
"Oh gitu, tapi kak, kenapa harus Reyna?" tanya Hengky penasaran.
"So... soalnya" Andre sempat berfikir keras.
"Cepetan jawab! kenapa harus aku!" bentak Reyna pada Andre.
"Soalnya, si Tania deketin gue mulu, temen-temen gue juga gak ada yang bisa diandelin semua, mereka terlalu ******* buat jadi temen gue."
"Serius kak.? bukannya Tania itu cantik ya... emang selera kak Andre kaya gimana?" tanya Hengky yang kini menahan geli akibat seniornya kali ini.
"Cantik sih cantik, tapi dia terlalu agresif gue yang stres" Reyna dan Hengky menahan tawanya. Membuat mata Andre kini menatap tajam keduanya.
Seminggu kemudian.
Dengan terpaksa Reyna akhirnya mau menerima Andre sebagai pasangannya di acara malam perpisahan tersebut. Itupun karena paksaan dari Hengky. Jika nukan sahabatnya itu yang meminta, pasti Reyna juga akan memikirkan alasan untuk menolak tawaran dari pria gila bagi gadis itu.
"Reyna cepetan turun, temen kamu jemput ini lo" teriak Reyhan dari bawah anak tangga.
"Maaf ya, Reyna kalo dandan emang kebiasaan lama" tutur Reyhan yang kini mencoba mencairkan suasana untuk mengobrol bersama Andre.
"Iya kak nggak apa-apa, wajar aja kok kalo cewek dandanannya lama" katanya seraya tersenyum menunggu kehadiran gadis itu.
tuk tuk tuk....
Suara langkah kaki Reyna turun dari lantai atas kamarnya.
Dia memakai gaun berwarna merah tanpa lengan yang panjang sampai bawah lutut, tak lupa rambutnya juga dikepang sebagian ketengah membuatnya semakin anggun.
"Aku udah siap, berangkat yuk" Andre menoleh mendengar suara Reyna, dan memandangi Reyna dari atas sampai bawah tanpa berkedip.
Tangan Reyhan menepuk punggung Andre dan menariknya hendak berbisik.
"Adek gue cantik kan, tapi awas lo kalau elo macem macem sama putri cantik ini" Andre menelan salivanya kala mendengar suara seram dari Reyhan yang kini melirik tajam padanya.
"Kalian kenapa?" tanya Reyna yang kini telah sampai lantai bawah.
"Nggak apa-apa kok, kamu cepat berangkat, jangan pulang malem-malem, abang tungguin, kalo ada anjing nakal lempar aja pake bata" kata Reyhan sembari melirik Andre yang kini melirik kearahnya.
"Abang ngomong apa sih... mana ada anjing nakal?" kata Reyna sembari tertawa mendengar guyonan dari sang kakak padanya.
"Busyeettt kakak beradik sama-sama galaknya" kata Andre dengan nada miris
"Kamu bilang apa?" tanya Reyhan dengan tatapan tajamnya membuat pria itu menelan salivanya kasar.
"Santai broo, becanda gue" kata Andre keceplosan. Mendengar kata tersebut Rdyhan menekuk wajahnya sembari menatap tajam kearah Andre yang membuat dia semula enjoy kini berubah menjadi suasana terancam.
Andre dan Reyna kemudian berangkat menaiki mobil.
Setelah sampai tujuan mereka bergandengan tangan layaknya pasangan.
Tak henti banyak pasang mata yang memandangi mereka berdua kala berjalan ditengah ratusan siswa kala itu.
Bagaimana tidak, penampilan Reyna yang sangat berbeda dan menawan ditambah Andre yang biasanya terkenal dengan aksennya yang serius kini memakai kemeja merah dengan jas hitam yang membalutnya, apalagi kacamata yang biasa dia kenakan kini tak lagi menghalangi ketampanannya yang selama ini ia sembunyikan, membuat mereka tampak serasi.
"Eh liat, liat... itu kak Andre bukan? ketua OSIS kita?" bisik salah satu siswi.
"Eh iya, itu kan kak Andre.... ganteng banget ya malam ini, kalo dilepas kacamatanya jadi tambah keren gitu" balas siswi yang lain kagum akan penampilan berbeda pria itu malam ini.
"Eh siapa yang jadi pasangan Andre tuh? cantik banget .. sumpah" ucap salah seorang siswa yang kini pangling dengan wajah Reyna yang memakai makeup.
"Itu si Reyna... anak kelas X IPA II, gila mereka serasi banget."
"Iya yah, yang satunya ganteng yang satunya cantik, benar-benar iri gue."
"Jangan-jangan mereka udah pacaran?" tebak salah satu dari mereka yang kini tengah berbisik.
"Kalo tau kak Andre seganteng itu, dari dulu pasti udah gue kejar."
"Aduhhhh si Reyna yang gandengan tangan, kok gue yang deg-degan ya" kalimat-kalimat itu keluar dari mulut mereka, membuat Reyna tak nyaman.
"Kenapa Rey?" bisik Andre ditelinga Reyna.
"Nggak apa-apa kok" jawab Reyna grogi dengan masih melihat sekelilingnya.
"Kalo gugup bilang aja.... nggak pernah ya jalan bareng sama cowok seganteng gue?" tanya Andre dengan percaya diri, bahkan gadis itu merasa mual jika Andre berkata demikian.
"Halu ya lo? gue tuh malu dilihat yang laen" kata Reyna kesal sembari mengibaskan rambutnya.
"Whatt! malu? hellow gue dandan super ganteng biar bisa serasi sama lo, lo bilang lo malu? selera lo kaya apa sih Rey sampe bilang gue malu-maluin? haaa? kaya om om berdasi kupu-kupu.... bla bla bla."
Reyna tak menggubris perkataan Andre, dia melihat sekeliling dan melihat sosok Yasya yang sedang berdiri bersama guru-guru yang lain.
'Pak Yasya, tampan sekali dia malam ini" batin Reyna terpukau oleh kostum resmi yang dikenakan pria itu malam ini. Begitu cocok untuknya.
Hatinya merasa tenang melihat pujaan hatinya saat ini, namun setengah dari ketenangan itu menghancurkan sebagian dari harapannya.
Walau bagaimanapun dia harus berulang kali meyakinkan dirinya untuk melupakan Yasya yang selama ini sangat dia cintai.
Mungkin ini adalah malam terakhir dimana dia bisa melihat Yasya, karena esok dan seterusnya Yasya tak akan lagi mengajar di kelasnya.
"Rey....?!" suara Andre membangunkan lamunan Reyna. Suasana yang awalnya sendu kini berubah menjadi kekesalan kala Andre mengangetkan khayalannya.
"Heh... lo bisa diem nggak sih, brisik tau nggak!" bentak Reyna dan langsung pergi meninggalkan Andre dengan wajahnya yang ditekuk.
"Whattt?! Reyna!" Andre berlalu pergi tak peduli pada Reyna.
Reyna memandangi sekitar mencari keberadaan sahabatnya, dan akhirnya menemukan sosok Kanaya disana.
"Naya" panggil Reyna.
"Reyna, gila... penampilan lo beda banget, lebih keliatan dewasa, coba lo dandanannya kaya gini tiap hari, pasti bakal banyak banget cowok yang naksir sama elo" kata Kanaya menceracau tak karuan membuat gadis itu memutar bola matanya.
"Bisa aja lo, oh ya btw lo sama siapa kesini?" tanya Reyna yang kini menatap seseorang pria yang tak asing dia pandangannya.
"Ini nih... gue sama Putra" kata gadis itu sembari menunjuk putra mengunakan isyarat dagunya.
"Oh Putra, kayanya gue pernah liat elo deh?" tanya gadis itu yang kini menggaruk tengkuknya sembari berfikir keras mengingat sosok pria yang menjadi pasangan sahabatnya itu
"Ya iyalah, secara gue aja kenal banget sama elo" kata Putra sambil memutar bola matanya.
"Dasar idiot, mikir kenapa lo pernah liat dia sebelumnya! dia sekelas kan sama kita?" kata Kanaya bernada tinggi karena jengkel dengan sahabatnya ini.
"Oh Adlan Saputra ya.... hehe sorry, gue mana tau" kata Reyna sembari tersenyum kikuk.
"Btw lo kesini sama siapa? Hengky ya?" tanya Kanaya dengan matanya yang menyelidik sembari melirik kearah belakang Reyna.
"Hengky jadi panitia, mana ada dia ada waktu buat ikutan" kata gadis itu sedikit kesal sembari menghela nafasnya.
"Oh ya, terus elo sama siapa kesini? gebetan baru yaa?" tanya Kanaya dengan sedikit menggoda membuat gadis itu memutar bola matanya.
"Kapan sih ngaco lo bisa sembuh" ujar Reyna sebal sembari menatap kesal pada sahabatnya itu.
"Iya udah sih tinggal bilang siapa yang lo gandeng" kata Naya yang kini mulai penasaran dengan sosok yang menjadi pasangan sahabatnya itu.
"Gue" kata seorang lelaki dengan suaranya yang familiar. Ia bahkan datang dari belakang gadis itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya, menatap Andre dengan pandangan tidak suka.
"Kak Andre, OMG kok lo ngga bilang Rey" kata Kanaya sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat. Secara Andre adalah senior yang paling disegani karena posisinya menjadi ketua OSIS. Juga banyak yang bilang ia bahkan tidak pernah pacaran seumur hidupnya.
"Biasa aja kali" balas Reyna dengan malas sembari mengibaskan tangannya didepan wajahnya.
"SELAMAT MALAM SEMUANYA" suara MC memenuhi ruangan dan membuat mereka fokus kearah panggung.
"PERHATIAN.... PADA MALAM YANG INDAH INI KITA AKHIRNYA BERJUMPA KEMBALI, SETELAH 3 TAHUN KAKAK-KAKAK KITA MENEMPUH PENDIDIKAN BERSAMA DENGAN KITA MELALUI SUKA DAN DUKA, BERSAMA HUJAN DAN TERIK, AKHIRNYA MEREKA BERHASIL MENUJU PUNCAK KELULUSAN."
__ADS_1
Suara riuh tepuk tangan dari siswa-siswi menandakan acara telah berlangsung.
"Nay, gue ke toilet dulu ya" pamit Reyna yang kini mulai tak bisa menahan gejolaknya untuk keluar dari suasana memekakkan baginya itu.
"Acara baru aja mulai, elo udah mau kabur aja" kata Kanaya mencoba untuk menahan pergerakan dari sahabatnya. Namun yang namanya Reyna, jika ia sudah tidak tahan dengan keramaian ia memilih untuk kabur, ya kecuali dalam kondisi darurat.
"Bentar aja kok" kata Reyna memaksa membuat Kanaya menghela nafas beratnya.
"Jangan lama-lama" ujarnya dengan nada malas membuat Reyna tersenyum geli.
"Mau gue anterin?" tanya Andre yang membuat mata Reyna membelalak.
"Enak aja, gue berani sendiri" ucap Reyna sewot seraya menatap tajam pria yang kini tersenyum jail padanya
Reyna melangkahkan kakinya pergi jauh dari gerombolan orang-orang disana tanpa memperdulikan tatapan Kanaya dan juga Andre.
"Galak banget sama elo kak?" tanya Naya dengan kekehannya.
Reyna melangkah menjauh dari mereka, sebenarnya Reyna hanya membuat alasan saja, dia tidak pernah menyukai keramaian.
Kini dia duduk di tengah lapangan ditemani lampu-lampu hias dengan bintang bertaburan di langit.
Reyna menghela nafasnya panjang, seolah lega karena bisa menghindar dari kerumunan yang sangat menyesakkan baginya.
'Prom night. Bukan hanya sekolah akan kehilangan muridnya, tapi aku juga akan kehilangan dia. Reyna, Reyna sejak kapan kamu jadi lemah seperti ini? kamu harus melupakannya Rey. Lagipula dia akan segera pergi, tidak sulit untuk melupakannya ketika dia tidak terlihat disekitar kamu. Tapi kenapa rasanya dadaku sesak, pedih menjalar di seluruh tubuh ku' batin Reyna pilu, tak sadar akan air matanya yang kini menetes perlahan dipelupuk matanya membasahi pipi cantiknya.
Reyna menunduk, meratapi kesedihan dan kesendiriannya.
Dia menengadahkan wajahnya keatas tatkala sepasang kaki seorang pria berdiri didepannya.
Menyadari Yasya yang kini berada dihadapannya, Reyna langsung mengalihkan pandangannya.
"Kamu nangis?" tanya pria itu yang kini mulai mendekat kearahnya.
"Enggak kok" elak Reyna dengan mengusap sebagian dari air matanya.
"Ini... pakai sapu tangan saya" Yasya mengeluarkan sapu tangan yang berada di saku jas depan bagian dada miliknya dan memberikan pada wanita didepannya.
Reyna menerima sapu tangan itu dan buru-buru mengelap air mata di pipinya.
"Makasih pak" ucap Reyna lirih.
"Jangan nangis, kamu kan masih kelas sepuluh, yang berpisah itu kakak kelas kamu. Atau jangan-jangan, kamu punya orang spesial ya yang bakal lulus tahun ini?" tanya Yasya yang sejujurnya membuat hati Reyna bertambah kesal.
"Mana ada? nggak ada kok" kata Reyna mencoba untuk menyembunyikan suara sumbangnya oleh karena tangisan tadi.
" Kalau begitu coba ceritakan pada saya, apa masalah kamu?" tanya pria itu mencoba untuk menghibur.
Reyna hanya diam mematung tanpa mau menatap mata Yasya.
"Setiap orang memiliki masalah, dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Tapi intinya jangan pernah lari darinya. kalau kamu punya masalah jangan dipendam sendiri" Reyna masih saja diam ia bahkan enggan menatap manik mata indah yang selalu ia rindukan setiap saat. Ia takut perasaan cintanya akan melukai hatinya kembali.
"Atau kamu pengen sendiri dulu?" pertanyaan dari Yasya bahkan tak mendapatkan respon apapun dari gadis itu. Membuat Yasya hanya bisa pasrah dan menghembuskan nafas beratnya.
"Baiklah kalau begitu, saya rasa kamu juga butuh waktu untuk sendiri. Kalau ada apa-apa, kamu boleh cari saya" Yasya beranjak pergi, namun saat dia hendak melangkahkan kakinya, sepasang tangan memeluknya dari belakang, membuatnya terdiam.
Yasya sedikit menengok Reyna yang berada dibelakangnya.
Ketika Reyna sadar dengan apa yang dia lakukan, dia langsung melepaskan pelukannya dari Yasya.
"Ma... maaf" ujarnya begitu lirih. Meski air matanya sudah tak tersisa lagi namun ia merasa nyaman telah memeluk pria itu meski hanya terhitung beberapa detik saja. Anggap saja itu sebagai perpisahan terakhir dari Yasya untuknya.
Reyna berlari, mendesak kerumunan disana.
Saat berada ditengah-tengah, Reyna ditarik oleh sebuah tangan yang mencengkram erat lengannya.
"Reyna! lo kemana aja sih? lama banget" tanya Kanaya yang kesal.
"Gue baru aja selesai kok, mau cariin elo, eh ternyata lo duluan yang nongol hehehe" kata gadis itu dengan berbagai alasannya.
membuat mereka semua yang ada di sana fokus keasal suara termasuk Naya dan Reyna.
"TIBA SAATNYA ACARA SELANJUTNYA YAITU KESAN DAN PESAN TERAKHIR OLEH GURU KAMI DARI UNIVERSITAS ATMAJA, TEMPAT DAN WAKTU KAMI PERSILAHKAN."
"Itu pak Yasya Rey, aduh gue nggak pernah liat dia pake jas kaya gitu, emmm sekalinya dandan kaya gitu ternyata dia keliatan lebih ganteng dan cool dari biasanya" Reyna terpaku dan membisu melihat Yasya yang berada diatas panggung yang sedang memberikan kesan dan pesan terakhirnya untuk murid-muridnya selama ini.
"Gue mau pulang aja Nay" ucap Reyna tiba-tiba dengan wajah dingin.
"What! kena angin apa lo? acara baru aja mulai, lo udah mau cabut aja. Nggak, nggak boleh" ujar Kanaya menegaskan pada sahabatnya itu.
"Gue nggak suka keramaian mau, Ya udah, gini aja deh, gue mau ke halaman depan aja, gue mau menyendiri dulu."
"Yakin lo?" tanya Kanaya membuat gadis itu mengangguk patuh.
"Tapi lo jangan pulang dulu, nanti gue panggil kalo acara udah masuk inti."
"Iya... gue janji ngga bakal pulang sebelum acara kelar" kata Reyna mengakhiri percakapan mereka setelah gadis itu memutuskan untuk menenangkan hatinya.
***
Reyna duduk merenung dengan sesekali memandangi layar handphonenya.
Suara hembusan nafasnya yang terdengar kedinginan, apalagi dengan pakaiannya yang tidak terlalu hangat.
"Jadi elo yang namanya Reyna" suara seorang perempuan yang membuat Reyna berdiri dan menoleh kebelakang.
"Kak Tania" Reyna memandangi Tania dengan sedikit bingung.
'Kenapa dia kesini? tatapannya juga nggak enak gitu ke aku' batinnya gusar
"Ada apa kak?" mendengar pertanyaan itu, Tania mendekat ke arah Reyna.
"Lo tau kan Andre itu milik gue! berani-beraninya elo dateng kesini jadi pasangan dia, lo ngajak berantem sama gue"
Reyna membelalak mata mendengar pernyataan Tania yang tidak masuk akal.
Sejenak dia mengingat kejadian tempo hari kala Fani membullynya karena masalah Hengky. Dia mulai sadar dan mulai tegas dengan berkacak pinggang dan menyunggingkan senyumnya, seolah dia tidak mudah ditindas untuk yang kedua kalinya.
"Heh, jangan mentang-mentang elo senior jadi bisa ngelabrak gue seenaknya ya! lo pikir gue mau pasangan sama si Andre sinting itu! kalo bukan karena dia ngemis-ngemis ke gue, gue nggak bakal mau! kalo ada masalah bilang baik-baik... gue udah tersiksa jadi pasangan dia eh malah gue kena getahnya."
"Elo ya" belum sempat Tania menyelesaikan kata-katanya, Reyna langsung saja termakan emosi dan menantang dia.
"Apa!? apa?! haaa! lo fikir gue bakal takut sama lo, ambil tuh si Andre sinting, gue nggak peduli."
Reyna membalikkan badannya dan langsung pergi meninggalkan Tania yang sedang mengepalkan tangannya kesal.
"Dasar Reyna sialan.!"
~
"DAN DENGAN BERLANGSUNGNYA ACARA MALAM INI, KAMI AKAN MENGUMUMKAN PENGESAHAN KETUA OSIS BARU. TAPI SEBELUM PENYERAHAN JABATAN DIMULAI MARI KITA BERDANSA DULU... MUSIK!" suara dentuman musik yang indah dan halus memenuhi ruangan, mereka mulai mengambil posisi untuk berdansa dengan pasangannya masing-masing.
"Reyna mana Nay?" tanya Hengky yang sedari tadi menoleh kanan dan kiri mencari keberadaan gadis itu.
"Tadi dia ke halaman depan, nggak tau, mungkin masih disana. Lagian, elo juga aneh, kesini ngga bareng dia."
"Gue kasih tau ya, tapi awas lo kalo cerita ke Reyna" kata pria itu mengancam membuat Kanaya hanya mengangguk malas.
"Kenapa emang?" Hengky membisikkan sesuatu ditelinga Naya, seketika wajah Naya berubah ekspresi menjadi terkejut yang tak karuan.
***
Langkah kaki Reyna terhenti ketika hendak memasuki area menyesakkan baginya.
__ADS_1
Reyna menatap tubuh gagah didepannya yang kini berjarak sejengkal darinya.
"Mau dansa bersama saya?" tawar Yasya yang berada dihadapan gadis manis itu.
Reyna ragu menerima tangan Yasya, dia berfikir sejenak, menghilangkan stres yang dia alami sebelumnya.
"Acara dansanya sedang dimulai, kalo kamu nggak keberatan. Kita dansa disini, lagipula posisi kita agak jauh dari mereka, kamu nggak perlu khawatir kalau ada yang memperhatikan kita" kata Yasya meyakinkan.
"Tapi "
"Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa, saya cuma merasa bisa menghibur kamu" Reyna meraih tangan Yasya mencoba menerima jabatan tangannya yang sebelumnya dia tawarkan.
Mereka perlahan mengikuti alunan musik yang indah. Reyna yang sebelumnya kacau kini perasaannya mulai tertata kembali.
Mereka saling berpandangan dengan masih tetap berdansa, sesekali Reyna membuang pandangannya saat mulai jengah akan perasaannya saat ini.
'Mungkin hari ini adalah hari terakhir dimana aku harus sedekat ini dengannya. Aku sangat mencintaimu pak Yasya, akankah kamu tau? atau haruskah aku mengatakannya saat ini juga. Setidaknya meskipun dia tidak akan membalasnya, tapi aku akan lega jika dia tau' batin Reyna sembari menunduk, menghindari pandangan dari pria yang kini menjadi pujaan dalam hatinya itu.
Tak sadar musik sudah berhenti, Yasya langsung melepaskan dirinya dari kegiatan mereka yang membuat Reyna tersadar.
"Ehem" Reyna berdehem sembari menahan gejolak dihatinya.
"Ada apa?" tanya Yasya serius.
"Pak, saya" belum sempat Reyna menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba suara Naya membuatnya mengurungkan niatnya.
"Dimana sih Reyna, tuh anak benar-benar ngeselin" suara Naya yang sedikit samar-samar membuatnya mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Kamu tadi mau bilang apa?" tanya Yasya bingung.
"Saya udah dicariin Kanaya pak, maaf" Reyna meninggalkan Yasya yang mematung disana.
Yasya memandangi punggung Reyna yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Maaf, aku baru dateng" kata Reyna yang kini menghampiri Kanaya.
"Kemana aja sih lo, ngilang mulu bawaannya, nyasar kelubang jin ya lo?" ujar Kanaya yang merasa kesal dengan sahabatnya itu. Reyna hanya terkekeh geli melihat aksi sahabatnya yang begitu kesal karena efek tak suka pada keramaian yang dialami oleh Reyna.
Setelah itu Reyna dan Kanaya menuju tempat mereka semula
"Eh Andre sinting, gue barusan dilabrak sama cewek gila lo itu, dih mana nuduh gue ngrebut elo lagi, jijik banget gue. Mending ngrebutin onde-onde campur boraks deh daripada makhluk ngga jelas kaya lo" kata Reyna sembari memutar bola matanya.
"Siapa yang lo maksud? gue nggak punya cewek kali, emang siapa juga yang mau direbutin sama cewek setengah cemplon kaya lo, udik nggak punya otak lagi" kata Andre membuat Reyna menggertakkan giginya yang kini setengah kesal dan setengahnya lagi menahan emosi oleh perkataan Andre.
"Elo tuh yang nggak punya otak, dasar cowok cewek nggak ada bedanya, ngga tau malu."
"Heh, kalian berdua bisa nggak sih nggak usah ribut mulu. Terus buat lo Rey, lo tadi dicariin Hengky" Putra melerai meraka berdua dan berujar dengan mimik wajah kesal.
"Haaa? Hengky? mana dia?" tanya Reyna dengan menatap sekelilingnya, mencari keberadaan Hengky.
"Tuh Hengky, baru aja diresmiin jadi ketua OSIS baru" jawab Putra dengan mengisyaratkan agar menatap kearah pandangannya.
"Whatt??! Hengky? ketua OSIS? ketinggalan berita dong gue."
Alangkah terkejutnya Reyna kala melihat Hengky yang telah berada diatas panggung, hendak menyanyikan sebuah lagu.
Tak kalah dari Reyna, Hengky juga menatap wajah cantik Reyna dari atas panggung dengan senyuman andalannya, membuat Reyna menatap nya bingung.
Hengky menyanyikan lagu dari Fiersa Besari berjudul April. Dia menyanyikannya menggunakan gitar yang berada ditangannya.
Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar-benar pergi
Suara sorakan dari orang-orang disana membuat Reyna melihaat sekelilingnya dan beralih menatap Hengky lagi, yang anehnya Hengky masih menatapnya saat ini padahal audience didepannya sangat antusias mendengarkan musik.
Suaranya yang cukup merdu dengan permainan gitarnya yang lihai.
'Kenapa sama Hengky kok liatin gue mulu?' tanya reyna dari batinnya yang menaruh segudang pertanyaan didalam kepalanya.
Masih kah ada aku di dalamnya?
Karena hatiku masih menyimpannya
Reyna mulai mencoba untuk tenang dan mendengar Hengky bernyanyi.
*Kisah kita memang baru sebentar.
Namun kesan terukir sangat indah.
Ku memang bukan manusia sempurna.
Tapi tak pernah berhenti mencoba.
Membuatmu tersenyum.
Walau tak pernah berbalas.
Bahagiamu juga bahagiaku.
Saat kau terlalu rapuh.
Pundak siapa yang tersandar?.
Tangan siapa yang tak melepas?.
Ku yakin aku*.
Suara sorakan membuat Hengky berhenti bernyanyi dan mengatakan suatu hal.
Reyna bertambah bingung karena selama hengky bernyanyi dia tidak pernah mengalihkan pandangan dari dirinya.
'Apa ini lagu buat gue ya? kok gue ngerasa posisi Hengky sama kaya lagu ini' batin Reyna menebak membuat hatinya sedikit gusar.
"LAGU INI GUE PERSEMBAHKAN BUAT ORANG SPECIAL DI HATI DAN HIDUP GUE, REYNA MALIK."
Semua orang menyoraki mereka berdua, Reyna membelalak matanya dan seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Hengky dengan berani mengatakan ini didepan semua orang.
"Rey, ayo buruan maju" suara Naya yang ternyata sedari tadi berdiri dibelakangnya tanpa dia sadari mendorong tubuhnya kedepan sehingga membuatnya mau tak mau menaiki panggung.
"REYNA.... KAMU UDAH TAU KAN PERASAAN AKU SELAMA INI.... KITA ADALAH SAHABAT, MUNGKIN KITA BARU MULAI INI KEMBALI, TAPI AKU SANGAT INGIN KITA KAYAK DULU LAGI... BAHKAN AKU INGIN MENJADI SANDARAN KAMU, MENJADI ALASAN TERSUNGGINGNYA SENYUM INDAH DI WAJAH CANTIKMU... REYNA... MAUKAH KAMU MENJADI PACAR KU?" Reyna terkejut dan tersentak mundur selangkah ketika Hengky menyodorkan bunga didepannya dengan posisi berlutut.
"Ky, ini?" perkataan Reyna terputus oleh suara audience yang begitu kencang mengalahkan suaranya
"Terima... trima... trima!" suara sorakan semua orang disana membuat Reyna bingung harus bilang apa.
Reyna sekilas melihat sekelilingnya dan mendapati pak Yasya berdiri diujung belakang bersandarkan dinding disana. Tatapan mereka saling bertemu, Yasya hanya diam tanpa berekspresi sama sekali.
Reyna kemudian memalingkan mukanya, dan menatap Hengky lagi, dia tersenyum dan perlahan mengambil bucket bunga mawar merah yang sangat indah itu.
"Makasih Ky."
"Terus jawabannya?" Hengky berdiri dan mendekat kearah Reyna, dia memegang tangan Reyna dan menatap matanya dengan senyumnya, seolah mencari jawaban 'iya'.
"Aku" ucap Reyna menggantung, dia menghentikan kata-katanya kala mendengar Kanaya berteriak.
"CEPETAN TERIMA REY" semua orang menatap Kanaya termasuk Reyna.
Reyna memandangi semua orang dan mencari keberadaan Yasya, namun kelihatannya Yasya sudah tidak ada disana, 'kemana dia?' pikirnya.
"Reyna?" suara Hengky membuat Reyna menghentikan pandangannya.
"Maaf Ky, aku hanya menganggap kamu sahabat, aku nggak mau jika suatu hari kita ada masalah lalu kita putus, aku akan kehilangan kamu kalo aku nerima kamu hari ini" Hengky melepaskan genggamannya, terlihat wajahnya sedikit kecewa dengan apa yang Reyna katakan barusan.
__ADS_1
"Rey, tolong kasih aku kesempatan, dan saat kesempatan itu datang, aku nggak akan sia-siakan kesempatan itu untuk yang kedua kalinya, please" ujar Hengky penuh harap, dengan masih tersenyum tipis dia tidak ingin menunjukkan betapa terpuruknya ia saat ini.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf Ky... aku nggak bisa nerima kamu untuk saat ini, tapi aku nggak akan menghalangi kamu untuk tetep berada di hidup aku, karena kamu adalah sahabat terbaikku" katanya mengakhiri kata-katanya dimalam yang indah itu.