiri dipinggir kolam renang.


"Bro" panggil Satya pada sahabatnya dengan menepuk pundak pria itu.


"Sat... gue" ucapan Yasya terpotong oleh kata-kata Satya. Seolah sahabatnya mengerti dengan perasaan pria itu.


"Gimana Reyna?" tanya Satya.


"APA?!" tanya Yasya terkejut, entah kenapa sahabatnya ini bisa tau akan isi hatinya. Pandangannya mengerjap beberapa kali, ia menatap langit diatas sana. Fikirannya hilang, entah kemana, seperti ada yang membawanya terbang ke angkasa.


"Lo khawatir kan sama dia? kalo khawatir, cepetan telfon, daripada nanti lo yang nyesel."


"Sebenernya, tadi dia kerumah cowoknya, buat belajar bareng" kata Yasya menjelaskan.


"Cowok? lo tau darimana kalo dia cowoknya?."


Yasya sempat berfikir, ia sedikit membenarkan kata-kata Satya dalam hatinya. Tapi rasa cemburu dan juga kejadian waktu itu, tak dapat menyembunyikan perasaannya yang diliputi kebimbangan.


"Hemm... gue liat sendiri, mereka pacaran, itu udah lama sih... gue juga nggak pernah nyinggung."


"Bodoh! lo aja nggak yakin gitu, tanya dong... jangan cuma asal liat aja! kadang apa yang kita liat bukan seperti apa yang kita fikirkan" kata Satya sok dewasa.


"Jadi menurut lo? gue harus tanya gitu?."


"Nyali lo dimana sih? lo itu cowok man, jangan lemah kaya banci" ujar Satya membuat Yasya berfikir, mungkin kata-kata Satya memang sedikit pedas. Tapi apa yang dia katakan memang benar. Ditambah lagi perasaan Yasya semakin khawatir.


"Gue khawatir Sat... dia belum ada kabar sama sekali, biasanya dia pasti ngabari kalo udah sampe apartemen" kata Yasya dengan menatap kolam renang dihalaman samping rumahnya yang besar.


"Coba telfon dia... dilihat dari sikap lo, kayanya kalian lagi minim komunikasi deh."


Yasya sempat ragu, dia menatap ponselnya yang tengah ia raih dari saku celananya.


Perlahan jemarinya mengetik nama Reyna pada kontak panggilan.


***


Reyna masih tak beranjak dari tempatnya duduk, dia masih merenungi kejadian tadi. Hatinya masih kecewa dan juga sakit yang ia alami.


drttt drttt.... drttt drttt....


Suara getar ponselnya membuat dirinya terhenyak dan segera mengangkat panggilan.


"Ha... halo" kata Reyna dengan suara sumbangnya. Ia bahkan tak perduli dengan siaps ia bicara, entah apakah orang yang menelfonnya akan menyadari suaranya yang serak habis menangis.


"Reyna... kamu ada dimana? apa sudah sampai di apartemen?" Reyna merasa tenang mendengar suara Yasya, hatinya terenyuh Disaat seperti ini, orang yang paling dia percayai hadir dalam setiap kelemahannya.


"Reyna, jawab saya kamu ada dimana?" tanya Yasya lagi membuat Reyna menitikkan air matanya.


"Pak Yasya, saya tidak apa-apa, sebentar lagi saya akan segera pulang" kata Reyna dengan suara seraknya. Dia tidak ingin Yasya khawatir dengan keadaannya.


"Reyna.... kamu nangis??? apa yang terjadi??? katakan..."


"pak Yasya... saya nggak apa-apa... sebentar lagi saya akan segera sampai apartemen kok"


"Reyna.... jangan membuat saya khawatir... katakan saja kamu berada dimana...???"


Reyna segera menghapus jejak air matanya. Disapu nya dengan lembut wajah merah bekas tamparan dan lebam disudut bibirnya yang tengah berdarah.


"Saya berada di jalan, nanti saya kirim lokasinya."


"Oke... saya akan segera kesana" ucap Yasya segera menutup panggilannya.


Reyna memesan ojek online, dengan segera dirinya bangkit meskipun sedikit tertatih. Dia tidak ingin Yasya khawatir dengan kondisinya saat ini.


Diraihnya ponselnya dan menunggu diseberang jalan untuk menunggu driver.


Tak lama kemudian ojek yang dipesan oleh Reyna telah datang.


Sementara itu, Yasya menunggu pesan dari Reyna tentang lokasinya saat ini. Fikirannya melayang, membuat dirinya dilanda kecemasan.


"Gimana sya?" Yasya menggeleng, dirinya mondar-mandir sambil sesekali menatap layar ponselnya.


Lima belas menit kemudian, pesan Reyna akhirnya masuk, menunjukkan dirinya berada tak jauh dari letak apartemennya. Yasya segera mengambil kunci mobil, dan menepuk pundak sahabatnya itu.


"Gue cabut sat, ntar lo tidur di kamar gua aja, jangan pulang, kalo ditanya mami, bilang gue ada urusan."


"Siap bos... jaga dia baik-baik" Yasya mengangguk dan segera pergi meninggalkan kediamannya.


Flashback on.

__ADS_1


"Pak berhenti di halte depan aja."


Motor dari ojek yang dipesan oleh Reyna berhenti seketika. Wajah driver itu mendadak bingung, padahal jarak apartemen dari sini masih sangat jauh.


"Kenapa non? jaraknya masih sekitar lima kilometer lagi, masih jauh" tanya driver itu yang tengah menatap Reyna melepaskan helm dari kepalanya.


"Nggak apa-apa pak, saya nunggu teman, ini uangnya... terimakasih."


"Tapi non, keadaan non sepertinya tidak baik... apa yakin non mau nungguin disini? langit juga mendung, nanti kalau kehujanan gimana?" Reyna menggeleng, dia tampak tersenyum ditengah wajahnya yang pucat.


"Nggak apa-apa pak" mendengar hal itu membuat driver mengangguk dan segera pamit untuk pergi.


Reyna menatap langit yang tengah gelap gulita, ditambah lagi mendung tebal menyelimuti langit malam. Hingga bintang yang biasanya bertaburan kini tinggal bayangan kunang-kunang dibawahnya.


"Akhirnya sampai di sini... dengan begini pak Yasya tidak akan khawatir padaku, dia pasti percaya aku akan baik-baik saja... meskipun jauh, tapi waktu yang ku perlukan cukup untuk sampai di apartemen."


Reyna dengan segera mengirimkan lokasinya pada sang guru yang selalu menemani kesehariannya itu. Dia tampak tersenyum lega.


Flashback off.


Langkah kakinya masih tertatih, darah yang keluar dari lututnya cukup parah, sehingga sebagian telah mengering terkena angin.


Dirinya dengan cepat melangkahkan kakinya, sampai.


tik tik tik....


Perlahan namun pasti, rintikan hujan yang semula ringan dan kecil, kini berubah menjadi deras dengan kecepatan curah yang cukup tinggi. Membuat tubuh Reyna basah dan menggigil.


Reyna terus berjalan, meskipun jalanan tampak ramai oleh kendaraan bermotor, dirinya tak peduli. Ia lebih ingin mengingat dimana Reyhan yang selalu ingin menjaga dia, dan Reynaldi Superman untuk dirinya kini telah berbalik menjadi orang yang sangat membenci kehadirannya di dunia ini.


Fikiran itu kembali lagi dalam luka yang menusuk di hatinya. Bayangan akan keluarga kecil yang bahagia, kini hanya menyisakan sebuah kisah belaka. Rasanya hidup Reyna sepi dan tanpa arah, ingin sekali dia mengakhiri hidupnya jika bukan karena Almira yang selalu menguatkan dia untuk tetap tersenyum dan hidup.


Tak terasa, hujan membasahi tubuhnya yang begitu rapuh serta menutupi air mata yang ia sembunyikan. Matanya terlihat memerah, dan wajahnya semakin pucat serta bibirnya membiru.


Tin tin....


Suara sebuah mobil dari arah belakangnya membuat Reyna terkejut dan berbalik untuk menatap kendaraan itu.


Reyna merasa dirinya tak kuasa, pandangannya kabur, dan hawa dingin yang menyatu dengan derasnya hujan membuat dirinya lemah tak bertenaga.


Reyna tak sadarkan diri, tubuhnya yang basah tergeletak diaspal jalan dengan rintikan diatasnya. Membuat dirinya menutup mata dengan pulas.


***


"PERGI KAMU.... ANAK HARAM....!!!!" Teriak pria paruh baya pada gadis yang tengah berdiri memegang lengan seorang pria tampan.


Plakkk...


Plakkkk...


Kedua tamparan secara bergantian dari masing-masing tangan yang pernah memeluknya itu membuat Reyna tersungkur.


Reyna membuka matanya, nafasnya tersengal. Mimpi yang seolah nyata membuat dirinya terbangun. Pening yang ia rasakan membuat ia memegang sebelah pelipisnya.


Pandangannya mengedar ke segala arah, begitu asingnya tempat itu, ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan.


"Dimana aku?" tanya Reyna dalam gumamnya, ingatannya kembali pada malam dimana dirinya tengah kehujanan dan pingsan. tiba-tiba pandangannya beralih kearah pria tampan yang tengah tertidur pulas dengan posisinya yang duduk, tangan kekar itu memegang erat telapak halus milik Reyna. Sedangkan tangan sisi yang lain telah menempel sebuah infus, membuat dirinya yakin akan keberadaannya yang tengah berada di rumah sakit.


"Pak Yasya....???" Reyna tersenyum simpul, dirinya merasa aman dan tenang ketika melihat pria dibawahnya.


Reyna menghembuskan nafas lega, entah mengapa tiap kali dirinya menemui masalah pria ini selalu berada disisinya .


Tak terasa air mata Reyna tumpah mengingat kejadian semalam.


"Reyna... kamu sudah bangun?" kata Yasya yang tengah mengerjapkan matanya beberapa kali. Ditatapnya wajah cantik gadis yang terduduk lemah itu, wajahnya pucat dan lebam dikedua pipinya.


Reyna dengan buru-buru menghapus air matanya. Dia memandang wajah pria itu dengan senyum palsunya.


Reyna mengangguk, dirinya tampak menundukkan kepalanya, tak kuat menahan emosi yang ingin ia tumpahkan.


"Reyna... ceritakan pada saya... kenapa keadaan kamu bisa seperti ini?" Reyna menatap manik mata lentik diwajah tampan Yasya. Dirinya ragu untuk jujur akan peristiwa semalam.


"Katakanlah... bukankah saya sudah berjanji akan menemukan mama kamu, dan kamu juga sudah berjanji untuk terbuka dengan saya."


Reyna menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca.


"Oak Yasya, percaya kan dengan say?" tanya Reyna dengan menitikkan air matanya.


"Saya percaya dengan kamu..." kata Yasya dengan senyum keyakinan.


"Tadi malam, saya diantar oleh Hengky untuk pulang ke rumah... saya tidak ingin mengatakan apapun tentang masalah saya, dan......" Reyna menceritakan peristiwa pahit yang ia alami semalam, tiada yang ia tutupi dari lelaki yang tengah memegang erat tangannya saat ini. Seketika wajah lelaki itu berubah menjadi sedih, hatinya tak kuasa menahan amarah kala mendengar penuturan dari Reyna.


Direngkuhnya kepala Reyna, dielusnya rambut hitam legam yang panjang dan indah itu. Perlakuan Yasya menjadi obat untuk rasa sedih Reyna yang tengah datang menghampirinya.

__ADS_1


Reyna membalas pelukan hangat dari sang guru. Matanya kembali berkaca-kaca, tenggorokannya terasa tercekat, rasanya sakit sekali ketika jauh dari tempat yang menjadi perlindungan baginya.


"Pak Yasya... apa salah saya? bahkan saya tidak pernah berniat untuk menyakiti mereka sedikitpun... bahkan papa... papa memukul saya untuk pertama kalinya, dia tidak tahu apa yang terjadi.... tapi."


"Ssstttt.... kalau kamu ingin menangis, menangis lah... jangan mencoba untuk menyembunyikan perasaan kamu pada saya... jika menangis bisa membuat hatimu merasa lega, jangan ragu... karena ada saya yang siap menyeka air mata mu... apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah meninggalkan kamu Reyna."


Mata Reyna semakin memerah, kini semua perasaan yang ia tahan dapat tertumpahkan dipelukan orang yang paling dia percaya.


"Pak Yasya" tangis Reyna menjadi dipelukan Yasya, tangisannya yang terisak kini berubah menjadi tersedu.


Yasya merasakan kesakitan yang Reyna rasakan, lebam yang berada di wajah cantik gadis SMA ini telah banyak melukai hatinya, belum cukup untuk itu. Bahkan keluarga yang selama ini ia banggakan kini hanyalah goresan luka yang menyayat kehidupan remajanya.


Yasya bahkan tak sadar akan air mata yang merembes melalui pipinya. Dia bahkan tidak pernah menangis demi wanita, tapi semenjak mengenal gadis dipelukannya kini, betapa berat penderitaan Reyna, hingga dirinya sendiri ikut merasakannya.


Isakan Reyna terdengar melemah, tangannya masih memeluk erat pinggang Yasya.


Diraihnya dagu gadis cantik itu, Yasya menarik wajah Reyna yang penuh dengan linangan air mata. Disapunya dengan lembut agar tidak menyakiti luka memar diwajahnya.


Yasya beralih mencium kening Reyna agar dirinya merasa lebih tenang.


"Pak Yasya, ini sudah jam berapa?" Yasya menatap arloji ditangannya.


"Jam 7 pagi... kenapa?"


"Hari ini saya ujian, bagaimana ini,... saya harus segera keluar dari sini."


Wajah Reyna panik bukan main, hari ini adalah hari pertamanya mengikuti ujian akhir semester.


"Hangan khawatir, saya sudah menghubungi pihak sekolah, saya bilang kalau kamu dirawat dirumah sakit... akan ada ujian susulan khusus untuk kamu nanti."


"Benarkah?" Yasya mengangguk dengan senyumnya yang menenangkan. Membuat Reyna bernafas lega.


"Pak Yasya sudah berjanji akan menemukan mama, maka saya juga tidak akan mengecewakan bapak" ujar Reyna sembari tersenyum pada pria yang tengah duduk dihadapannya.


"Bagus... itu baru murid saya" kata Yasya sambil mengacak rambut Reyna.


Perkataan Yasya barusan membuat hatinya terasa dilanda keresahan lagi, ekspresinya berubah seketika.


'Murid? baginya aku hanyalah sekedar murid, Reyna kamu jangan terlalu bermimpi, hidupmu sudah terlalu berantakan, apakah kamu ingin menghancurkan perasaan mu lagi' batin Reyna dalam hatinya.


"Kamu kenapa? kok bengong?."


"Tidak apa-apa... pak boleh saya tanya sesuatu?" Reyna mulai tersenyum kembali, tampak dirinya mengalihkan pembicaraan. Sedang pria itu mengangguk tanda setuju.


"Bagaimana pak Yasya bisa menemukan saya dan bawa saya kesini?"


"Itu karena semalam mobil yang berada dibelakang kamu adalah mobil saya... ketika saya melihat kamu dengan berjalan tertatih, saya menghentikan mobil, dan kamu segera pingsan begitu saja, melihat luka di lutut kamu yang bercucuran darah, dan wajah kamu seperti baru dipukul saya jadi khawatir... dan begitu seterusnya, sampai saya bawa kamu kerumah sakit."


"Terimakasih banyak pak... pak Yasya sudah banyak membantu saya... saya tidak tau lagi harus membalas dengan apa?" Yasya tampak berfikir, dirinya menatap lekat wajah Reyna.


"Bagaimana kalau nilai yang tinggi untuk ujian kamu" Reyna menatap wajah Yasya dengan mata yang berbinar-binar. Mungkin saja dengan belajar dan serius dengan cita-citanya membuat dirinya akan lupa pada masalah yang ia alami.


"Oke... setuju" ucap Reyna penuh keyakinan.


Iryasya Ferdiansyah



Reyna Malik



Hengky Adiva



Reyhan Malik



Keyla Routulie



Zayn Bagas



**Hay Readers... terimakasih teruntuk kalian semua yang sudah baca novel dari Vanila, jangan lupa follow akun author ya. Kalau ada yang ingin profil pict dari pemeran isi dikolom komentar ya...


jangan lupa kasih jempol sehabis baca, karena jempol dan juga komen dari kalian adalah penyemangat untuk author.


Salam manis untuk para Readers tercinta...

__ADS_1


muaaacchhhh 😘


by: Author Vanila Latte 🧚**


__ADS_2