The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Meminta Restu


__ADS_3

Elno tidak mengingat sudah berapa kali ia ditolak ketika menginjakkan kaki di rumah orang tua Kara. Saat ini ia datang meminta restu. Meminta Kara secara resmi pada orang tuanya.


"Mending pulang. Lagian orang itu tidak akan berubah. Bertahun-tahun dia tetap membenci kita," kata Kara.


"Dia orang tuamu, Sayang. Kita juga akan menikah. Restu dari orang tua adalah berkah untuk pernikahan kita. Mau dia setuju atau tidak kita harus tetap minta restu. Mau kita diusir, yang penting kita sudah datang menemui mereka," sahut Elno.


"Ya, sudah kalau itu mau kamu. Kita temui Handoko."


Kara menekan bel rumah dua kali. Ia tidak sabaran hingga kembali memencet bel sampai terdengar kunci yang diputar dan pintu dibuka. Seorang wanita yang merupakan ibu sambung Kara menyapa, "Oh, Kara. Masuklah."


"Apa Handoko ada? Kami hanya ingin bertemu dengannya," ucap Kara.


"Masuklah dulu. Ibu akan panggilkan ayahmu."


Kara mendecakkan lidah ketika ibu sambungnya telah berjalan memanggil sang ayah. Elno menepuk punggung tangannya agar kekasihnya itu melupakan sejenak amarah yang masih tersisa di dalam hatinya.


"Aku kira dia melupakan wajahku," kata Kara.


"Mana mungkin. Di rumah ini pasti ada sisa peninggalan dirimu."


"Buktinya waktu pertama kali dia tidak mengenaliku."


"Mungkin waktu itu dia baru tau kalau suaminya punya seorang putri yang cantik," ucap Elno.


"Aku tidak suka wanita itu. Dia yang merebut ayah dari ibu."


"Kudengar dia yang merawat ibumu dan dijadikan istri oleh ayahmu," bisik Elno yang mendengar gosip waktu itu.


"Apa pun alasannya. Aku tidak akan bersimpati padanya."

__ADS_1


Handoko muncul bersama istri barunya. Ia memandang putri yang sudah lama tidak menemuinya. Ada rasa rindu juga luka di dalam hatinya.


"Duduklah, Nak," ucap Handoko.


Kara mengerutkan kening. Heran sudah pasti karena Handoko tidak langsung mengusirnya. Perubahan yang membuat Kara bertanya-tanya tentunya.


"Kamu apa kabar, Nak?" tanya Handoko.


"Tumben sekali Ayah tidak mengusir kami," kata Kara.


"Waktu itu Ayah marah, Kara. Kenapa kamu langsung anggap semua ucapan Ayah adalah hal sebenarnya?" ucap Handoko.


"Apa?" Kara sudah emosi, tetapi Elno menahan dirinya.


"Ayah, kami datang kemari untuk meminta restu. Saya ingin Ayah hadir di acara pernikahan kami nantinya," ucap Elno.


Mendengar perkataan ayahnya, Kara ingin sekali membatalkan rencana pernikahannya bersama Elno. Lantaran kedua pria ini begitu menyakiti dirinya.


"Saya sudah bercerai dengan dokter gigi itu dan ingin rujuk kembali bersama Kara," jawab Elno.


Handoko mengangguk. "Bagus kalau kamu punya niat seperti itu. Ayah setuju saja karena kalian yang akan menjalankan pernikahan ini. Ayah hanya minta agar pernikahannya diadakan semeriah mungkin."


"Tidak heran Ayah langsung setuju dengan pernikahan ini. Dari kemarin Ayah ke mana?" tanya Kara.


"Kalian sudah sama-sama sukses sekarang. Dulu kalian masih kecil," jawab Handoko. "Kalian sudah matang dalam usia dan siap untuk membina rumah tangga."


"Iya, Ayah. Kami memang sudah siap secara umur, materi dan pikiran," ucap Elno seraya menggengam erat tangan Kara.


"Nak, Ayah bangga padamu. Kamu sudah sukses sekarang. Ibumu juga beli produk kosmetik yang kamu buat. Maafkan Ayah, Nak. Ayah sengaja tidak mengunjungimu. Ayah malu untuk datang menemui anak yang telah sukses," ucap Handoko.

__ADS_1


"Bagus, deh, kalau Ayah itu sadar diri," sahut Kara.


"Sayang, lembut sedikit bicaranya," tegur Elno.


"Ayah salah, Nak. Ayah minta maaf, tapi kita ini keluarga."


"Kara tau itu. Terima kasih atas restunya. Kami permisi dulu," ucap Kara yang menarik lengan Elno agar segera pergi dari rumah orang tuanya.


"Saya akan datang lagi bersama papa dan mama untuk melamar Kara," ucap Elno.


"Iya, Nak. Ayah akan tunggu kedatangan kalian."


Kara langsung saja keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil. Sementara Elno sibuk meminta maaf karena tingkah calon istrinya.


"Saya akan membujuknya. Saat ini Kara masih marah," ucap Elno.


"Wajar dia marah. Ayah terlalu menyakiti hatinya."


Elno berpamitan dan segera menyusul Kara. Ia belai puncak kepala kekasihnya yang tengah berada dalam kemarahan.


"Cuaca panas, ya? Kita beli es, yuk!" ajak Elno.


Kara mengerjap beberapa kali, lalu mengangguk. "Aku memang butuh es."


"Kalau mau nangis, di mobil saja," kata Elno.


"Enggak jadi!" ucap Kara yang langsung masuk mobil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2