
Pria bertubuh tinggi tegap itu berulang kali mondar-mandir di kamarnya yang cukup besar. Tampak mimik ketakutan terlihat jelas diwajah tampannya.
Dia kemudian keluar dari kamar dan duduk disofa untuk menenangkan fikirannya.
"Irya, ada apa? pulang dari kantor kok wajahmu khawatir begitu? apa ada masalah?" tanya wanita paruh baya yang tengah menghampiri Yasya dan duduk disampingnya.
"Mami.... Irya nggak apa-apa kok cuma khawatir aja sama Bila" katanya sembari mengukir senyum seolah memang tidak terjadi apa-apa.
"Oh... jadi kamu kangen ya sama calon istrimu? kamu sudah telfon dia belum?" tanya Dian sembari menggoda sang putra.
"Sudah..." kata Yasya dengan senyum palsunya. Ia memang sempat menelfon gadis itu, namun tidak diangkat. Yah, anggap saja sudah menelfon, batinnya.
Sebenarnya ada yang mengganjal dalam benaknya. Ia hanya berfikir untuk memperbaiki hatinya sebelum semuanya terlambat.
"Wah wah... kayanya anak mami udah nggak kuat nih jauh dari Syahbila.... udah mi... nggak usah nungguin dia kerja, habis lulus langsung dinikahin aja" suara khas seorang pria memasuki rumah besar itu. Pria bertubuh tinggi yang memakai setelan kemeja merah dan celana kantoran masuk tanpa permisi bagai rumahnya sendiri yang sudah sangat lama tak ia kunjungi.
"Sialan lo...." ujar Yasya melempar bantal kecil yang berada disofa, dengan cekatan tangan Satya meraih bantal itu yang hendak mengenai wajahnya.
"Satya bener lo... emmm bilang aja kalau kamu mau cepat nikah... hemmm dan cepet ngasih mami cucu" Yasya memutar bola matanya malas.
Apalagi kelakuan sohibnya yang membuat ia ingin mengalihkan pembicaraan malah justru ditimpali oleh Dian yang kini terlihat senang menggoda anaknya.
"Mi... Satya pinjem anak mami dulu ya" kata Satya dengan kerlingan dimatanya.
"Kalian mau kemana?" tanya Dian pada Satya yang kini tengah beradu pandang dengan Yasya.
"Satya pengen ngajak Irya ke restoran mami, katanya dia pengen makan gratisan" kata Satya sembari menahan tawanya yang hendak meledak oleh kata-katanya sendiri.
"Apa lo bilang...?!" suara Yasya mendadak meninggi dengan menatap tajam Satya yang tengah duduk bersebelahan dengannya. Satya hanya mengedipkan sebelah matanya, memberi kode pada sang sahabat.
"Ya sudah, ini sudah sore... jangan pulang terlalu malam" kata Dian memperingatkan.
"Iya mi... let's go boy..." Satya menepuk pundak Yasya dan segera pergi menariknya keluar. Sedang Yasya berdiri dengan langkah malas sembari menunduk mengikuti langkah sahabatnya itu.
Meskipun ia tidak ingin, tapi lumayan lah, dapat menghindari obrolan tentang Syahbilla yang membuatnya merasa tak tenang.
***
"Jadi... lo mau ngomong apa?" tanya Yasya yang tengah duduk berhadapan dengan Satya disalah satu ruangan VIP restoran milik Maya (mami Satya).
"Come on boys... bukan gue yang mau ngomong, tapi lo" kata Satya membuat Yasya semakin kesal dibuatnya.
"What the hell?" kata pria itu sembari bangkit dari duduknya.
"Ayolah sya... gue tau... lo itu bukan khawatir soal Bila... tapi Reyna kan?" Yasya menghembuskan nafas beratnya. Fikirannya melayang mengingat gadis itu. Rasa sesak ketika tak bisa memiliki dia membuat Yasya harus berfikir keras untuk segera melupakan perasaan yang pernah ada dihati kecilnya itu. Hari ini bahkan gadis yang selalu ada dalam fikirannya itu menghilang entah kemana, Yasya mencoba menghubunginya beberapa kali. Namun hasilnya nihil, bahkan hari sudah menjelang petang. Membuat fikirannya kacau, dilanda kebimbangan yang tak karuan.
Apakah yang difikirkan oleh Reyna saat dia mendekati bahkan mencium dan memeluknya. Bagi Yasya perasaannya bukan hanya sebuah nafsu belaka, namun kasih sayang yang sangat tulus. Yasya bahkan takut untuk mengutarakan perasaannya sendiri. Dia lebih memilih bungkam, dan ingin selalu bersama Reyna setiap saat sebelum hari itu tiba. Hari Dimana dirinya harus pergi membuang jauh-jauh perasaan yang dia rasakan selama ini.
"Sya...?!!"
"Apa sih?" panggilan dari Satya membuat Yasya membuyarkan lamunannya.
"Oh god! lo beneran jatuh cinta" kata Satya yang sialnya memang iya.
"Sat... gue khawatir... Reyna sebenernya ada di apartemen gue."
"WHAT??! apa lo bilang?" kata Satya dengan nada setengah berteriak. Matanya membelalak tak percaya. Ia bahkan tak menyangka jika hubungan sahabatnya dan Reyna sampai sejauh itu.
"Kebiasaan lo ya... diem dulu gue jelasin" kata Yasya dengan suaranya yang begitu kesal.
Satya mengangguk dengan wajahnya yang dilanda penasaran.
"Dia lagi ada masalah sama keluarganya, gue nggak bisa cerita masalah dia, tapi lo harus inget... gue bukan bermaksud jadiin dia sebagai simpanan okay. Gue nggak ngerti lagi, gue mau bantu dia buat cari mamanya. Dan ternyata dia bukan cewek yang selalu ceria didepan orang lain. Rasanya kalo dia nangis, gue kaya ngerasain apa yang dia rasain."
"Sya... gue tau kok, lo bukan laki-laki kaya gitu, dan setiap yang lo lakuin pasti ada alasannya."
"Sat, hari ini... Reyna belum pulang juga, gue jadi khawatir sama dia, gue tadi sempat cek di apartemen, tapi nggak ada siapa-siapa, gue telfon juga nggak diangkat, di sms juga nggak dibales, biasanya kalo dia mau kemana-mana dia selalu izin ke gue" kata Yasya dengan pandangannya yang muram membuat sang sahabat menepuk pundak pria itu.
"Apa?! jadi menurut lo, Reyna ilang?!" kata Satya dengan nada sedikit panik oleh penuturan Yasya padanya.
"Gue yakin kalo dia baik-baik aja" kata Yasya penuh dengan keyakinan.
"Sya... gue baru yakin kalo lo bener-bener cinta sama Reyna... kalo lo yakin sama perasaan lo, lo harus berjuang sya."
"Gue ragu buat memperjuangkan dia, dia masih sekolah Sat, lo tau lah fikirannya masih labil" kata Yasya menimpali. Seolah ragu dengan keputusan apa yang hendak ia ambil.
"Gue tau kok, tapi dengan dia punya masalah kaya gini, bukannya bikin dia tambah dewasa?. Seharusnya lo yang lebih tau dia daripada gue. Jangan gegabah, kesempatan buat dapetin cinta lo masih panjang, jangan sampai elo nyesel."
Yasya masih terdiam mematung. Memikirkan apa yang dikatakan oleh sang sahabat padanya. Fikirannya melayang, menerawang jauh memikirkan tentang gadis cantik itu. Pandangannya memburam seolah jauh memikirkan apa yang dikatakan Satya barusan.
***
Reyna melangkahkan kakinya yang sedikit tertatih. Dia seolah tak mau ada orang yang bertanya-tanya tentang keadaannya saat ini.
Dengan cepat Reyna memasuki lift dan segera memencet lantai 5.
Reyna telah tiba di apartemen Yasya. Bahkan dia sampai lupa untuk menghubungi pria itu.
Ceklek....
Reyna membuka pintu, dan segera menaruh sepatunya dirak sepatu.
"Pak Yasya?" Reyna memandangi Yasya yang tengah tertidur pulas di sofa depan TV dengan kemeja dan celana kantoran yang masih dia kenakan ditubuh atletisnya.
Perlahan Reyna mendekati Yasya. Dia merasa gugup untuk membangunkan Yasya.
__ADS_1
Gadis itu berdiri didepan Yasya yang tengah tertidur.
"Pak, bangun" Reyna menggoyangkan pelan tubuh Yasya hingga pria itu membuka matanya dan terbangun.
"Hoammmhhp..... Reyna, akhirnya kamu pulang juga. Kamu dari mana saja? saya hubungi juga tidak bisa, saya khawatir dengan kamu" ucap Yasya seketika melihat gadis itu yang berada didepan matanya. Pandangan gadis itu masih ragu. Seperti ada sesuatu yang ia tutupi dari matanya.
"Pak Yasya... saya nggak kemana mana kok, saya cuma ke rumah nenek, maaf sudah buat bapak khawatir" kata gadis itu dengan senyuman yang ia torehkan untuk Yasya.
"Iya tidak apa-apa., yang penting kamu baik-baik saja... tapi kok sampai malam begini?" tanya Yasya yang kini mulai bisa menghembuskan nafas lega.
"Rumahnya agak jauh pak" katanya menjelaskan.
Yasya beralih menatap lutut Reyna yang tengah diperban dengan darah yang mengalir kecil diantara lukanya. Mungkin karena terlalu banyak bergerak hingga Reyna tidak memperhatikan bahwa lukanya yang cukup dalam membuat perbannya terbuka.
"Reyna... kamu terluka?" Reyna membulatkan matanya, ternyata Yasya seperhatian itu pada dirinya. Ia bahkan menatap luka yang berusaha ia sembunyikan dari pria dihadapannya
"Sini biar saya ganti perbannya... ini seharusnya sudah diganti dari tadi... kamu juga jangan terlalu banyak bergerak" kata Yasya dengan pandangannya yang begitu cemas.
"Pak ini cuma luka kecil...".Yasya beralih mengambil kotak obat yang berada diatas kulkas. Dan segera kembali duduk disofa.
"Reyna cepat duduk, biar saya obati, kalau tidak nanti bisa infeksi."
Reyna tak banyak bicara, dia hanya sesekali menatap bingung pria tampan didepannya ini. Perlahan Yasya menarik lembut kaki mulus Reyna yang terlihat masih mengenakan seragam sekolah dan mendudukkan gadis itu dipangkuannya.
"Aw... sakit pak" kata Reyna sedikit meringis menahan sakitnya.
"Sebentar...." kini jarak diantara mereka semakin dekat membuat gadis itu tak bisa menahan gejolak dihatinya. Dadanya berdebar kencang menatap pria tampan yang kini mulai mengelus bagian lututnya.
Dengan telaten Yasya mengobati kaki Reyna yang terluka cukup dalam itu dengan darah yang semakin banyak mengalir kebagian kakinya.
"Reyna.... bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?" Reyna tersenyum hangat ia mencoba untuk menahan luka yang berada di lututnya.
"Pak Yasya jangan khawatir, saya cuma nggak sengaja jatuh kok tadi."
"Kamu lain kali kalo kemana-mana cari saya, biar kejadian seperti ini nggak terjadi lagi."
"Aw...." Reyna segera melipat lengannya yang tak sengaja tergesek oleh sisi sofa.
"Siku kamu juga?"
Reyna mengangguk pelan dengan wajah yang meringis kesakitan.
Yasya telah selesai membalut lutut Reyna dan mendekat, beralih memangku tubuh Reyna. Yasya tak ingin kaki Reyna menyentuh lantai saat ini.
Posisi mereka sangat dekat, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Pak Yasya?" panggil Reyna dengan suaranya yang begitu lembut, membuat Yasya menelan salivanya.
"Saya mau mengobati lukamu."
Yasya tersenyum simpul dan perlahan mengobati luka di siku Reyna. Posisi mereka yang sangat dekat membuat Yasya kesulitan untuk mengobati Reyna, namun egonya tak dapat ditolak meski mengalami kesulitan apapun.
"Aw... sakit."
"Sebentar lagi selesai... luka kamu yang ini tidak terlalu dalam" Reyna mengangguk patuh.
"Apa kamu sudah bertemu nenek mu Rey?" Reyna menggeleng lemah. Wajahnya nampak sendu dengan pandangannya yang begitu sayu.
"Rumah nenek dijual pak, sekarang rumah itu milik ibu Monica. Saya tanya soal keberadaan nenek, tapi ibu itu bilang dia membeli rumah itu dari makelar dan belum pernah bertemu nenek sebelumnya."
"Reyna... kenapa kamu nggak bilang ke saya, kapanpun kamu mau cari mama kamu, saya akan bantu kok, saya kan sudah bilang sebelumnya, dan saya sudah berjanji sama kamu."
"Maaf pak, saya bener-bener nggak bermaksud sembunyikan ini dari bapak tapi, saya takut merepotkan, pak Yasya sudah terlalu baik ke saya. Saya tidak bisa membuat pak Yasya terbebani lagi."
"Jangan bilang seperti itu..." Reyna masih menunduk tanpa berani mendongak. Karena posisi mereka yang sangat dekat.
Reyna tersenyum dan menatap wajah tampan yang tengah memangku tubuh mungilnya itu.
Yasya menatap manik mata Reyna intens. Dia merengkuh pinggang Reyna dan tubuh Reyna secara spontan menempel pada tubuhnya.
"Pak... saya mau mandi dulu"
"Reyna... perban kamu baru diganti, nanti bagaimana kalau kena air?"
"Nggak akan kok... saya usahakan nggak akan kena."
"Baiklah... biar saya antar."
Reyna membelalak matanya, dan mencoba turun dari tubuh Yasya. Namun dengan cepat Yasya mengangkat tubuh mungil itu.
"Mau kemana? saya kan cuma mau antar kamu saja."
"Pak Yasya!" Reyna berteriak kencang sambil memukul dada bidang Yasya. Sedangkan Yasya terkekeh melihat ekspresi wajah Reyna yang semakin merah.
Setengah jam kemudian, Reyna keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai piyama terusan berwarna pink, yang memperlihatkan bagian lutut dan kaki putih mulusnya.
Yasya menatap Reyna tanpa berkedip, dia langsung pergi kearah kamar mandi tanpa mengatakan apapun pada gadis didepannya ini.
"Aneh... orang itu kenapa?" kata Reyna bingung.
Yasya mengacak rambutnya frustasi, hanya melihat Reyna memakai piyama membuatnya ingin menerkam gadis cantik itu.
Gemercik air membasahi tubuh atletisnya, guyuran air dari shower membuat tubuhnya yang semula panas kini akhirnya dingin kembali.
Yasya keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit pinggang hingga lututnya.
__ADS_1
Terlihat badannya yang seksi dan menawan. Membuat wanita manapun pasti akan takluk oleh tubuh dan pesonanya.
Reyna yang sedang berdiri menghadap cermin dibuat sangat terkejut oleh kemunculan Yasya.
" Aaaaahhhhhhhh, pak Yasya kenapa nggak pakai baju" teriak Reyna dengan terus menutup matanya.
"Maaf... baju saya ada di lemari, bisa tolong bantu saya ambilkan."
Reyna cepat-cepat membuka lemari pakaian dan mencari baju. Namun baju Yasya tidak ada yang ketemu, hanya celana saja yang ada dilemari itu.
"Cuma ada celana" Reyna memberikan celana itu dengan menunduk malu dan segera pergi menjauh.
"Saya lupa... kemaren baju saya yang ada disini saya bawa pulang semua" ucap Yasya yang kemudian kembali kekamar mandi.
Yasya keluar lagi dalam keadaan telanjang dada, sedang dia hanya memakai celana panjang.
Reyna yang masih enggan untuk menatap Yasya memalingkan wajahnya dan terus menatap layar ponselnya yang tengah asyik membuka chatt masuk dari grup kelasnya.
Tiba saja Yasya membaringkan tubuhnya disamping ranjang tempat Reyna duduk mensejajarkan kakinya.
Hal itu sontak membuat Reyna tersentak dan merona seketika.
"Kamu kenapa?" tanya Yasya yang tengah tidur tengkurap disamping gadis itu.
"Enggak apa-apa kok pak... pak Yasya nggak pulang?"
"Kamu ngusir saya?" pertanyaan Yasya membuat Reyna merasa tak enak hati.
"Ehmmm bukan itu maksud saya" Yasya bangkit dari tidurnya, dan menggendong tubuh Reyna untuk tidur disampingnya.
"Pak Yasya... apa-apaan sih..." Reyna menggerutu dan masih diposisinya yang tidur terlentang dengan Yasya yang berada diatasnya.
"Kamu kenapa? wajah kamu merah begitu? kamu sakit?" pertanyaan Yasya membuat Reyna semakin gugup, apalagi dengan posisi mereka seperti itu membuat degup jantung Reyna seakan berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Reyna? apa yang kamu rasakan saat ini?" perasaan Reyna dilanda kebimbangan atas pertanyaan Yasya barusan.
Yasya menyergap bibir tipis yang selama ini dia nikmati hampir setiap hari itu. sedangkan Reyna hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Yasya terhadapnya. Padahal rasanya dia ingin menolak, tapi hatinya menginginkan lebih.
Tangan Yasya mulai meraih lengan Reyna dan dia arahkan ke dada bidangnya. Sementara Reyna masih terdiam dengan matanya yang menutup sempurna.
Yasya yang semakin gencar menarik tubuh Reyna, hingga posisi Reyna berada di pangkuannya. Sementara tangan mungil Reyna masih bertahan di perut atletis itu.
Tubuh putih mulus Reyna membuatnya semakin ingin meminta lebih pada gadis cantik dihadapannya ini.
Nafas Reyna memburu tak tertahan, membuat tubuhnya semakin panas menggelinjang.
Yasya menidurkan Reyna kembali. Pandangan keduanya saling bertemu, dan senyum bahagia saling mereka ulaskan satu sama lain.
"Reyna? apa saya pantas mendapatkan ini dari kamu?" pertanyaan Yasya membuat Reyna bingung.
"Maksud pak Yasya apa?"
"Selama ini saya selalu menyentuh kamu, meskipun kita hanya berciuman, tapi kita tidak ada hubungan, apa kamu keberatan?" Reyna menggeleng pelan. Ia menyadari apa yang ia lakukan, bukan karena dia murahan. Tapi karena ia sangat mencintai pria yang kini tengah menindih tubuhnya.
"Selama kita tidak melakukan lebih... saya tidak masalah dengan hal itu" Yasya mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Reyna, nafas mereka saling beradu, jantung mereka sama-sama berdetak tak karuan.
Yasya mengecup bibir lembut Reyna sekilas.
"Pak Yasya....." Yasya menggeleng dengan cepat. Dia beralih menatap mata Reyna yang sangat indah dengan bulu mata lentik itu. Yasya hanya bisa menahan nafsunya saat ini.
'Reyna, saya mencintaimu sangat mencintaimu. Tuhan, kenapa sangat sulit untuk mengatakan hal ini pada gadis pujaan hatiku ini... Rasanya aku ingin sekali menerkam tubuhnya saat ini jugs.'
Yasya beralih tidur disamping Reyna, dia menarik tubuh Reyna hingga dada Reyna berada diatas dada bidang pria tampan itu.
"Pak...? ada apa?" tanya Reyna dengan menatap Yasya yang masih mengulas senyum.
"Tidak apa-apa..." Reyna hendak bangkit dari posisinya, namun Yasya menahan tubuh Reyna hingga kini kepala Reyna telah bersandar di dada bidang yang terpampang itu.
"Jangan pergi... begini saja..." kata Yasya membuat Reyna semakin merona. Reyna menarik selimut yang berada dibawahnya dan segera menutupi tubuh mereka. Kini Reyna tidur dengan memeluk tubuh Yasya yang tengah bertelanjang dada. Ia merasakan dan dapat mendengar betapa jantung pria dibawahnya berpacu dengan kecepatan tinggi membuat gadis itu semakin merona.
Mungkin agak terlalu canggung, namun Reyna membuat dirinya nyaman.
"Pak Yasya...."
"Hemmm?"
"Lusa saya ujian lo...."
"Ya sudah... untuk sementara ini lupakan pencarian mama mu dulu, kamu fokus belajar saja... saya akan bantu kamu kok... dua minggu lagi kamu libur panjang kan...?? saya akan kasih kamu kejutan kalau kamu bisa dapat nilai bagus."
Reyna menengadahkan kepalanya keatas, hingga kini mereka saling berpandangan. Reyna mendekat kearah Yasya, dan posisi tubuh mereka saling menempel dengan lengan besar Yasya yang melingkar dipinggang ramping gadis itu. Wajah mereka saling menyatu.
"Saya nggak mau apa-apa lagi pak... yang saya inginkan adalah bertemu dengan mama."
"Kamu jangan khawatir sayang, kejutan saya lebih dari itu."
"Apa?!"
Reyna terkejut bukan main kala Yasya memanggilnya dengan sebutan 'sayang', wajahnya semakin merona, membuat Reyna menunduk malu.
"Baiklah kita tidur sekarang, kalau tidak besok pasti kesiangan" ucap Yasya dan segera mematikan lampu disamping tempat tidurnya.
"Selamat malam Reyna" kata Yasya sembari tersenyum lembut menatap kedua bola mata gadis yang kini seranjang dengannya.
cup...
__ADS_1
"Malam pak, " mereka tidur dengan posisi saling berhadapan dan berpelukan mesra. Kecupan di bibir lembut Reyna menjadi penutup malam yang dingin dalam kehangatan yang tengah mereka rasakan tanpa bisa mereka nyatakan.