
Seperti yang Elno harapkan dari Kara. Selama beberapa hari mereka akan menghabiskan waktu di hotel. Keinginan Kara yang ingin berbelanja harus ditahan lebih dulu. Setidaknya sampai Elno puas akan pelayanannya.
"Lebih keras lagi," pinta Kara.
Elno membalik tubuh istrinya kemudian menghentak dari belakang. Menghunjam sedalam-dalamnya. Mencengkeram di sisi pinggang Kara, membuat wanita itu menjerit, memohon untuk berhenti.
"Akhirnya," ucap Elno dengan helaan napas panjang. Ia tumbang di samping Kara yang masih dalam posisinya. "Mau berenang?" tanya Elno
"Mau tidur. Aku capek," jawab Kara.
Elno mengangguk. "Kita tidur sebentar habis itu makan di restoran bawah."
Kara membalik diri, mendekat pada Elno kemudian berbisik. Elno tersenyum, ia mencubit lengan sang istri tercinta.
"Mulai nakal," ucap Elno.
Kara terkikik geli. "Kita buat hal yang berbeda."
"Itu yang aku suka darimu, Sayang," kata Elno seraya memeluk istrinya.
Keduanya memejamkan mata. Rasa lelah karena aktivitas keringat yang dilakukan, membuat keduanya dengan cepat terlelap.
__ADS_1
Lanjut pada malam harinya, Elno dan Kara makan bersama di dalam kamar. Mereka tidak ingin keluar hotel dan akan menghabiskan waktu bersama di kamar saja.
"Sayang, aku sudah siapkan anggur merah ini," ucap Elno.
"Tunggu aku di ruang jacuzzi," kata Kara.
Elno mengangguk, ia lekas pergi ke ruang sebelahnya. Elno membuka habis pakaiannya, lalu segera masuk ke dalam air hangat itu. Tidak lama Kara datang. Elno tersenyum, memanggilnya untuk segera mendekat.
Kara membuka jubah handuknya. Berjalan perlahan mendekati Elno yang asik berendam. Kara duduk, meraih anggur merah yang dituangkan oleh Elno sebelumnya.
Kara menyesapnya sedikit. Dengan sengaja membuat minuman itu tumpah meleleh ke leher serta turun ke bawah sana. Kemudian ia mengambil satu botol minuman itu. Menuangkan semua isi air itu di tubuhnya.
Elno berjalan mendekat, ia mengecup bibir Kara, turun ke tulang jenjang, selangka, sampai pada dua kelembutan yang menegang itu. Mencucup habis cairan merah yang sengaja Kara tuang pada tubuhnya.
"Sayang," panggil Kara dengan lirihnya.
Kecupan Elno turun ke perut rata Kara. Dengan nakalnya, Kara melebarkan kakinya, mengundang Elno untuk mencicipi bagian yang saat ini tengah merekah.
Kara menggigit bibirnya sembari menekan kepala Elno agar tidak pergi dari bagian bawah sana. Suaranya tidak karuan seiring sapuan dan gelitikan yang diberikan Elno pada lipatan merah yang berkedut.
"Sayang," panggil Kara dengan lirihnya.
__ADS_1
Semakin kuat Kara menekan kepala suaminya dan semakin Elno mendesak Kara dengan keahlian bibirnya.
"Masih ingin lagi?" tanya Elno.
Kara mengangguk. "Tentu, Sayang. Puaskan aku dengan bibirmu itu."
Elno tampaknya harus bekerja keras untuk ini. Ia menyentak Kara dengan dua jari tangannya. Memainkan area itu seperti yang istrinya inginkan. Suara Kara terdengar begitu indah, gerakan tubuhnya begitu mengundang Elno. Keluar masuk pada ladang yang basah. Mencucup lagi pada lipatan yang terus ingin dijamah.
"Tahan sedikit," kata Elno.
Kara menggeleng. "Jangan lakukan itu."
Elno menyeringai, ia menekan perut bagian bawah Kara. Masuk dan mengeluarkan dua jarinya secara cepat. Membuat tubuh Kara bergetar dan mengeluarkan jeritan kenikmatan.
Tubuh Kara bergetar hebat, gerakan jari Elno semakin cepat. Kara berteriak, Elno menarik tangannya ketika hujanan air keluar dari tubuh istrinya.
"Puas?" tanya Elno.
Kara mengangguk. "Sangat, Sayang."
Bersambung
__ADS_1