
Sari bersikukuh untuk tetap berada di depan rumah Elno, tetapi mantan suaminya itu tidak bergeming sama sekali. Teriakan serta raungan tangis Sari sama sekali tidak diperdengarkan sampai ia lelah dan tertidur di depan rumah.
Malam semakin larut ketika Sari terbangun. Tiba-tiba saja sudah ada koper juga tas di depannya. Sari tidak sadar kapan barangnya itu tergeletak di luar. Elno telah mengusir dirinya dari rumah juga dari hidupnya. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali.
"Elno!" teriak Sari.
Sama sekali tidak ada tanggapan. Sari menyeret koper juga tas miliknya kemudian pergi dari sana. Sia-sia saja menunggu di depan pintu seperti orang bodoh. Elno sudah tidak punya hati.
Paginya, Elno kembali ke kantor. Sudah beberapa hari ia mangkir dan sudah pasti atasan tidak akan lagi memaklumi alasannya. Kinerjanya memburuk karena permasalahan pribadi. Elno siap jika ia diberhentikan dari pekerjaannya.
"Sudah tau apa kesalahanmu?" ucap Ridwan sang atasan. "
"Maaf, Pak. Saya tidak bertanggung jawab atas pekerjaan saya," kata Elno mengaku salah.
"Saya hanya mencari seseorang yang niat bekerja. Kamu sudah membuat saya kecewa. Hari ini juga kamu saya pecat!"
Elno sudah tahu jika akhirnya begini. Ini salahnya dan ia harus menerima konsekuensinya. Keluar dari ruangan atasan, Elno membereskan semua barang yang masih ada di ruangan yang lama. Ada beberapa rekan kerja yang bersimpati, tetapi mereka enggan untuk membahas alasan kenapa Elno sampai diberhentikan.
__ADS_1
"Terima kasih selama ini telah bekerja sama denganku," ucap Elno.
"Bapak selalu yang terbaik," sahut bawahan Elno.
Ilmi tidak bergabung, tetapi ia melihat saat Elno berpamitan bersama rekan yang lain. Hubungan mereka telah pupus. Muncul di hadapan Elno sama saja mengingatkan luka yang telah ia sebabkan.
"Perusahaan Solomo Group membuka lowongan. Bapak melamar saja di sana," ucap salah satu mantan bawahan Elno.
Elno tersenyum. "Terima kasih sudah memberitahuku. Tapi, aku ingin istirahat sejenak."
"Beritahu saja jika Bapak membutuhkan informasi mengenai pekerjaan," sahut yang lain.
"Iya, aku akan sering menghubungi kalian. Bekerjalah dengan baik. Jangan kecewakan pak bos kita," kelakar Elno.
Langkah Elno tegap meninggalkan perusahaan yang selama ini sudah memberinya banyak pengalaman. Kecewa pasti ada. Tapi Elno yakin jika suatu saat nanti, ia akan mendapat gantinya yang lebih baik.
Sampai di rumah, Elno bertemu Tedy. Seorang teman yang merupakan ayah kandung dari Finola. Kalaupun Tedy ingin mengambil putrinya, Elno tidak akan menghalangi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Elno.
"Kamu tau maksud kedatanganku," ucap Tedy.
"Masih punya hati rupanya."
"Kau tidak ingin mengasuhnya?" tanya Tedy.
"Hak asuh Finola akan ditentukan di pengadilan nanti. Dia masih kecil dan aku harus menyerahkan anak itu pada ibunya. Aku adalah ayah yang diakui, aku berhak mengasuhnya," ucap Elno.
"Elno, bisakah kita kembali seperti semula?" tanya Tedy.
"Kamu tau jawabannya, Tedy. Pergilah dari sini. Untuk Finola, kamu bisa bicara pada Sari. Untuk saat ini biarlah Finola bersamaku. Biarkan aku menghabiskan waktuku bersamanya."
Elno melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu tanpa mempersilakan Tedy untuk masuk. Langkah kecil dan seruan Finola menyambutnya.
"Meskipun nanti Finola diambil, Papa akan selalu menjadi ayah untukmu. Finola tetaplah anak Papa," ucap Elno.
__ADS_1
Bersambung