
Elno kembali ke rumah baru. Rupanya Sari masih tinggal di sana. Ya, mana mungkin Sari pergi dari rumah itu. Lebih parahnya, kedua orang tua Elno ada di sana menemani menantu kesayangan mereka yang bersedih.
Saat masuk rumah, suara tawa dan langkah kecil Finola menyambutnya. Anak yang Elno besarkan, tetapi itu bukan putri kandungnya. Elno tidak tega membenci anak yang tidak tahu apa-apa. Ia raih Finola dalam gendongannya. Elno kecup pipi lembutnya.
Sari serta kedua orang tua Elno lega melihat itu. Akhirnya, Elno ingat akan istri serta anaknya. Tidak lama bersama Finola, Elno memanggil pengasuh dan memerintahkan agar putrinya dibawa masuk ke kamar.
"Akhirnya kamu kembali, Sayang," ucap Sari yang melangkah ingin memeluk Elno.
"Tetap di tempatmu. Jangan dekat-dekat padaku. Kita ini bukan lagi suami istri. Aku sudah menalak tiga dirimu," ucap Elno.
"Aku minta maaf, Elno. Aku salah," kata Sari.
"Siapa ayah kandung Finola?" tanya Elno.
"Dia anakmu."
"Aku tanya sekali lagi. Siapa ayah kandung Finola?"
"Apa yang kamu katakan, Elno?" ucap Sari.
"Jujur padaku, Sari! Siapa ayah kandung Finola?" Elno menegaskan ucapannya.
"Kamu ayahnya!" jawab Sari.
Elno mengepalkan telapak tangannya. Sari masih saja tidak jujur, padahal sudah jelas kebohongannya itu telah terungkap semua.
__ADS_1
"Masih saja kamu berbohong, Sari!" Elno melayangkan tamparan di wajah Sari.
"Elno!" tegur Sanjaya dan Hesti.
"Aku sudah tau semuanya. Finola adalah anak Tedy. Kamu jangan lagi menyangkal itu!" ucap Elno.
Sari menggeleng. "Itu semua tidak benar, Elno."
"Nak, apa yang kamu katakan?" tanya Hesti.
"Lihat, Mama. Menantu kesayangan Mama ini sudah berbohong. Finola itu bukan anakku. Dia anak Tedy!" ungkap Elno.
"Apa benar itu, Sari?" tanya Sanjaya.
"Itu tidak benar, Papa. Finola anak Elno," dustanya.
Sari langsung berlutut di kaki Elno. "Maaf, Elno. Aku salah. Aku minta maaf."
"Tiada maaf bagimu. Pergi dari rumahku!" usir Elno.
"Tidak, Elno. Jangan usir aku," ucap Sari memelas.
Elno muak mendengar permohonan Sari. Ia menyeret wanita itu sampai ke depan pintu. "Kamu bukan istriku lagi! Pergi dari sini!"
"Jangan perlakukan aku seperti ini, Elno. Kasihani aku," pinta Sari.
__ADS_1
"Kasihan? Kamu saja tega menyakitiku."
Tanpa mendengar permohonan Sari lagi, Elno menutup pintu. Kedua orang tuanya tampak syok atas terbongkarnya rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Sari.
"Nak," tegur Hesti.
"Mama dan Papa pergilah dari rumahku," ucap Elno.
"Kami orang tuamu, Nak. Kami juga tidak tau kalau Sari telah berbohong," kata Sanjaya.
"Mama dan Papa pergilah. Jangan lagi mendebatku," ucap Elno lagi.
"Sudahlah, Papa. Kita sebaiknya pergi dari sini," kata Hesti.
Hesti dan Sanjaya pergi dari kediaman putra mereka. Sari masih bersandar di pintu berharap mendapat kesempatan kedua dari Elno.
"Wanita pembohong!" ucap Sanjaya.
"Papa, Sari melakukan ini karena mencintai Elno," ucapnya.
"Murahan!" timpal Hesti. "Sia-sia saja kami menyayangi seorang cucu yang bukan cucu kandung kami."
"Gara-gara kamu, kami terusir dari rumah ini," kata Sanjaya marah.
"Ayo, Papa. Biarkan dia meratapi kesedihannya di sini. Wanita ini pantas mendapatkannya," ucap Hesti.
__ADS_1
Sari mengepal geram karena perkataan orang tua Elno. Dalam sekejap saja keduanya telah berubah. Dari manis dan sayang, jadi benci yang mendalam.
Bersambung