The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Kisah Kara dan Elno


__ADS_3

Tawa tidak tertahan ketika keduanya telah berada di kamar pengantin. Kejahilan Elno menjadi-jadi. Selalu saja menggangu istrinya yang kini tengah mengganti gaun pengantin dengan jubah mandi.


"Sabar dulu. Aku belum mandi," kata Kara.


Elno mengecup punggung Kara. Belum sempat istrinya itu mengenakan kimono, ia sudah menjelajahi bidang polos itu dengan hujanan kecupan.


"Mandi bareng, ya," ajak Elno.


Kara mengangguk. "Iya, Sayang."


"Makin cinta, deh. Istriku penurut."


Segera saja Elno membuka habis pakaiannya. Kara tertawa melihat bagian yang telah tegak menantang. Masih sama saat terakhir ia melihatnya. Tanpa malu-malu Elno menghampiri Kara, meraih tangan sang istri dan meletakkannya pada sisi itu.


"Hangat," kata Kara sembari mencengkeramannya.


Elno meringis. "Sakit, Sayang."


Kara mengusapnya. "Sayangku."


"Nah, begitu enak."


Kara malah menamparnya beberapa kali yang membuat suaminya menjauh. Elno mengusap miliknya yang semakin tegang dengan wajah cemberut.


"Bukan disayang, malah ditampar," gerutu Elno.


"Dia sangat nakal."


"Kamu akan lihat kenalakannya nanti."


Keduanya masuk kamar mandi. Shower dihidupkan. Masing-masing menggosok tubuh dengan sabun sambil sesekali menyatukan bibir.

__ADS_1


Tubuh Kara merosot ke bawah, tepat berhenti pada bagian bawah perut Elno. Mengecup ujung dari kehormatan seorang pria. Bersamaan jari-jari lentik yang mengusap.


Elno mematikan keran air. Kara mulai masuk, lalu keluar. Masuk lagi, lalu keluar dengan lidah yang menyapu dari pangkal ke ujung. Elno berkicau tidak jelas terlebih Kara yang mempercepat gerakannya.


Menggosok dengan tangan. Masuk ke dalam bibir, lalu mencucup ujungnya yang telah mengeluarkan tanda nikmat.


"Bisa keluar di sini," ucap Elno yang melihat Kara begitu rakus melahap miliknya.


Kara mendonggak seraya menepuk milik Elno pada indra pengecapnya kemudian kembali memenuhi bibirnya pada benda itu.


"Dasar jahil," ucap Elno seraya tersenyum.


Kara bangun dari duduk berlututnya, menyatukan bibir pada Elno. Puas bermain, ia bersandar di dinding dengan satu kaki naik ke atas wastafel.


Elno memposisikan diri. Sedikit menekuk kakinya agar bisa masuk pada kenikmatan yang telah lama menunggu pasangannya datang.


"Sedikit lagi," ucap Kara.


"Akhirnya, dia bertemu dengan jodohnya," ucap Elno.


Kara tertawa. "Sudah lama terpisah dan sekarang menyatu."


"Dia tidak akan memberimu ampun," sahut Elno, lalu bergerak mendesak.


Kara menahan tangan di dinding agar seimbang atas desakan cepat suaminya. Elno terengah-engah, ia memeluk Kara karena telah sampai pada puncaknya.


Kara tertawa. "Malah keluar cepat."


"Tunggu bentar lagi, Sayang. Yang kedua pasti lama."


Kara dan Elno melanjutkan acara mandi mereka. Kemudian kembali melakukan ritual suami istri untuk malam yang masih panjang ini.

__ADS_1


Handuk masih menggulung rambut basah Kara, tetapi ia sudah berbaring di tempat tidur dengan kaki yang dilebarkan.


"Giliranmu," ucap Kara.


Elno mendekat, mengusap lembut pada bagian yang akan memberikan keturunan untuknya. Kara menggigit bibir hanya karena sentuhan ke lima jari jahil itu.


Satu jemari mulai menyentuh, Kara mendonggak, memejamkan mata saat jari itu turun naik secara lembut. Elno melebarkannya perlahan, menggelitik setitik kecil, memutarnya pelan yang berhasil membuat Kara tidak berdaya.


"Sentuh dia, Sayang," pinta Kara lirih.


Elno suka mempermainkan istrinya. Ia menunduk, menyentuh permukaan yang bersih tanpa rambut dengan indra pengecapnya. Suara Kara berat, kedua tangannya menjelajahi tubuh bagian atas.


"Iya, terus di sana," kata Kara.


Elno melaksanakan keinginan istrinya. Mencucup ke hal yang telah basah. Menggelitik pada benda kecil yang mencuat. Menarik pelan kelopak bunga merah yang tengah mekar.


Elno merebahkan diri di atas tempat tidur. Kara menyangga kepalanya pada bantal, lalu ia merangkak naik pada tubuh Elno. Kara duduk dengan dua siku lutut tepat di depan wajah suaminya.


"Lebih dalam, Sayang," pinta Kara.


Desakan Kara rasakan ketika dua jari telah masuk menghunjam. Bersamaan dengan indra pengecap Elno yang mencucup kuat.


Kara mundur sedikit. Berada tepat di bagian yang telah menunggunya sedari tadi. Perlahan, tetapi pasti. Gerakan menanjak terjadi.


Napas tersendat, tubuh yang basah, menjatuhkan Kara di hadapan Elno. Lelah dan puas telah ia capai bersamaan.


Elno membalik posisinya. Menghunjam Kara lebih keras dari sebelumnya. Desakan kenikmatan yang berhasil membuat Kara menjerit.


"Balik tubuhmu," ucap Elno seraya menepuk punggung bawah Kara. Beberapa kali sampai kulit Kara memerah. Kemudian menghunjam lagi lebih dalam sampai Elno benar-benar puas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2