
Ingar-bingar serta klakson membuat bising di telinga. Elno syok karena kecelakaan yang baru saja dialaminya. Bagian depan mobil telah penyok karena menabrak pembatas jalan. Ia terduduk dengan warga yang menenangkan dan mengipasi dirinya. Seorang wanita memberinya air minum. Elno meneguk satu botol air mineral hingga setengah.
"Elno!" teriak Sari yang berusaha menerobos masuk kerumunan.
Elno masih diam ketika Sari memeriksanya. Dahinya terluka karena benturan, tetapi Elno seolah tidak sadar akan hal itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Sari. "Pak, tolong bantu suamiku."
Beramai-ramai membantu Elno bangkit dari duduknya di atas aspal. Pihak keamanan telah datang untuk menertibkan jalan dan membantu mengurus segalanya.
Sari lekas mengendarai mobil menuju rumah sakit. Elno meringis, rupanya sakit itu baru ia rasakan. Ia memegang kepala, tangan dan kakinya. Semua masih utuh, tetapi ada rasa nyeri yang ia rasa.
"Antar aku ke apartemen Kara," ucap Elno.
"Kamu baru saja terhindar dari maut. Kita ke rumah sakit dulu," kata Sari menolak.
"Antarkan aku ke sana!" bentak Elno.
"Aku tidak tau di mana apartemennya."
Elno mencengkeram lengan Sari kuat. Istrinya itu meringis kemudian menepikan mobil di pinggir jalan.
"Sakit, Elno!" ucap Sari.
"Kamu tau segalanya, Sari. Cepat bawa aku ke apartemen Kara."
"Aku akan membawamu ke sana. Tapi lepaskan dulu tanganmu dari lenganku."
Elno melepas cengkeramannya. Kemudian ia meringis lagi karena rasa sakit di kepala. Elno butuh obat untuk meredakan sakitnya, tetapi menemui Kara saat ini lebih penting dari itu.
Elno mencari-cari telepon genggam miliknya, tetapi ponsel itu tidak ada. Elno tidak tahu apakah pesan suara yang ia kirimkan telah terbaca oleh Kara. Berharap mantan istrinya itu membaca pesannya agar Kara bisa menghindar dari Ilmi.
Di lain sisi Kara keluar dari apartemen menuju lobby di lantai bawah. Awalnya Ilmi meminta untuk langsung mengizinkan dirinya ke atas, tetapi Kara menolak dan memilih menemui langsung temannya itu.
Kara juga tidak menyangka jika Tedy rupanya ikut datang. Semakin jelas dugaannya jika ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Ilmi.
"Hai!" sapa Kara.
__ADS_1
Ilmi langsung saja menarik tangan Kara. "Kamu ikut aku."
"Ke mana?" tanya Kara.
"Kita nikah siri."
"Apa?" Kara kaget setengah mati.
"Iya, Kara. Kita nikah dulu secara siri. Setelah tiga bulan kemudian, kita selenggarakan pernikahan resmi. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku mencintaimu, Kara," ungkap Ilmi.
"Tapi Ilmi, ini menyalahi aturan," ucap Kara beralasan.
"Kita nikah siri dulu. Aku tidak akan menyentuhmu jika belum waktunya. Aku ingin kamu menjadi milikku," desak Ilmi.
"Ini terlalu mendadak. Kamu bilang ingin memperkenalkan diriku dengan orang tuamu."
"Nanti saja. Pokoknya detik ini juga kita menikah."
Ilmi meraih tangan Kara, dan hendak menyeretnya keluar dari gedung apartemen. Namun, Kara berkeras diri menolak. Ia menarik tangannya, lalu mundur beberapa langkah dari Ilmi dan Tedy.
"Aku bisa teriak kalau kamu memaksa," kata Kara.
"Tenanglah dulu, Kara. Lebih baik kamu ikut kami," kata Tedy.
Kara menggeleng. "Apa yang terjadi? Kalian menipuku dan Elno."
Ilmi dan Tedy tersentak mendengar ucapan Kara. Memang Kara telah menerima pesan suara dari Elno yang mengatakan jika dua pria di depannya adalah penipu.
"Apa yang kamu bicarakan, Kara?" tanya Ilmi berpura-pura.
"Kara!"
Ketiganya menoleh. Ilmi mengumpat karena kecelakaan itu malah tidak membuat Elno mati. Berharap sahabatnya itu tiada agar semuanya berjalan lancar.
"Nyawamu rupanya sangat banyak," kata Ilmi.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Kara.
__ADS_1
"Mereka sengaja menghancurkan rumah tangga kita, Kara. Mereka kerja sama untuk menjebakku. Malam itu mereka sengaja membuatku tidur bersama Sari. Aku sudah tau semuanya, Kara," ungkap Elno.
"Lalu?" tanya Kara.
"Finola bukan anakku! Dia bukan darah dagingku," kata Elno.
"Lalu?" tanya Kara lagi.
Elno meraih tangan Kara. "Sayang, mereka semua adalah pengkhianat."
"Sari menjebakmu, lalu Ilmi dan Tedy juga ikut membantu. Pertanyaanku adalah bukankah selama ini kamu menikmati pernikahan itu?" ucap Kara.
"Sayang, apa maksudmu? Kita dijebak dan mereka sengaja menghancurkan rumah tangga kita. Ilmi ingin memilikimu dan Tedy membantunya."
"Kalau aku sudah tau semuanya, apa yang harus aku lakukan? Dari awal aku sudah memintamu untuk menceraikan Sari. Tapi kamu masih bersikeras untuk mempertahankannya. Mengetahui fakta yang sebenarnya juga percuma, Elno. Karena semua itu sudah terlambat."
Ilmi merasa menang karena pernyataan Kara. Percuma Elno mengatakan segalanya karena yang menghancurkan rumah tangga itu sendiri adalah Elno. Ia hanya membuka jalan untuk itu. Jika Elno mencintai Kara, dari awal Sari sudah terdepak.
"Itu karena Finola, Sayang. Aku juga emosi waktu itu," ucap Elno.
Kara menggeleng. "Tidak lagi, Elno. Sekarang kita tidak punya hubungan apa pun lagi. Lebih baik kamu jangan mengangguku."
"Finola bukan anakku, Kara. Aku akan membuktikan itu. Tes DNA semua dikerjakan oleh Tedy dan Ilmi," ungkap Elno.
"Aku tidak peduli itu. Yang jelas hubungan kita telah berakhir dan kamu lebih memilih Sari ketimbang diriku."
"Kara," panggil Elno dengan lirihnya.
Ilmi meraih tangan Kara. "Ayo, Kara. Kita pergi dari sini. Keputusanmu memang sudah tepat."
Satu tamparan mendarat di pipi Ilmi. Kara menarik tangannya dari genggaman pria itu. "Aku tidak ingin bertemu dengan seorang iblis sepertimu. Jangan pernah menemuiku lagi, Ilmi!"
"Kara, aku minta maaf," ucap Ilmi.
"Kuharap kalian semua mati," ucap Kara mengutuk.
Kara memanggil penjaga untuk mengusir keempat manusia yang membuatnya muak. Ia tahu kebenarannya sekarang. Ia bagai lelucon, sebuah boneka yang gampang mereka dipermainkan.
__ADS_1
Sedih dan kaget karena teman yang begitu ia kenal rupanya menghancurkan kehidupan rumah tangganya. Namun, Kara menyadari jika pernikahan itu hancur juga karena tidak ada lagi keadilan baginya. Keputusannya sudah tepat. Merelakan Elno ke pelukan wanita lain.
Bersambung