
Reyna dan Kanaya tengah berjalan santai memasuki kompleks perumahan yang dulu biasanya mereka lewati bersama saat menginap dirumah keluarga Malik.
"Lo yakin Rey, nggak mau ngasih tau mereka soal mama lo, ini kesalahpahaman besar tau nggak" kata Kanaya memberikan saran.
"Gue tau kok Nay, gue yakin, suatu hari nanti pasti mereka akan tau sendiri. Gue cuma nggak mau mempersulit posisi gue saat ini."
"Rey, lo gadis paling kuat yang pernah gue kenal, gue percaya sama keputusan lo, tapi lo harus janji, lo bakal cerita apapun masalah lo ke gue" ucap Kanaya sambil memeluk erat tubuh ramping sahabatnya itu. Membuat Reyna membalas pelukannya.
"Aaaaahhhhhh...." suara keras itu mengejutkan Reyna dan Kanaya.
Seorang lelaki paruh baya tengah memegang dada bagian bawah yang tengah merasakan denyutan kuat dibagian perut atasnya. Membuat dua gadis yang tak jauh dari lokasi berlari menghampiri asal suara.
"Itu, papa Nay" ujar Reyna seraya menarik lengan Kanaya dan bergegas untuk mendekat.
"Papa, papa kenapa?" teriak Reyhan histeris dan dengan segera keluar dari mobil untuk melihat keadaan sang ayah yang meringis kesakitan.
"Sepertinya ada yang salah dengan perut papa" ucap pria itu yang masih mengenakan pakaian lengkap ala kantoran.
Reyhan refleks mendudukkan tubuh Reynaldi disebuah kursi diteras tersebut dan memberinya air mineral.
Terlihat wajah khawatir Reyna dan Kanaya yang saat ini sedang mengintip kegiatan ayah dan anak itu di balik pohon besar didepan pagar rumah.
"Rey, papa kamu sakit apa?" tanya Kanaya yang menatap khawatir sahabatnya.
Reyna menggeleng pelan, mendengar bisikan dari sahabatnya itu. Ia masih fokus memperhatikan keadaan sang ayah yang kali ini tengah tergeletak tak berdaya dengan Reyhan yang kini segera menolongnya.
"Pa, kita kerumah sakit sekarang" tutur Reyhan yang menyadari wajah pucat dari sang ayah.
"Papa....!" teriak Reyhan lantang kala sang ayah kini hampir pingsan dengan.
Wajah cantik gadis itu sangat khawatir, nyaris dirinya berlari kearah Reyhan dan Reynaldi. Namun untungnya tangan sahabatnya itu menghentikan pergerakannya.
"Reyna, jangan!" cegah Naya yang kini memegangi lengan Reyna membuat gadis itu menuruti perintah sahabatnya dan kembali mengintip kedua orang tersebut.
"Tidak perlu Reyhan, papa baik-baik saja"
"Tidak perlu bagaimana, wajah papa pucat banget, kita harus kerumah sakit sekarang."
Reynaldi terlihat lemah, dirinya kembali menuruti perintah putranya. Rasa sesak di dadanya kini menerjang. Padahal ia tidak memiliki riwayat penyakit apapun.
Namun kala ia bangkit, tiba-tiba saja tubuhnya tidak berdaya dan tidak sadarkan diri. Membuat Reyhan terkejut.
"PAPA! bangun pa" teriak Reyhan histeris dengan menggoyangkan tubuh sang ayah, namun hasilnya nihil. Reynaldi tidak kunjung bergerak.
Wajahnya semakin memucat. Membuat Reyhan mau tak mau membopong tubuh besar Reynaldi.
__ADS_1
Reyna yang melihat peristiwa itu merasakan hatinya sakit, rasanya seperti tak rela jika terjadi sesuatu pada ayahnya itu. Matanya memerah dengan air mata yang berlinang di pipinya. Gadis itu terisak kala ia tak tega melihat keadaan sang ayah.
"Papa, hiks" bisik Reyna, membuat sahabatnya itu mengelus kedua pundak Reyna dengan lembut. Ia menenangkan gadis itu untuk tetap kuat menghadapi segala hal termasuk masalah yang kini menimpa sang ayah.
"Sabar Rey, mungkin papa lo cuma kecapean, tenang aja, gue bakalan nemenin lo ikutin kak Reyhan sampai rumah sakit okay" ujar Kanaya menenangkan sambil kembali mengusap kedua pundak Reyna.
"Makasih Nay lu bener-bener sahabat gue" kata Reyna sambil menyeka air matanya.
Kini mereka mengikuti mobil Reyhan yang melaju menuju rumah sakit ibukota. tetapan gustar dan juga pandangan sayu pada gadis itu terlihat begitu khawatir serta kecemasan yang mendalam.
Reyna menggigit bibir bawahnya ia meremas kedua jemarinya merasa takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada ayahnya. Iya senantiasa berdoa di tengah-tengah perjalanannya menaiki taksi dan mengikuti mobil yang tak jauh dari kendaraan yang ia tumpangi.
Perasaannya kacau dirundung kegelisahan akan keadaan sang ayah.
Sesampainya di rumah sakit seorang dokter telah keluar dari ruangan intensif setelah memeriksa Reynaldi yang belum sadarkan diri. Tampak dokter itu menatap Reyhan dengan tatapan serius, tanpa fikir panjang Reyhan yang melihat kehadiran dokter keluar dari ruangan itu segera bangkit.
"Dok, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Raihan dengan kerutan di dahinya Dan juga wajahnya yang begitu cemas akan keadaan Reynaldi.
"Ayah anda mengalami komplikasi pada jaringan hati yang sangat serius" jawab dokter itu menjelaskan.
"Apa?! kenapa bisa? ayah saya baik-baik saja, kenapa bisa seperti ini?" protes Reyhan pada sang dokter kala iya yang paling tahu keadaan ayahnya selama ini.
"Ada banyak hal yang bisa membuat ayah kamu mengalami komplikasi, hati adalah bagian penting dalam tubuh karena menjadi penawar racun, jika organnya tidak bekerja akan sangat sulit untuk menjalankan metabolisme tubuh, biasanya efek dari obat yang berdosis tinggi bisa meningkatkan resiko komplikasi" jelaskan dokter menerangkan.
"Dokter, apa yang harus dilakukan? saya mohon, selamat kan ayah saya" mohon nya lagi dengan penuh harapan.
Tubuh Reyna bergetar, matanya berkaca-kaca seolah menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Meskipun percakapan itu terdengar samar-samar namun indera pendengarannya masih sangat tajam.
"Papa" gumamnya dan segera masuk keruangan itu. Reyna mengikuti langkah Reyhan dan mendekati pintu ruangan itu. Gadis itu mengintip dari balik kaca pintu bersama dengan Kanaya disampingnya.
Terlihat wajah seorang pria paruh baya yang sangat ia rindukan saat ini telah terbaring didalam sana. Reyna menutup matanya dan merasakan betapa sakitnya Reynaldi saat ini.
Pandangannya saat ini seolah buram dengan bulir air mata yang menetes deras melalui sudut matanya. Iya tak tahu lagi cobaan apa yang Tuhan berikan padanya lewat orang yang paling Iya cinta, setelah sang ibu pergi meninggalkannya kini hanyalah Reynaldi yang menjadi orang tua tunggal baginya.
"Reyna, lo harus tenang, papa lo pasti bakalan baik-baik aja" ucap Kanaya menghibur sahabatnya itu. Membuat gadis cantik dihadapannya memeluk tubuhnya dengan erat. Dapat dirasakan oleh Kanaya betapa berartinya Reynaldi bagi hidupnya sepeninggalan Almira.
Kanaya membalas pelukan hangat dari sahabatnya itu, dielusnya punggung Reyna, mencoba memberikan kenyamanan dan ketenangan.
'Betapa lo menderita Rey, sampai kesakitan yang lo alami sendiri kalah menyakitkannya dibanding ini. Padahal orang yang elo tangisi adalah orang yang membuat lo menangis tempo hari, jangankan merasakan dendam, rasa benci aja lo nggak ada sama bokap dan abang lo' batin Kanaya pilu merasakan kesedihan yang dialami oleh sahabatnya.
"Hikks hiks hiks, Naya... papa Nay, gue nggak mau kehilangan orang tua gue satu-satunya" katarina dengan isakan yang yang penuh dengan air mata menggenang di pipinya. Bahkan wajahnya ikut merah bersamaan dengan matanya yang kini mulai membengkak akibat terlalu lama menangis.
"Reyna, jangan nangis, kalo lo nangis gue, gue hiks" air mata Kanaya yang sebelumnya ia tahan kini tak bisa dibendung lagi. Dia ikut menangis merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Naya, papa bakal baik-baik aja kan?" pertanyaan Reyna seraya melepaskan pelukannya dari Kanaya. Membuat gadis itu menghapus air mata di wajah sahabatnya itu yang tengah terisak.
__ADS_1
"Lo serahin semua sama Tuhan, jangan lupa berdoa buat bokap lo, gue yakin om Rey bakal sembuh kok" penuturan dari Kanaya membuat Reyna menghentikan tangisnya dan mulai mengangguk.
kini ia mulai tenang kembali meskipun perasaannya masih bimbang sakit dan tentunya merasakan penderitaan apa yang dirasakan oleh sang ayah meskipun Reynaldi maupun Reyhan tidak peduli padanya.
Rasanya kini rasa sakitnya bertambah banyak, meskipun secara tidak langsung ia merasakan masalah yang terjadi bergulir begitu saja, bertubi-tubi menimpa tubuhnya, dan teramat sakit saat ia menerimanya.
Reyna hanya bisa berdoa pada sang kuasa, semoga semuanya lekas terkendalikan dan kembali seperti semula. Meskipun dirinya tidak lagi bahagia seperti apa yang dirasakannya pada masa lalu yang begitu berharga seperti kenangannya.
****
"Mommy, tumben mommy kesini?" pertanyaan dari pria blasteran itu sambil memandangi wajah cantik wanita setengah baya yang berdiri menghadap dirinya.
"Mommy bawain kamu makanan, ini... kamu pasti belum makan kan?" tanya Ajeng (mommy Zayn) dengan menyodorkan kotak makanan kepada puteranya itu. Membuat Zayn tersenyum hangat.
"Makasih ya mom" balas dengan senyuman yang mengembang.
"Oh iya, setelah mendengar cerita dari kamu tadi malam, mommy jadi prihatin dengan keadaan Reyna. Mommy sudah berfikir matang-matang, mommy akan mengadopsi Reyna... menurut kamu bagaimana?" tanya Ajeng antusias dengan kesungguhan hatinya yang paling dalam.
Zayn membelalakkan matanya, wajahnya tampak terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh sang ibu.
"WHAT! mommy! seriously?" tanya Zayn dengan matanya yang membulat dan pandangan matanya yang tak percaya.
"Kamu nggak setuju?" tanya Ajeng lagi.
."Of course, I agree mom" ucap pria itu dengan semangat dan rona wajah bahagia. Membuat Zayn secara refleks memeluk Ajeng.
"Anak mommy, sebentar lagi akan punya adek cewek, dan kamu sudah bukan anak bungsu lagi" ucap Ajeng membalas pelukan dari sang putra.
Sementara itu langit berangsur gelap disusul dengan matahari yang terbenam, membuat langit yang cerah membiru kini berganti malam yang gelap dengan bertaburan bintang di angkasa memenuhi cakrawala.
Malam yang dingin ditemani alunan melodi dari alat musik petik di kedua tangan gadis itu yang tengah menatap langit.
Reyna tengah duduk di teras samping apartemen dengan melihat pemandangan langit yang bertaburan bintang, dan lampu-lampu dari bangunan besar yang berada dihadapannya.
"Hiks, mama, aku kangen mama, apa mama tau, sekarang keadaan papa sedang tidak sehat" kata Reyna melepaskan semua bebannya, dia mulai mengeluarkan semua emosi yang selama ini ia tahan.
"Tuhan, apa aku memang ditakdirkan untuk sendirian? hiks, mama... jika mama masih ada, hiks aku masih ingin tidur dipangkuan mama" harap Reina dengan air mata yang menetes melalui sudut matanya.
Angin malam terasa dingin menerpa kulit halusnya. Reyna memeluk tubuhnya sendiri dan menikmati kerapuhan yang ia rasakan, rasanya malam yang dipenuhi oleh bintang diatasnya seperti mencekam. Tak seindah yang terlihat, matanya semakin sembab oleh air mata yang tidak bisa ia tahan lagi.
Andai saja ada Yasya, pria yang selalu ada disaat dirinya merasa rapuh dan tak berdaya. Namun kini kehadirannya hanya seperti mimpi untuknya.
Tiba-tiba saja perasaannya seperti dihantam rindu yang begitu dalam oleh pria itu. Pria yang entah mengapa bisa menjauh darinya, bahkan saat-saat ia menginginkan sebuah perlindungan.
Rina merindukan sosok nya sosok yang yang selama ini menghilang entah kemana. Seseorang yang selalu memeluknya, dan seseorang yang paling Iya cinta.
__ADS_1