
Selepas pengangkatan jabatan dan perhargaan. Pesta dilanjutkan dengan acara bebas. Musik terdengar dan karyawan yang hadir saling menyapa satu sama lain.
Tentu saja Elno dan Sari yang diserbu. Mereka masing-masing mengucapkan selamat atas keberhasilan Elno dan Sari sebagai istri dipuji karena telah berjasa pada suaminya.
Kara memperhatikan itu. Semua impiannya telah direbut. Dia yang menanam, tetapi wanita lain yang memetik hasilnya. Pemandangan yang sungguh membuat iri. Ingin sekali Kara berteriak. Mengatakan segalanya pada semua yang hadir di pesta.
Ilmi menoleh pada Kara. Ia genggam tangan dari istri sahabatnya itu. "Lebih baik kita makan saja."
Kara tersenyum. "Kenyang mungkin bisa mengobati lukaku."
Ilmi masih memegang tangan Kara dan membawanya menuju meja prasmanan bertepatan dengan arah pandang Elno pada mereka.
"Itu pacar Ilmi?" celetuk seorang pria.
"Enggak tau. Mungkin saja dilihat dari kemesraan mereka," sahut yang lain.
"Mana cantik banget lagi."
Elno bisa menyembunyikan segalanya, tetapi tidak emosi dalam dirinya. Ia meradang mendengar percakapan teman kantor yang mengatakan jika Kara adalah kekasih Ilmi.
Elno mengepal geram, lalu berkata, "Dia bukan pacar Ilmi."
"Lalu siapa?" tanya yang lain.
Elno ingin menjawab, tetapi cengkeraman tangan Sari mencegahnya. Ia sadar tidak boleh mengatakan hal yang sebenarnya di hadapan semua.
Kara dan Ilmi saling melempar senyum dan bercanda bersama. Melihat keseruan itu beberapa teman mendatangi mereka dan penasaran akan wanita cantik bersama Ilmi.
"Dia pacarmu, Ilmi?" tanya wanita teman satu divisi Ilmi.
"Apa aku cocok dengannya?" tanya Ilmi.
"Jangan tanya padaku karena aku akan mengatakan tidak."
Ilmi tertawa. "Sayangnya wanita di sampingku sudah punya pasangan. Kami hanya teman lama. Tapi, kalau dia ingin bersamaku, aku bersedia."
__ADS_1
Ilmi mengucapkannya sembari tertawa. Kara menggeleng karena lelucon Ilmi, sedangkan Elno semakin tidak terkendali mendengar ucapan sahabatnya.
Acara bernyanyi bersama berlangsung. Beberapa teman yang membawa pasangan berdansa bersama termasuk Sari dan Elno. Keduanya menjadi bintang malam ini dan tentunya penampilan mereka yang mendapat sorotan.
Kara tidak tinggal diam melihat itu. Ia meraih tangan Ilmi dan mengajaknya berdansa tanpa izin dari pria itu. Ilmi merangkul pinggang Kara, sedangkan kedua lengan Kara memeluk lehernya. Lagu romantis yang dinyanyikan oleh seorang rekan sejawat sebagai pengiringnya.
"Bimbing aku," bisik Kara.
"Santai saja. Gerakan tubuhmu, lalu ikuti langkah kakiku."
Ilmi semakin memperat pelukannya. Membimbing Kara untuk bergerak mengikuti langkah kakinya. Semua pasang mata tertuju pada mereka termasuk Elno.
"Tuh, kan. Cewek itu pacarnya Ilmi," sahut yang lain.
"Sialan Ilmi!" ucap Elno dengan melepas Sari.
"Kamu mau ke mana? Biar saja," kata Sari sembari mencegah Elno untuk mendekati keduanya.
Elno menepis tangan Sari dan ia tetap berjalan menghampiri keduanya. Elno memisahkan Kara dan Ilmi. Membuat semua mata memandang heran padanya. Elno meraih pinggang Kara, memegang tengkuk belakang sang istri kemudian mendaratkan kecupan bibir di sana.
Pemandangan yang menggemparkan. Sari membelalak karena hal itu serta teman kantor Elno yang lain pada bertanya-tanya atas sikap impulsif dari seorang manager umum.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Kara.
Elno menarik diri, lalu memandang pada semua. "Dia bukan pacar Ilmi. Dia istriku, Kara. Dia istri pertamaku dan semua yang ada dalam hidupku adalah miliknya. Aku bisa sampai di sini karena dia."
Setelah mengucapkan hal itu, Elno membawa Kara keluar dari ballroom hotel. Sari menyusul mereka, sedangkan Ilmi menjadi sasaran dari pertanyaan semua temannya.
"Apa yang salah? Memang begitu kenyataannya. Elno memang memiliki dua istri," ucap Ilmi, lalu bergegas pergi.
Elno membuka pintu mobil dan menyuruh Kara untuk masuk. Sari menyusul dengan berlari dan hampir saja tersandung karena sepatu bertumit tingginya.
"Tunggu, El!" serunya.
"Cepatlah!" sahut Elno yang sudah tidak sabaran.
__ADS_1
Sari masuk ke kursi belakang. Belum sempat memasang sabuk pengaman, Elno sudah menjalankan mobil dengan tergesa-gesa.
"Aku masih ingin hidup," ucap Kara.
Barulah Elno memperlambat laju kendaraannya. Hening. Tidak ada yang bicara selama dalam perjalanan. Sampai di depan rumah, Sari keluar lebih dulu. Ia membuka pagar agar Elno bisa memasukan mobilnya. Namun, Elno malah memundurkan kendaraannya. Berbelok menuju jalan depan kemudian kembali melaju.
"Elno!" teriak Sari yang kesal karena ditinggal.
"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Kara.
Elno diam saja dan tetap mengendarai mobil. Sampai kendaraan roda empat itu berhenti di sebuah hotel yang berbeda dari tempat pesta tadi.
Keduanya turun bersama. Elno mengenggam tangan Kara agar mengikutinya dan mereka memesan satu kamar. Masih dalam genggaman tangan sang suami. Kara mengikuti langkah Elno menuju kamar di lantai atas.
"Masuk," ucap Elno setelah membuka kunci kamar.
Kara masuk disusul Elno yang menutup pintu. Tubuh Kara disandarkan ke dinding. Elno mendesaknya dengan kelembutan bibir. Kara berusaha untuk mendorong, tetapi kedua tangannya dipegang oleh suaminya.
"Lepasin, El," pinta Kara.
"Begitu puas bermesraan dengan Ilmi? Kamu sudah bersuami, Kara. Kamu segitunya tidak memandangku sebagai pria dalam hidupmu?" ucap Elno.
"Seharusnya pertanyaan itu kamu ajukan untuk dirimu sendiri."
Elno duduk di sisi tempat tidur. Ia capek untuk menjelaskan hubungannya bersama Sari kalau wanita itu adalah istrinya yang sah.
"Katakan hal yang membuatmu membenci Sari, Kara," ucap Elno. "Kamu bilang sudah menerima pernikahanku."
Kara menggeleng. "Aku tidak bisa menerimanya. Aku tetap menginginkanmu seorang."
"Pikirkan tentang Finola, Kara. Dia anakku. Tidak ada alasannya aku menceraikan Sari."
"Ceraikan saja aku," ucap Kara.
Elno bangkit dari duduknya, lalu memeluk Kara. "Itu lebih tidak mungkin lagi. Kumohon, Kara. Demi aku. Demi cinta kita."
__ADS_1
Demi cinta kita. Kara memang melakukan segalanya atas nama cinta. Karena hal itu ia bertahan sampai saat ini. Semua karena perasaan Kara kepada Elno. Cinta Kara yang besar terhadap suaminya.
Bersambung