The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Perasaan yang Nyaman


__ADS_3

Reyhan dan Reyna pergi meninggalkan kantor polisi, dan bergegas menaiki mobil.


"Bang," panggil Reyna membuat Reyhan menoleh nya sekilas.


"Hem," kata Reyhan membalas.


"Bang Rey masih marah ya?," tanya Reyna agak ragu.


"Kata siapa abang marah?," tanya Reyhan lagi.


"Itu, dari tadi diem aja."


Reyhan menghela nafas, ia mengacak rambut adiknya dengan gemas sambil bertutur lembut pada Reyna.


"Ya udah, kita lupain semua yang terjadi, dan yang terpenting abang udah lega banget kamu dapat keadilan. Em, ke mall aja yuk" ajak Reyhan membuat Reyna sedikit agak ragu dengan tawaran sang kakak.


"Iya, aku juga udah lega, tapi ini kan masih sore bang, katanya ngajak malam" kata Reyna ragu sambil menatap Reyhan yang kini mulai tersenyum padanya.


"Ya udah, main sampe malem" tambah Reyhan membuat Reyna semakin terperanjat.


"Emangnya abang nggak ada kerjaan ya?" ujar Reyna meyakinkan abangnya.


"Kalo kamu nggak mau, ya sudah" sahut Reyhan dengan senyuman jahilnya, membuat Reyna memeluk lengan sang kakak sambil bergelayut manja.


"Eh ya mau lah" Reyhan terkekeh melihat tingkah Reyna yang kini mulai merengek.


Mereka berjalan beriringan saat telah sampai di mall, tak banyak orang yang tau mereka adalah saudara, namun paras keduanya sangat cocok, beberapa orang akan salah faham jika melihat kedekatan adik-kakak yang satu ini.


Bahkan banyak pasang mata yang melirik kearah mereka, seolah iri dengan kedekatan Reyhan dan Reyna.


Yang satu pria tinggi dengan wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis. Yang satu lagi gadis dengan tubuhnya yang menyamai pundak pria disampingnya. Parasnya begitu cantik dan menawan membuat lelaki mana saja pasti akan terpesona oleh kharisma Reyna.


Setelah berjalan cukup lama, mereka memainkan beberapa game yang ada di mall itu. Tertawa, bercanda, dan kegiatan seru lainnya.


"Udah capek?" tanya Reyhan dengan tatapannya yang menjurus pada adiknya yang kini terlihat kelelahan.


"Hosh hosh, lumayan bang" jawab Reyna ngos-ngosan.


"Makan yuk."


Reyhan menatap sang adik yang kini mulai tersenyum sumringah dengan tawarannya barusan.


"Ayuk!" jawab Reyna semangat sambil menarik tangan abangnya tak sabaran.


"Kamu nih, udah capek kaya gitu, masih aja pecicilan, jangan lari-lari, nanti jatuh" ucap Reyhan yang ditarik oleh Reyna menuju tempat makan yang ia ketahui.


Sesampainya disana, wajah gadis itu tampak murung dengan sorot matanya yang sedikit kecewa.


"Yah, rame bang" kata Reyna malas. Sudah menjadi kebiasaannya untuk makan di tempat sepi. Karena baginya tempat yang ramai itu penuh sesak, apalagi ramai orang yang tidak ia kenal.


"Kenapa?, kamu nggak suka rame?" tanya Reyhan yang kini mulai mengerti suasana hati Reyna. Sudah sangat lama mereka berpisah, sampai Reyhan pun lupa atau bahkan tak tau apa yang menjadi kebiasaan adiknya tersebut.


"Sedikit" jawab Reyna sambil meringis.


"Ayo makan diluar aja kalo gitu" ajak Reyhan penuh semangat sambil menarik lengan Reyna yang kini menurutinya.


"Nggak papa ya?" tanyanya untuk meyakinkan keputusan dari kakaknya. Yang kini mulai semangat lagi untuk mengisi perut.


"Udah ayo" tanpa fikir panjang Reyhan membawa Reyna keluar dari mall dan berhenti disebuah restoran.


Mereka duduk di kursi didekat jendela berhadapan dengan jalan raya.


Hati Reyna kembali diselimuti rasa kebahagiaan, setelah beberapa waktu menikmati hari dimana ia harus sendiri tanpa ada yang menemani.


"Kamu suka makan disini?" tanya Reyhan membuat sang adik mengangguk dan tersenyum kearahnya.


"Suka kok bang. Oh ya, kalo boleh tau abang di Singapura kegiatannya apa?" kini rasa penasaran gadis itu tak bisa dibendung, mengingat dirinya sudah lama tak berjumpa dengan kakak kandungnya itu.


" Abang dipindahin kuliah disana, papa nyuruh abang kuliah buat nerusin bisnis di Indonesia, soalnya nggak ada yang megang, cuma ada om Juna, itupun om cuma ikutin perintah dari papa."


Jawab Reyhan apa adanya, membuat Reyna mengangguk lesu.


"Tapi, papa nggak pernah hubungi aku sama sekali, papa nggak sayang lagi ya sama aku? mama juga gitu, enggak pernah nengokin aku. Aku kaya ngerasa nggak punya orang tua" kata Reyna sambil menunduk sedih, ia mengalihkan pandangannya menatap eskrim dihadapannya, mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Maafin abang ya, harusnya dulu abang maksa papa buat ngajak kamu ikut kita. Meskipun abang sendiri nggak pernah tau kenapa papa jaga jarak dari kamu dan mama, tapi tenang aja, kan sekarang udah ada bang Rey yang selalu ada buat kamu" Reyhan menepuk rambut Reyna lembut memberikan ketenangan pada adiknya yang mulai tumbuh remaja.


Gadis itu kembali mengulas senyum. Padahal sesuatu yang ia tunjukkan tak sama seperti apa yang ia rasakan.


"Tapi aku senang kok bang tinggal disini. Lagian kalo aku ikut abang, aku nggak tau gimana reaksi papa, hehehe, sejak awal mama dan papa mutusin buat pisah, papa udah nggak deket lagi sama aku. Entahlah, seperti ada sesuatu yang memang ditutupi oleh mereka"


Reyhan hanya menatap adiknya ini, dengan sendu. Matanya berkaca-kaca seolah ingin meneteskan air mata.


'kuatkan dirimu Reyhan, jangan sampai kamu terlihat menyedihkan didepan Reyna. Reyna adikku, meskipun abang nggak pernah mengalami situasi yang terjadi padamu, tapi abang sangat tau bagaimana kesedihanmu. Abang akan selalu bersama kamu dan nggak akan pernah ninggalin kamu**' batin Reyhan dengan pandangannya yang sayu menjurus pda Reyna.


Seorang pelayan mengantarkan makanan, dan sontak membangunkan lamunan Reyhan.


Mereka makan dengan nyaman malam itu.


Ditengah mereka makan tiba-tiba.


drtt drttt....


Suara getar ponsel Reyhan berbunyi, membuat pria itu buru-buru mengangkat panggilan dari seseorang.


"Maaf, abang angkat telfon dulu ya" Reyna hanya mengangguk dan melanjutkan makan, sedang Reyhan pergi agak menjauh mengangkat telfon.


Gadis itu mengedikkan bahu, yang jelas perutnya sudah mulai demo, minta diisi sedari tadi. Sambil memainkan sedotan yang berada didalam gelas berisi jus gadis itu menunggu kembalinya Reyhan untuk makan bersama.

__ADS_1


Tak lama kemudian Reyhan kembali dengan raut wajah sendu.


"Reyna" panggil Reyhan dan duduk ditempatnya semula.


"Ada apa bang?" Reyna kembali bertanya dengan perasaannya yang mulai tidak tenang.


"Maaf ya, abang nggak bisa temenin kamu lama-lama, ada klien yang minta ketemu, tadi siang abang batalin buat nemenin kamu ke kantor polisi, jadi abang cancel, dia ngajak meeting malam ini juga" kata Reyhan memohon maaf.


Reyna menghela nafas, dia mengangguk tanda setuju dan tersenyum kearah kakaknya. Padahal isi hatinya tak sama dengan apa yang ia rasa.


"Selesaiin urusan bang Rey dulu, lagian dari sore abang udah nemenin aku main juga, santai aja" kata Reyna meyakinkan.


"Ya udah, kita pulang aja yuk. Abang anterin kamu dulu" ajak Reyhan membuat Reyna mengangkat sebelah alisnya.


"eh, enak aja pulang, aku masih mau makan tau, belum juga makan, abang udah ngajakin pulang" sahut Reyna ketus membuat sang kakak terkekeh.


"Hahaha, maaf maaf, kamu lanjutin makannya, jangan pulang malem-malem. Nanti kalo nggak ada kendaraan telfon abang ya" Kata Reyhan sambil mengusap puncak kepala Reyna yang kini mengangguk patuh.


"Iya bang" sahut Reyna singkat.


"Ya sudah, abang pergi dulu ya. Kamu hati-hati"


Reyna hanya mengangguk, ia menatap kepergian sang kakak yang mulai hilang dari pandangannya.


Gadis itu menghembuskan nafas. Ada keluh yang berada dihatinya. Rasanya tak rela jika Reyhan pergi begitu saja, apalagi ini adalah pertama kalinya ia makan bersama sang kakak setelah hampir setahun tidak bertemu dengannya.


Setelah selesai makan dia berjalan keluar restoran itu, memandangi setiap sudut lampu jalanan dan kendaraan yang berlalu-lalang dihadapannya.


Reyna berjalan pelan sambil menghembuskan nafas panjang. Dingin, namun nyaman menurutnya.


Suasana malam yang begitu ia rindukan. Kenangan tak asing terlintas didepan matanya.


"Dulu aku dan abang sering diajak papa mama jalan malem kaya gini, papa selalu gendong aku dari belakang"


Tiba-tiba Reyna membayangkan, seseorang anak kecil yang ada disana.


Berlari dan tak sengaja terjatuh. Reyna tersentak kaget dan ingin menolongnya tapi tiba-tiba seseorang seperti memanggil anak itu


"Reyna!"


"Abang, kaki Reyna sakit" ucap adik kecil itu sambil menangis pelan.


"Ada apa ini?kamu kenapa sayang?" tanya seorang laki-laki dewasa pada gadis kecil itu.


"Papa, kaki ku sakit. Tadi aku jatuh" ujarnya merengek manja sambil meneteskan beberapa linang air mata.


"Dasar Reyna, makanya kamu jangan ceroboh. kalo mau jalan pegang tangan abang!" lanjut pria kecil itu kesal karena perbuatan adiknya.


Reyna hanya mematung, melihat pemandangan didepannya.


"Astagaa! Reyna! kamu kenapa nak?" teriak seorang wanita familiar yang keluar dari restoran itu dan ikut membungkuk.


"Sudah tidak apa-apa ma, hanya luka kecil. Reyhan lain kali kamu lebih perhatikan adikmu ini ya, jangan sampai dia main sendiri. Kamu kan lima tahun lebih tua dari dia, kalau dia masih ceroboh itu wajar, karena dia masih kecil, dulu kamu juga sering jatuh seperti ini" kata pria itu lembut namun terdengar tegas.


"Iya pa, abang bakal jaga Reyna kok" kata Reyhan kecil.


"Yaudah, kita pulang yuk, mama beli coklat lo buat kalian berdua" ucap wanita itu pada kedua anaknya, dan terlihat mereka tersenyum dengan binar bahagia.


"Sini Reyna biar papa yang gendong, kamu jalan sama mama ya bang" lalu pria itu menggendong Reyna kecil dibelakangnya, dan Reyna memeluk papanya dari belakang.


"Punggung papa hangat ya" kata Reyna kecil sambil memeluk leher sang ayah.


"Iya dong papa kan supermannya Reyna" kata pria itu membalas sambil berjalan.


"Lain kali aku mau digendong papa kaya gini lagi" ujar gadis kecil itu dengan manja membuat kedua pasang suami istri itu terkekeh mendengar penuturan dari putri mereka.


"Kamu nggak boleh minta gendong papa terus, harus mandiri" kata Reyhan kecil membuat Reyna kecil cemberut.


Tak terasa mata Reyna mulai berkaca-kaca. Inikah ingatan yang dulu pernah ia lalui? sebuah peristiwa berharga yang kini hanya tinggal kenangan saja.


"Nanti kalo Reyna tumbuh dewasa jangan suka nangis ya kalau jatuh lagi" kata papa menuturi gadis kecilnya membuat Reyna mengangguk.


"Kalau jatuh, papa bakal gendong?" tanya Reyna polos.


"Haha Reyna, nanti kalau kamu tumbuh besar papa nggak kuat buat gendong kamu" kata mama terkekeh.


"Kalo gitu, aku nggak mau jadi besar, aku maunya kecil terus biar bisa digendong papa"


Mereka tertawa dan berlalu pergi menjauh dan menghilang dari pandangan Reyna.


"Pa, ma" ucap Reyna lirih, dan tak sadar air matanya mulai menetes.


Reyna ingat segalanya, tiada yang ia lupakan. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Maka ia takkan membiarkan keluarganya hancur seperti ini.


Gadis itu menyeka air matanya. Pandangannya kembali menjurus pada jalanan.


Dia berjalan cukup lama dan akhirnya sampai di taman kota yang tidak terlalu ramai, namun sangat dia suka.


Reyna duduk dikursi panjang didepan taman kota, menikmati pemandangan di sekelilingnya.


Baginya ini adalah tempat paling tepat untuk terdiam dan merenungkan segalanya. Segala masalah yang tidak ia inginkan.


"Reyna!" tiba-tiba suara yang tidak asing memanggilnya.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, ia menatap pria yang hari-hari ini seperti ada saat ia membutuhkan.


"Pak Yasya" ujarnya sambil tersenyum kearah pria yang kini mendekati dirinya.

__ADS_1


"Kamu ngapain ada disini?" tanya Yasya sambil duduk di kursi panjang disebelah Reyna.


"Lagi menikmati suasana malam aja kok pak, bapak sendiri?" tanya Reyna balik.


"Emmm tadi saya belanja di supermarket, kebetulan lewat dan sengaja pengen kesini" jawab Yasya santai sambil memperhatikan Reyna.


"Oh" tak ada yang dapat disampaikan lagi oleh gadis itu. Ia merasa canggung dengan Yasya, mengingat dirinya telah menyelamatkan nyawanya dari bullying yang hampir dilakukan oleh Fani.


Keheningan menyelimuti mereka berdua. Yasya merasa sedikit canggung dan dia memutuskan untuk memulai pembicaraan.


"Rey" panggilnya kedua kali, membuat gadis itu menoleh.


"Iya" jawabnya singkat sambil tersenyum kaku.


"Gimana sama kasus kamu?" pertanyaan itu sontak membuat Reyna menoleh kearah jalanan.


"Sudah selesai kok pak" jawabnya dengan senyuman tenang.


"Syukurlah" ucap Yasya lega.


"Makasih ya pak, udah bantu saya hari ini. Kalo nggak ada pak Yasya, mungkin saya"


ucap Reyna menggantung dengan suara seraknya.


Yasya sontak menoleh dan mendapati Reyna yang hampir saja meneteskan air mata.


"Maaf, bukan maksud saya."


Melihat Reyna meneteskan air mata Yasya langsung menarik wajahnya.


"Jangan nangis ya" ucap Yasya sambil mengusap air mata Reyna dan tersenyum.


Wajah mereka terlalu dekat hingga membuat suara nafas Yasya terdengar jelas ditelinga gadis itu.


Reyna mengangguk dan menarik wajahnya kembali.


Tangan lembut Yasya mengusap kepala Reyna pelan, seolah menghibur hatinya yang sedang teriris sedih.


"Kamu adalah perempuan kuat yang pernah saya kenal, saya sayang kamu Reyna" ujar Yasya membuat Reyna sontak membulatkan matanya sambil menatap Yasya.


"maksud bapak apa?! sayang?" tanya Reyna lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Bu, bukan, sayang terhadap guru dan murid" kata Yasya gugup. Tiba-tiba saja wajah Yasya memerah, dengan segera pria itu memalingkan muka agar Reyna tidak melihat wajahnya yang tengah merona.


"Oh gitu" kata Reyna singkat sambil mengangguk menatap kedua kakinya yang berbalut sepatu putih.


"Reyna" Yasya menatap Reyna dengan mimik wajah yang sulit diartikan.


"Iya" jawab Reyna dan mereka saling bertatapan. Pandangan pria itu pada Reyna membuat gadis itu salah tingkah. Ia hanya terdiam sambil membalas tatapan Yasya yang penuh tanda tanya.


deg deg deg...


Jantung mereka berdegub dengan kencang, entah apa yang mereka rasakan. Perasaan aneh yang tak dapat diartikan, namun sangat indah.


"*K*enapa aku ngerasa nyaman kalo ada didekat dia, memang benar sih, pak Yasya adalah orang yang tampan. Tapi kenapa jantungku ini berdebar ya?, apa aku sakit ya?" batin Reyna gugup.


Wajah Yasya mendekat kearah Reyna, mereka masih terus bertatapan, hingga hanya menyisakan jarak satu senti diantara kedua insan yang saling mengagumi itu.


Reyna terkejut bukan main, ia hanya terdiam sambil mempererat jemarinya yang meremas jaket yang ia kenakan.


'Reyna kenapa kamu sangat cantik malam ini' batin Yasya yang masih mengagumi perempuan dihadapannya ini.


Tangan Yasya langsung menyentuh lembut wajah Reyna.


"Pa, pak?" tanya Reyna sontak langsung membangunkan lamunan Yasya.


"Oh em, maaf" Yasya langsung menarik tubuhnya kembali dan menjauhi tubuh Reyna.


Reyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tak tau apa yang akan dilakukan Yasya selanjutnya jika ia tak melemparkan kata padanya. Tiba-tiba saja wajahnya memerah, ia tersenyum menunduk sambil menyembunyikan perasaannya.


"Sudah malam, kamu nggak pulang?" tanya Yasya.


"Sebentar lagi pak" jawab gadis itu dan tersenyum kearah Yasya yang kini juga ikut tersenyum kearahnya.


"Kamu pulang naik apa?"


"Naik taksi" jawab Reyna.


"Pulang bareng saya aja" kata Yasya menawarkan.


"Tapi rumah kita nggak searah lo pak, takut ngerepotin."


"Nggak repot kok, kasian kamu juga, kamu anak cewek pulang malem-malem bahaya,"


"Em gitu ya, ya udah."


Didalam mobil.


"Ehem" Yasya berdehem sambil melirik gadis disampingnya dengan sudut bibirnya yang bergetar menahan tawa.


Reyna menoleh dan tersenyum. Sesekali Yasya mencuri pandang melihat wajah Reyna.


"Ada yang salah ya pak sama wajah saya?" tanya Reyna sambil memegangi pipinya.


"Hahaha bukan, nggak papa kok" balas Yasya masih tersenyum.


Hal itu membuat jantung Reyna kembali berpacu, bersamaan dengan wajahnya yang memerah merona.

__ADS_1


__ADS_2