
Ku genggam tangan lembut gadis cantik yang berada di samping ku. Aku tersenyum senang ketika bisa melihatnya kembali setelah beberapa hari aku tak bertemu dengannya.
Reyna tengah tertidur di bangku mobil bersebelahan dengan ku yang sedang menyetir.
Terlihat wajah lelahnya yang sangat polos itu terlelap menghadap kesamping, meskipun begitu aku masih bisa melihat kecantikannya dari sini.
.
.
.
Kuparkirkan mobil putih ku di garasi dalam mansion yang luas milik keluarga ku yang jarang ditinggali.
Hanya satu tukang kebun yang terlihat menyirami tanaman dan satu pembantu yang merawat rumah besar ini.
Aku menghela nafas panjang tatkala mobil ku telah terparkir sempurna. Ku langkahkan kakiku keluar dari mobil.
Kubuka pintu mobil yang terdapat Reyna tengah terlelap dalam mimpinya. Aku masih berdiri untuk memandangi wajahnya sejenak. Niat ku untuk membangunkannya ku urungkan, dan aku memilih untuk mengangkat tubuh ramping gadis ini.
Perlahan ku gendong tubuhnya ala bridal style, aku tak mau mengganggu istirahat nya kali ini. Dia begitu lelap dipelukan ku, dada bidang ku menyangga kepalanya, membuat dia semakin nyaman.
Kubawa dia ke lantai atas kamar tamu yang begitu besar dengan nuansa biru muda membalut dinding kamar itu, membuat siapa saja merasakan ketenangan akan interiornya.
Perlahan kuletakkan tubuhnya untuk berbaring dikasus king size, terlihat dia menggeliat dengan mata masih terpejam menikmati mimpi dialam bawah sadarnya.
Membuat ku menarik selimut untuk melindungi tubuhnya. Kukecup puncak kepalanya dengan lembut.
"I love you Reyna...."
Bisikku ditelinganya.
Meski dia tidak mendengar ku, tapi aku harap dia merasakan perasaan ku yang kian hari semakin bertambah untuknya.
Reyna saya janji, saya akan bicara pada keluarga saya, saya sudah terlanjur mencintaimu sangat dalam. Reyna... setelah kamu mengetahui keadaan mama mu, saya tidak akan membiarkan air mata kamu tumpah begitu saja... karena saya yang akan pertama kali melindungi kamu dan juga menyeka air mata kamu...
Saya sangat mencintai mu... izinkan saya mengatakannya padamu, entah kamu merasakan hal yang sama ataupun tidak, tapi saya telah siap untuk mengambil resiko demi ketenangan hati saya.
Yasya POV end.
.
.
__________________________________________
Seorang gadis tengah duduk disebuah restoran dalam mall, terlihat dia memakai pakaian minimnya dan menunggu seseorang untuk datang menemuinya.
. Hentakan kaki membuat dia tak sabar untuk menunggu kehadiran seseorang misterius yang hendak ia temui.
"sudah lama menunggu???"
__ADS_1
Wajah gadis itu menoleh dengan raut wajah yang kesal, tambah kesal lagi melihat wanita paruh baya yang terkekeh tengah memandang wajah putri semata wayangnya.
"mama tuh bisa nggak sih nggak telat sedikit aja... aku nungguin mama udah setengah jam lebih lo...."
Wanita itu terlihat duduk dan menghela nafas panjangnya.
"maaf, mama tadi ada janji sama papamu sebentar..."
"cih... papa??? aku bahkan terpaksa untuk memanggil dia papa.."
"sikapmu ini persis papa mu nak... andai saja dia melihat putrinya telah tumbuh dewasa seperti ini, mungkin dia akan sangat bahagia"
"maa... please stop... selama ini aku nggak pernah dapat kasih sayang dari seorang ayah... dan aku nggak butuh itu..."
"kamu kenapa key??? kelihatannya wajahmu tidak senang begitu... katakan saja apa yang kamu mau, apa yang kamu minta akan segera kamu dapatkan"
Gadis itu mendengus kesal terhadap orang tua tunggalnya, dia menatap tajam manik mata sanh ibu, membuat Cintya keheranan dibuatnya.
"mama tau kan tempo hari aku pernah ditampar oleh si jalang Reyna itu..."
"ohhh lalu kamu mau apa??? katakan saja, mama pasti akan bantu"
"buat dia menderita mama, aku sakit hati... buat dia kehilangan orang yang paling dia cintai... Reynaldi dan juga pria itu..."
"apakah kehilangan mama nya belum puas untuk melihat dia sengsara??? kalau masalah pria tua itu sebentar lagi akan menuju ajalnya... tapi siapa yang kamu maksud pria???"
"Reyna belum tau keadaan Almira, tapi setelah dia tau, dan pada saat yang bersamaan papanya meninggal... huh... aku pasti akan merayakannya ma... Pria itu adalah Iryasya... selama ini dia dibawah perlindungan tuan Irya... mama... apapun itu, bunuh mereka semua, kecuali Reyhan dan Reyna..."
"nak... mama tidak tau kalau kamu sangat membencinya... tenanglah... mama pasti akan membalaskan dendam mu..."
",kamu tau dari mana kalau pria itu melindungi Reyna... apa kamu selama ini memata-matai gadis itu???"
Ucap Cintya sembari mengangkat cangkir kopi yang kemudian menyesapnya perlahan.
"ma... aku sudah lama membuntuti gadis itu, dia selalu bersama Iryasya, tatapannya adalah cinta, begitu hatinya retak, maka kesakitannya akan semakin bertambah daripada kita menyiksa dia dengan fisik"
.
"baik.... mama akan memberikan semua yang kamu mau... kita tunggu tanggal mainnya saja..."
Ucap wanita itu berdiri dengan perlahan tangannya meraih kacamata dimeja restoran dan memakainya.
"mama ada urusan, kamu cepat pulang... dan jangan sampai Dua ayah dan anak tau kalau kamu berkeliaran memakai pakaian minim seperti ini... ini hanya akan merusak imege mu dimata mereka... tetap jadi anak yang patuh nak... mama pergi..."
Ucap wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan putrinya yang masih mengepalkan tangannya menahan amarah.
Dia mencoba tersenyum pada Cintya, dan melambaikan tangannya.
"da... ma... hati-hati dijalan"
Ucapnya dibalas dengan senyuman oleh Cintya.
__ADS_1
.
.
_____________________________________________
Taman bunga yang sangat indah berwarna-warni dikelilingi oleh sekelompok kupu-kupu berterbangan di atasnya, membuat pemandangan didepan gadis cantik itu terpesona.
Diraihnya ayunan dibawah pohon besar yang tumbuh disamping bunga-bunga yang bermekaran. Membuat suasana menjadi semakin rindang.
Reyna duduk di ayunan itu, membawa dirinya dalam kenyamanan tempat yang sangat membuatnya tenang.
Dirinya masih diam membisu, mengingat apa yang terjadi pada dirinya kala itu.
"Reyna sayang..."
Suara yang tak asing dipendengaran gadis berpakaian putih itu membuat dirinya membalikkan tubuh untuk melihat sosok wanita paruh baya yang sangat ingin ia temui.
"mama....."
Panggilan Reyna membuat dirinya menghentikan aktivitasnya dan beralih memeluk sosok wanita itu.
"mama rindu dengan mu nak... apa kamu baik-baik saja???"
"mama... sekarang kita sudah bertemu, Reyna juga sangat rindu mama..."
Ucap Reyna yang masih berada didekapan ibunya.
"sayang... mama tau, mama tau kalau kamu akan baik-baik saja..."
"mama... aku dapat peringkat satu dari ujian semester ku... aku tunjukkan ya... eh dimana kertasnya??? dimana ya???"
Kata Reyna melepaskan pelukannya dan mencoba mengingat-ingat sesuatu yang sempat ia lupakan.
"sayang... mama percaya kamu dapat membanggakan orang-orang yang menyayangi mu, kamu tidak butuh lembar kertas itu, yang kamu butuhkan hanyalah usaha dan juga kemampuan kamu... mama sangat bangga denganmu nak..."
Entah mengapa, tubuh Almira seperti melemah membuat Reyna terkejut dan ketakutan.
"mama sakit ya..."
"jangan dekati mama.. mama akan baik-baik saja... mama harus pergi sekarang... kamu jaga baik-baik papa dan bang rey..."
Ucapan Almira membuat Reyna membelalak matanya, membuat dia menahan lengan wanita yang telah membelakangi tubuhnya.
Reyna semakin dibuat heran kala tidak bisa menyentuh kulit halus wanita itu.
"Ma.... jangan pergi.... Reyna ingin ikut... Reyna tidak punya siapa-siapa lagi..."
. Almira masih tidak bergeming, wanita itu melangkah menjauh dari putrinya itu dan menjatuhkan dirinya dilubang besar di rerumputan yang baru saja ia ciptakan.
"Sampai jumpa anakku..."
__ADS_1
Suara wanita itu menggema, dilubang tanah yang begitu dalam membuat Reyna berteriak histeris.
"MAMA... TIDAKKKK!!!!!!"