The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Bahagia


__ADS_3

Kara sampai harus bekerja dari rumah lantaran mengalami mabuk yang cukup berat. Tubuhnya gampang lelah dan perubahan itu ia lalui selama beberapa minggu. Sampai di usia kandungan empat bulan, Kara masih merasa mual meski tidak seperti pada awal kehamilannya. Ini dikarenakan karena Kara mengandung bayi kembar. Program yang dijalankan keduanya berhasil.


Setelah melalui rangkaian pemeriksaan lanjutan, Kara dinyatakan hamil anak kembar, dan itu merupakan kejutan. Ada dua kehidupan di dalam rahimnya dan tentu saja hal ini membuat sepasang suami istri itu tampak bahagia.


Elno semakin giat bekerja. Usahanya maju yang membawa pundi-pundi rupiah masuk ke kantongnya. Calon bayi di dalam kandungan Kara tidak akan pernah kekurangan. Elno tidak mau kejadian tempo dulu terulang. Ia berubah sangat protektif terhadap istrinya.


Rencana mempersiapkan kehamilan pun dilaksanakan. Pertama acara empat bulanan yang digelar bersama anak yatim piatu. Elno dan Kara ingin semua mendoakan kesehatan istri dan calon anaknya. Sahabat, keluarga juga turut bahagia.


Tanpa terasa, hari demi hari dilewati hingga tiba masanya Kara untuk melahirkan dengan cara caesar. Ini lantaran Kara yang biasanya sesak napas. Perutnya yang besar malah membuat Elno takut. Tubuh Kara juga mengalami kenaikan dratis. Berkali-kali ia protes karena bentuk tubuhnya, dan berkali-kali juga mengatakan kalau ia menerima Kara apa adanya.


Awalnya Kara ingin melahirkan normal, tetapi Elno menginginkan Kara caesar lantaran istrinya kadang cepat lelah. Bagi Elno, istrinya sudah menjadi ibu. Toh, hanya berbeda rasa sakitnya saja. Jika normal, maka rasa sakit dirasakan pada awal. Jika caesar, maka sebaliknya. Elno juga ingin bayinya lahir di tanggal yang sama dengan dirinya karena dua bayi di dalam perut istrinya adalah dua jagoan kecil. Betapa bahagianya Elno akan hal itu.


Dengan didampingi keluarga, Elno menunggu proses itu. Tidak henti matanya memandang pintu masuk operasi. Elno ingin secepatnya mengetahui keadaan bayi serta istrinya.


Pintu dibuka oleh suster yang mendorong kereta bayi. "Silakan ikut kami, Tuan," ucap suster.


"Mama tolong lihat Kara," ucap Elno.


"Iya, pergilah," kata Hesti.


Elno mengikuti suster ke ruang bayi. Si kembar yang lucu dan berkulit putih. Satu per satu Elno mengazani bayinya setelah itu ia disuruh keluar oleh suster.


"Nanti kita bakal ketemu lagi. Jangan nangis, ya, Sayang. Jagoan Papa sangat tampan," ucap Elno.


Dapat Elno dengar suara tangis bayinya. Namun, ia tidak boleh berlama-lama di sana. Biarlah suster yang merawat dua putranya tampannya itu.


Ketika Elno kembali, Kara masih berada di ruang operasi, tetapi satu per satu dokter mulai keluar. Elno sempat menanyakan kondisi istrinya kepada dokter kandungan yang menangani dan dokter berkerudung itu mengatakan Kara dalam keadaan baik-baik saja.


Suster pun keluar dengan mendorong brankar pasien. Kara tersenyum melihat suaminya, lalu matanya terpejam. Ia baru sadar lagi ketika Elno dan suster memindahkannya ke tempat tidur di ruang perawatan.


"Anak kita, Elno," kata Kara.

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja. Kamu tidurlah, Sayang," ucap Elno seraya mengecup kening istrinya.


Siangnya, Kara telah sadar. Operasi memang dilakukan pukul lima pagi. Dokter juga kembali memeriksa keadaannya dan semua dinyatakan baik-baik saja. Kara sehat dan suster membantunya membiasakan diri untuk duduk serta bergerak dengan sedikit leluasa.


"Kapan anak kita dibawa kemari?" tanya Kara.


"Mungkin sore atau malam. Anak kita lucu-lucu," ucap Elno.


"Nak, minum air putih dulu," ucap Hesti.


Kara mengangguk. "Iya, Mama."


"Boleh makan enggak? Kara pasti lapar," kata Elno.


"Boleh, kan, sudah lewat beberapa jam," sahut Hesti. "Sudah buang angin?"


Kara mengangguk. "Sudah, Ma."


"Pokoknya sudah," ucap Kara.


"Mau makan enggak?" Elno menyodorkan nasi yang ia beli di luar.


"Nanti saja. Aku enggak enak buat makan."


Sorenya, Kara dapat jatah makan rumah sakit. Makanan itu yang ia makan. Sementara sang ibu tiri yang turut menjenguk membawakan tumis sayur yang Kara suka.


"Makan yang banyak, Sayang," kata Elno.


"Aku enggak kuat makan nasi. Sayurnya saja yang aku habiskan," ucap Kara.


Tengah makan, suster datang dengan dua buah kereta dorong. Kara lantas memberikan rantang makannya pada Elno dan segera membersihkan tangan dan mulut dengan tisu basah.

__ADS_1


Suster memberikan satu orang bayi pada Kara, tetapi yang satu malah menangis. Hesti mengambil alih bayi yang satu lagi.


"Kita keluar dulu," kata Sanjaya dan Handoko.


Kara segera menyusui bayinya setelah ayah dan mertuanya keluar dari ruang rawat. Kara semakin kewalahan karena bayi satu lagi malah menangis dengan kencang. Suster membantu agar Kara bisa menyusui dua buah hatinya.


"Dibantu, ya, Ibu, Bapak," kata suster.


"Iya, Suster. Makasih," ucap Elno.


Suster melangkah pergi. Giliran Hesti serta besannya yang membantu Kara. Elno cuma memperhatikan. Kelahiran kali ini, ada banyak yang membantu.


"Akhirnya mereka diam dan tidur," ucap Elno.


"Mereka lucu," kata Kara.


"Elno, kamu panggil dulu ayah dan papamu," kata Hesti. "Mereka pasti ingin lihat si kembar."


Elno mengangguk kemudian lekas menyuruh orang tua dan mertuanya masuk. Benar saja, mereka begitu bahagia melihat cucu yang begitu menggemaskan itu.


"Namanya siapa?" tanya Kara.


"Adla Pratama dan Adli Pratama," ucap Elno.


"Artinya?"


"Lelaki yang adil. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberiku kebahagian ini."


Kara tersenyum. "Terima kasih kepada-Nya. Aku bahagia kita bisa bersatu dan kembali mendapatkan anugerah ini."


Elno tersenyum seraya menggengam tangan Kara. Keduanya memandang raut kebahagian dari orang tua mereka. Semua bahagia mendapat hadiah yang begitu sempurna.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2