The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Titik Terang


__ADS_3

"Aku memang berjanji pada Tedy untuk bertemu di sini. Dia punya pembeli yang akan menawar rumahku," ucap Elno menerangkan kemunculan Tedy tiba-tiba.


Lolita tersenyum. "Hai, Tedy!"


Tedy mengangguk, lalu duduk di dekat Elno. "Kalian membicarakan apa?"


"Oh, Lolita ...."


"Aku hanya menanyakan kabar Elno saja. Kita sudah lama tidak bertemu," potong Lolita cepat.


Elno menaikkan sebelah alisnya karena heran dengan gelagat gugup dari Lolita. Raut wajahnya berubah setelah Tedy bergabung.


"Bagi nomor kontak kalian. Aku akan menikah dan kalian semua harus datang," ucap Lolita mengalihkan suasana curiga dengan mengulurkan ponsel.


"Aku kira kamu akan betah melajang," sahut Tedy.


Elno meraih ponsel Lolita, lalu menyimpan nomornya di sana. "Dia juga ingin merasakan surga dunia," kelakar Elno.


Giliran Tedy yang memasukkan nomor ponselnya. "Benar juga. Lolita perlu penerus."


Lolita tersipu malu dengan mengambil kembali ponselnya. "Apaan, sih? Ada yang mau melamar lebih baik aku terima. Oh, ya, aku duluan, deh. Mau belanja soalnya. Temanku sudah menunggu."


"Oh, silakan. Kapan-kapan kita makan siang bersama," ajak Elno.


"Setelah aku menikah tentunya. Aku akan ajak suamiku nanti," sahut Lolita kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi dari hadapan Elno serta Tedy.


"Kalian membicarakan apa?" tanya Tedy. "Lolita tau kamu menikahi Sari?"


"Oh, dia ...."


Ponsel bergetar. Elno menghentikan kalimatnya untuk membaca pesan baru dan ia mengerutkan kening karena pesan itu dari Lolita.


Ada yang ingin aku sampaikan tentang kejadian di rumah Elno. Jangan sampai Tedy mengetahui hal ini.


"Aku di sini kamu malah bermain ponsel," tegur Tedy.


"Dari Sari," dusta Elno.


"Jadi, Lolita bicara apa padamu?" tanya Tedy sekali lagi.


"Kamu sungguh ingin tau apa yang aku bicarakan pada Lolita? Kami cuma mengobrol biasa. Aku cuma bertanya tentang kepindahannya di sini. Lagian kami tidak sengaja bertemu."


Tedy tidak lagi bertanya lebih lanjut. Pembeli yang mereka tunggu telah datang dan topik mengenai Lolita berganti menjadi membahas rumah.


...****************...

__ADS_1


"Aku menunggumu sejak tadi," kata Ilmi.


"Aku habis bertemu Delia. Rencananya aku ingin membuat sebuah online shop," ucap Kara sembari mengajak Ilmi masuk ke apartemen miliknya.


Sebenarnya Kara agak terganggu dengan kedatangan Ilmi. Namun, hatinya merasa tidak enak untuk mengusir atau menolak kedatangan pria itu. Kara membiarkan hubungannya berjalan bersama Ilmi begitu saja. Tapi tindakan Ilmi seolah mereka adalah pasangan kekasih.


"Aku ingin mengajakmu bertemu orang tuaku," kata Ilmi.


"Apa?" Kara kaget, "bertemu orang tuamu, untuk apa?"


"Kita masuk dulu," kata Ilmi.


Kara membuka pintu, lalu melangkah masuk disusul oleh Ilmi yang mengekor dari belakang. Pintu ditutup kembali dan keduanya duduk di sofa panjang.


"Aku ingin mengenalkanmu kepada papa dan mamaku. Aku ingin melamarmu," ucap Ilmi.


"Maaf, Ilmi. Tapi aku baru sah menjadi janda Elno. Setidaknya menunggu sampai masa iddah itu berakhir. Lagipula aku tidak berniat untuk menikah kembali," kata Kara.


Ilmi meraih tangan Kara. "Kamu sudah mengizinkanku untuk menggantikan posisi Elno di hatimu. Kita akan menikah setelah masa iddahmu. Ini hanya perkenalan biasa. Aku ingin kamu dikenal sebagai kekasihku."


Kara melepas genggaman tangan Ilmi. "Bukan begitu, Ilmi. Aku menganggapmu teman dan rasanya ini terlalu mendadak."


"Aku tau kamu pasti kaget akan permintaanku. Kamu butuh pendamping Kara. Kamu butuh seseorang yang akan melindungi kamu. Aku mohon beri aku kesempatan," ucap Ilmi sedikit mendesak agar Kara menerimanya.


"Aku akan menunggumu. Ini hanya perkenalan biasa saja. Aku hanya ingin memberitahu kedua orang tuaku bahwa ada wanita yang kucintai," ucap Ilmi.


"Baiklah. Aku akan datang menemui orang tuamu," kata Kara setuju.


Ilmi langsung saja memeluknya. Kara kaget dengan mata melotot karena tidak menyangka Ilmi bakal senekat ini.


"Lepasin aku, Ilmi," ucap Kara.


"Oh, maaf. Aku hanya bahagia saja."


...****************...


Rasa penasaran membuat Elno ingin menemui Lolita di rumahnya. Ia tidak ingin menunda waktu lagi terlebih Lolita mengungkit kejadian di rumah Tedy waktu itu.


Lolita membawa Elno ke taman belakang rumahnya. Karena acara pernikahan sebentar lagi, maka di rumah sedikit ramai dengan kedatangan kerabat. Lolita bahkan meminta dua orang sepupunya sebagai saksi agar tidak menimbulkan kesalahanpahaman karena bicara dengan pria asing.


"Karena pesanmu itu, aku tidak ingin menunda untuk bertemu. Aku jadi enggak enak datang ke tempatmu," ucap Elno.


"Bagus kalau kamu datang. Aku sungguh tidak bisa tidur jika tidak menuntaskan rasa penasaranku. Maaf, Elno, tetapi katakan sebenarnya apa yang terjadi," kata Lolita.


"Sudah jelas yang aku katakan. Sari tidak terima aku menidurinya dan memintaku bertanggung jawab."

__ADS_1


"Saat itu kami memang kaget karena mendapati kalian berdua dalam satu kamar. Terlebih kamu dan Sari tidak berpakaian. Bukankah saat itu kita langsung pulang?" kata Lolita.


"Aku tidak sadar apa yang terjadi. Sebulan setelah itu Sari datang dan mengatakan dia hamil. Aku harus bertanggung jawab padanya."


"Apa waktu itu kamu melihat noda merah di seprai?"


Elno tertegun. "Memangnya harus selalu ditandai dengan darah?"


"Tidak, sih. Aku hanya penasaran karena kamu menikahinya, padahal sudah memiliki istri."


"Awalnya aku menolak. Maksudku kita sama-sama mabuk. Pikiran liarku menganggap itu hanya kesenangan satu malam. Rupanya Sari tidak berpikir demikian. Sari wanita baik dan aku mengambil kesuciannya dan membuatnya hamil," ungkap Elno.


"Ya, ampun, Elno! Pikiranmu memang kacau. Memangnya kamu mengenal Sari berapa lama?" tanya Lolita.


"Aku cuma mengenalnya. Dia teman satu sekolah Kara. Kami memang tidak akrab, tetapi aku tau dia," ucap Elno.


"Aku tidak tau masalah kejadian waktu itu bagaimana jelasnya. Aku juga mengira itu kesenangan satu malam karena kita sering melakukannya bersama pasangan. Kita juga sama-sama dewasa. Di sini aku ingin memberitahumu suatu hal," kata Lolita.


"Katakan saja," ucap Elno.


"Kamu bukan pria pertama bagi Sari," ungkap Lolita.


"Bukan pria pertama? Maksudmu, aku bukan mengambil kesuciannya?"


Lolita mengangguk. "Saat tidur bersamamu, itu bukan kali pertama bagi Sari. Dia juga pernah bilang sering mengonsumsi pil KB."


Mata Elno membelalak. "Lolita, kamu serius dengan apa yang kamu katakan?"


"Aku mengenalnya, Elno. Lelaki pertama Sari bukan dirimu," ungkap Lolita.


Elno terperangah. "Aku masih tidak mengerti. Lalu, kejadian waktu itu bagaimana? Sari hamil dan aku juga telah tes DNA."


"Justru aku kaget saat kamu bilang adalah pria pertama bagi Sari, dan aku menganggap perbuatan kalian itu hanya bersenang-senang biasa."


Elno menggeleng. "Aku harus meminta penjelasan pada Sari."


"Sabar dulu, Elno," ucap Lolita.


"Apalagi, dia telah membohongiku. Aku merasa bersalah karena menghancurkan masa depan seorang gadis."


"Selidiki dulu. Ingat-ingat lagi kejadian waktu itu. Kita berlima sama-sama mabuk," kata Lolita.


"Terima kasih, Lolita. Aku akan cari tau masalah sebenarnya. Sari sungguh keterlaluan karena membohongiku," ucap Elno kemudian berpamitan pulang pada Lolita.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2