
Dengan segala bujuk rayu akhirnya, Kara ikut bersama Elno liburan ke Bali. Dengan syarat kalau mereka tidak akan tinggal satu kamar. Kara tidak ingin memberikan dirinya pada Elno sebelum ada kejelasan pada status mereka.
Mungkin bisa dibilang Kara tidak berkaca seperti masa lalu. Kara bukan merasa sok suci terlebih ia pernah hamil di luar nikah. Karena masa lalu itulah ia ingin berhati-hati dalam arti harus ada perubahan dalam hubungannya bersama Elno. Mereka harus memulai awal hubungan dengan cara yang baik.
Elno juga setuju. Selama berhubungan kembali bersama Kara, ia tidak menyentuh kekasihnya di luar batas. Ia setuju jika hubungan yang baik dimulai dari awal yang baik juga. Setiap keputusan Kara ia setujui jika itu memberi dampak positif bagi hubungan asmara mereka.
"Kamu pernah enggak bermimpi liburan bersamaku?" tanya Elno.
Kara menoleh pada Elno. Angin yang berembus membuat anak rambutnya beterbangan menutupi mata. Dengan kelembutannya Elno menyelipkan helaian rambut di balik telinga Kara.
"Tidak jauh-jauh, kok. Aku cuma ingin kita liburan sekitaran Jakarta saja. Makan di restoran. Jalan-jalan di taman atau nonton bioskop. Itu saja aku bahagia banget. Kamu membelikanku minuman di kafe, aku senangnya bukan main. Enggak hanya itu. Ingat enggak waktu kita minum teh kotak, tapi bagi dua?" tanya Kara.
"Aku bahagia waktu itu, tetapi menyesal juga. Karena aku mengajak kalian jalan, Finola jadi sakit," sahut Elno sedih.
"Mungkin sudah jalannya. Kita masih terlalu muda dan tanpa pendamping dari siapa pun."
"Kuharap setelah ini keadaan semua membaik, Kara," ucap Elno.
__ADS_1
"Semoga karena aku sangat mengharapkannya." Kara tersenyum seraya memusatkan pandangannya ke laut lepas.
Laut tenang dengan langit yang berubah menjadi kekuningan. Sang raja cahaya mulai turun menuju peraduannya. Semakin lama semakin menghilangkan sinarnya.
"Tanpa terasa siang sudah berganti malam," kata Elno.
"Waktu begitu cepat berlalu," timpal Kara.
"Untuk itu aku tidak ingin membuang waktu terlalu lama," sahut Elno dengan meraih tangan Kara. "Di masa lalu aku berbuat kesalahan. Masa kini aku ingin memperbaikinya dengan menjadikan kamu sebagai pendampingku. Sama-sama kita menuju masa depan. Kamu dan aku. Kara, kita nikah, yuk!"
Kara tersenyum. "Kamu melamarku?"
Kara tertawa kecil ketika Elno memperlihatkan sebuah cincin berlian yang jauh hari telah pria itu siapkan. Elno menyematkan berlian itu ke jari manis Kara.
"Aku menginginkanmu sebagai istriku. Bersediakah kamu menerimaku?" tanya Elno.
Kara mengangguk. "Iya, aku mau."
__ADS_1
Elno tersenyum kemudian mendaratkan kecupan lembut di kening. "Sampai enggak bisa berkata apa-apa saking bahagianya."
"Lamaran pertamamu," ucap Kara.
"Ini kali pertama aku mengajak seorang wanita menikah," sahut Elno. "Pertama aku menyatakan cinta padamu, lalu kita menikah karena kecelakaan. Kita belum melakukan prosesnya. Tapi, melamarmu membuatku gugup juga."
"Oh, ya? Kelihatannya kamu lancar saja ngomongnya."
"Kenyataannya jantungku berdetak kencang," kata Elno. "Sumpah, aku enggak bohong. Ini saja keringat dingin. Kamu pegang, deh, kening aku."
Kara meletakkan keningnya di dahi Elno. Ia menaikkan sebelah alis ketika merasakan kulit wajah kekasihnya.
"Tidak ada keringat. Hanya terasa dingin," kata Kara.
"Karena angin yang membuatnya dingin. Sebenarnya tubuhku panas."
Kara menoyor kening Elno. "Ini maunya kamu yang minta dipegang."
__ADS_1
"Curi-curi kesempatan apa salahnya," ucap Elno seraya tertawa.
Bersambung