The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Daftar


__ADS_3

"Sudah malam, sebaiknya aku pulang," kata Kara.


"Biarkan aku mengantarmu."


"Aku bawa mobil sendiri."


"Izinkan aku ikut dari belakang," desak Elno sedikit memaksakan ke hendaknya.


Kara mengangguk. "Kamu boleh ikut."


Keduanya beranjak dari duduknya, Elno membayar dulu biaya makan mereka, lalu keluar bersama menuju parkiran mobil.


Sebelum masuk ke kendaraannya sendiri, Kara memperhatikan mobil Elno. Ini baru terlihat jelas merek dari kendaraan itu. Dari tampilan badannya juga mulus dengan bagian atas mobil dapat dibuka. Setahu Kara mobil itu keluaran negara Jerman dan harganya sekitar dua milyar lebih.


"Kamu jalan dulu. Biar aku ikuti dari belakang," kata Elno.


"Sebenarnya kamu tidak perlu mengantar," ucap Kara.


"Aku ingin bertamu ke tempatmu."


Kara terkesiap. "Ta-tapi aku tinggal di apartemen," ucapnya tergagap.


"Kenapa memangnya? Aku hanya ingin melihat tempat tinggalmu."


"Terserah kalau kamu mau ikut, tapi apartemenku sedikit berantakan," ucap Kara.


"Tidak masalah," sahut Elno. "Bisa kita langsung saja?"


Kara mengangguk, lalu masuk mobil kemudian berlalu dari sana dengan diikuti oleh Elno dari belakang. Sampai di apartemen, Kara mengundang Elno masuk tempat tinggalnya.


Sudah Kara bilang jika tempatnya berantakan. Kertas putih, majalah serta buku tergeletak di meja. Belum lagi pakaian yang berjejer di badan kursi.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengundang orang kemari. Aku membereskan apartemen ketika luang saja," kata Kara.


Elno tersenyum. "Seperti anak gadis saja."


Wajah Kara memerah. Tinggal sendiri membuatnya malas. "Duduklah dulu."


Bergegas Kara memungut pakaiannya dari sofa agar Elno bisa duduk. Bukan pakaian kotor, melainkan pakaian jualan yang dipakai untuk promosi di media sosial.


Tanpa sadar satu benda terjatuh dari tangan Kara. Elno menunduk, mengambil kain berbentuk segitiga warna hitam tepat di bawah kaki Kara.


"Ini terjatuh," kata Elno.


Mata Kara membelalak melihat benda yang tergantung di tangan Elno. Segera saja ia merebut benda itu.


"Sepertinya ada banyak yang terselip," kata Elno. "Biarkan aku membantumu."


"Jangan!" cegah Kara. "Aku bisa melakukannya."


Kara memejamkan mata ketika Elno menarik beberapa dalaman wanita di sofa dan bawah meja. Sungguh Kara belum sempat membereskan semua baju-baju itu, dan ia malah mengundang Elno masuk ke apartemennya.


"Kain yang lembut," ucap Elno.


"Ini bukan punyaku," kata Kara, " maksudku. Kemarin malam aku live di media sosial dan ini semua adalah contoh produk."


"Ukurannya sama seperti milikmu," sahut Elno sembari merentangkan kain penutup depan bagian wanita.


Kara maju mendekat kemudian menyodorkan tangannya. Elno tersenyum tipis, lalu memberikan semua dalaman kepada mantan istrinya.


"Desain yang bagus," ucapnya.


"Duduklah, aku akan buatkan minum," kata Kara, lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Elno tersenyum karena berhasil menggoda Kara. Ia menikmati raut wajah merona wanita itu yang mana semakin membuatnya jatuh cinta. Elno ingin sekali mengecup pipi yang mulus, dan memeluk Kara sembari mengucapkan kata-kata cinta untuknya.


Tidak lama, Kara datang dengan membawa dua cangkir cokelat panas. Elno menyayangkan kenapa Kara membuat susu cokelat. Hal itu tidak baik untuknya karena cokelat membangkitkan gairahnya untuk mendekat pada wanita itu.


"Apa tidak ada pria yang pernah kemari?" tanya Elno tiba-tiba.


"Aku sibuk bekerja dan tidak sempat memikirkan pasangan."


"Tapi aku melihatmu sangat menyukai mainan anak kecil."


Kara menyeruput cokelat panasnya sebelum menjawab, " Hanya menginginkan seorang anak lagi."


Elno memperhatikan penampilan Kara. Mantan istrinya terlihat berbeda. Kara sedikit berani memamerkan bagian yang mengundang pria untuk mendekat. Kaki jenjang yang halus tanpa noda serta blouse ketat bertali yang membentuk kelembutannya.


"Hanya bisa dilakukan jika kamu menikah," sahut Elno.


"Mungkin dua tahun lagi. Di saat usiaku tiga puluh lima tahun," jawab Kara.


"Tidak ingin sekarang?"


Kara tertawa mendengarnya. "Belum ada yang menyatakan niatnya untuk meminang "


"Maksudmu, kamu punya gandengan baru?" tanya Elno.


"Ada beberapa yang aku kenal. Mereka tampan dan mapan. Hanya menunggu kecocokkan saja."


Informasi berbeda yang Elno dapatkan. Delia bilang Kara tidak pernah dekat dengan pria manapun. Lalu, ini apa? Kara punya banyak gebetan yang siap mengantri jadi calon pacarnya.


"Boleh aku jadi salah satunya?" tanya Elno.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2