The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Bertemu Finola


__ADS_3

"Papa!" seru Finola yang berlari menghampiri.


Elno tersenyum, lalu meraih Finola dalam pelukannya. Kara memberi senyum ketika melihat Tedy yang datang. Terakhir kejadian di masa lalu, Kara memang tidak pernah lagi berhubungan dengan pria itu.


"Kapan kamu pulang?" tanya Tedy.


"Sudah beberapa hari," jawab Elno. "Ayo, Finola, salam sama Tante Kara," kata Elno yang tidak lagi menyebut Kara dengan sebutan mama.


"Halo, Tante," sapa Finola dengan mengulurkan tangan.


Kara menyambutnya dan memberi kecupan di pipi. Keempatnya duduk di meja yang telah Elno pesan sebelumnya. Sengaja ia mengajak Kara untuk menunjukkan hubungan antara ia dan Finola yang sebenarnya.


"Bagaimana kabarmu, Kara?" tanya Tedy dengan perasaan bersalah yang masih tertanam di benaknya.


"Aku baik," jawab Kara. "Apa kalian memang membiasakannya?"


Tedy paham maksud dari pertanyaan Kara. Ia sudah mencoba agar Finola memanggil Elno dengan sebutan paman, tetapi anaknya saja yang enggan terlebih Elno juga setuju saja waktu itu. Elno dan Finola sudah dekat meski mereka telah berpisah.


"Aku sudah berusaha membiasakannya," sahut Tedy yang berhati-hati bicara karena Finola mendengarkan.

__ADS_1


"Ya, tidak perlu dibahas. Hanya saja aku tidak ingin ibunya menganggu kami lagi," ucap Kara sembari melirik Elno yang duduk di sampingnya.


"Kami hanya sebatas mempunyai hubungan antar keluarga saja. Kami bergiliran mengasuh Finola. Untuk kehidupan pribadi Sari, aku tidak lagi ikut campur. Aku tidak tau apa-apa tentangnya lagi. Maksudku memang tidak ingin tau," tutur Tedy.


Elno menimpali, "Aku memintamu bertemu karena ...."


"Finola anakku. Aku akan menjaganya sepenuh hati bersama pasanganku," sahut Tedy yang mengerti arah maksud Elno terlebih ada Kara di sampingnya. "Aku berterima kasih padamu, Elno. Selama ini kamu sudah memberi banyak hal pada Finola."


Saat Tedy melihat Kara bersama Elno, ia mengerti mengapa sahabatnya itu ingin bertemu. Tentu saja ingin memutus hubungan yang sudah terjalin lama. Wajar jika Kara tidak ingin membangun hubungan dekat bersama para perusak rumah tangganya.


"Papa, apa Tante ini tidak suka Finola?" tanyanya.


"Papa sudah lama tidak menemui Finola. Kenapa Papa tidak bersama mama?"


Sebelah alis Kara naik mendengar mulut manis anak itu. "Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?"


"Biar aku yang tangani," kata Elno. Seraya mengusap rambut Finola, Elno berkata, "Sayang, pendamping Papa cuma Tante Kara. Kamu sudah tau, kan, kalau Ayah Tedy adalah papamu."


"Tapi mama bilang kalau Papa adalah Papa Finola."

__ADS_1


"Itu bukan tanggung jawabku. Aku sudah memberinya penjelasan. Dia masih anak-anak," ucap Tedy.


"Papa asuh, Nak," sahut Kara.


"Finola bingung. Kenapa Finola punya banyak Papa dan Mama?" tanyanya.


"Malah bagus, kan? Jadi, ada banyak yang menyayangi Finola," sahut Elno.


"Tapi ...." Finola memandang Kara dengan rasa takut. "Tante cantik ini tidak suka Finola."


"Tidak, Sayang. Tante Kara lagi sakit gigi, makanya susah untuk tersenyum," kata Elno.


"Finola, kamu boleh menganggap Papa Elno sebagai papamu. Tante tidak akan marah, tetapi Finola tidak boleh merengek jika Papa Elno tidak datang menemui kamu. Papa sibuk dan dia akan punya keluarga baru," ucap Kara seraya berdeham.


Elno tersenyum mendengarnya. "Benar, Finola. Kita bisa bertemu, tetapi bersama Ayah Tedy juga."


"Papa akan sering kasih Finola hadiah, kan?" tanyanya


"Tentu," sahut Kara, "saat kamu ulang tahun."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2