
Elno tidak bisa berdiam diri di dalam rumah sakit. Ia bisa menahan segala sakit di tubuh demi menemui Kara. Dengan menumpang taksi, ia kembali mengunjungi Kara di apartemen.
"Katakan padanya jika aku tidak akan pergi sebelum dia menemuiku," kata Elno, lalu menambahkan, "jika penjaga mengusirku, maka aku akan berlutut di jalanan."
Penerima tamu lekas menghubungi Kara karena ada tamu yang nekat ingin bertemu. Elno disuruh menunggu di lobby sembari menunggu Kara yang tengah turun.
Beberapa saat senyum Elno mengembang melihat mantan istrinya datang. Ia bangkit dari duduknya untuk menyambut Kara, tetapi malah mendapat tatapan kesal dari wanita itu.
"Aku sudah bilang untuk tidak mengangguku, kan?" ucap Kara.
"Sebegitu bencinya kamu dengan diriku?"
"Apa lagi yang harus kita bicarakan, Elno? Semua sudah jelas bahwa kita telah berpisah," kata Kara.
"Satu kesempatan, Kara. Hanya itu yang kuinginkan," ucap Elno.
__ADS_1
"Sudah banyak kesempatan yang aku berikan padamu. Ingat, Elno. Kamu pernah mengatakan jika Sari lebih baik dariku. Kamu mencintainya. Lalu sekarang, kenapa malah ingin bersamaku? Aku tidak pantas untuk bersamamu."
"Aku mengatakannya dalam keadaan marah. Cemburu membuatku mengatakan segalanya tanpa berpikir. Aku salah, Kara. Aku minta maaf."
"Aku sudah tenang hidup sendiri. Jangan lagi kamu usik, Elno."
Elno menatap Kara sendu. "Perjuanganku sia-sia ternyata. Ini memang salahku. Buka sedikit pintu maafmu."
Mengenang awal mula pernikahan mereka yang begitu penuh perjuangan. Kesetiaan Elno yang bertahun-tahun menunggu Kara pulang. Semua hancur begitu saja.
Elno menggeleng. "Biar aku yang pergi." Sembari menatap Kara dengan sedih. "Aku akan pergi," ucapnya sekali lagi.
Kara tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia membalik diri, lalu berjalan pergi. Elno masih menatap wanita yang ia cintai sampai Kara masuk dalam lift. Tidak ada kesempatan lagi untuknya. Semua sudah berakhir.
Tanpa diperintah, air mata menetes. Kara lekas menghapus lelehan bening itu sembari menatap wajahnya di cermin.
__ADS_1
"Keputusanmu sudah benar, Kara. Hiduplah sendiri mulai sekarang. Tidak ada Elno atau siapa pun dalam hidupmu mulai sekarang," ucapnya pada diri sendiri.
Kesedihan itu tidak bisa dihentikan. Kara tetap menangisi cintanya yang kandas. Ia tidak ingin dipermainkan lagi. Tidak ingin dianggap lemah karena cinta. Namun, hatinya sakit menolak Elno. Tatapan Elno membuat Kara ingin sekali memeluknya. Mereka bisa mengulangnya, memulai kembali dari awal jika menginginkannya.
"Jangan lemah Kara," ucapnya lagi. "Elno tidak pantas untukmu."
...****************...
Elno kembali ke rumah lama. Rumah yang masih belum Kara tempati meski Elno sudah memberikannya saat sidang perceraian waktu itu. Mobil Kara juga terparkir di dalam garasi tanpa pernah dipakai. Seperti yang Elno duga jika Kara memang tidak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah yang penuh kenangan buruk.
Namun, bagi Elno. Rumah inilah tempatnya bersama Kara. Saat-saat singkat yang keduanya lalui. Pertengkaran, kesedihan semuanya berada dalam rumah ini. Elno bisa mengingat kejadian yang membuat Kara terluka.
"Terlalu banyak dan aku memang tidak pantas untuk dimaafkan," ucap Elno.
Kesalahan berkedok jika ia melakukannya atas dasar kewajiban sebagai seorang suami. Meninggalkan jejak cinta pada Sari tanpa memikirkan perasaan istri pertamanya. Elno selalu mengatakan cinta, tetapi cintanya membuat Kara terluka.
__ADS_1
Bersambung