The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Cinta yang terungkap


__ADS_3

Reyna turun dari mobil hitam yang baru saja mengantarkannya dari sekolah yang memuakkan hari ini baginya.


Rasanya kepalanya ingin pecah memikirkan dua sahabatnya itu.


Perlahan tapi pasti langkahnya memasuki rumah dengan eksterior serba pink itu dengan taman bunga luas didepannya.


"Reyna" teriakan seorang pria yang tak asing dari belakangnya membuat Reyna mematung.


Dadanya berdetak tak karuan, hatinya ingin sekali memeluk sosok yang kini berada tepat dibelakangnya. Gadis itu merasakan rindu, tatkala tangannya bergetar memegang engsel pintu yang belum sempat ia buka dengan kunci yang berada di saku seragamnya.


Langkah kaki itu sendiri cepat mendekati gadis itu, Reyna hanya bisa terdiam, matanya berkaca-kaca mengingat kejadian tempo hari yang sangat menyakitkan untuknya.


"Reyna" panggilnya lagi saat tepat berjarak beberapa senti dari tubuh gadis itu yang saat ini tengah menegang, merasakan atmosfer kesedihan dan bahagia yang bercampur menjadi satu.


"Maafkan saya" ucapan Yasya sambil memeluk tubuh Reyna dari belakangnya membuat gadis itu secara tidak sengaja menumpahkan air matanya. Tubuhnya masih saja tidak bergerak dan tak mampu menatap pria yang sangat ia cintai saat ini.


"Reyna, apa kamu tau, betapa saya merindukan mu? saya mencarimu kemana-mana, saya hampir gila memikirkan mu setiap hari!" ujar pria itu ditengah suaranya yang serak karena tangisan yang saat ini tak ragu untuk diperlihatkannya kepada sang pujaannya.


"Maafkan saya, saya tidak jujur padamu, saya menyembunyikan sesuatu yang sangat besar kepada mu, tapi percayalah,saya tidak berniat untuk seperti itu" seru Yasya menjelaskan.


"CUKUP!"


Teriak Reyna dengan tegas sambil menghempaskan kedua tangan Yasya yang masih bertengger ditubuhnya.


Air mata Reyna kini mengalir deras, namun rasanya dia enggan untuk menunjukkan pada Yasya. Dia memilih untuk tetap bertahan membelakangi tubuh pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.


"Seharusnya bapak tidak disini sekarang, mohon jangan ganggu saya lagi, maaf, dengan berat hati tolong tinggalkan tempat ini sekarang juga" suara lantang gadis itu begitu tegas membuat Yasya semakin terpuruk, diraihnya lengan Reyna dan ditarik tubuh ramping gadis itu. Dengan cepat Yasya mencium bibir ranum milik Reyna yang selama ini ia rindukan.


Reyna mencoba melawan, namun cengkraman kuat tangan Yasya ditubuhnya membuat gadis itu tak bisa melepaskan diri. Reyna meronta dan menolak ciuman yang bertubi-tubi dari pria dihadapannya itu, namun Yasya tidak bergeming.


Dengan seluruh tenaganya Reyna mendorong tubuh Yasya hingga tubuh pria itu terdorong ke belakang.


"Apa pak Yasya gila?!" teriak Reyna dengan tegas sambil memperlihatkan tatapan penuh amarah, membuat Yasya dirundung kesakitan dalam hatinya.


"Ya, SAYA MEMANG GILA, saya benar-benar gila karena mu Reyna."


"KENAPA?! apa pak Yasya tidak puas hanya dengan memiliki satu kekasih hati!" Teriak Reyna penuh emosi.


"Di hidup ini ada dua hal yang tidak bisa kita kembalikan, satu perkataan yang tidak bisa ditarik, dan yang kedua... sebuah penyesalan."


Yasya tampak mengatur nafasnya untuk melanjutkan perkataannya yang sempat menggantung.


"Dan saya tidak ingin menyesal karena telah MENCINTAI MU Reyna!"


Reyna menatap Yasya dengan senyum nanar. Dengan air mata yang menetes di kedua sudut matanya.


Reyna tertawa, namun matanya terus mengeluarkan air mata yang semakin membuat wajahnya semakin sembab dan memerah.


"Pak Yasya, hahaha, ini bukan permainan, lebih baik lupakan saya, saya masih anak kecil, Syahbilla lebih sempurna dari pada saya yang telah kehilangan semuanya. Bahkan bukankah pak Yasya telah meninggalkan saya tepat ketika saya mengetahui bahwa mama saya meninggal?" kini seluruh rasa sakit dalam hati gadis itu tersampaikan.


"Reyna, saya bisa jelaskan."


"Apa yang perlu dijelaskan?!! semuanya sudah jelas!" kata gadis itu dan dengan segera meraih kunci disaku seragamnya dan segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan panggilan dari Yasya.


Brakkkk....

__ADS_1


dok... dok... dok...


Suara ketukan pintu yang sangat keras membuat Reyna melemah, dengan perlahan tangannya mengusap air mata yang menggenang di pipinya.


"Reyna! buka pintunya, saya mohon, tolong berikan saya kesempatan, saya mencintai mu Reyna, sungguh mencintaimu."


Suara teriakan dari pria itu membuat satpam di depan rumah Reyna menarik tubuh Yasya dan segera mengusirnya.


"Pak, tolong jangan membuat keributan disini, saya mohon."


Ucapan dari satpam tidak dihiraukan oleh pria yang tengah memakai kemeja lengkap dengan celana kerja miliknya. Dia masih mempertahankan posisinya mengetuk pintu rumah Reyna dan terus memanggil gadis didalam sana.


Dengan terpaksa, Satpam itu segera menarik lengan Yasya yang kini tengah meneteskan air matanya.


"Reyna, saya tidak akan pernah meninggalkan rumah kamu, sampai kamu mendengarkan penjelasan saya!" teriakan pria itu meskipun samar namun dapat dengan jelas Reyna dengar dari dalam rumah.


Kini gadis itu membuka sedikit korden berwarna putih, dan dilihatnya Yasya yang masih berdiri didepan gerbang rumahnya.


"Pak Yasya," gumam Reyna dengan pelan, tangisannya mulai mereda, meski hatinya masih merasakan sakit.


Malam pun tiba, gelap yang biasanya memperlihatkan ribuan bintang dan satu bulan terang kini entah mengapa langit sepertinya sepi akan hal itu.


Ditambah lagi dengan kilatan petir dan suara bergemuruh, membuat Yasya sedikit mendongak menatap awan yang gelap menutupi langit malam yang indah.


Tubuhnya masih tak bergeming, berdiri didepan gerbang rumah besar, dengan tatapannya yang penuh harapan.


Perutnya tampak berbunyi beberapa kali, karena siang tak dihiraukannya untuk sekedar mengisi kekosongan dalam perutnya.


Begitupun saat ini, ditengah malam yang dingin oleh angin kencang menerpa tubuhnya.


Suaranya pelan dengan wajah pucat diwajah tampan Yasya.


tik tik tik tik...


Suara gemericik air hujan yang perlahan turun membuat tetesan itu lama kelamaan menjadi tetesan besar dan deras, menambah hawa dingin yang pria itu rasakan sejak tadi.


Sementara itu didalam rumah, gadis itu tengah membisu dengan wajahnya yang ditekuk sedari tadi, membuat sang nenek keheranan dengan tingkah cucunya satu ini


"Reyna, ayo makan dulu" Kumala menarik lengan Reyna yang masih berdiam dengan gitar yang berada ditangannya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, namun gadis itu masih berdiam dikamarnya sejak pulang sekolah.


"Nenek, aku nggak mau makan."


Kata Reyna dengan lemas, membuat Kumala semakin cemas oleh perilaku cucunya.


"Ayolah, ini sudah jam berapa? dari siang kamu juga nggak mau makan, nanti kalau kamu tidak makan, kamu akan sakit sayang."


Reyna menengadahkan kepalanya, dia teringat akan sesuatu yang membuat nya tersentak.


"Sakit?" gumam Reyna pelan.


'Kata dokter aku tidak boleh sakit, atau aku tidak bisa melakukan donor pada papa.'


Reyna mengangguk pada Kumala dan menuruti perintah neneknya untuk segera turun dari kamarnya, meletakkan gitar itu ditempat semula.

__ADS_1


Meski gadis itu tidak memiliki hasrat untuk makan, namun apalah daya, keadaan memaksanya untuk tetap bertahan.


Reyna sudah bertekad untuk melupakan masa lalunya dan ingin membuka lembaran baru dalam kehidupannya.


Reyna terlihat duduk dibangku belajarnya dengan lampu belajar yang menyala, menulis sebuah cerita didalam sebuah buku yang dia namakan Diary.


*Dear diary....


Pa, cepat sembuh ya.


Reyna kangen papa, jangan sakit lagi.


sesakit apapun Reyna, tidak akan lebih sakit daripada melihat orang yang Reyna sayangi menderita.


Pa, Reyna sudah kehilangan mama, Reyna tidak ingin kehilanganmu.


Jika harus menjauh dari mu bisa membuat papa bahagia, maka setelah ini, Reyna tidak akan masuk dalam kehidupan papa lagi. Selamanya.


Reyna hanya bisa memberikan hati Reyna untuk papa, meskipun Reyna tidak akan tinggal, tolong jaga hati Reyna, karena dengan itu, Reyna bisa merasakan dekat dengan papa*


Reyna mendengus, ditutupnya buku kecil yang selalu menemani harinya itu.


Hawa dingin merasuki kamarnya yang sekarang telah terbawa oleh rintik hujan.


Langkah kaki Reyna mendekat kearah jendela yang tak sengaja terbuka.


Diraihnya jendela itu yang mengarah keluar, memperlihatkan seorang pria yang duduk dan memeluk lututnya dengan erat membelakangi pandangan Reyna.


Seketika wajah Reyna memerah, matanya berkaca-kaca, tak menyangka jika pria itu masih bertahan disana.


Gadis itu segera berlari menuruni tangga dan keluar dari rumahnya. Menerjang lebatnya hujan, kini tak perduli piyama berbahan satin yang hanya membungkus bagian tubuh atas sampai pahanya yang sekarang tengah basah kuyup.


Dibukanya gerbang itu yang terkunci, terlihat pria itu masih duduk dan memeluk lututnya.


"Pak Yasya,"


air mata Reyna pecah, tertutupi oleh air hujan yang menerpa tubuhnya.


Pria itu mendongak, menatap wajah cantik gadis yang kini berdiri dihadapannya. Yasya tersenyum bahagia tatkala Reyna ikut berjongkok menghadap wajahnya yang sekarang telah semakin pucat.


"Reyna, kamu kenapa tidak bawa payung? hujannya sangat lebat."


Yasya mengangkat kedua telapak tangannya dan melindungi wajah gadis itu dari terpaan hujan yang telah membasahi tubuhnya.


Gadis itu meraih kedua tangan Yasya dan mencium punggung tangan pria itu.


"Pak Yasya, hiks, maaf."


Yasya memeluk tubuh Reyna, mereka saling berpelukan menyalurkan sebuah kehangatan ditengah terpaan dingin yang melanda.


"Ssttt, hal ini saya yang salah. Kamu jangan menangis lagi, saya tidak bisa menahan diri jika kamu menangis dihadapan saya, saya sangat mencintai mu Reyna."


Kata Yasya yang juga menangis dalam guyuran hujan dan mendekap gadis mungil dipelukannya.


"Saya juga mencintai pak Yasya."

__ADS_1


Reyna merasakan wajahnya memerah, sedih, rasa bersalah dan bahagia bercampur menjadi satu. Serba salah, mungkin yang gadis itu rasakan saat ini.


__ADS_2