
Zayn menghampiri Reyna yang sedang melamun ditengah permainan gitarnya, fikirannya seolah menerawang selepas tak sengaja menatap kedua mata yang tak ingin ia temui untuk sementara waktu.
"Kamu udah ahli ya main gitar, aku nggak nyangka cepet banget kamu hafal kuncinya" kata Zayn dengan senyumnya seperti biasa.
Zayn adalah pria blasteran yang mengikuti adat Jawa sehingga sifatnya sangat lembut dan bersahabat, meskipun kadang dia tegas dan terlihat garang jika sedang menahan amarah.
"Hey... kamu kenapa? kok wajahmu murung gitu" tanya Zayn yang kini mulai semakin cemas.
"Nggak apa-apa kok."
"Pembeli yang tadi kagum lo sama permainan gitar kamu... aku aja juga kaget kamu bisa cepet belajarnya."
"Oh ya? ngomong apa dia kak?" tanya Reyna dengan senyum sumringah.
"Cuma ngomong kalau dia nggak nyangka sama permainan pemula kamu."
"Ini kan berkat kak Zayn jug.a"
"Hehehe bisa aja kamu..."
"Kak, aku mau pamit dulu ya, nanti kapan-kapan aku maen kesini lagi, barang aku mau aku bawa" kata Reyna dan Zayn mengangguk pelan.
Reyna hendak melangkahkan kakinya, namun dengan cekatan tangan Zayn meraih lengan Reyna.
"Tunggu sebentar"
"Ada apa kak??" tanya Reyna dengan raut wajah kebingungan.
Zayn tak berkata apapun, namun dia mendekat kearah Reyna, mata abu-abu miliknya menatap manik mata Reyna sangat lekat hingga Reyna merasa tak nyaman dibuatnya.
Tangannya masih berlenggang di lengan mulus milik gadis didepannya.
"Kakak mau ngapain?" Reyna tampak semakin kebingungan.
"Kak..." dengan segera tangan besar milik pria blasteran itu menangkup wajah imut Reyna.
"Udah baikan..." kata Zayn dengan mengelus pipi dan menyentuh sudut bibir yang masih sedikit memar dan terlihat samar-samar itu.
"KAKAK!! iiihhhh ngeselin" ujar Reyna dengan wajahnya yang menahan amarah, dia mendorong pelan tubuh Zayn yang berada dekat dengannya.
Zayn menahan tawanya dan terkekeh pelan agar Reyna tidak semakin kesal karena ulah jailnya.
***
"Ky... Reyna sakit apa?" tanya Naya yang tengah membawa semangkuk mie untuk bersiap duduk berhadapan dengan cowok tampan itu disebuah kantin sekolah. Suasana kantin yang ramai karena baru saja bel istirahat berbunyi, membuat telinga siapa saja bising karena anak-anak yang kebanyakan berteriak dan membuat keributan dengan tingkah laku yang terkadang membuat ulah dimasa pubertas mereka.
"Gue juga nggak tau... katanya sih nggak enak badan."
"Kenapa dia nggak ngabarin gue sih" ucap Naya sambil duduk dibangku panjang berhadapan dengan Hengky.
"Gue juga nggak dikasih tau.".
"Nah lo kok bisa tau... lo ndukun Reyna ya?"
"Ngaco lo... ya nggak lah."
"Nggak usah ngeles... gue itu tau kalo lo suka sama dia, tapi nggak segitunya juga kali."
"Dasar blo'on..." ucap Hengky sambil menoel kening Naya yang tertutupi oleh poninya.
"Lo nanya kan gimana gue bisa tau... ya karena gue nelfon dia lah... kalo dia nggak dihubungi duluan, dari kita mana ada yang tau?"
"Ya elo sih nggak jelasin... gue kan jadi salah paham."
"Makanya penyakit idiot itu jangan dipiara., dengerin dulu... baru berargumen" kata Hengky dengan malas.
"Udah ah... gue mau ke kelas dulu" lanjut pria itu sembari bangkit.
"Eh kok gue ditinggal sih..." Hengky melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Kanaya.
Hengky hendak menuju kelasnya yang berada dilantai atas, dia melewati lorong demi lorong. Namun langkahnya terhenti kala melihat seseorang yang tak asing dipandangi nya.
Terlihat Reyhan sedang berjalan kearah ruang kepala sekolah dan diikuti oleh seorang cewek, namun cewek itu bukan Reyna.
"Kak Rey? ngapain dia disini? bukannya Reyna lagi sakit ya?" Hengky dengan segera mendekat kearah Reyhan dengan langkah cepat. Namun gerakannya kalah dengan mereka yang tengah masuk kedalam ruangan itu.
Hengky tampak kecewa namun dirinya masih diam mematung sambil menunggu keluarnya Reyhan dari ruang kepsek.
Setelah 10 menit berlalu Reyhan akhirnya keluar dari ruangan.
"Kak Rey..." panggil Hengky dengan senyumnya.
"Hengky... kamu..." tiba-tiba gadis yang dibawa Reyhan tadi keluar dan berdiri tepat dibelakang Reyhan. Tampak gadis itu tersenyum simpul ketika melihat Hengky yang berada dihadapannya.
"Kak... Rey" panggil Hengky menggantung karena terpotong oleh perkataan Reyhan.
"Kenalkan, ini adikku Keyla, dia akan jadi adik kelas kamu nantinya."
"Adik kakak? Bukannya kakak cuma punya satu adik, dan itu adalah."
"Keyla... dia adalah satu-satunya adikku" ucap Reyhan dengan tegas dan senyum yang tersungging tanpa dapat diartikan.
"Maksud kakak apa?" Reyhan masih terdiam tanpa mengatakan apapun.
"Kak... kenalin aku Keyla Routulie, adik angkat kak Reyhan" kata Keyla dengan senyum dan uluran tangannya.
Hengky tak bisa berkata apa-apa, namun tatapannya masih diliputi tanda tanya. Dia enggan membalas jabatan dari Keyla dan beralih menatap Reyhan dengan kerutan di dahinya.
"Kak... Reyna.. dimana dia? bukannya pagi ini kak Rey nganterin dia ke rumah sakit? tapi kenapa kak Reyhan ada disini?" tanya Hengky dengan segudang pertanyaan yang segera ingin dia temukan jawabannya.
Melihat ekspresi Hengky, Keyla menarik kembali uluran tangannya. Dan mengangkat sebelah alisnya.
"Yang kamu maksud siapa? aku tidak merasa kenal dengan orang itu, namanya begitu asing ditelinga ku" kata Reyhan sembari tersenyum miring.
"Maksud kak Rey apa?" Keyla menatap Hengky dengan senyum jahatnya. Dia maju satu langkah untuk dekat dari jangkauan Hengky.
"Maksud kamu? Reyna? kak mohon maaf ya, jika kak Hengky lain kali ketemu kak Rey nggak perlu buat nyebut nama dia lagi, karena percuma, kita bukan keluarga yang suka mungut anak haram."
"Jaga ucapan kamu ya, Reyna adalah gadis baik-baik..." kata Hengky dengan wajah merah padam.
Sedangkan Reyhan hanya tersenyum sinis melihat ekspresi Hengky.
"Kak... aku mau bicara sama kak Rey" ujar Hengky dengan geram dan menarik lengan Reyhan. Namun Reyhan menepisnya.
"Lepaskan aku... aku bisa jalan sendiri" Reyhan mengikuti langkah kaki Hengky yang menjauh dari ruang kepsek dan menuju halaman depan sekolah.
"Kak... maksud kak Rey apa? dimana Reyna dan kenapa kakak ngangkat Keyla sebagai adik? dan kak Rey seolah nggak peduli dia merendahkan adik kandungmu sendiri jelasin ke aku."
"Apa yang dibilang Keyla memang benar, dia adalah anak haram yang dengan bodohnya aku percaya."
"Reyna bukan anak haram! kak, gimana kakak bisa bilang kalo Reyna adalah anak haram?! dia itu adik kandung lo."
"Adik kandung yang telah nyokap gue lahirin dari perselingkuhan" ucap Reyhan dengan pandangannya yang tajam.
"Apa?! nggak mungkin."
Reyhan menghela nafasnya, dan segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Hengky.
"Kak... apa kakak nggak pernah cari tau kebenarannya?" tanya Hengky yang kini mulai tersenyum miring.
__ADS_1
"Aku sudah tau kebenarannya, dan aku sangat menyesal bisa mempercayai gadis itu"
Ucap Reyhan dengan menghentikan langkahnya tanpa menatap Hengky yang berada dibelakangnya.
"kamu akan lebih menyesal lagi jika tidak mencari tau kebenarannya..."
Ucap Hengky dengan nada kesal kemudian pergi mendahului Reyhan dengan wajahnya yang merah padam.
Sedangkan Reyhan tampak berdiri mematung seolah memikirkan kata-kata Hengky.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Reyna telah sampai di apartemen Yasya, dia membuka pintu dengan membawa koper dan gitar lengkap dengan ransel dipunggungnya.
tak tak tak...
langkah kaki Reyna menggema keseluruh penjuru ruangan.
"pak Yasya...???"
panggil Reyna dengan suaranya yang lembut dan pelan.
Namun tak ada jawaban, Reyna merasa Yasya telah datang. Perlahan dia melangkahkan kakinya menuju dapur dan menemukan nasi goreng yang baru saja matang dimeja.
"apa pak Yasya yang buat ini??? masih anget.."
Reyna mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan.
Perlahan dia menyusuri ruangan demi ruangan.
"Aaaaahhhh..."
Teriak Reyna kala kakinya tak sengaja terpeleset karena menginjak sisi karpet yang licin.
Namun belum sempat tubuhnya terjatuh dilantai, secara tiba-tiba tangan kokoh menahan tubuhnya.
Reyna yang semula menutup matanya kini perlahan membuka matanya untuk melihat sosok itu.
Yasya menatap lekat gadis cantik yang berada dipelukannya saat ini dan begitupun sebaliknya. Reyna sangat mengagumi ketampanan pria pujaan hatinya, entah sejak kapan perasaannya mulai tumbuh, namun yang dia ketahui hanyalah, dia sangat mencintai Yasya.
Mata mereka saling bertemu, sedang tidak satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Wajah Yasya semakin mendekat kearah wajah gadis cantik berkulit putih bak salju dihadapannya. Yasya dengan sengaja menurunkan posisi Reyna hingga dirinya terlentang beralaskan karpet impor miliknya. Entah mengapa Reyna tak bisa menolak perlakuan intim antara dirinya dengan pria didepannya ini.
Mereka saling berpandangan, Reyna menahan dada Yasya yang semakin menempel ketubuhnya. Namun tangan Yasya menepis lengan Reyna.
"pak...???"
Ucap Reyna pelan. Namun panggilan Reyna seperti tidak didengar olehnya.
Jantung mereka saling beradu, namun Yasya seolah tak peduli. Matanya terpejam dan perlahan ******* lembut bibir tipis milik Reyna. Reyna perlahan mengikuti ciuman yang diberikan oleh pujaan hatinya tersebut.
"ahhh... ump..."
Mereka melakukannya dengan cukup lama,
dengan nafas yang memburu, Reyna menahan pundak Yasya yang masih menindih tubuh mungilnya. Bahkan dia tak sadar telah melenguh menikmati ciuman panas mereka.
"Reyna... kamu sangat cantik..."
Seketika wajah Reyna merona oleh perkataan sang guru.
Yasya mengecup kening Reyna sekilas dan membuat Reyna semakin tersenyum manis.
"pak... ehm..."
Reyna mendorong tubuh Yasya dan segera berdiri.
"emm maaf rey... kita bisa makan sekarang, saya sudah masak nasi goreng untuk kamu"
"ehmmm iya..."
Mereka makan dengan saling posisi berhadapan, ditengah mereka menikmati makan siang tiada percakapan antara mereka.
kring... kring...
Suara dering handphone Yasya membuatnya menghentikan makannya sejenak.
Dengan cekatan dia mengangkat telfon itu.
"hallo pi..."
"Irya... kamu ada dimana sekarang??? cepat datang ke kantor, ada yang ingin papi bicarakan dengan kamu"
"Irya selesaikan dulu makannya, sebentar lagi irya kesana"
"baik... papa tunggu..."
Yasya menutup telfonnya dan mendongak menatap gadis imut dihadapannya.
Reyna membalas pandangan manik mata indah dihadapannya. Guratan indah dipipinya menambah kesan cantik dalam dirinya.
Yasya membalas senyuman Reyna tak kalah menawan.
"Reyna... saya akan segera kekantor, kamu tunggu disini ya... kalau mau kemana-mana hubungi saya..."
"emmm iya..."
.
.
.
.
.
Malam telah tiba, Reyna membuka laptop yang telah ia keluarkan dari dalam koper.
Matanya mengerjap menahan kantuk.
"Hoammmhhp... aku udah buka situs ini beberapa kali, tapi kenapa nggak muncul terus, padahal baru kemaren rasanya. Apa udah dihapus ya???"
__ADS_1
Reyna akhirnya menyerah tatkala tak menemukan situs yang ia cari. Pandangannya lalu beralih membuka galery di laptopnya dan melihat banyak sekali foto keluarga sedari dirinya masih bayi hingga yang terakhir...
Sebelum kedua orang tuanya berpisah..
"Ma....???"
Reyna menatap layar laptopnya dengan mata berkaca-kaca. Perlahan dia sentuh layar laptop itu dan membelai foto wanita dewasa yang memeluk gadis kecil disampingnya.
Reyna membuka vidio yang dulu pernah direkam oleh abangnya.
"mama... mama... sini senyum..."
suara Reyhan yang masih duduk di bangku SMP membuat Reyna mengenang masa-masa kecilnya.
"ini ada mama... ini papa..."
"*ni adik kecilku Reyna..."
"Abang... Reyna juga pengen bawa kameranya.. abang kan juga belum di rekam*..."
Suara Reyna yang masih duduk disekolah dasar, Reyna kecil tampak berdiri didepan orang tuanya. Almira dan Reynaldi tampak tertawa kecil ketika Reyna sedang merengek manja pada abangnya.
Terlihat Reyna tampak mendekati kameranya dan membuat sorotan kamera penuh dengan pipi chubby gadis kecil itu.
"*ishhh... rey minggir dulu, mama sama papa nggak kelihatan itu lo..."
"abang, aku juga mau... sini kameranya aku pinjem"
"jangan rey, kamu itu masih kecil... nanti mati kalo kamu yang pegang kameranya*"
Reyna tampak berkaca-kaca melihat pemandangan didepannya, seperti baru kemarin dia menjalani masa yang ada dalam video itu.
Rasa kantuk mulai menghilangkan kesadarannya. Sedangkan posisinya masih duduk di tengah ranjang dengan laptop yang berada dipangkuannya.
.
.
.
.
.
Ceklek....
tak tak tak...
Suara langkah kaki menggema di seluruh ruangan apartemen Yasya.
"Reyna...??"
Panggil Yasya pelan. Jam menunjukkan pukul 21.33
"apa Reyna sudah tidur???"
Yasya mengunci pintu itu kembali dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar satu-satunya. Dia melepaskan jas dan meletakkan kesembarang tempat.
Dia membuka pintu kamar yang ternyata belum dikunci.
"rey.... na???"
Suaranya tiba-tiba melemah tatkala melihat Reyna memejamkan matanya yang sangat lembut, bak malaikat. Yasya memperhatikan posisi Reyna saat ini, dia menelan salivanya tatkala dipandangi tubuh Reyna yang memakai piyama berkerah dengan panjang hanya sampai menutupi bagian paha atasnya saja. Sedangkan paha bagian bawah hingga kaki terumbar dengan sempurna.
Yasya mendekat ke arah Reyna yang sedang tidur dengan posisi duduk dan memangku sebuah laptop. Perlahan dia naik ke ranjang disebelah Reyna dengan sangat hati-hati, takut membangunkan gadis cantik itu. Dia mengambil laptop yang masih bertengger di paha putih mulus Reyna.
Yasya hendak menutup laptop itu, namun pemandangan didepannya membuat dia terpaku dan tersenyum simpul.
Satu gadis kecil memeluk pria dewasa yang notabennya adalah ayah dari gadis itu, mereka tampak sedang menikmati piknik dipagi hari disebuah taman yang sangat luas dan bunga-bunga disekitar mereka.
"*Reyna lihat kesini... mama... mama... ayo mendekat..."
"nak... sudah hentikan main kameranya, kamu belum sarapan lo*..."
Kata ibu dari kedua anak itu yang muncul tiba-tiba dengan membawa beberapa buah.
"*pokoknya Reyna mau kamera pa... bang Rey itu pelit... dipinjam aja katanya nanti rusak kalau dipakai Reyna"
"hahahaha... iya nanti papa belikan yang besaarrr sekali... Reyhan... ayo kemari... letakkan kameranya disitu, kita makan sama-sama*"
Ucap sang ayah tegas sambil memperhatikan sosok dibalik kamera.
"iya pa..."
tak lama kemudian Reyhan mendekat kearah orang tuanya dan Reyna yang masih memeluk lengan sang ayah.
"sini rey... abang punya cheesecake... mau nggak"
Reyna tampak ragu untuk mendekat kearah Reyhan, namun sang ayah mengintruksikan sebaliknya.
Reyna kemudian duduk disamping pria yang mendekati masa puber itu.
"nih... abang suapin... aaa"
Reyna menerima suapan dari Reyhan. Dia mengunyah cheesecake itu dan betapa senangnya ia saat mengetahui bahwa rasanya begitu lezat.
"wahhh enak... Reyna mau semua..."
Dengan polosnya Reyna mengambil sepotong cheesecake dari tangan abangnya. Dengan buru-buru dia melahap dengan beberapa gigit hingga habis tak tersisa.
"Reyna... kok dihabisin sih... kan abang belum makan."
"Maaf, abang minta aja ke mama."
"Nggak mau... abang bawa sendiri tadi cuma satu potong."
"Ya udah Abang makan yang lainnya aja."
"Ngeselin kamu Rey" tampak wajah Reyhan cemberut dan Reyna dengan manja minta maaf kepada abangnya itu, namun Reyhan tidak mengatakan apapun.
cup...
Reyna memeluk dan mencium pipi Reyhan. Tampak Reyhan membelalakkan matanya dan menatap Reyna dengan ekspresi terkejut.
."Reynaaa... kok kamu cium aku sih"
"Emmmuuuaacchhh"
Reyna menjulurkan lidahnya dan mencium pipi Reyhan lagi seolah menantangnya.
Yasya menutup laptop itu dan memandangi Reyna dengan lekat, dia menyunggingkan senyumnya, mengingat Reyna kecil yang begitu imut dan menggemaskan bisa tumbuh menjadi gadis cantik dan sangat mempesona. Yasya membaringkan tubuh reyna untuk tidur dengan posisi yang benar. Reyna menggeliat dan memeluk lengan Yasya erat.
Yasya mengelus pipi putih dan mulus milik Reyna, dia melepaskas dasi yang masih bertengger di lehernya dan menaruhnya di nakas.
Yasya juga menarik selimut yang berada dibawah kaki mereka dan menutupi tubuh mereka dengan hangat. Dia enggan melepaskan tangannya dari tubuh Reyna yang mulai tidur dengan nyaman.
Perlahan dia kecup kening gadis cantik yang berjarak beberapa senti dari wajahnya itu, kemudian turun kepipi dan terakhir kecupan mendarat di bibirnya.
"Aku mencintaimu Reyna, aku akan menahan nafsuku, karena aku begitu mencintaimu, aku tidak ingin kamu ternodai karena aku" kata Yasya begitu pelan. Dia memejamkan matanya perlahan dan mulai terlelap dalam dekapan Reyna.
__ADS_1