The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Berakhir


__ADS_3

Kara meminta Ilmi untuk meninggalkan dirinya di apartemen sendiri. Ia butuh waktu untuk mengenang segala kesakitan. Lebih tepatnya ada rasa menyesal dalam hati ketika berpisah dari pria yang paling dicinta.


Semua perjuangan dan cinta telah kandas. Keputusan terbaik, tetapi sungguh menyayat hati. Ingin sekali waktu berputar ke masa lalu. Saat keduanya masih hidup dalam serba kekurangan.


Menangis setidaknya mengurangi rasa sakitnya. Air mata berlelehan di pipi terlebih bila mengenang masa-masa indah itu. Kara sesenggukan meratapi perpisahaan ini. Kenapa harus menangis? Kenapa hatinya sakit? Kara masih tidak rela. Namun, mempertahankan Elno akan terus membuatnya berada dalam neraka.


Entah sudah berapa jam Kara duduk dengan memandangi area luar apartemen. Langit biru telah berganti dengan pekatnya warna hitam. Tidak ada kerlap-kerlip bintang yang menghiasi. Seolah mereka tahu jika Kara tengah bersedih.


Rintik-rintik hujan mulai turun. Kara melihat ke atas dan ia tersenyum getir. Semesta seakan larut dalam patah hati yang ia derita sekarang. Langit mencurahkan airnya dari atas sana dengan derasnya. Menemani Kara dalam dukanya.


Sama halnya dengan Elno. Ia tidak kembali ke rumah orang tua, mertua maupun rumah Kara. Elno berdiam diri di kediaman barunya sendiri. Rumah yang rencananya untuk memboyongkan Kara dan Sari.


Lagi-lagi Elno melakukan kesalahan. Masih saja ia ingin kedua istrinya hidup bersama dalam satu atap. Andai ia peka terhadap situasinya. Andai ia bisa mengulang waktu lagi. Elno tidak akan melakukan tindakan seperti itu.


Dulu Kara jauh dari pandangannya, tetapi wanita itu adalah miliknya. Sekarang Kara dekat dengannya, tetapi wanita itu bukan miliknya. Lebih sakit karena perempuan yang dicintai bisa dilihat langsung. Bisa ditemui, tetapi tidak bisa digapai. Kara bukan lagi milik Elno. Bukan lagi istrinya. Bukan cinta dan hidupnya.


Elno tertawa meratapi kesedihannya. Menertawai segala kebodohannya selama ini. Semua sikap yang telah ia ambil atas rumah tangganya. Elno sudah berusaha untuk adil. Ia hanya mencoba menjalani perannya sebagai seorang suami.


"Apa kita benar-benar akan berakhir, Kara?" gumam Elno.


...****************...


"Aku tidak ingin tinggal di rumah mama lagi," ucap Sari.


"Aku sudah sewa rumah untuk kita. Sekarang kita bisa pindah langsung ke sana. Kamu lekaslah berkemas," kata Elno.


"Apa, rumah sewa? Bukannya kita punya rumah baru?"


"Aku akan menjualnya. Uang itu akan dibagi dua untuk Kara," ucap Elno.


Mata Sari membelalak mendengarnya. "Kalian sudah berpisah dan untuk apa kamu memberinya uang?"


"Aku harus membagi hartaku untuknya. Kamu pikir selama ini apa yang telah kuberikan pada Kara. Selama sepuluh tahun apa Kara memakan uangku? Yang ada aku yang selalu merepotkannya."


"Rumah, mobil dan perhiasan semua kamu berikan untuknya. Uang pun juga ingin kamu berikan? Kamu masih waras, Elno?" tanya Sari yang tidak habis pikir dengan pikiran suaminya.


"Semua itu hak Kara!" bentak Elno.

__ADS_1


"Berikan saja semuanya, Elno!" teriak Sari tidak kalah kerasnya. "Pikir dengan isi di kepalamu. Jangan hanya Kara saja yang kamu pikirkan. Di sini masih ada aku dan putrimu, Finola!"


"Keputusanku sudah bulat! Terserah jika kamu mau menerimanya atau tidak!"


Elno melangkah pergi dari kediaman mertuanya. Ia sudah menuruti permintaan Sari dengan menjemput dan memboyong keluarga kecilnya itu ke rumah sendiri meskipun hanya menyewa. Nyatanya Sari tidak terima berdiam di rumah kontrakan.


"Sialan!" pekik Sari. "Masih saja memikirkan Kara. Dia bilang hanya bisa mengontrak rumah? Memangnya aku percaya. Berapa banyak lagi harta yang kamu sembunyikan Elno? Aku tidak akan membiarkan kamu memberikan semuanya pada Kara."


Sari tidak lupa jika Elno bilang rumah yang ia bangun telah ludes terjual. Keuntungan satu rumah bisa mencapai delapan puluh sampai seratus juta per unit jika dihitung kasarnya. Tidak mungkin untuk membeli rumah saja Elno tidak bisa. Sari tidak akan pernah mempercayai itu.


...****************...


"Jadi, rencanamu apa sekarang?" tanya Delia.


"Aku enggak tau. Mungkin bekerja atau apalah. Aku tidak punya keahlian apa-apa dan sekolah pun cuma sampai SMA," ucap Kara.


"Kalau ada modal buka bisnis. Bisa online shop atau restoran. Kafe bisa juga kalau kamu punya modal."


"Rencananya begitu. Kayaknya bisnis kosmetik lagi naik daun sekarang," kata Kara.


"Iya. Coba dulu yang kecil," saran Delia sembari melihat jam di pergelangan tangannya. "Waktu istirahatku habis. Aku kerja dulu."


Kara tersenyum melihat Delia yang semangat bekerja demi membiayai kebutuhan keluarga. Hidup temannya sederhana, tetapi mereka bahagia karena cinta dan kesetiaan di dalamnya.


Tidak ingin melamun saja sendiri, Kara beranjak dari duduknya. Lebih baik ia pulang ke apartemen sambil memikirkan bisnis yang ingin ia kerjakan.


Kara keluar dari restoran setelah membayar minumannya. Ia langsung saja menuju tangga berjalan. Entah jodoh atau apalah. Kara kaget melihat mantan suaminya yang berada di sisi sebelahnya. Jika ia turun, maka Elno naik.


"Kara," tegur Elno.


"Siapa, Elno?" tanya Lolita.


Elno belum menjawab. Matanya terus memperhatikan Kara yang juga menatapnya heran karena membawa seorang wanita lain di sampingnya.


Kara hampir saja terjungkal jika ia tidak ditegur oleh seorang wanita di belakang. Kara berjalan cepat, sedangkan Elno ingin menyusul, tetapi dicegah oleh Lolita.


"Aku ingin bicara denganmu," kata Lolita. "Memangnya dia siapa, sih?"

__ADS_1


"Mantan istriku," jawab Elno.


Lolita menutup bibirnya. "Cewek cantik itu mantan istrimu? Kok, tuh, cewek mau jadi istrimu?"


"Apaan, sih?" sahut Elno kesal.


"Ya, wajahmu tidak terlalu tampan," kata Lolita.


"Sudahlah. Lebih baik kita ke kafe. Kamu ingin bicara apa? Bukannya calon pengantin itu harus dipingit, ya?"


"Kalau kita tidak ketemu di mal, aku juga lupa ingin bicara denganmu," kata Lolita.


Tidak disangka Lolita dan Elno bertemu di mal yang sama. Elno datang karena ada janji dengan pembeli yang akan menawar rumahnya. Sementara Lolita ingin berbelanja.


"Kamu ingin bicara apa?" tanya Elno. Keduanya telah berada di kafe Boba.


"Masih penasaran. Kenapa kamu tiba-tiba menikahi Sari? Padahal kamu bilang sangat mencintai istrimu itu. Enggak disangka kamu malah menceraikan istri yang cantik itu," kata Lolita.


"Baru beberapa hari kami resmi bercerai. Kara tidak bisa berbagi suami. Pokoknya begitulah. Kalau untuk Sari. Sudah jelas aku harus menikahi dan bertanggung jawab padanya. Aku menghancurkan masa depan seorang gadis dan Sari juga hamil waktu itu," tutur Elno.


"Menghancurkan seorang gadis? Maksudmu bagaimana?"


"Bukannya kamu sudah tau aku meniduri Sari?" kata Elno.


"Bentar, deh, Elno. Kok, aku bingung, ya?" ucap Lolita.


"Bingung bagaimana? Kamu juga ada di sana waktu itu."


"Jadi, kamu menikahi Sari karena telah mengambil kesuciannya dan ia hamil?" tanya Lolita.


Elno mengangguk. "Begitulah. Kara tidak terima itu dan kami berpisah."


"Astaga!" ucap Lolita. "Coba kamu ingat kembali kejadian itu, Elno."


"Maksudmu?"


"Elno!" tegur Tedy.

__ADS_1


Elno menoleh. "Oh, sudah datang rupanya. Gabung sini."


Bersambung


__ADS_2