
Brakkkk....
Suara dobrakan pintu dari sebuah apartemen yang sudah tak berpenghuni sejak beberapa jam lalu, membuat sang pemilik yang saat ini tengah menatap seluruh isi apartemen itu mengacak rambutnya.
"Reyna! kamu dimana?" teriak Yasya menggema di seluruh ruangan.
Dirinya merasa tergerak untuk mencari keberadaan gadis itu, namun apa yang dia lakukan hanyalah sia-sia tatkala didapati barang-barang pribadi milik Reyna telah tiada ditempat itu.
Matanya berkaca-kaca, emosi pria itu seperti tidak dapat dikendalikan. Perasaannya selama ini menggantung begitu saja, tanpa ada kepastian dititik ini.
"APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!"
Teriakannya saat ia tengah duduk di kasur king size dalam ruangan kamar.
Terlihat matanya yang berkaca-kaca kini berubah menjadi tetesan air mata diwajah tampan Yasya. Keputus asaan melanda jiwanya, rasa bahagia yang sejenak ia rasakan kini harus tertelan habis oleh kenyataan. Yasya mengusap kasar wajahnya.
"Reyna, aku juga mencintaimu, aku sangat mencintaimu! hah, PENGECUT! kau seorang pengecut Yasya!" teriaknya frustasi dengan rambutnya yang acak-acakan.
Krakkkk....
Sebuah pukulan tepat ditengah kaca dihadapannya retak beserta darah yang mengalir dijemarinya yang mengepal kuat.
Kini tubuh Yasya melemah, membuatnya besujud dikamar tersebut, perasaannya teramat sakit untuk dirasakan. Tak sadar air mata mengalir disudut matanya, membuat wajahnya yang memerah karena amarah, kini berubah memerah menjadi kelemahan dan kerapuhan.
Flashback on.
Yasya telah siap dengan pakaian yang ia kenakan malam ini, dia berjalan santai dan hendak menjemput Reyna dari apartemen.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara menggema dari belakangnya.
"Irya, kamu mau kemana?" suara Dian dengan wajah dingin yang tidak seperti biasanya.
"Mami, em aku ada acara makan malam, kenapa?" tanya Yasya balik.
"Makan malam dengan siapa? gadis itu?" pertanyaan tajam dari Dia membuat Yasya tertegun.
Yasya mengernyit bingung.
"Maksud mami siapa?" tanya Yasya yang fikirannya masih mengambang.
"Iryasya, Kamu sudah dewasa nak, bagaimana kamu bisa menjelaskan ini pada mami."
Ucapan Dian pada putranya sambil mengulurkan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya tengah menggendong Reyna siang tadi didepan rumah sakit.
"Mi, aku" belum sempat Yasya menjelaskan, Dian memotong kata-kata Yasya dengan kata-kata kasarnya.
"Apa dia selingkuhan mu? kurang apa Syahbilla dibandingkan dengan dia?! ingat dengan status kamu Irya, kamu sudah bertunangan!" kata Dian dengan nada tinggi, membuat Yasya menunduk dan hanya diam.
"Mi, dia bukan selingkuhan ku, Reyna adalah gadis yang baik" ujar Yasya menjelaskan.
"Oh namanya Reyna," Dian menatap tajam Yasya, matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah mengingat hubungan diantara mereka.
"Oh mami ingat, dia gadis dirumah sakit itu kan, kamu bermain-main dengan anak kecil sya?! mami tidak habis fikir" kata-kata Dian yang disusul air matanya, membuat Yasya frustasi.
__ADS_1
"Mami, aku mencintai Reyna, bukan Syahbilla. Maaf mi, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Kebahagiaan ku ada pada perasaan ku, jika aku tetap memaksa untuk menikah dengan Syahbilla, maka baik aku dan dia tidak akan pernah bisa bahagia" kata Yasya sambil menggenggam kedua tangan Dian yang tengah berkeringat dingin.
"Hiks, mami kecewa dengan mu Iryasya, dia hanya bocah kecil, dibandingkan dengan Syahbilla yang berpendidikan, dia jauh lebih baik. Syahbilla cantik, baik, hiks, sudah dua tahun Iryasya, dua tahun kamu menjalin kasih dengan dia, tapi mami ahhh" Dian menghempaskan tangan Yasya dari jemarinya, dirinya mundur beberapa langkah dari tubuh Yasya berdiri.
Tiba-tiba rasa pening di ubun-ubun wanita itu membuat pandangannya kabur dan tidak sadarkan diri.
"Mami, sadar mi, Yasya mohon."
Yasya menggendong tubuh Dian untuk dibawa kekamar besar milik wanita paruh baya itu.
"Mami, mami bangun, maaf kan Yasya mi, maaf" Yasya meraih ponselnya untuk menelfon gadis disebrang sana.
"Hallo Reyna, kamu bisa berangkat sendiri?"
Yasya membelakangi tubuh wanita itu dan melanjutkan untuk menelfon Reyna sesaat agar gadis itu tidak khawatir.
Setelah selesai dengan acara menelfon, Yasya langsung menghampiri Dian yang tengah terbaring lemah dikamar besar milik wanita itu.
Diraihnya ponsel yang berada di sakunya kembali, dan dengan cepat menekan nomor seseorang.
"Hallo Al, cepet kerumah gue, mami gue pingsan" kata Yasya dengan nada khawatirnya.
"gimana keadaan mami?"
Tanya Yasya pada sahabatnya Al yang baru saja memeriksa keadaan Dian.
Dengan wajah khawatir, tangannya mengusap lembut kening sang ibu yang masih tidak sadarkan diri.
"Santai aja, tante Dian cuma kecapean aja, ditambah stres, cukup istirahat dan nih gue udah nulis resep buat nyokap lo" kata Al menyerahkan sebuah kertas berupa resep obat.
"Gue sobat lo, nggak perlu sungkan gitu."
Yasya tersenyum sambil mengangguk pada sahabatnya itu.
"Kalo gitu gue cabut dulu, pasien gue nggak bisa ditinggal lama-lama" kata Alfian pamit untuk kembali ke rumah sakit.
"Ati-ati" kata Yasya dengan wajahnya yang masih menyiratkan sebuah kekhawatiran.
Al mengangguk, pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu segera meninggalkan kediaman keluarga Ferdiansyah.
Yasya menatap lekat wajah wanita paruh baya yang tengah terbaring di ranjang itu, membuatnya kini menjadi serba salah dengan tindakannya. Hatinya merasakan kegundahan dan gelisah seolah menyerbu fikirannya kali ini.
Entah mengapa, setiap kali dirinya ingin mengutarakan perasaannya, namun tetap ada saja masalah yang terjadi. Hal itu membuat Yasya menjadi semakin dilema. Digenggamnya jemari sang ibu yang kemudian diciumnya dengan lembut.
Rasa bersalah menyelimuti hatinya yang paling dalam, namun Yasya tidak akan gentar untuk mengatakannya pada gadis pujaannya itu. Entah apapun masalah yang akan terjadi, kepahitan yang harus ia jalani memang membuatnya keras kepala. Itu semua karena Reyna, keinginannya untuk menjadi pelindung serta penopang gadis cantik itu begitu kuat dalam dirinya, seolah melekat didalam darah dan dagingnya.
Dian tampak menggerakkan kepalanya beberapa kali, membuat rasa khawatir Yasya sedikit berkurang.
"Mami" panggil Yasya sedikit menggoyangkan tubuh dari sang ibu, membuat kesadaran Dian kembali.
Ditatapnya putera semata wayangnya itu, wajahnya masih menyiratkan sebuah kesedihan dan tanda tanya. Kini dirinya mencoba untuk duduk dari tempatnya berbaring, membuat Yasya dengan refleks membantu Dian untuk bersandar di pinggiran ranjang.
"Mami, gimana keadaan mami?" tanya pria itu dengan pandangannya yang penuh dengan kecemasan.
__ADS_1
"Yasya, apa yang kamu bilang tadi, itu semua bohong kan? kamu tidak mengkhianati Syahbilla kan?" pertanyaan Dian membuat Yasya terdiam dan menunduk lesu, membuat mata sang ibu kembali berkaca-kaca.
"Jawab Yasya! MAMI TANYA!" teriakan Dian tepat didepan Yasya dan mengguncangkan tubuh pria itu dengan keras. Membuat wajah Yasya kian merasa bersalah.
"Mami, maafin Irya, tapi" belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, sebuah tangan melayang dan mengenai pipinya dengan kasar.
Plakkkkk....
Sebuah tamparan mendarat dipipi Yasya, membuatnya tidak berani berbicara dan masih menunduk untuk menghalau tatapan tajam dari Dian.
"Apa mami tidak ingin tau keinginan Irya? Irya sangat mencintai Reyna mi, Irya tidak berselingkuh, sungguh! namun perasaan Irya yang tumbuh tidak dapat disangkal, jika kita meneruskan perjodohan ini, maka baik Irya maupun Syahbilla tidak akan bahagia."
"Cukup Irya, Cukup! mami tidak mau mendengar penjelasan dari kamu lagi, mami benar-benar kecewa dengan kamu. Sekarang, temui gadis itu dan katakan! bahwa kamu berjanji, tidak akan menemuinya lagi setelah ini" perkataan wanita paruh baya itu dengan wajahnya yang penuh amarah.
"Maaf mi, Yasya akan bertemu dengan dia, Yasya akan mengatakan segalanya. Yasya tau Yasya salah, tapi setidaknya Yasya akan bertanggung jawab dengan apa yang Yasya lakukan." Kata Yasya seraya bangkit hendak pergi meninggalkan sang ibu yang kini tengah dilanda frustasi.
"IRYASYA!" teri Dian dengan suara lantangnya.
Pria itu melangkah menjauh dari Dian yang sekarang tengah meratapi kesedihan yang mendalam.
Pria itu telah sampai didepan ambang pintu kamar Dian, dia tampak menatap arloji yang berada dipergelangan tangannya.
Jam menunjukkan pukul 20.13 sudah sangat terlambat baginya untuk menemui Reyna. Tapi dia masih sangat berharap bahwa gadis itu akan menunggunya malam ini, karena jika tidak, tidak akan ada kesempatan lagi untuk mengatakan yang sebenarnya.
Wajah cemasnya membuat Yasya segera mengambil kuci mobil dan segera berlari keluar.
"Yasya, kamu sudah mengecewakan mami, lihat apa yang akan mami lakukan setelah ini, mami tidak rela jika kamu bersama dengan gadis itu."
Gumam Dian dengan nada kesal pada putranya yang telah pergi sejak tadi. Diraihnya ponsel yang berada diatas nakas ranjangnya dan segera menelfon seseorang yang berada disebrang sana.
Flashback off.
***
Seorang gadis turun dari taxi yang baru saja mengantarkan dirinya untuk sampai di depan rumah minimalis didepannya.
Rumah itu tampak semakin hangat dengan taman bunga kecil didepan rumahnya, dengan satu pohon rindang, beserta ayunan dibawahnya. Sangat indah batinnya.
Gadis itu tersenyum, tatkala koper dan ransel gitar dikeluarkan oleh sang supir.
"Terimakasih pak" katanya dalam senyuman yang membungkus kesedihan dalam lubuk hati Reyna.
"Sama-sama neng" balas sang supir tak kalah ramah darinya.
Reyna melangkah pelan menuju pekarangan rumah dan segera memencet bel rumah untuk menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu.
Tak lama kemudian, wanita renta keluar dari dalam rumah dan menyambut hangat kehadiran Reyna.
"Reyna" panggilan hangat dari Kumala membuat gadis itu menghilangkan rasa kecewanya seketika.
"Nenek, Reyna kangen sama nenek" ujar Reyna dengan memeluk tubuh renta neneknya yang kini membalas pelukan hangat dari cucunya itu.
"Reyna, akhirnya kamu mau tinggal disini nemenin nenek, nenek sudah menunggu kamu. Ayo cepat, kita masuk, nenek sudah buatkan makanan kesukaan kamu" seru Kumala bersemangat oleh kehadiran Reyna yang ia dambakan.
__ADS_1
"Oh ya? nenek perhatian banget sih" kata Reyna sambil tersenyum pada Kumala.
Reyna meraih kopernya dan segera menariknya ke dalam rumah.