
Elno terduduk di tepi tempat tidur dengan mencengkeram kuat rambutnya. Ia baru tersadar atas apa yang telah diucapkan pada Kara tadi. Jantungnya berdetak kencang. Ia panik karena istri yang ia cintai sudah terlepas dari sisinya.
"Apa yang telah kulakukan tadi?" ucap Elno. "Istriku, Kara. Tidak! Aku tidak bisa kehilangan dia."
Elno beranjak dari duduknya. Keluar kamar dan segera menuruni anak tangga. Kunci mobil diambil dari laci dan lekas menyusul Kara sebelum semuanya terlambat.
Mobil keluar dari halaman rumah. Melaju menyusuri jalan perumahan, tetapi sosok yang dicari sudah tidak ada di sana. Elno terus mengendarai mobil sampai di jalan besar. Matanya melihat ke sisi kiri dan kanan hendak menemukan sang mantan istri.
Cara satu-satunya untuk mendapat Kara adalah dengan rujuk. Elno masih punya kesempatan karena ia baru mengajukan talak untuk pertama kalinya. Ia bisa mencari saksi dua orang setelah itu mengajukan rujuk pada Kara.
"Di mana dia?" ucap Elno.
Mobil berhenti di tepi jalan. Elno mengambil ponsel dari sakunya kemudian menelepon Kara. Panggilan itu tersambung, tetapi tidak diangkat. Elno harus menemukan Kara secepatnya untuk mengajukan niatnya itu.
Bodohnya Elno yang mengucapkan kata cerai pada Kara. Ia emosi lantaran tidak berpikir jernih. Ucapan itu tercetus begitu saja tanpa bisa dicegah. Penyesalan. Kenapa penyesalan itu selalu datang terlambat? Kenapa pikiran jernih itu kembali saat semuanya telah berakhir?
Elno percaya pada istrinya. Kara tidak akan mengkhianati cinta mereka. Ia mengenal Kara lebih dari siapa pun. Kara yang rela hidup susah bersamanya. Rela berkorban demi masa depannya. Elno menyadari ia telah menyakiti perasaan Kara sangat dalam. Tapi, semua itu telah terlambat. Memulai kembali pun belum bisa.
"Di mana dia?" ucap Elno lirih.
...****************...
Kara sampai di apartemen yang baru ia beli. Apartemen dengan model studio. Cukup untuk ia tinggali seorang diri. Kara merogoh kocek sekitar tiga ratus juta untuk mendapatkan bangunan kecil itu.
Saat ini ia tidak tahu harus melakukan apa. Hidupnya baru setengah bebas. Masih ada beberapa kesempatan yang mengharuskan Kara untuk datang ke pengadilan agama untuk berpisah dari Elno secara sah.
Telepon masih terus berdering. Panggilan dari Elno, tetapi Kara tidak ingin mengangkatnya. Untuk apalagi menghubungi jika Elno sendiri yang telah memutuskan hubungan mereka.
Tuduhan Elno terlalu menyakitkan. Tanpa bukti jelas suami yang ia cintai menceraikannya. Bukankah Kara menginginkan hal ini terjadi? Lalu, kenapa ia merasakan ketidakrelaan itu? Hatinya yang paling dalam tidak terima semua itu.
"Jangan menangis. Ini sudah jalannya," ucap Kara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tetap saja air mata itu meleleh. Terlebih mengingat kebersamaan mereka. Perlakuan Elno yang begitu lembut dan kasih padanya. Kara ingin kembali di masa ia masih mengenakan seragam sekolah. Di masa mereka masih hidup dalam sepetak rumah sewa.
Bahagia! Itulah yang Kara rasakan. Selalu berbagai antara ia dan Elno. Namun, tidak seperti sekarang. Semenjak ada wanita itu. Elno membagi dirinya pada Kara dan Sari. Dulunya sepiring berdua, tetapi sekarang sepiring bertiga. Kini piring itu telah terbelah. Membuat isi di dalamnya berhamburan. Bisa diperbaiki, tetapi tentulah tidak sama seperti awalnya.
Kara merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia memejamkan mata. Lelah dan seketika ia hanyut dalam buaian mimpi. Mungkin ini akan menjadi tidur yang paling nyenyak untuk Kara.
...****************...
Elno kembali ke rumah ibunya karena di sana ada Sari. Ibunya menelepon menanyakan keputusan Elno yang membuat orang tuanya terkejut. Tentu saja. Siapa yang ingin kehilangan menantu seorang dokter. Orang tua Elno tidak ingin kehilangan menantu yang membuat mereka bangga.
"Sadar atas apa yang kamu ucapkan?" kata Hesti.
"Kamu sudah punya anak, Elno. Pikirkan Finola," timpal Sanjaya.
"Apa alasanmu untuk menceraikan Sari? Dia wanita baik. Memberimu anak dan selalu mendukungmu. Jangan hanya karena cinta, kamu mengambil keputusan yang salah. Sari selama ini yang ada di dekatmu," sambung Hesti.
"Kara juga dulu bersamaku. Kalian tidak tau betapa susahnya kami dulu," kata Elno.
"Kami tau, Nak. Kami tau waktu kamu memohon kemari untuk biaya rumah sakit Finola. Sekarang sudah berubah, Elno. Bukan kamu yang menceraikan Kara, tetapi dia yang tidak ingin bersamamu. Jangan memaksakan kehendak. Kara ingin berpisah, maka kabulkan keinginannya," tutur Sanjaya.
"Jelas tidak," jawab Sanjaya.
"Begitu juga denganku. Kara adalah wanita yang aku cintai."
Sari yang mengintip dari balik tembok ruang tamu kesal atas ucapan suaminya. Elno masih saja mengucapkan cinta pada Kara. Sekuat apa cinta itu hingga Elno tidak sanggup melepasnya. Sari mengambil Finola dari tangan pengasuh. Si kecil Finola sudah pandai berjalan meski tertatih-tatih. Ia biarkan putri kecil itu berjalan menghampiri sang ayah.
Finola tertatih-tatih berjalan menghampiri Elno. Suaranya yang lucu menenangkan hati sang ayah yang kalut. Elno mengulurkan tangannya menyambut kedatangan sang putri.
"Lihat Finola, Nak. Apa kamu tega meninggalkan putrimu sendiri?" ucap Hesti.
"Mungkin jodohmu bersama Kara harus sampai di situ saja. Buat keputusanmu dengan benar, Nak. Pikirkan Finola," kata Sanjaya.
__ADS_1
Elno tersenyum memandang putrinya. "Bagaimana aku bisa melupakannya? Putri kami ada di sini. Nama Finola adalah pemberian Kara. Ingat Finola, maka aku akan mengingat Kara."
Jelas ucapan Elno membuat semuanya kaget. Nama Finola memang diambil dari mendiang putri Elno dan Kara. Tentu saja Elno akan selalu mengingatnya.
"Sekarang apa keputusanmu?" tanya Sanjaya.
"Aku ingin kembali bersama Kara," jawab Elno.
"Kara sudah meminta pisah darimu," kata Hesti.
"Aku akan memintanya rujuk."
Elno beranjak dari duduknya. Ia hendak melangkah keluar, tetapi suara Sari menghentikannya.
"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku, Elno," ucapnya.
Elno menatapnya tajam. Gara-gara omongan Sari ia sampai mengucapkan kata perceraian kepada Kara. Elno tidak akan mengatakan jika ia dan Kara telah berpisah secara agama. Masih ada kesempatan bagi Elno untuk rujuk pada Kara.
"Nak, jangan ambil keputusan gegabah," ucap Hesti mengingatkan.
"Untuk saat ini jangan mengangguku. Aku ingin sendiri," kata Elno, lalu melangkah keluar.
Finola menangis dan langkahnya kembali terhenti. Elno menatap putri kecilnya. Sekarang ia diuji dalam sebuah pilihan. Berpisah dari Sari, maka akan kehilangan putrinya. Juga alasan bila memang niatnya untuk berpisah.
"Lihat, Nak. Jangan terlalu kejam pada anak sendiri," ucap Hesti. "Dia membutuhkanmu."
Sari menitikkan air mata. "Kasihani anakmu, Elno. Jangan karena cinta, kamu memisahkan anak dari ayahnya."
"Dia membutuhkanmu, Elno," timpal Sanjaya.
"Aku memang sudah menceraikan Kara," ucap Elno akhirnya.
__ADS_1
Raut wajah ketiganya berubah cerah. Sari memeluk Elno karena bahagia. Akhirnya, Kara berhasil keluar dari hidup mereka dan kini Sari akan kembali di masa awal mereka menikah.
Bersambung