The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Apa yang salah??


__ADS_3

"MAMAAA" teriakan dari Reyna membuat Yasya bangkit dari duduknya, meninggalkan beberapa pekerjaan di laptop kesayangannya.


Yasya buru-buru menghampiri Reyna yang bangun dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Ini minum dulu, tenangkan dirimu Reyna" ucap pria itu dengan menyodorkan air dari gelas yang berada diatas nakas.


"Hosh... hosh... pak Yasya" diterimanya air putih dari tangan pria kekar dihadapannya itu, dan diteguknya dengan perlahan, membuat nafas gadis itu kembali normal.


Reyna menatap wajah tampan dihadapannya, dipandangnya ruangan yang begitu asing baginya, dia menatap heran kamar yang begitu besar, namun tak sedikitpun tanda-tanda bahwa dirinya berada di apartemen.


"Tenang... ini dimansion saya" ujar Yasya menenangkan Reyna.


"Pak Yasya... mama dimana pak? saya ingin bertemu mama, hiks" isak Reyna dengan suara seraknya yang khas.


"Reyna... tenang... mama mu baik-baik saja, kamu jangan menangis" Yasya memeluk tubuh gadis itu, mengusap puncak rambutnya dan dielusnya punggung Reyna yang bergetar. Gadis itu masih terisak diantara rengkuhan lembut pria yang selalu membuatnya nyaman.


"Kenapa bapak nggak bangunin saya, tadi siang seharusnya kita sempat kan buat bertemu mama saya" Reyna melepaskan pelukannya, matanya menatap Yasya dengan intens, membuat sang empunya merasa diintrogasi. Pria itu sempat terdiam sejenak, tatapannya semakin cemas.


"Reyna... maaf, tadi saya nggak bangunin kamu, karena kamu terlihat kelelahan, lebih baik kamu cepat mandi dulu. Saya akan tunggu kamu dibawah... setelah ini kita makan malam diluar oke."


"Tapi pak, baju saya?" tanya gadis itu sambil melihat keadaan dirinya yang belum sempat membawa ganti baju.


"Tidak perlu khawatir, ada beberapa pakaian yang sudah saya siapkan dilemari, cepat siap-siap ya."


Yasya menghapus jejak air mata Reyna dan bergegas untuk menunggu gadis itu dilantai bawah. Membuat Reyna terpaksa untuk mengangguk setuju.


Pria berpakaian sweater itu melangkah menjauh dari pandangan Reyna, dia berhenti sejenak untuk melemparkan senyum tulus kepada gadis itu.


Entah apa yang difikirkan oleh Yasya, tapi mimpi yang Reyna alami terkesan sangat nyata baginya.


'Come on Reyna... buang fikiran negatif itu jauh-jauh, akan lebih baik jika aku menunggu hari esok untuk bersiap menemui orang tua tunggal ku' rasanya gadis itu sudah tidak sabar lagi untuk menunggu hari esok tiba.


Langkah kaki Reyna menuju kamar mandi di dalam kamar yang begitu besar itu, bahkan bisa dibilang kamar ini lebih besar dua kali lipat dari apartemen Yasya. Sungguh orang yang begitu kaya, bukan hanya kaya, tapi dia juga sangatlah tampan.


Sepuluh menit kemudian, gadis itu telah menyelesaikan ritual acara mandinya. Dibukanya lemari pakaian dengan kaca besar tepat menempel pada kayu lemari tersebut.


Reyna berdecak kagum kala melihat pakaian yang begitu banyak dan mewah.


Reyna meraih baju asal, kini ia memilih baju berwana soft pink beserta rok sampai lutut.


Gadis itu memilih menguncir rambutnya agar tidak terlalu mengganggu.


Kini Reyna telah siap, dan turun kebawah untuk menemui Yasya.


Gadis itu melangkah menuju lantai bawah yang terlihat Yasya tengah memainkan ponselnya.


Perlahan ia menuruni anak tangga, setelah sampai bawah Yasya baru menyadari kehadirannya. Senyuman yang lembut itu lagi membuat Reyna merasa nyaman untuk selalu bersama dengannya.


"Kita berangkat?" tanya Yasya yang kini mengunci pandangannya pada mata coklat Reyna.


Gadis itu mengangguk patuh, dan Yasya menarik tangan Reyna untuk digenggamnya.

__ADS_1


'Pak Yasya, sebenarnya apa yang pak Yasya rasakan? apakah ini hanya sebuah simpati dan keharusan karena saya butuh kasih sayang yang tidak saya dapatkan selama ini, ataukah kita merasakan hal yang sama, saling mencintai?' batin Reyna gusar dengan pikiran yang menerawang.


Yasya mengajak Reyna kesebuah restoran. Tidak begitu ramai rupanya, karena memang karena menyukai keadaan seperti ini.


Gadis itu tersenyum kearah pria disampingnya dan Yasya membalas senyuman itu dengan begitu sangat hangat.


Yasya mengajak Reyna untuk duduk di samping sebuah kaca besar menghadap ada jalanan. Mereka duduk sambil berhadapan sembari berbincang-bincang ringan.


"Reyna, maaf..." ujar Yasya tiba-tiba membuat Reyna mengernyit.


"Untuk apa?" tanya Reyna yang kini mulai tak faham dengan perkataan Yasya barusan.


"Selama beberapa hari ini saya menghilang dari kamu, percayalah, saya bukan ingin menghindar... tapi saya memang ada keperluan" kata pria itu panjang lebar.


"Tidak apa-apa pak, saya mengerti."


"Bsakah kita seperti dulu?" pertanyaan dari pria ini membuat Reyna lantas mengerutkan dahi.


"Maksud bapak apa?" tanya gadis itu sekali lagi.


"Sudah 3 hari ini kita tidak ada obrolan satu sama lain, saya tidak ingin kamu merasa sungkan seperti saat pertama kita diapartemen."


"Saya merasa tidak ada yang berbeda kok."


"Oh ya?" tanya pria itu masih ragu.


"Iya, sungguh... saya mengerti, mungkin pak Yasya memang sibuk, jadi saya tidak berhak untuk mengganggu."


Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum kearah Reyna. Pandangannya menatap lekat mata coklat gadis di hadapannya, membuat Gadis itu menunduk dengan wajah yang merona.


"Mau pesan apa tuan?" tanya pria itu sambil menunduk dengan sopan .


"Kamu mau pesan apa Reyna?" tanya Yasya yang kini beralih tersenyum menatapnya.


"Saya sama dengan apa yang pak Yasya pesan."


Yasya mengangguk dan mulai membuka daftar menu. Tampak wajahnya yang tampan memilah-milah beberapa menu makanan yang membuatnya sedikit bingung.


"Bolar blade steak, dan ice lemon tea, dan untuk desert cheesecake, masing-masing 2."


"Ada lagi tuan?" tawar pria itu.


Yasya menggeleng, dan pelayan mulai menulis pesanan kemudian berlalu pergi.


Mereka menunggu pesanan sesaat, suasana tampak canggung, karena baik Reyna, maupun Yasya tidak mengatakan satu patah kata pun.


Yasya tersenyum kearah Reyna, membuat gadis itu membalas senyumannya. Pria dihadapannya itu, Reyna begitu sangat merindukan dia, meskipun hanya sesaat gadis itu tidak bertemu dengannya rasanya jarak antara mereka seperti terpisah oleh luasnya samudera.


Reyna merasa sangat nyaman dan tenang ketika berada disekitarnya. Bahkan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya kala pria itu mulai tersenyum lembut padanya.


"Reyna " panggilan seorang pria yang tak asing ditelinga gadis itu membuat mereka berdua menoleh ke asal suara.

__ADS_1


Dan benar saja, mereka melihat keberadaan Hengky yang baru saja masuk dari pintu utama restoran. Membuat gadis itu gelagapan dibuatnya. Sedetik kemudian Hengky bahkan mendekat, menghampiri mereka yang kini Reyna mulai meremas ujung gaunnya sedang Yasya hanya menampakkan senyumnya yang biasa.


Terlihat Yasya melirik Reyna dengan tatapannya, seperti mengutarakan ekspresi ketidaksukaan, membuat hati gadis itu yang dilanda bimbang bercampur dengan keheranan karena sikapnya yang tidak begitu ia mengerti.


"Ky... ky... kamu sama siapa kesini?" tanya Reyna masih dengan posisi duduk dan sesekali menatap Yasya yang hanya diam menyaksikan obrolan antara Reyna dan Hengky yang belum dimulai.


"Aku sama papi, cuma mau ambil pesenan dari mami tadi siang" tampak Hengky melirik Reyna dan Yasya secara bergantian.


"Ada pak Yasya juga? kalian?" tanya Hengky dengan tatapan mata bertanya.


"Ah iyaaa.. kami... kami," Reyna sempat terdiam menunggu bantuan kata dari Yasya yang tak kunjung peka .


"Kenapa Rey?" tanya Hengky yang tengah menunggu jawabannya.


"Nggak apa-apa... kami cuma kebetulan ketemu, terus mampir sama tanya-tanya kabar."


Kata Reyna dengan suaranya yang terdengar ragu. Meskipun begitu ia tak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya mengatakan apa yang berada di pikirannya. terlebih pandangannya kini menatap Yasya dengan pandangan bersalah. Entah apa yang dikatakannya tadi membuat pria itu tersinggung atau tidak.


"Ohhh... pak Yasya apa kabar.l?" tanya Hengky, dan Yasya hanya menjawab singkat dan terlihat wajahnya yang begitu malas meladeninya.


"Baik" jawabnya singkat tanpa ekspresi. Reyna yang menatap manik mata Yasya merasa heran dengan apa yang pria itu rasakan.


"Apa aku ganggu ya Rey?" tanya Hengky yang merasakan atmosfer di tempat itu menjadi sedikit canggung oleh sikap Yasya yang tiba-tiba berubah ketus.


"Eng.. enggak kok" lanjut Reyna sambil sesekali melirik pria di hadapannya yang tak bergeming tanpa bersuara dan hanya memalingkan wajahnya kesamping.


"Kyky...." terdengar teriakan seorang pria paruh baya tak jauh dari meja kasir membuat mereka menoleh.


"Reyna... pak Yasya... Saya duluan ya. Oh ya Rey, jangan pulang malam-malam dan jangan sampai telat makan ya tuan putri hehehe" kata Hengky terkekeh sambil tersenyum jahil pada Reyna.


.


"Apaan sih Ky, pulang sana" kata gadis itu sembari tertawa kecil.


Reyna melempar senyum pada sahabatnya itu, saat punggungnya mulai menghilang dari balik pintu kaca. Mata Reyna beralih, yang kini menatap pria dihadapannya yang terlihat dingin tanpa ekspresi bahkan ia sibuk dengan ponselnya.


'Ada apa dengan orang ini??? semenjak kehadiran Hengky barusan, dia seperti tidak menganggap keberadaan sahabat ku itu, apa sebelumnya mereka punya masalah?' batin Reyna yang masih kebingungan.


"Pak Yasya...." perkataan gadis itu menggangtung tatkala seorang pelayan mengantarkan jamuan makan malam yang telah mereka pesan.


Yasya yang diyakini Reyna mendengar apa yang ia katakan kini seolah mengabaikannya.


"Tuan dan nona... silahkan dinikmati bolar 2 blade steak, 2 ice lemon tea dan makanan penutup 2 potong cheesecake."


Ucapan pelayan itu membuat mereka terdiam.


Reyna melihat wajah pria tampan yang sedari tadi hanya membisu, kini dia menyantap makan malamnya tanpa mau menatap gadis dihadapannya sama sekali.


Reyna sempat mengernyit dengan tatapannya yang masih menjurus pada Yasya yang kini masih enggan untuk menatapnya. Hatinya masih bimbang dengan segudang pertanyaan melihat tingkah aneh dan juga perbedaan sikap pada Yasya yang begitu tiba-tiba.


Buru-buru Reyna membuang pikiran itu jauh-jauh seraya segera menyantap makanannya.

__ADS_1




__ADS_2