
Reyna menuju kamarnya yang telah dipersiapkan oleh sang nenek.
Gadis itu mendekati ranjang yang berada di sebelah jendela, Reyna duduk disana dan mengambil sebuah gitar yang berada disamping koper itu.
Dipetiknya gitar itu perlahan dan memainkan beberapa instrumen musik yang indah untuk menghibur hatinya.
Tiba-tiba fikirannya melayang, mengingat bayangan-bayangan kecewa yang dirasakannya beberapa waktu lalu.
Betapa hancurnya dia saat tau bahwa Yasya telah mempunyai tunangan, dan itu tepat di hari dirinya mengetahui bahwa Almira telah pergi dari dunia ini, meninggalkannya sendiri.
Ditambah lagi dengan penyakit Reynaldi yang kian memburuk, dan Reyhan yang tidak pernah percaya padanya.
Rasanya Reyna seperti ingin menyusul Almira untuk tinggal disurga, dirinya seperti puing yang berjatuhan setelah dihancurkan oleh beberapa orang yang paling dia cinta.
Tak terasa, air mata kini telah membasahi pipinya, hanya mengingat itu saja rasanya sangat menyakitkan untuknya.
Kini Reyna telah hancur, kehidupannya seperti mengambang. Tidak ada seseorang yang dapat diandalkan olehnya.
"Hiks, Tuhan, apa salah ku? kenapa aku selalu gagal" Reyna menghentikan jemarinya yang memetik senar gitar digenggamannya.
Dihapusnya air mata itu dan memeluk tubuhnya yang telah lelah menjalani kehidupan setiap saat.
***
Yasya melangkah keluar dari kamarnya, terlihat wajahnya yang sedang tidak mood dengan rambut yang acak-acakan dan wajahnya yang sangat pucat.
"Irya, ayo kita sarapan" ajak Dian dengan senyuman, membuat Yasya hanya menoleh kedua orang tuanya yang tengah menikmati sarapan dipagi hari bersama.
"Iryasya, kenapa dia mi?" tanya Adi disela-sela makannya, membuat Dian tersenyum dan menggeleng pelan.
Yasya segera pergi keluar dari rumahnya dan menjalankan mobil untuk bergegas berangkat kuliah.
Diwaktu yang sama.
Reyna telah selesai mengemasi pakaiannya dan juga barang-barang milik neneknya.
Dia tampak tersenyum puas dengan usahanya barusan.
"Reyna, kamu kenapa ngajak nenek pindah mendadak gini, ck... nenek itu sudah tua, ini adalah rumah nenek dan mama mu sejak mamamu pulang, banyak kenangan indah yang nenek lalui disini" ucap Kumala dengan wajah sendunya, membuat Reyna memeluk tubuh renta wanita itu.
"Nenek, Reyna tau kok, Reyna juga merasa kehilangan seperti yang nenek rasakan. Tapi, nek" kata-kata gadis itu sempat menggantung dan ditepuknya pundak Kumala dengan lembut menghadap tubuhnya.
"Kita harus semangat dalam mengahadapi kehidupan ini, kita tidak boleh larut dalam kesedihan ini, tapi kita juga tidak boleh melupakan kenangan mama begitu saja" lanjurt Reyna dan meraih foto Almira yang berada di kardus bawahnya. Matanya mengerjap dan senyum indah ia lontarkan pada pandangannya difoto itu.
"Yang harus kita lakukan hanyalah melupakan kesedihannya, nenek pasti sedih jika mengingat bayangan mama, makanya Reyna tidak ingin membuat nenek sedih lagi."
Kumala menghembuskan nafasnya, matanya berkaca-kaca menatap langit-langit plafon rumah yang begitu penuh dengan kenangan.
"Kamu yang harusnya lebih menderita, tapi nenek tidak menyangka, kamu bahkan menyembunyikan kesedihan mu untuk nenek" kata Kumala dengan air mata yang ia tahan sedari tadi.
"Nenek" sahut gadis itu sambil menggeleng, tak terasa air matanya mulai menggenang dibawah kantong matanya dan siap untuk tumpah seiring pergerakan bola mata.
"Sudah, sudah semua sudah siapkan? jangan bersedih lagi, kita akan membuka lembaran baru mulai dari sekarang."
Kata Kumala menghapus air mata Reyna yang telah menetes, membuat Reyna tersenyum dan kembali semangat.
Reyna dan Kumala telah siap untuk pindah rumah, barang-barang yang mereka keluarkan kini diangkut oleh beberapa orang untuk dimasukkan kedalam mobil box, kira-kira cukup untuk membawa semua barang yang diperlukan.
Seorang cucu dan neneknya itu segera masuk dalam mobil pribadi yang telah Reyna persiapan sebelumnya.
Tak lupa gadis itu meraih gitar kesayangannya untuk dibawa ikut bersamanya.
Setelah semuanya selesai, kini mobil berwarna hitam pekat itu melaju menjauh dari pekarangan rumah minimalis, meninggalkan banyak kenangan manis dan pahit bersamaan.
Kini Reyna dan neneknya bisa bernafas lega untuk sementara.
Bukan hanya kenangan pedih dari Almira yang ia ingin lupakan, namun jejak yang suatu waktu Yasya mencarinya.
__ADS_1
Ia ingin sekali segera melupakan pria itu. Pria yang seharusnya tidak pernah ia cintai.
Reyna menatap jalanan didepannya, meski bibirnya menorehkan sebuah senyuman namun matanya menyiratkan sebuah kesedihan.
Begitu banyak jalan terjal dan berduri yang ia lalui, satu persatu orang yang dia cinta pergi dalam hidupnya, yang kini hanya tersisa Kumala baginya.
"Reyna, apa kamu sudah bilang pada Yasya kalau kita pindah?" pertanyaan dari Kumala membuat Reyna tersentak dan menatap neneknya dengan senyuman terpaksa.
"Nggak, buat apa juga ngasih tau dia, ini juga bukan urusan dia" kata Reyna acuh dan menatap jalanan lagi.
Kkamu bertengkar dengannya? hehehe Reyna, setelah mendengar semua dari Yasya dan pertolongan dia padamu, nenek yakin dia bisa menjagamu untuk seterusnya."
Reyna mengalihkan pandangannya kearah Kumala.
"Nek, aku dan pak Yasya tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya sebatas guru dan murid, nggak akan bisa berubah" Tukas Reyna pada neneknya yang kini tersenyum kearahnya.
" Yasya adalah pria yang baik, nenek tau kalian saling mencintai, jika mama mu masih ada, pasti dia akan merestui hubungan kalian berdua."
"Nek, aku nih masih sekolah, nenek jangan meledekku kaya gitu dong" ucap Reyna kesal membuat Kumala terkekeh dan memeluk tubuh cucunya dengan erat.
***
tok tok tok tok...
Suara ketukan pintu yang sangat keras membuat suara itu menggema dari dalam rumah.
"Nenek! Reyna!" Teriak Yasya dari luar rumah berukuran minimalis itu.
tok tok tok tok...
Pria itu mengetuk pintu sambil memencet bel, namun alih-alih membukakan pintu bahkan tiada suara yang dapat didengarnya dari dalam.
Pria itu mendengus kesal, sudah semalaman dirinya mencari gadis itu, mulai dari toko tempat Zayn dan rumah Kanaya tapi salah satu dari mereka tidak ada yang tau keberadaannya.
Diraihnya ponsel yang berada di saku celananya dan mengetik nama Reyna untuk memulai panggilan.
drttt drttt...
Suara getar dari ponsel gadis itu membuatnya tersentak dan segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo kak Zayn, ada apa?" tanya Reyna yang kini menjawab panggilan dari pria blasteran disebrang sana.
"Reyna, kamu ada dimana sekarang?" tanya Zayn tiba-tiba.
"Aku lagi ada dimobil sama nenek, kenapa?" tanya Reyna balik membuat Zayn menghembuskan nafasnya lega.
"Tadi malam Yasya ketempat ku, untung aja toko belum aku tutup, katanya dia nyariin kamu, kamu ada masalah sama dia ya?" tanya Zayn yang kini mulai penasaran.
Reyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nggak ada apa-apa kok kak."
"Yang bener?" tanya Zayn lagi meyakinkan.
"Iya kak," tegas Reyna membuat Zayn tersenyum dibalik panggilan itu
"Oh ya Rey, mommy pengen ketemu sama kamu, kamu bisa nggak nanti sore ketempat ku?" tanya Zayn yang kini mulai bicara serius padanya.
"Boleh, memangnya ada apa ya kak?" tanya Reyna penasaran dengan apa yang hendak dikatakan oleh orang tua Zayn padanya.
"Ada sesuatu, pokoknya kamu kesini dulu, nanti aku kasih tau oke."
"Heem iya" Reyna menghela nafasnya. Rasa penasaran dan juga rasa gusar yang ia rasakan begitu dalam hingga membuat dirinya tak sabar ingin bertemu ibunya Zayn.
"Kalo gitu kakak tutup dulu telfonnya, toko udah mulai rame soalnya" kata Zayn membuat gadis itu akhirnya menghela nafas.
"Iya kak" jawabnya singkat.
__ADS_1
tut...
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk."
Suara operator seluler dari ponsel pria itu membuatnya semakin kesal. Wajahnya tampak pucat dan lelah.
Yasya telah frustasi, dirinya ingin berteriak sekeras mungkin, memanggil nama Reyna.
Kini tubuhnya lunglai, pria itu terduduk lesu di teras rumah tersebut.
Ditatapnya jemari yang kini masih terlihat darah yang telah mengering dan beberapa goresan kecil bekas kaca tak berdosa yang semalam ia pukul.
Dibanding dengan luka dijemarinya, hatinya kini lebih sangat membutuhkan perhatian.
"Reyna, kamu dimana?! Aaarrrrgggghhht" teriaknya dengan wajahnya yang memerah, pria itu langsung bangkit untuk meninggalkan rumah minimalis dan melangkah cepat menuju mobilnya.
Langkahnya terhenti kala seorang ibu-ibu lewat dan bertanya padanya.
"Nak kamu sedang mencari siapa?" pertanyaan dari orang asing membuat Yasya menghentikan langkahnya.
Yasya menatap wajah wanita paruh baya itu.
"Saya, saya mencari nenek Kumala, apa ibu tau beliau kemana?" Tanyanya dengan penuh harapan.
"Ibu Kumala ya? sekitar setengah jam lalu dia dan cucunya mengemasi barang-barang, kayanya dia sudah pindah dari sini"
Yasya menatap sedih rumah minimalis itu dan mengarahkan pandangannya lagi ke wanita itu dengan senyuman yang ramah.
"Kalau begitu, terimakasih bu, saya permisi" ucapnya dengan pandangan pasrah dan hampa dan hanya dibalas anggukan oleh ibu itu
***
Reyna telah sampai dirumah barunya, rumah yang lebih luas dibandingkan dengan sebelumnya.
Meskipun tidak besar, namun rumah ini cukup nyaman untuk ditinggali mereka berdua.
Reyna keluar dari mobil itu yang tengah berhenti didepan rumah dengan pekarangan luas dan garasi mobil disampingnya, rumah itu memiliki lantai dua dengan cat berwarna serba pink membuat suasana feminim jika memasuki rumah itu.
"Reyna, kamu memilih rumah ini apa tidak terlalu besar?" tanya Kumala yang tengah melangkah mendekati Reyna yang telah sampai didepan gerbang rumah itu.
Reyna menggeleng pelan dan tersenyum.
"Reyna sampai nggak bisa tidur semalaman nek, haha, sebenarnya ini rumah idaman ku. Oh ya nek, masalah cafe aku sudah menanganinya, cafe itu sekarang aku sewakan karena tidak ada yang bisa aku andalkan, tidak apa-apa kan?" tanya Reyna dengan tatapan penuh harap.
"Kenapa kamu tanya nenek, itu hak kamu Rey, dan abang mu."
Mendengar kata-kata neneknya barusan, hati Reyna merasa bergetar.
Entah fikiran itu dari mana, namun dalam hatinya selalu mengingat betapa sakit ketika Reyhan memukul dirinya. Reyna diam membisu, dirinya seperti trauma karena kehilangan seorang kakak yang selalu melindunginya kini beralih menindasnya.
"Nek, lebih baik, jangan bicarakan mereka lagi" kata Reyna dengan tatapan berharap pada Kumala yang kini mulai menunjukkan raut wajah sendu.
"Tapi Rey."
"Cukup nek, kita kesini untuk melanjutkan hidup dan membuka lembaran baru, bukan untuk menyesali apa yang telah terjadi."
Ucapan Reyna terdengar sangat tegas dan begitu menyakitkan, dia melangkah meninggalkan neneknya yang menatapnya dengan tatapan iba.
Reyna mendekati pekarangan rumah itu dengan bunga-bunga dan pepohonan kecil serta gazebo dan juga ditambah kolam ikan kecil disampingnya. Begitu asri dan murni.
Reyna memasuki Rumah itu, dibukanya perlahan dengan kunci yang ia bawa.
ceklek....
Terlihat interior rumah yang begitu indah dan feminim dengan dinding dan sofa serta korden berwarna serba pink dan putih. Begitu indah dan nyaman. Inilah rumah yang ia idam-idamkan selama ini.
Senyumnya terpancar indah bersamaan dengan keinginannya yang terwujud.
__ADS_1
Ia hanya berharap untuk melupakan apa yang seharusnya dilupakan. Dan melalui rumah ini, semoga keinginannya lekas tercapai.