The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Paket Untuk Suami


__ADS_3

Kara seolah ingin lebih menyakiti dirinya lagi. Setelah melihat adegan suami dan madunya, ia menyiksa diri tanpa segan memandang kemesraan antara keduanya, bahkan ikut masuk di dalamnya.


Saat pergi ke kantor, Elno terang-terangan mengecup dirinya kemudian Sari secara bergantian. Awalnya Elno tidak akan melakukan hal itu pada Sari. Namun, ucapan Kara yang membuat itu terjadi.


Kara juga menerima jatah tidur bersama Elno yang tidak menentu. Kadang Kara mendapat satu malam saja untuk bersama suaminya. Ia tidak bertindak agresif seperti Sari yang selalu mengajak Elno ke kamar. Kara hanya akan melayani jika suaminya itu menginginkan dirinya saja.


Elno juga sibuk belakang ini. Ia jarang berada di rumah. Terakhir Elno berangkat ke luar kota dan seterusnya ada saja tugas kantor atau apalah yang mengharuskan suami Kara dan Sari itu ke luar kota maupun lembur.


Waktu terus berlalu dengan penderitaan yang Kara berikan pada dirinya sendiri. Ia jarang keluar rumah dan terus berdiam diri di dalam kamar. Komunikasinya bersama Elno juga berkurang.


Kara semakin menjauh dari sepasang suami istri itu dan semakin sakit hati melihat semuanya. Ia mengurangi intensitas pertemuannya bersama Elno. Setiap habis sarapan, maka Kara akan langsung ke kamar. Ia membiarkan Sari yang mengantar kepergian suaminya ke kantor. Begitu juga ketika Elno datang. Sari pulang dari klinik lebih cepat satu jam dari Elno. Itu sebab ia bisa selalu menyambut kedatangan suaminya.


Malam hari Kara akan bertemu jika Elno bermalam di tempat tidurnya. Kara akui jika suaminya lebih menyukai Sari yang cerewet karena ia selalu berada dalam mode malas bicara.


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Elno.


"Aku baik-baik saja," sahut Kara sembari memungut pakaiannya di lantai.


"Akhir-akhir ini sikapmu berubah. Kita jarang bicara dan permainanmu tidak seperti dulu. Kamu sakit?"


"Maaf kalau kamu merasa tidak puas dengan permainanku," ucap Kara.


Elno meraih tubuh istrinya. Ia kecup pipi Kara yang lembut. "Sayang, ada yang ingin kuberitahukan padamu."


"Apa?" tanya Kara.


"Aku ke luar kota memang dari tugas kantor, tetapi ada hal yang lain juga. Sebenarnya aku punya usaha."


"Benarkah? Itu bagus, Elno. Aku bahagia mendengarnya," sahut Kara tanpa bertanya usaha suaminya.


"Dengar dulu, Sayang. Aku beli tanah di Kalimantan dan hasilnya aku buatin rumah. Enggak nyangka banget rumah sebanyak dua puluh unit laku terjual. Aku bisa bayar hutang bank dan dapat untung," ungkap Elno.


Suatu usaha dengan modal nekat. Elno membeli tanah di Kalimantan dan membangun unit rumah di sana. Sertifikat tanah itu dijadikan jaminan untuk berhutang pada bank.

__ADS_1


Awalnya cuma dua unit yang dibangun. Kemudian ada konsumen yang meminta dibangunkan rumah di tanah milik Elno, dan seterusnya sampai ia berhasil membangun dua puluh unit rumah. Elno ke luar kota juga tengah meninjau lokasi tanah yang ingin ia beli lagi untuk membangun rumah selanjutnya.


Kara tersenyum. "Enggak nyangka kamu bisa sukses, Elno. Aku bangga padamu."


"Rencananya aku ingin berhenti kerja dan fokus pada usahaku ini."


"Semoga kamu selalu sukses. Aku bangga padamu."


Kara tidak heran jika Elno mampu mewujudkan mimpinya. Suaminya memang tipe bekerja keras. Ingat dulu saat mereka masih tidak seperti sekarang. Dari bengkel, kuli panggul sampai bekerja di kelab malam semua dilakukan Elno.


Tiba-tiba air mata Kara jatuh tanpa diundang. Kara segera menghapusnya ketika Elno menemukan tetesan bening itu.


"Kenapa menangis?" Elno mengusap lembut pipi istrinya.


"Ini air mata kebahagian. Aku bangga padamu, Sayang," ucap Kara.


Elno mengecup kening Kara. "Ini semua berkat kamu juga."


Kara menggeleng. "Tidak. Ini semua hasil kerja kerasmu. Ini kejutan untukku. Sungguh aku enggak nyangka banget."


"Ya, aku akan ikut bersamamu," ucap Kara.


...***************...


Sabtu cerah bagi keluarga. Elno membagi kabar bahagia itu kepada Sari dan membuat wanita itu kaget sekaligus senang. Sari memeluk Elno erat dan memberi kecupan mesra atas keberhasilan suaminya. Kehebohan itu disaksikan dengan mata kepala Kara sendiri. Jika ia menangis, maka Sari tertawa bahagia.


Suara klakson motor serta seruan orang di luar mengganggu acara kebahagian itu. Elno segera berjalan ke depan pintu yang terbuka. Melihat abang kurir yang berdiri dengan memegang sebuah amplop cokelat.


"Ada apa, Pak?" tanya Elno.


"Paket, Pak. Dengan Bapak Elno Sanjaya?"


"Betul. Saya sendiri," jawab Elno.

__ADS_1


"Ini paketnya," kata abang kurir setelah memotret lebih dulu paket itu untuk diserahkan.


"Terima kasih," ucap Elno sembari membolak-balik amplop cokelat yang hanya ada nama serta alamatnya saja.


"Kiriman siapa?" tanya Sari ketika Elno sudah masuk ke dalam.


"Untukku," jawab Elno, lalu membuka isi dari amplop itu dan menarik kertas di dalamnya. Raut wajah Elno berubah ketika membaca huruf yang tercetak tebal di sana. "Sari, kamu bawa Finola ke rumah mama sekarang."


"Ada apa, Elno?" tanya Sari.


"Jangan banyak tanya! Cepat keluar dari sini!" ucap Elno marah.


Sari lekas mengajak Finola dan pengasuhnya keluar rumah. Beberapa saat keadaan jadi hening sampai suara mesin mobil terdengar kemudian menjauh dari rumah mereka.


Elno menghempaskan surat itu ke meja. "Surat apa ini, Kara?" ucap Elno marah.


"Kamu sudah membacanya dengan jelas," sahut Kara.


"Tega kamu! Sikapmu berubah karena berencana memberiku surat gugatan cerai ini, kan?" Elno menggebrak meja. Meremukkan surat itu dengan segala amarah dalam dirinya.


Kara bangkit dari duduknya. Ia menghadapi Elno dengan tenang. "Aku pernah bilang padamu. Jika aku tidak tahan, maka biarkan aku pergi. Aku tidak kuat, Elno. Selama beberapa bulan ini aku tersiksa. Aku tidak bahagia dan satu-satunya yang bisa kulakukan agar terbebas dari semua ini adalah kita bercerai."


"Pernikahan kita sudah terjalin lama, Sayang. Kita susah bersama dan kini aku bisa sukses dan hidup kita bahagia. Kenapa Kara? Kenapa kamu melakukan ini? Aku baru saja ingin membuatmu bahagia."


"Aku tidak butuh itu semua, Elno. Aku cuma butuh suamiku. Aku tidak sanggup berbagi. Tidak sanggup dibandingkan. Tidak sanggup melihat suamiku mencintai wanita lain. Tidak sanggup melihat kemesraan kalian berdua. Sudah cukup, Elno. Jangan siksa aku. Di antara kita sudah tidak ada lagi cinta. Aku tau di mana posisiku di hatimu."


"Aku selalu mencintaimu, Kara. Kamu tau betapa besarnya cinta itu," ucap Elno lirih.


"Tanggung jawabmu lebih besar dari cintamu padaku, Elno. Tanggung jawab itu juga yang membuatmu mencintai wanita lain, dan aku hanya menginginkan keutuhan cinta darimu. Aku sudah pernah memintamu memilih dan kamu tidak sanggup untuk memilihku. Daripada tersiksa lebih lama lebih baik aku yang mundur."


Kara hendak melangkah pergi, tetapi Elno mencegah dengan memeluknya. "Jangan, Sayang. Jangan lakukan ini padaku. Aku tidak ingin kita berpisah."


Perlahan Kara melepas pelukan suaminya. "Kamu bisa memilihnya."

__ADS_1


Kara melangkah pergi menaiki anak tangga satu per satu. Dalam kondisi seperti ini anehnya air matanya justru tidak mengalir. Mungkin ia terlalu lelah menangis dan berubah menjadi sosok yang tegar.


Bersambung


__ADS_2