
"Astaga, Lolita!" pekik Sari.
Wanita itu tersenyum. "Apa kabar?"
"Ba-baik," ucap Sari. "Kapan kamu pulang dari luar negeri?"
"Seminggu yang lalu. Aku pulang karena ingin menikah. Sekarang lagi mau suntik tetanus. Enggak nyangka ketemu kamu di sini."
Pintu kamar rawat terbuka dengan menampilkan sosok Elno. Melihat itu Lolita tersenyum karena tidak menyangka bisa bertemu teman lama.
"Loh, Elno di sini juga rupanya," kata Lolita.
Elno terkesiap mendapati teman satu kampusnya. "Lolita!"
"Apa kamu tidak mengenaliku?"
"Kapan kamu pulang?" tanya Elno.
"Pertanyaan yang sama. Seminggu yang lalu. Aku enggak lagi kerja di Singapura. Pindah ke bank swasta yang ada di sini, dan aku pulang karena akan menikah," tutur Lolita. "Kalian kenapa bisa bersama?"
"Aku dan Sari pasangan suami istri," ucap Elno.
"Apa?" Lolita sedikit kaget. "Bukannya kamu sudah punya istri?"
"Ingat kejadian saat kita minum bersama?"
Lolita tertawa. "Karena tidur satu malam bersama Sari, kamu tidak mungkin menikahinya, kan?"
"Aku sudah—"
"Lolita, kamu ingin bertemu putri kami?" tawar Sari dengan memotong jawaban Elno.
"Boleh juga. Tidak menyangka kalau kalian sudah punya anak."
"Aku tinggal sebentar. Kalian lanjutkan saja," kata Elno kemudian berlalu pergi.
Sari mempersilakan Lolita masuk setelah Elno berjalan cukup jauh dari pandangannya. Lolita memang mengenal Sari meski keduanya kuliah di jurusan berbeda.
"Ada apa ini? Kamu menikahi Elno yang sudah memiliki istri. Apa tidak malu jadi perebut suami orang? Setauku Elno juga saat mencintai istrinya itu," kata Lolita.
"Buktinya Elno menikahiku dan kami punya anak," jawab Sari sembari menunjukkan Finola yang tengah tidur.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Lolita, "seminggu kejadian itu, aku pergi ke Singapura. Kamu menjebak Elno dengan berpura-pura hamil?"
__ADS_1
"Sembarangan kamu!" sergah Sari.
Lolita tertawa. "Aku ingat saat kalian terbangun bersama di kamar, kamu dan Elno seolah menganggap kejadian itu angin lalu. Apa kalian benar-benar tidur bersama?"
"Kamu ini ingin menginterogasiku, ya?"
"Aku terbangun di sofa bersama Ilmi. Nah, Tedy menemukan kalian berada di kamarnya," kata Lolita.
"Aku hamil anak Elno setelah kejadian itu," ungkap Sari.
"Seriusan?"
"Buktinya telah lahir putri kami bernama Finola," jawab Sari.
Lolita mengangguk. "Lalu istri Elno?"
"Mereka sudah bercerai."
Lolita menaikkan sebelah alisnya. "Begitu rupanya. Kalian tidak mengundangku. Aku kira kejadian itu cuma angin lalu. Bukannya kamu sering mengonsumsi pil KB?"
Sari terkesiap mendengar kata-kata Lolita. "Kamu bicara apa, sih?"
"Loh, kan, kamu yang bilang sama aku."
Lolita memandang lekat Sari. Rupanya kejadian di rumah Tedy tidak sesederhana kelihatannya. Sayangnya, Lolita malah berangkat ke Singapura untuk bekerja. Ia sungguh ketinggalan berita.
"Katanya kamu mau suntik tetanus. Mending lekas temui dokter," ucap Sari.
"Oh, sebenarnya hanya prosedur saja. Aku cabut, deh. Semoga putrimu cepat sembuh," kata Lolita.
Sari tersenyum. "Terima kasih doamu."
Lolita keluar dari ruang rawat inap Finola. Sari baru bisa bernapas lega setelah kepergian wanita itu. Bisa-bisanya Lolita kembali setelah beberapa tahun merantau di negeri Singapura.
"Kayaknya situasi ini gawat. Lolita bisa menghancurkan semuanya. Kenapa dia kembali, sih?" gerutu Sari.
...****************...
Sementara itu, Ilmi semakin dekat dengan Kara. Ia selalu menemani ke mana pun Kara pergi. Menghibur hati wanita itu yang tengah bersedih. Kara tampak kuat di depan Elno. Nyatanya ia terpukul atas perceraian ini.
Elno adalah cintanya, dan karena cinta ia harus melepasnya. Hanya menunggu keputusan akhir hingga saat itu hubungan mereka resmi berakhir. Kara akan menyandang status barunya sebagai janda dari Elno.
Apalagi yang bisa dipertahankan? Semua sudah jelas kalau Elno lebih mempertahankan pernikahan keduanya dibanding Kara. Kehidupan baru yang membuat Elno rela membuang cinta lamanya. Tanggung jawabnya pada seorang anak lebih penting ketimbang Kara yang banting tulang demi kehidupan layak mereka.
__ADS_1
"Kamu sudah siap untuk besok?" tanya Ilmi.
"Sepertinya aku tidak perlu datang. Bukankah sudah jelas jika kami sepakat untuk berpisah?" ucap Kara.
"Itu terserah kamu. Aku akan selalu berada di sampingmu," kata Ilmi.
Kara tersenyum. "Terima kasih karena selama ini mendampingiku."
"Selama ini aku selalu memendam perasaanku, Kara. Aku terlambat untuk mengungkapkan semua. Bisakah kamu membuka pintu hati untuk seorang pria sepertiku?" ungkap Ilmi.
"Ilmi, aku tidak berniat menjalin hubungan asmara lagi. Aku takut gagal," ucap Kara.
Ilmi meraih tangan Kara. "Aku akan menunggu sampai kamu siap menerimaku. Bertahun-tahun perasaanku ini tidak berubah. Aku harus merelakanmu bersama sahabat baikku. Untuk kesempatan ini, Kara. Izinkan aku untuk masuk ke dalam hatimu. Mengobati luka yang kamu derita. Izinkan aku membuatmu bahagia."
Kara tersenyum dan membalas genggaman tangan Ilmi. "Terima kasih sudah mengerti diriku."
Hanya ucapan itu yang Kara berikan sebagai jawaban. Rasa tidak enak hati menghantui. Menerima tidak mau, tetapi menolak juga enggan. Ada perasaan yang tidak ingin membuat hati Ilmi terluka pastinya. Lebih karena Ilmi banyak membantunya.
Besok harinya dengan didampingi Ilmi dan pengacara, Kara datang untuk persidangan terakhir mereka. Termasuk Elno yang turut didampingi kuasa hukumnya.
Keduanya duduk saling berdampingan. Mendengarkan hakim berbicara, dan ketukan palu menjadi penanda jika Kara dan Elno resmi bercerai. Mereka bukan lagi pasangan suami dan istri baik secara agama dan negara.
Elno memejamkan mata ketika mendengar keputusan itu. Sementara Kara menundukkan kepalanya. Sedih sudah pasti, tetapi keduanya telah mengambil keputusan yang terbaik.
Kara bangkit dari duduknya lebih dulu. Menjabat tangan kepada pihak yang membantu proses persidangan, lalu keluar bersama Ilmi yang setia sebagai pendamping.
Elno tersenyum getir melihat kedekatan mantan istri dan sahabatnya. Kara saja tidak lagi menoleh padanya. Kebencian itu terlalu besar dan semua ini memang pantas Elno dapatkan. Kara berjalan cepat menuju mobil berwarna hitam. Mobil yang dikendarai Ilmi sebab kendaraan hadiah dari Elno masih berada di rumah lama.
"Menolehlah ke belakang, Kara," ucap Elno.
Sia-sia harapan itu. Kara telah masuk mobil bersama Ilmi. Sabuk pengaman dipasang. Kara mencuri lirik pada pria yang masih setia berdiri di tempatnya. Ia berpura-pura mengusap rambut dengan menoleh ke samping. Melihat Elno dari kaca mobil sudah cukup bagi Kara.
Kenapa tidak menghentikanku, batin Kara.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ilmi.
"Ya, aku baik," jawab Kara cepat, "kita jalan sekarang saja."
Ilmi mengangguk kemudian mengendarai mobilnya ke luar dari gedung pengadilan. Kara ingin cepat sampai di apartemen. Ia tidak kuat menahan sesak di hati. Matanya berkaca-kaca oleh genangan air yang siap jatuh jika Kara berkedip.
"Menangislah, Kara. Jika itu membuatmu lebih baik," ucap Ilmi.
"Aku baik-baik saja. Sungguh!" sahut Kara.
__ADS_1
Bersambung