The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Pengorbanan


__ADS_3

Reyna duduk disebuah gazebo halaman rumah sakit. Tempat ini terbilang cukup luas dan sepi, dengan beberapa taman bunga yang bermekaran bagai musim semi.


Gadis itu yang awalnya menitikkan air mata, kini mulai menghapus kesedihannya perlahan. Masih tidak terfikirian olehnya apa yang dilakukan oleh Reyhan pada gadis tak berdosa itu.


Ingatan Reyna menerawang, dimana masa kecil yang ia habiskan bersama keluarga kecilnya, termasuk Reyhan. Bahkan dulu pria yang lebih tua lima tahun darinya itu selalu mengatakan ingin selalu menjadi Reyna, dan melindunginya tak disangka kini semua berbanding terbalik dengan perkataannya.


Reyna masih enggan untuk mendongakkan kepalaku, membuat di hidungnya tidak kunjung berhenti, dan semakin menetes di tisu terakhir yang gadis itu miliki.


'Tuhan bagaimana ini? aku tidak bisa menutupi luka ini begitu lama.'


Gumamnya, disertai darah segar yang terus mengalir dari pangkal hidungnya.


"Kamu mimisan?" tanya seorang pria asing yang tengah mengulurkan sebuah sapu tangan Reyna.


Reyna menerima benda itu tanpa mendongak menatapnya. Tentu saja ia takut jika orang lain tau jika bukan hanya mimisan, tapi luka lebam yang entah seperti apa, tak dapat gadis itu lihat saat ini.


"Terimakasih" ujarnya pelan.


Pria itu menyentuh dagu Reyna dan mengangkat kepalanya hingga pandangan mereka saling bertemu. Seketika Reyna tersentak oleh perlakuan orang asing dihadapannya itu.


"Kalau mimisan, diangkat kepalanya, biar nggak semakin parah" ucapnya dengan menatap kedua bola mata Reyna.


Sekian detik pria itu tampak mengerutkan keningnya, dan dengan cepat dilepaskannya jarinya dari dagu gadis itu.


"Kamu? kenapa bisa seperti ini? luka di wajah mu itu seperti baru saja dihajar oleh orang, apa kamu baru saja berkelahi?" ucapnya sambil duduk disebelah Reyna.


Gadis itu menaikkan sebelah alisnya tatkala pria ini menanyakan dia berbagai banyak hal, seolah pria itu mengenal Reyna sejak lama. Tapi bagaimana mungkin, Reyna baru saja bertemu dengan pria asing itu.


"Sebenarnya, ini hanya salah faham kecil, tuan nggak perlu khawatir" kata Reyna gugup.


"Panggil aku Satya," ujarnya yang membuat Reyna kaku.


"Sat... Satya?" Reyna merasa tidak nyaman jika harus memanggilnya dengan namanya, mengingat dari wajahnya terlihat jarak usia diantara mereka sangatlah jauh berbeda.


"Kalau kamu tidak nyaman, panggil aku kakak" lanjutnya memahami situasi.


Reyna mengangguk setuju, dan kemudian kembali tersenyum pada Satya.


"Iya kak, hemm terimakasih."


"Dan kamu?" tanya pria itu balik membuat Reyna mengulurkan tangannya, namun Reyna baru menyadari jika tangannya penuh dengan bekas darah yang membuatnya menjadi merah. Gadis itu menarik tangannya kembali, membuat Satya memandang telapak tangan Reyna dengan tatapan intensnya.


"Maaf, nama saya Reyna" ujar gadis itu dengan nada suaranya yang begitu lemah.

__ADS_1


"Reyna, sebenarnya siapa yang memukul mu seperti ini? jika perempuan, itu nggak mungkin, pukulan seorang perempuan tidak sekuat ini" tanya Satya dengan wajahnya yang begitu cemas.


Reyna hanya menunduk sambil mengusap kedua hidungnya membuat tatapan tajam dari pria dihadapannya kini tanpa sadar menjurus padanya.


"Sudah dibilang, jangan menunduk!" ucap Satya tegas dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Iya kak, galak banget sih," ujar gadis itu yang sedikit kesal.


Satya menarik lengan Reyna untuk masuk kembali ke gedung rumah sakit itu, membuatnya semakin bingung, ia hanya mengikuti pria itu dengan tangannya yang masih menutupi sebagian wajahnya.


"Kak Satya mau bawa aku kemana?" tanya Reyna yang kini berjalan cepat mengikuti langkah Satya yang menarik lengannya.


"Luka kamu itu kalo dibiriarin bakal bengkak, aku punya teman seorang dokter disini" katanya memaksa sambil terus berjalan.


Setelah itu Reyna akhirnya dibawa keruang seorang dokter. Ia akhirnya diobati disana, tepatnya dokter itu adalah dokter spesialis bedah dan syaraf. Alfian Mahesa namanya, sahabat dari Satya yang baru saja Reyna kenal.


"Aw, ahh sakit" Reyna meringis kesakitan kala dokter Al mencoba mengobati luka yang terdapat di sudut bibirnya.


Pandangan dokter itu mendadak mengernyit kala melihat sesuatu dibalik luka Reyna.


"Apa ini pernah terjadi sebelumnya?" tanya dokter Al memastikan dengan pandangannya yang begitu cemas.


"Maksud dokter?" tanya Reyna lagi.


"Ada bekas luka juga disini" kata dokter Al menuturkan apa yang ia lihat.


"Siapa yang memukul mu? ini sudah jelas luka yang baru saja dipukul, tindakan seperti ini sudah termasuk penganiayaan" kata dokter sambil terus mengobati luka, Reyna baru menyadari bahwa lukanya terlalu dalam hingga membuat proses mengobatinya jadi semakin lama, biasanya cuma lima menit saja sudah selesai.


"Jawab, siapa yang mukul kamu?" tanya Satya tegas dengan terus memandangi Reyna yang kini masih enggan untuk bicara.


"Aw, sakit dokter" teriakan kecil dari Reyna menggema di seluruh ruangan.


"Tahan sebentar" ujarnya membuat Reyna meringis kesakitan.


"Mengalihkan pembicaraan aja" ucapan Satya membuat Reyna memutar bola mata.


"Nah sudah selesai, kalau jahitannya sudah mengering, kamu bisa kemari lagi." Kata dokter Al membuat mata Reyna membelalak dengan sempurna. Pandangannya tak menyangka akan keadaannya sendiri yang begitu rumit.


"Apa dok?! jahitan?!" Tanya Reyna memperjelas membuat dokter Al mengangguk.


Gadis itu bahkan baru menyadari jika luka itu ternyata butuh di jahit. Bahkan baik dokter Al maupun Satya tidak mengatakan sesuatu kepadanya.


"Jadi kamu nggak tau kalau tadi itu dijahit?" tanya Satya terkekeh, membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Luka kamu cukup parah dan harus dijahit, kalau tidak lukanya tidak akan sembuh dengan cepat. Ngomong-ngomong, saya lupa belum menyuntikkan bius," ujarnya membuat Reyna yang masih sedikit kebingungan hanya menggeleng dengan tatapan tanda tanya diwajahnya.


"Terimakasih dokter" ujar Reyna dengan senyuman hangatnya.


"Sama-sama" jawabnya, kemudian pandangannya beralih menatap Satya.


"Sat, gua mau kembali ke pasien dulu ya" lanjut dokter itu pada sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Satya.


"Buru-buru amat lo, gue tuh kesini mau nyariin elo, ehh lo nya nggak tahu diri."


"Jehehe sorry sorry, lo sih pake kesini, bilang aja kalo mau ketemu, kalo lagi kerja shift kaya gini pasien nggak bisa ditinggal."


"Siapa pasien laknat yang berani-beraninya menyibukkan sobat gue nih, lain kali gue kasih tau biar nggak manja."


Reyna menggeleng pelan, tersenyum kecil mendengar pembicaraan mereka yang sedikit kasar namun sangat lucu baginya.


Mungkin memang begini cara mereka mempererat solidaritas antar sahabat. Bahkan Reyna pun juga begitu dengan Kanaya.


"Manja pala lo, pasien gue udah sakit kronis, tapi dia baru nyadar kemaren bagian livernya mengalami komplikasi," ujar dokter muda itu sedikit serius membuat Reyns yang sebelumnya terkekeh kini mulai mengerutkan keningnya cemas.


"Druangan mana dokter merawat pasien itu?" tanya Reyna dengan pandangannya yang berupa harapan.


"Ruang mawar, ada apa?" tanya dokter Al membuat Satya ikut mengernyitkan keningnya.


"Bagaimana keadaan dia saat ini dok? apa penyakitnya cukup parah? apa dia akan sembuh?" pertanyaan dari Reyna kini membuat tatapan intens dari Satya menjurus padanya.


"Sebenarnya kita butuh donor hati untuknya, mengingat darah dari anaknya cocok dengan ibunya, kami tidak bisa melakukan operasi, hanya golongan darah O dan dari keluarga dekat jika memungkinkan, atau dari orang lain yang memang cocok, tapi itu sangat sulit" ujar dokter Al membuat Reyna memutup mulutnya dengan wajahnya yang penuh kecemasan.


"Kenapa? kenapa bisa sulit" tanyanya lagi dengan wajah Reyna yang penuh dengan emosi. Kini rasa curiga dari Satya makin bertambah.


Pandangan pria itu menatap Al dan Reyna secara bergantian. Ia curiga ada sesuatu yang tidak beres.


"Karena orang yang memiliki kecocokan hati itu sangat sulit dicari, tidak seperti ginjal, apalagi kesediaan orang yang mendonorkan hati harus benar-benar siap menanggung resiko."


"Apa orang itu bernama Reynaldi?" tanya Reyna penuh antusias membuat dokter muda itu mengangguk.


"Kenapa? apa kamu juga mengenalnya?" tanya Al dengan penasaran membuat Reyna terdiam mendengar pertanyaan itu.


Gadis itu bingung harus menjawab apa, ia sangat ingin membantu kesembuhan dari sang ayah, bahkan ia mengetahui bagaimana cocoknya darah miliknya dengan Reynaldi. Tapi ia masih bingung dengan apa yang harus dikatakan. Reyna masih bungkam dengan pandangannya yang menunduk.


"Gadis kecil, kamu ditanya itu loh," perkataan dari Satya membuat Reyna tersentak dan menatap mereka bergantian.


"Sebenarnya ini rumit, tapi orang itu pernah menyelamatkan nyawa saya dok, golongan darah saya juga O, kalau saya layak mendonorkan hati saya, saya pasti sangat bersedia" kata Reyna dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Satya dan dokter Al menatap Reyna bergantian.


Entah apa yang mereka fikirkan, namun tekatnya sudah bulat, akan membantu kesembuhan dari Reynaldi. Meskipun akhirnya pengorbanannya tidak dihargai.


__ADS_2