
Beberapa hari setelah pulang dari Bandung, tidak ada pertengkaran di rumah antara suami dan istri. Karena keputusan Kara, semua tampak berjalan baik.
Elno pun membagi dirinya dengan dua istri. Setelah bersama Sari kini ia bersama Kara lagi. Rona bahagia mulai tampak karena rumah dalam keadaan damai.
Hari ini sungguh Kara tidak menyangka akan kedatangan dari mertuanya. Kara masih diperlakukan sama. Keduanya memang tidak menyukainya, tetapi Kara tidak peduli. Elno tidak ada di rumah, sedangkan Sari mendapat off.
Kara berjalan melewati mertuanya yang tengah berbincang bersama Sari. Daripada mendengar sindiran ibu mertua lebih baik ia menyenangi diri di luar.
"Kara," tegur Hesti.
Kara berhenti melangkah, lalu memutar diri menghadap mertuanya. "Ya, ada apa?"
"Elno memberimu semua gajinya, kan? Kenapa kamu cuma memberi Sari lima juta saja?"
"Terus aku harus kasih berapa? Aku sudah membaginya secara adil. Lima belas juta untuk kami bertiga dan lima juta lagi untuk keperluan rumah. Mama mau aku kasih Sari berapa banyak? Lagian Elno cuma kasih uang gaji pokok saja," ungkap Kara.
"Berikan Sari sedikit lebih. Dia punya Finola yang membutuhkan susu."
"Lantas itu urusanku begitu? Menantu Mama itu bukan pengangguran, kan?" ucap Kara. "Aku cuma mengeluarkan uang untuk keperluan rumah saja. Untuk pengasuh serta susu Finola itu urusan Sari."
"Dari awal aku memang tidak ingin punya menantu sepertimu," kata Hesti.
"Sudahlah, Ma. Jangan hiraukan dia," sahut Sanjaya.
"Ma, Kara sudah melakukan tindakan yang adil. Lagian Elno memberiku uang lebih untuk membayar pengasuh dan keperluan anak kami," ujar Sari.
"Nah, dengar sendiri, kan? Kalau mau minta uang bulanan, minta sama Sari saja. Aku tidak mengurus orang luar," ucap Kara, lalu berjalan keluar.
Hesti dan Sanjaya menahan amarah mereka. Memang keduanya datang untuk meminta jatah bulanan. Rupanya gaji Elno sudah berpindah tangan pada Kara.
"Elno ada menitip uang bulanan untuk Mama dan Papa. Jangan khawatir untuk mendapatkannya," kata Sari.
"Untung kami punya menantu baik sepertimu," sahut Sanjaya.
"Hari ini kami bawa Finola ke rumah. Kamu nikmati saja liburan ini sehari," ucap Hesti
__ADS_1
"Iya, Ma. Biar Sari suruh pengasuh untuk siap-siap," katanya seraya beranjak dari sofa.
Sebenarnya Sari tidak terlalu suka dengan mertuanya yang meminta jatah bulanan. Uang Elno harus terbagi-bagi lagi padahal keperluan mereka juga banyak. Gaji pokok Elno di atas dua puluh juta, tetapi tunjangan, bonus serta lembur bisa mencapai delapan puluh juta. Tapi itu kadang-kadang Elno mendapatkannya. Sayangnya uang itu disimpan sendiri oleh suaminya, dan baru Sari tahu jika mobil yang diberikan Elno untuk Kara dibayar tunai dengan uang tabungan.
Sari memberikan uang bulanan dan membiarkan Finola pergi bersama mertuanya. Ia memang butuh menyendiri untuk bersantai. Namun, tidak disangka Elno malah pulang di jam makan siang.
"Kenapa pulang cepat?" tanya Sari.
"Kara mana?"
"Dia keluar," jawab Sari.
"Aku harus ke luar kota untuk dua hari. Ini pulang untuk siap-siap," jawab Elno.
Sari mengambil alih tas kerja Elno, lalu menggandeng lengan suaminya. "Finola dibawa sama Mama. Nanti malam kita jemput dia."
"Oh, siapin aku makan, ya. Laper, nih," kata Elno.
"Kamu bersih-bersih saja dulu. Aku siapin makan untukmu."
Kara pulang lebih awal dari acara jalan-jalannya. Sesampainya di rumah ia heran ada mobil Elno, padahal waktu pulang kantor belum tiba. Kara langsung melenggang membuka pintu. Sepi, tidak ada Finola dan pengasuhnya yang biasa ada di ruang TV.
Mata Kara mencari-cari keberadaan suaminya dan Sari. Mobil mereka ada semua, tetapi batang hidung suami dan madunya tidak kelihatan. Kara berjalan menuju kamar dengan pintu yang tidak rapat ditutup.
Sudah tahu jika mengintip, maka akan ada sakit hati. Namun, rasa ingin tahu itu lebih besar. Kara mematung melihat Sari yang berada di atas tubuh Elno. Keduanya tanpa busana dan terengah-engah atas permainan yang panas. Suaminya pulang karena Sari libur dan mereka melakukan hal itu.
Kara berlari menuju kamar. Kali ini ia tidak salah lihat. Elno melakukan tugasnya sebagai suami. Jantung Kara berdebar. Paru-parunya tersendat untuk bernapas. Kara tidak kuat. Ia menangis sekuat-kuatnya agar sakit itu berkurang.
"Kuat, Kara. Kamu harus kuat," ucapnya.
Tetap saja tidak bisa. Kara berlari masuk kamar mandi. Ia membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin. Di dalam sana ia berteriak. Menangis tersedu-sedu. Pilihannya untuk tersakiti. Pilihannya untuk menerima wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya.
Elno masuk ke kamar Kara dan ia mendengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu di dalam?" seru Elno sembari mengetuk pintu.
__ADS_1
Kara yang mendengar itu mematikan keran air. "Ya, ini aku," jawabnya.
Kara mengganti pakaiannya yang basah dengan handuk kimono, lalu membuka pintu. Kara melewati Elno begitu saja menuju lemari pakaian.
"Kapan kamu pulang?" tanyanya.
"Sejak tadi," jawab Kara.
Elno terkesiap. "Sejak tadi?"
"Kenapa kamu pulang lebih awal?"
Elno meraih tubuh Kara dan menatap wajah yang sembab karena air mata. Kara menurunkan tangan suaminya dan mundur beberapa langkah.
"Aku hanya mandi terlalu lama," kata Kara.
"Dua hari ini aku harus ke luar kota."
"Oh, begitu rupanya."
Elno tahu jika Kara sudah melihat semuanya. Dari mata merah dan sembab itu Elno yakin sekali Kara tetap merasakan sakit hati yang teramat sangat.
"Sayang, dia istriku juga," ucap Elno.
"Aku tau, Elno. Aku baik-baik saja."
"Maafkan aku, Sayang."
"Jangan dibahas lagi. Aku sudah bilang untuk menerima wanita lain di sisimu."
Elno memeluk Kara erat. "Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," ucap Kara.
Bersambung
__ADS_1