The Wife ( Istri Yang Teraniaya )

The Wife ( Istri Yang Teraniaya )
Mengenang


__ADS_3

"Kamu bilang waktumu cuma hanya ada satu jam. Tapi aku sudah menunggumu di taman kota selama lima belas menit," ucap Sari.


"Kamu pikir gampang apa meminta izin dari kantor. Aku juga harus memastikan Elno telah kembali," sahut Ilmi.


"Sudahlah, lupakan itu. Kita bicara di sini atau di tempatmu?" kata Sari.


"Sebaiknya di sini saja. Terlalu membuang waktu untuk ke tempatku. Katakan hal apa yang membuatmu ingin bertemu?"


"Lolita telah kembali dan dia sangat kaget mengetahui fakta kalau aku menikah dengan Elno. Dia tau diriku dan aku takut jika dia berbicara yang tidak-tidak dengan Elno," tutur Sari.


Ilmi berdecak, "Sialan! Kenapa dia harus kembali? Memangnya apa rahasiamu?"


"Elno bukan pria pertama dalam hidupku, sedangkan aku mengaku masih suci dan mengancamnya untuk bertanggung jawab."


"Itulah kesalahamu, Sari. Seharusnya katakan saja yang sebenarnya. Lagian kamu memang hamil anak dari Elno. Meskipun begitu, dia tetap menikahimu," kata Ilmi.


"Wah! Kamu sudah mendapatkan milikmu, dan sekarang menyalahkan diriku. Apa yang terjadi jika Elno tau kamu mengkhianati dirinya? Kamulah yang merencanakan pesta itu dan membuatnya mabuk demi seorang wanita yang tidak tau kapan dia kembali."


Ilmi tertawa. "Hubungan persahabatanku dengan Elno sudah berakhir dan Kara telah menjadi milikku. Sudah cukup Elno bersama wanita yang kucintai. Aku sudah menahannya dari bertahun-tahun lalu, dan akhirnya kesempatan itu datang. Perlu kamu ketahui, Sari. Ide itu tiba-tiba saja tercetus di otakku."


"Oh, rupanya itu rencana kalian semua?"


Sari dan Ilmi terlonjak kaget kemudian keduanya menoleh ke belakang. Keduanya bernapas lega karena yang datang adalah sekutu mereka.


"Kamu yakin jika Finola itu anak Elno?" tanya Tedy.


"Ini dia biangnya," kata Ilmi.


"Apa kalian tidak merasa bersalah pada Kara dan Elno? Mereka saling mencintai, tetapi kalian tega memisahkannya," ucap Tedy.


"Tidak ada ruginya," sahut Sari.


"Benar. Sari mendapatkan Elno dan aku mendapatkan Kara," timpal Ilmi.


Tedy bertepuk tangan. "Lalu, aku hanya sendiri? Aku bahkan mengorbankan perasaanku."


"Itu sudah takdirmu, Tedy," kata Sari sembari tertawa.


"Sungguh aku tidak menyangka rencana mendadak itu berhasil," kata Ilmi sembari mengingat kejadian dulu.


Elno yang kecewa pada Kara menemui Tedy dan Ilmi. Sebagai sahabat, keduanya menghibur Elno yang bersedih. Ilmi memesan minuman beralkohol dan Tedy mengundang Sari ke rumahnya. Tidak disangka Sari malah membawa Lolita bersamanya.


"Dia tidak mencintaiku," kata Elno, "Kara lebih suka di luar negeri daripada bersamaku. Aku sudah sukses sekarang. Aku bisa memberinya apa pun, tetapi dia tidak ingin pulang."


"Sudahlah, Elno. Lebih baik kamu minum. Setidaknya itu bisa menjernihkan kepalamu," sahut Ilmi.


"Lebih baik bersenang-senang," timpal Tedy.

__ADS_1


"Alkoholnya terlalu kuat. Sekali minum kepalaku pusing," kata Lolita.


Tedy tertawa. "Minummu payah. Satu gelas lagi."


Tedy menyodorkan satu gelas kepada Lolita dan membuat wanita itu menghabiskannya. Ilmi dan Sari juga turut memberi Lolita minuman hingga wanita itu teler.


"Kemampuan minumnya sangat buruk," kata Ilmi.


"Biarkan saja dia tertidur di sofa," sahut Sari. "Kita lanjutkan lagi pestanya."


"Ayo, Elno. Kita bertaruh minuman," kata Tedy.


Elno menggeleng. "Tidak, aku harus pulang. Kara akan marah jika mengetahui aku minum alkohol."


"Satu gelas saja," desak Ilmi kemudian membuat Elno meneguk satu gelas minuman.


Sama halnya dengan Lolita, Elno punya kemampuan minum yang buruk. Tedy dan Ilmi terus memberi Elno minuman sampai tidak sadarkan diri.


"Elno sungguh mencintai Kara. Aku sungguh sangat iri padanya. Punya suami setia dan sukses," kata Sari.


"Kamu suka pada Elno?" tanya Ilmi.


"Dari dulu, tapi aku tidak bisa mengalahkan gadis populer di sekolah," jawab Sari.


"Aku juga menyukai Kara, tetapi Elno yang mendapat keuntungan itu. Sebenarnya akulah yang seharusnya menjadi pasangan Kara," kata Ilmi.


"Aku harus mendapatkan Kara," kata Ilmi bertekad.


"Apa maksudmu?" tanya Tedy. "Jangan macam-macam, Ilmi."


"Oh, kamu lupa kejadian enam bulan lalu? Kekasihmu tiada karena Elno telat menyelamatkannya. Dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada membantu sahabatnya sendiri."


"Aku juga mendadak memberitahunya. Kekasihku kecelakaan mobil dan membutuhkan donor darah dan saat itu Elno tengah bersama atasan kalian," kata Tedy. Ia mengumpat kesal. "Sialnya golongan darah mereka sama."


"Elno bisa meminta izin, tetapi dia tidak melakukannya. Dia datang setelah semuanya terlambat," ucap Ilmi.


"Sudahlah, lebih baik kalian bawa Elno ke kamar. Kalian ingin membiarkannya tidur di lantai?" kata Sari.


"Biar aku membawanya," ucap Tedy.


Ilmi turut membantu memindahkan Elno ke kamar Tedy, setelah itu keduanya kembali berpesta. Ilmi sudah mabuk lebih dulu, tetapi ia masih tersadar saat melihat Sari dan Tedy bermesraan.


"Kalian ke kamar sana," usir Ilmi.


Tedy membawa Sari ke kamar yang mana di tempat tidur juga ada Elno. Sementara Ilmi tidak sadarkan diri bersama Lolita.


Elno mengeluh ketika ia merasakan guncangan di tempat tidur. Tedy yang tengah berada di atas Sari segera turun dari tempat tidur, lalu keluar.

__ADS_1


"Kara," ucap Elno seraya beringsut duduk, lalu memijat kepalanya. "Kepalaku pusing."


"Sayang, ini aku," ucap Sari.


Elno mengerjap untuk melihat secara jelas sosok di depannya. Namun, kepalanya yang terasa berat tidak membuatnya tersadar siapa sebenarnya wanita di depannya itu.


"Kara," ucap Elno lagi.


"Iya, Sayang," sahut Sari.


Sari mendorong tubuh Elno agar terbaring kembali. Ia membuka habis pakaian yang dikenakan oleh Elno kemudian memegang titik sensitifnya.


"Ini aku, Kara," bisik Sari.


Elno bergumam, "Sayang."


Keduanya melakukan hubungan itu setelah Sari melakukannya terlebih dulu bersama Tedy. Pagi harinya Elno tersadar ketika Tedy memergoki mereka. Disusul oleh Ilmi dan Lolita yang kaget akan kejadian itu.


"Lebih baik aku segera pulang," kata Sari.


"Ya, aku juga harus pulang," sahut Elno.


"Kalian bersenang-senang rupanya," timpal Lolita. "Aku malah tertidur di sofa."


"Itu karena kemampuan minummu yang buruk," ucap Ilmi.


"Sudahlah, kalian pulang dulu. Aku akan menyuruh asistenku untuk membersihkan rumah," kata Tedy.


Tidak ada yang terjadi setelah kejadian itu. Namun, sebulan kemudian Sari mengajak semuanya berkumpul di tempat Tedy. Sementara Lolita telah pergi ke Singapura demi pekerjaannya.


"Ini tidak mungkin!" kata Elno. "Kenapa baru sekarang kamu ingin aku bertanggung jawab?"


"Karena aku hamil, Elno. Ini anakmu," ucap Sari.


Elno menggeleng. "Aku sudah punya istri. Tidak mungkin aku menikahimu. Lagian kita itu hanya bersenang-senang."


"Jadi pria harus bertanggung jawab, Elno," kata Tedy.


"Kamu telah menghancurkan masa depan Sari," ucap Ilmi menambahkan.


"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin mengkhianati Kara. Lebih baik gugurkan saja," kata Elno.


Sari terisak. "Tega kamu, Elno. Bagaimana dengan nasibku? Orang tua dan pekerjaanku. Mudah sekali kamu mengatakan untuk menggugurkan kandunganku."


"Kamu harus bertanggung jawab, Elno," desak Ilmi.


"Baiklah," ucap Elno pasrah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2