The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Itu Kamu


__ADS_3

Kara tertawa mendengar ucapan Elno. Bukankah mantannya itu mengatakan sudah memiliki wanita yang sangat ia cintai? Bahkan Kara menduga perempuan itu adalah dari masa lalu Elno yang tidak ia ketahui.


"Apa wanita yang kamu cintai dari masa lalu?" tanya Kara.


Elno mengangguk. "Iya, dia dari masa laluku."


"Apa Sari tidak marah kamu bertamu kemari?"


Alis Elno menyatu mendengar nama wanita yang tidak ingin ia dengar kabarnya. Memang Elno masih memberi nafkah kepada Finola, tetapi itu lewat pelayan di rumahnya yang setiap bulan memberikan uang kepada Sari. Ia juga tidak ingin melihat wajah yang membuat Elno mengingat rasa sakit akibat perbuatan wanita itu.


"Kenapa Sari?" tanya Elno.


"Kamu mencintainya," jawab Kara.


"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan itu?"


"Oh, artinya, aku salah? Lalu, apa kekasih dari Kalimantan? Kalian berpisah dan sekarang kamu ingin kembali?" kata Kara.


Elno menghela napas panjang sebelum ia menjawab, "Tidak ada wanita yang dekat denganku. Aku masih mengharapkan wanita dari masa laluku, dan kamu tau siapa saja wanita masa lalu itu. Yang pasti dia bukan Sari. Aku tidak bisa kembali padanya dan dia tidak akan pernah menjadi bagian dari hidupku lagi."


"Siapa?" tanya Kara yang tampak berpikir. "Apa mantan pacarmu saat di sekolah?"

__ADS_1


"Kamu tau siapa cinta pertamaku."


"Aku?" tanya Kara yang menunjuk dirinya sendiri.


Tiba-tiba saja Kara tersadar ucapannya sendiri. Ia memalingkan wajah, bisa dipastikan saat ini pipinya sudah merona karena berkata demikian. Ia terlalu percaya diri atas ucapannya sendiri.


"Memang hanya ada satu nama wanita yang menjadi cinta pertamaku, yaitu Kara Putri," jawab Elno.


"Ini sudah larut, Elno. Sebaiknya kamu pulang," kata Kara.


"Aku akan pulang. Boleh minta nomor kontakmu?" Elno mengulurkan ponselnya.


Kara mengambil itu dan menyimpan nomornya. "Sudah ...."


Kara mengangguk. "Iya ...."


"Aku habiskan dulu minumannya," kata Elno berharap lebih lama bersama Kara. "Kita bisa menonton TV bersama."


Kara menoleh padanya. Menatap saksama Elno yang memang tidak berniat pergi. Sesungguhnya ini sangat canggung terlebih Elno sudah mengakui jika menginginkan dirinya. Kara pun begitu dan ia takut akan terjadi hal-hal yang tidak inginkan. Ia seorang wanita yang telah lama tidak berdekatan dengan pria. Tubuhnya tiba-tiba panas bersama Elno. Keinginan untuk disentuh itu ada terlebih masih ada perasaan cinta di hatinya.


"Jangan sekarang. Aku sangat capek," kata Kara beralasan.

__ADS_1


Elno sedikit kecewa. "Oke. Aku tidak harus memaksamu."


"Aku janji lain kali," ucapnya merasa bersalah karena membuat Elno kecewa.


"Aku akan tunggu waktu luangmu. Oh, ya, aku akan menetap di sini. Kita bisa bertemu kapan saja."


"Iya, jika kita punya waktu luang."


Elno beranjak dari duduknya dengan diikuti Kara. Keduanya saling memandang terlebih dulu. Baik Kara dan Elno sama-sama mati gaya saat ini. Dengan kaku, Kara berjalan dan membuka pintu.


"Semoga malammu indah, Kara," ucap Elno.


"Kamu juga. Hati-hati di jalan."


Elno mengangguk, lalu melangkah keluar. Kara lekas menutup pintu kemudian bersandar di baliknya. Ia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


"Tenanglah jantungku. Dia sudah pergi," ucapnya.


Kara memperhatikan ruangan apartemen yang berantakan. Segera saja malam ini ia kerja bakti untuk merapikan ruangan itu.


"Apartemen ini harus selalu rapi," ucapnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2