The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Karena sebuah perasaan


__ADS_3

Kriiiiiinggg kriiiiiinggg....


Suara bel istirahat berbunyi, membuat siswa-siswi keluar berhamburan dari kelasnya masing-masing, termasuk Kanaya yang sedari tadi mendiami Reyna dengan wajah datarnya.


Reyna tidak bisa berkata apa-apa lagi, kecuali membiarkan masalah mereka mereda dengan sendirinya. Reyna tau betul sifat sahabatnya satu ini, jika mereka berselisih adakalanya yang marah duluan akan merasa bosan karena kesepian dan akhirnya mereka berbaikan seperti sediakala.


Reyna keluar dari kelasnya dan segera menuju kantin sekolah. Tampak wajah cantiknya tersenyum pada ibu kantin yang menjadi langganan saat perutnya mulai lapar.


"Bakso sama es teh buk," kata Reyna pada sang ibu-ibu kantin langganannya.


"Berapa neng? dua ya?" pertanyaan dari ibu kantin membuat Reyna menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin.


Gadis itu kemudian duduk dikursi panjang dan meja yang berada dihadapannya tak jauh dari tempat ibu-ibu tadi.


Fikirannya melayang, mengingat kebersamaannya dengan Kanaya yang biasanya bersikap jail padanya. Apalagi Hengky yang kadang menimpali Kanaya dengan kata-kata pedas yang selalu menimbulkan gelak tawa bagi siapa saja yang mendengarnya.


Tapi sayangnya, kini mereka sudah tidak lagi bersatu, mungkin waktu dan keadaan, semua latar menjadi penyebab dari retaknya hubungan mereka saat ini.


"Neng, silahkan" kata ibu kantin membuat Reyna membuyarkan lamunannya dan segera mengucapkan terimakasih.


"Sayang, duduk disini yuk, kamu mau pesan apa?" ucapan manja dari bangku sebelah Reyna duduk, membuat gadis itu melirik kearah asal suara.


Meski Reyna tau, tapi dia sama sekali tidak ingin memperdulikan sepasang romantisme kantin yang sekarang menjadi pusat perhatian bagi seluruh siswa yang berada disana. Pasalnya Hengky bukan hanya seorang ketua OSIS, tapi dirinya juga siswa pintar yang diidolakan oleh banyak siswi, selain wajahnya yang tampan bagai dewa di serial drama fantasi.


Betapa banyak hati yang patah karena kini sang bintang sekolah telah menemukan seorang tambatan hati yaitu Keyla, siswi baru yang masih mengikuti ospek disekolah mereka.


Reyna mendengus kesal, ditatapnya bakso miliknya tanpa memperdulikan atmosfer sekitar yang ramai akibat memperhatikan dua pasang kekasih yang duduk dibangku sebelahnya.


Dengan cepat Reyna memakan bakso itu, hingga habis tak tersisa.


Reyna ingin segera bangkit, namun gerakannya berhenti kala Keyla berdiri dihadapannya dan menurunkan mie yang baru dia pesan.


Reyna menatap malas wajah Keyla.


"Kak, makan disini yuk, kayanya dia juga udah selesai."


Hengky mengalihkan pandangannya kearah Reyna, ditatapnya wajah yang selalu menjadi sahabat yang sangat ia cintai itu dengan tatapan dingin. Membuat Reyna beranjak pergi, namun entah disengaja atau tidak Keyla yang hendak duduk di bangku Reyna yang sebelumnya, malah menumpahkan teh panas ditubuh Reyna.


"AAHHHHH panas" teriakan dari gadis itu membuat seantero kantin menatap mereka berdua.


"Wah seru nih, perdebatan menaklukkan hati sang ketua, hahaha" ucap salah seorang siswi yang jauh dari jangkauan mereka. Banyak sekali cibiran negatif untuk Reyna, karena beranggapan bahwa gadis itu terlihat cinta segitiga antara Keyla dan Hengky, terlebih lagi Hengky dan Reyna pernah dekat satu sama lain.


Hengky yang menatap Reyna merasa kasian dan ingin membantunya, tapi dengan cepat Keyla mencekal lengan pria itu.

__ADS_1


"Maaf ya Reyna, gue nggak sengaja, itu cuma teh kok, lagian lo ngapain sih lebay banget mau ngerebut Hengky dari gue?" kata Keyla menantang.


Hengky hanya pasrah atas apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Dibawah tekanan dari Keyla, dia tidak ingin Reyna tambah dipermalukan didepan teman-temannya.


"Cepet pergi Reyna" ucapan dari Hengky tegas namun sangat pelan, membuat Reyna menatap tajam kearahnya.


Wajah kecewa dari gadis cantik itu membuat Hengky mau tidak mau harus mengusir Reyna dari sana, atau kalau tidak Reyna akan semakin terjebak nantinya.


"PERGI SEKARANG!" bentakan dari Hengky membuat Reyna tidak bisa berkata apa-apa, namun sangat jelas ekspresinya yang semakin kecewa dengan pria yang selama ini selalu menemaninya itu.


Reyna berlari, tanpa mau menatap keadaan dibelakangnya, langkahnya menjauh. Ingin rasanya menumpahkan air mata, namun kini tiada guna meratapi semua yang terjadi, Hengky telah berubah, entah doktrin apa yang digunakan oleh Keyla pada sahabatnya itu.


Langkah kaki pria yang memasuki gedung tinggi bertingkat milik sang ayah. Pria itu memasuki ruangan presdir yang notabennya adalah ayah kandungnya sendiri.


"Papi," ucapan keluar dari mulut manis putra satu-satunya ini. Dengan rasa bahagia Adi bangkit dari duduknya dan merangkul bahu sang putra.


"Akhirnya kamu datang juga nak, sini duduk dulu."


Yasya mengikuti langkah Adi untuk duduk didepan kursi pemilik perusahaan yang telah dibangun oleh ayahnya selama bertahun-tahun ini.


"Kamu pasti tahu kenapa papi mengundang mu kesini bukan?"


"Ada apa? Irya sudah menemukan pekerjaan kok, jadi papi tidak perlu repot-repot."


Adi menghela nafasnya pada sang anak yang selama ini selalu keras kepala padanya.


Yasya mendengus kesal, dibanting tubuhnya dikursi dan menyandarkan kepalanya, membuat sang ayah menatap serius wajah sang putra.


Ceklek...


Suara pelan terbukanya pintu tidak dapat didengar jelas oleh Yasya, namun Adi dapat melihat dengan jelas keberadaan gadis cantik yang kini menjadi tunangan sah dari Iryasya Ferdiansyah.


Adi mengisyaratkan Syahbilla untuk tetap berada di posisinya. Dirinya memang sengaja mengundang sang calon menantu untuk datang kekantor dan membujuk putranya ini.


"Pi, aku mau, tapi ada satu hal yang harus papi ketahui, dan ini termasuk syarat yang aku inginkan, apa papi setuju?."


Yasya menghembuskan nafas, kala Adi mengangkat sebelah alisnya. Perasaan bimbang yang selama ini ia pendam, kini ingin segera ia utarakan, dan semoga ayahnya akan mengerti tentang keadaan yang ia alami, mengingat Dian yang tidak setuju dengan perasaannya terhadap Reyna. Kini harapan Yasya hanya pada ayahnya.


"Baiklah, akan papi turuti apa yang kamu mau" anggukan dari Syahbilla membuat Adi akhirnya setuju dengan ajuan dari sang putra.


"Pi, aku ingin membatalkan pertunangan ku dengan Syahbilla" ucapan dari Yasya membuat pria paruh baya didepannya menatap tajam kearah anak tunggalnya.


"APA KAMU BILANG?!"

__ADS_1


Terik Adi menatap Yasya dan Syahbilla bergantian. Terlihat wajah sendu gadis yang tidak berdosa itu terlihat berkaca-kaca, menutupi sebagian mulutnya, hatinya merasa apa yang dikatakan oleh Yasya hanyalah gurauan. Dilangkahkan kakinya mendekat kearah pria yang tengah membelakangi tubuhnya itu.


"Pi, aku tidak mencintai Syahbilla. Hatiku milik gadis lain, aku tidak bisa memaksakan perasaan ini, atau jika tidak, baik aku dan Syahbilla tidak akan bahagia nantinya."


Langkah kaki gadis itu terhenti kala Yasya mengucapkan kata-kata yang membuat hatinya merasa sakit dan hancur seketika.


Betapa dia telah mencintai kekasihnya yang telah bertahun-tahun bersamanya, kini pria itu mengkhianati hatinya.


Mata gadis itu menumpahkan segudang air mata yang sempat ia tahan.


Plakkkk...


Tamparan dari sang ayah membuat Yasya bangkit, dan tak sengaja melihat keberadaan Syahbilla dibelakangnya yang tengah menangis karena perkataannya barusan.


"Syahbilla!" kata Yasya terkejut.


Gadis itu berlari keluar, menunduk dan menghapus air matanya yang mengalir deras.


"LIHAT! apa kamu tidak menghargai perasaan orang Yasya?! apa yang tidak papi ajarkan terhadap mu, hingga papi merasa malu akan sikapmu yang begitu egois!! papi tidak akan pernah mengizinkan mu untuk membatalkan pertunangan ini."


Yasya mengacak rambutnya, diraih lengan sang ayah, menatap pria itu dengan wajah penuh harapan. Namun Adi tak bergeming rasanya kesabarannya sudah habis oleh perbuatan anaknya yang begitu tidak bertanggung jawab.


"Pergi cari Syahbilla sekarang juga, bilang padanya jika itu hanyalah kebohongan mu."


Yasya menatap tajam pria yang tengah diselimuti oleh api kemarahan itu.


"Pi, aku tidak mencintai Syahbilla, aku mencintai orang lain, dan itu tidak akan mengubah keputusan ku. Aku tidak akan menjalankan perusahaan ini jika papi tetap memaksa ku."


Yasya membalikkan tubuhnya dan segera pergi dari ruangan itu. Tak dihiraukannya teriakan dari sang ayah yang beberapa kali memanggilnya.


Rasanya Yasya seperti serba salah saat ini, fikirannya melayang mengingat bayangan-bayangan Reyna dikepalanya. Gadis yang selalu ia cintai itu, membuat hatinya harus terpaksa berbuat demikian.


Yasya menghempaskan tubuhnya dikursi mobil berwarna putih miliknya. Disandarkan kepalanya diatas setir mobil yang belum ia nyalakan.


Hatinya tidak bisa dibohongi lagi, setiap kali mengingatnya, rasanya ingin menunjukkan pada dunia bahwa gadis itu hanyalah miliknya seorang. Diraihnya ponsel yang berada disaku celana pria itu, digesernya perlahan layar yang menunjukkan foto kebersamaan dengan Reyna.


Yasya seperti sudah tergila-gila oleh gadis yang selama ini menjadi idaman dihatinya. Dia bahkan rela meninggalkan keluarganya untuk terus bersama Reyna.


Diperhatikan foto itu dengan seksama, entah mengapa, rasa bimbang yang menyakitkan beberapa menit lalu hilang begitu saja hanya dengan mengingat kembali gadis yang telah hadir dalam hidupnya itu.


Sebenarnya Yasya sedikit tidak tega melihat Syahbilla terluka olehnya, namun mengingat sesuatu yang tidak bisa dipaksakan membuat hati Yasya mau tak mau harus melepaskan dia.


Dialihkannya layar ponsel itu untuk memanggil seseorang .

__ADS_1


"Hallo, Syahbilla."



__ADS_2