The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Keyla


__ADS_3

Langkah kaki Reyna dengan malas disebuah jalan yang sepi namun sangat rindang, ditumbuhi pohon-pohon disisi jalanan.


Terlihat beberapa kali Reyna menendang kerikil dijalan tersebut. Tampaknya hatinya sedang bimbang akan apa yang harus ia lakukan untuk meyakinkan Hengky untuk mengerti perasaannya.


tin tin....


Suara klakson mobil membuat Reyna tersentak, dan menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya ia kala melihat mobil Reyhan berhenti tepat dibelakang dia berdiri.


Reyna berhenti untuk melihat sosok yang turun dari mobil itu.


"Keyla....?" sosok gadis yang tak asing bagi Reyna. Gadis itu memakai pakaian minim dengan hanya memakai kaos putih dan rok mini ketat serta rambut yang bergelombang terurai sampai ke punggung. Usianya terpaut satu tahun lebih muda dari Reyna dan tak lebih tinggi dari Reyna.


"Key, udah lama kita nggak ketemu... kamu apa kabar? dan ini mobil bang Rey, kamu kok bisa make mobil dia?" tanya Reyna yang mendekat kearah gadis itu.


"Lo masih inget gue rupanya? gue kasih tau ke elo ya, sekarang gue adalah bagian dari keluarga Malik dan sebagai adik dari kak Reyhan yang baik, gue peringatin ke elo, jangan pernah lagi datang apalagi menginjakkan kaki di kediaman keluarga kami!" Reyna terkejut mendengar perkataan Keyla yang sangat menohok hatinya. Ternyata Reyhan telah menemukan penggantinya, apalagi dia adalah anak dari sahabat Reynaldi, dan ayah Keyla juga sudah meninggal sejak lama, tepat ketika dia belum lahir didunia ini.


"Gimana keadaan ibu kamu?" Reyna mulai tersenyum kembali, dia tak ingin terlihat menyedihkan dihadapan gadis didepannya ini. Keyla adalah sahabat Reyhan dan Reyna sejak kecil, dia juga sudah di anggap sebagai adik oleh mereka berdua. Namun ternyata, kehadirannya bukan untuk menjadi adik bagi keduanya, namun juga menggantikan posisinya.


"Nggak usah sok akrab deh, mama gue jauh lebih baik dari yang elo tau, dan lo pasti nggak tau kan, mama sama om Reynaldi bakal menikah."


"APA?!"


"Jadi anak haram ini belum tau ya... atau elo pura-pura nggak tau!" kata Keyla sembari mengitari tubuh Reyna.


"Gue bukan hanya diangkat sebagai anak oleh om Rey, tapi juga mama gue bakal jadi nyonya Malik... gue lupa hahahaha, elo bukan bagian dari keluarga lagi ya, hemmm ck ck ck... mendingan lo buang jauh-jauh deh nama Rey dan Malik dibagian nama lo."


Reyna masih diam menahan amarah dengan matanya yang berkaca-kaca. Bisikan dari Diar membuat Reyna seperti dikucilkan didunia yang sangat kejam ini.


"Key.. kamu kenapa jadi kaya gini? kamu bukan Keyla yang aku kenal" Keyla menyeringai, dan mendorong tubuh Reyna hingga dia tersungkur di aspal yang sangat panas siang itu.


"Lo itu nggak kenal gue... heh... seharusnya lo tau diri! kasih tau ke mama lo yang murahan itu, dibayar berapa dia sampai bisa ngelahirin anak sialan kaya lo!" mata Reyna membelalak, dan wajahnya merah padam. Segera dia bangkit, dan menampar pipi bagian kiri Diar.


Plak....


Keyla menyeringai, matanya membelalak tajam, bagai pembunuh hendak membantai mangsanya.


"Anak sialan... lo berani nampar gue...?!" Keyla hendak membalas tamparan dari Reyna, namun gerakannya kalah cepat oleh tangan Reyna yang menahan lengan gadis itu. Reyna tak kuasa menahan emosi kala Keyla menghina nama ibunya.


Plak....


Sebuah tamparan lagi mendarat di pipi bagian kanan Keyla.


"Lo... lo berani sama gue?! ternyata anak haram yang dilahirkan Almira seperti ini. "


"Cukup Key... cukup! kamu boleh mengatakan apapun soal aku, apapun itu, tapi kamu nggak berhak buat ngomong yang enggak enggak soal mama ku. Kalau kamu sampai menghina mama lagi bukan hanya tamparan,tapi aku nggak akan segan-segan untuk membuat hidup kamu jauh lebih menderita."


Reyna segera pergi dari tempat itu. Dan meninggalkan Keyla yang tengah diliputi oleh amarah.


Reyna berhenti sejenak untuk mengecek lututnya. Dan alangkah terkejutnya ia kala melihat darah segar mengucur dengan luka yang lumayan dalam di bagian lutut.


Reyna bahkan baru sadar, ternyata dorongan Keyla cukup kuat hingga membuat lengan dan lututnya terluka. Reyna sampai tak memperhatikan batu tajam cukup besar yang mengenai lututnya.


Reyna berjalan dengan langkah kaki yang tertatih. Dia tak perduli dengan keadaannya sekarang.


"Taksi...." gadis itu mencegat sebuah taksi dan segera memasuki mobil berwarna biru itu.


"Mau kemana non?"


"Ke jalan wisma asri pak."

__ADS_1


"Itu kan jauh non... kenapa nggak naik mobil pribadi saja, mungkin butuh waktu 2 jam sampai sana."


"Nggak apa-apa pak, saya nggak punya mobil pribadi, kebetulan ada kerabat disana, lama nggak berjumpa."


"Baiklah non..." taksi itu melesat dengan cepat, membawa gadis cantik yang masih memakai seragam sekolah lengkap.


***


Keyla keluar dari mobilnya dengan wajah suram dan kesal. Dia membanting pintu mobil dan segera masuk ke dalam rumah keluarga Malik.


Langkahnya tergesa, bahkan dia tak sadar telah melewati Reyhan yang memperhatikanl kelakuannya sedari tadi. Reyhan yang tengah duduk disofa menutup laptop yang sehari-hari menjadi sahabat baginya itu.


~


"Keyla... kenapa kamu tiba-tiba pulang dan bersikap kasar kaya gitu? dan pakaian kamu terlalu ketat... nggak pantes buat anak seusia mu, apalagi kamu belum cukup umur buat ngendarai mobil" kata Reyhan tegas pada Keyla yang tengah duduk diruang makan dengan air putih didepan dia.


"Kak...." Keyla memeluk tubuh Reyhan yang berada disampingnya. Perlahan matanya mulai mengeluarkan air mata palsu.


"Hey... ada apa dengan adik ku ini? apa kata-kata kakak mu ini menakutimu?" tanya Reyhan dan menangkup wajah Keyla.


Keyla menggeleng dengan cepat dan memeluk tubuh Reyhan kembali.


"Kak, aku tadi niat buat ngajakin Reyna pulang, aku ingin dia tinggal bersama kita, karena bagaimanapun, dia juga adik kandung kakak kan... dia juga sahabat ku sejak kecil, tapi."


"Tapi kenapa?!"


"Setelah aku memberitahu bahwa aku diangkat menjadi anak om rey, dan mama ku juga akan menikah dengannya.... hiks... Reyna langsung marah dan menampar wajah ku hiks" kata Keyla dengan air mata mengalir dan tangisannya yang sesenggukan.


"APA....?!"


"Kak... jangan marah pada Reyna, dia nggak salah, mungkin benar apa kata dia bahwa aku dan mama yang telah merenggut keluarganya. Kak aku bersalah aku akan pergi kalau itu yang diinginkan oleh Reyna. "


"Reyna sudah keterlaluan! apa hak dia untuk menampar kamu. Bahkan kamu berbaik hati mau mengajak dia kembali, tapi apa yang dia lakukan. Sungguh gadis yang keji, pantes aja papa benci banget sama dia. Kamu tenang aja Key, kakak mu akan memberi pelajaran untuk dia."


"Kak...."


"Sudah Key, jangan takut, mulai sekarang sampai seterusnya, dia tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini lagi" kata Reyhan dengan nada keras dan tegas.


Mendengar itu, senyum jahat menghiasi wajah Keyla, dan ekspresinya mulai berubah seketika.


***


Sebuah taxi berhenti disebuah kompleks perumahan mewah.


"Non, bangun non... kita sudah sampai" Reyna perlahan membuka matanya, dia beberapa kali mengerjapkan mata dan mengumpulkan nyawa yang masih sedikit melayang. Perjalanan yang memakan waktu sangat lama membuat Reyna terpaksa untuk istirahat dan terlelap.


"Udah sampai ya pak, ini uangnya pak terimakasih" ucap Reyna dan memberikan empat lembar uang ratusan ribu.


"Sama-sama non" Reyna melangkahkan kakinya, dia menatap rumah sekeliling, dan mulai berjalan dengan tertatih.


Pandangannya meluas, mencari keberadaan sebuah rumah sederhana diantara beberapa rumah mewah.


Langkahnya terhenti ketika melihat rumah dengan interior yang sederhana dengan pohon besar tumbuh didepannya.


Seseorang keluar dari rumah itu, membuat Reyna memberanikan diri untuk mendekat. Langkahnya pasti namun sedikit tak berdaya oleh luka dilutut serta lengannya. Meskipun darahnya tengah sedikit mengering, namun rasanya masih terasa sangat menyakitkan.


"Permisi, ibu yang punya rumah ini?" tanya Reyna yang telah berada didepan seorang ibu-ibu paruh baya yang tengah menyirami beberapa tanaman.


"Iya.... adek siapa? mau cari siapa?"

__ADS_1


"Kenalkan nama saya Reyna" kata Reyna sembari mengulurkan tangannya.


"Saya Monica" balas Monica membalas jabatan tangan Reyna.


"Maaf bu, saya adalah cucu dari pemilik rumah ini sebelumnya" ucapan Reyna terpotong oleh Monica yang tengah menatap khawatir pada lutut Reyna.


.


"Nak, kaki kamu terluka ayo masuk dulu, kita ngobrol didalam sambil mengobati lukamu" kata wanita paruh baya itu dengan senyum ramahnya.


Reyna mengangguk dan melangkah membelakangi Monica. Reyna menerawang jauh kala memasuki rumah yang tidak pernah berubah sama sekali dari saat terakhir dia menginjakkan kakinya dirumah yang penuh kenangan itu.


"Mari duduk, ibu ambilkan kotak p3k dulu ya..." Reyna tersenyum dan mengangguk.


Reyna duduk sofa panjang berwarna biru itu.


Pandangannya menerawang jauh, menghempaskan dirinya kala masa dimana dia masih duduk dibangku SD, dan neneknya yang selalu menemaninya bermain.


Saat itu keluarga Reyna masih sangat harmonis. Reyna tak sanggup untuk mengingat hari-hari yang penuh warna dan kebahagiaan itu. Reyna sangat rindu kepada keluarga kecilnya. Matanya terpejam, menikmati kerinduan yang ia rasakan hampir 2 tahun ini. Tetes air mata ditengah wajah cantiknya membuat dia bangun dari kenyataan yang sangat menyakitkan baginya.


"Nak.m kamu kenapa?" tanya ibu itu yang datang tiba-tiba membuat Reyna segera menyeka air matanya.


Reyna tersenyum, dan menggeleng pelan. Monica tampak membawa sebuah kontak obat dan segelas jus.


"Ibu Monica kenapa repot-repot, luka saya sudah kering kok."


"Nggak apa-apa, kamu jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri" kata Monica dengan menaruh kotak dan gelas dihadapannya.


Monica membuka kotak obat dan mengeluarkan alkohol, obat merah serta kain kasa.


"Biar saya saja...." Reyna hendak meraih obat yang dikeluarkan oleh Monica. Namun tangan Monica segera menghalanginya.


"Nak Reyna.... tidak apa-apa, biar saya saja" Monica menarik kaki Reyna dan menaruhnya dipangkuannya.


"Sakit ya? sebentar... luka kamu cukup dalam, kamu tadi terjatuh? kenapa sampai bisa seperti ini?" tanya ibu itu yang terlihat khawatir saat memperhatikan luka Reyna yang cukup serius dan dalam


"Saya tadi nggak sengaja, maaf sudah merepotkan ibu."


"Tidak apa-apa... kalau anak saya yang terluka pasti saya akan mengobati dia seperti ini juga" ucap Monica dengan masih setia mengobati lutut Reyna.


"Ibu sangat perhatian sekali, pasti anak ibu sangat beruntung punya ibu seperti anda" ijar Reyna dengan matanya yang berkaca-kaca. Sudah lama dia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Bahkan dia sampai lupa rasanya dipeluk oleh seorang ibu.


"Anak saya sudah lama meninggal...." suara Monica terdengar melemah, sambil menatap Reyna dengan senyum paksa.


"Maaf bu... saya turut berdukacita dan saya tidak bermaksud..."


"Tidak apa-apa nak... oh ya... sampai lupa, sambil diminum nak jus nya... tadi kamu bilang kamu adalah cucu dari pemilik rumah ini sebelumnya."


"Saya kesini untuk mencari tahu keberadaan nenek dan ibu saya, sudah hampir 2 tahun ini ibu saya menghilang... dan keberadaan nenek saya juga tidak diketahui. Bulan lalu saya kesini untuk mengunjungi nenek, tapi sayangnya ada banner didepan pintu yang menyatakan kalau rumah ini dijual. Saya mencoba bertanya pada beberapa orang yang lewat, tapi tidak ada yang tau" jelas gadis itu serius dan sedikit menahan kesedihannya.


"Nak maaf, ibu membeli rumah ini dari makelar... ibu belum pernah melihat pemilik rumah ini sebelumnya."


"Ibu Monica... boleh saya tau dimana makelar itu tinggal? ini sangat penting bu."


"Ibu tidak tau dimana dia berada, tapi beberapa orang disini mengenal dia, namanya pak Aji Santoso, sebaiknya begini, kamu pulang terlebih dahulu dan katakan kepada keluargamu... mereka pasti bisa membantu" Reyna tampak ragu, dia diam tanpa berekspresi.


"Nak .. kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa bu, baiklah, saya akan pulang dulu... lagipula ini sudah sore. Terimakasih untuk informasinya dan mengobati luka saya, saya benar-benar bereterima kasih."

__ADS_1


"Nggak usah sungkan, kalau kamu mencari keadaan nenekmu dan ibumu, kamu datang kesini dulu. Ibu pasti akan bantu kamu, ibu juga adalah seorang ibu, pasti ibumu juga mencarimu... kalian pasti akan segera bertemu."


__ADS_2