
Kara heran melihat lima test pack yang dibeli suaminya. Padahal ia tidak ada memesan tes kehamilan itu. Memang tangan Kara sangat gatal untuk melakukan test sendiri, tetapi ia takut kecewa bila tidak sesuai harapan.
Kara dan Elno juga sudah mengikuti program untuk mendapatkan bayi kembar. Memang keduanya tidak berharap mendapatkan sepasang bayi, tetapi mengandung kembali saja Kara amat bersyukur. Entah kapan Sang Pencipta mengabulkan keinginannya itu.
"Kok, beli ini?" tanya Kara.
"Buat test. Kali saja ada menghuni di dalam sana," jawab Elno.
"Besok pagi saja test-nya. Misal enggak jadi gimana?"
"Kamu takut apa, sih, Sayang? Kan, kamu sudah pernah hamil. Kita juga baik-baik saja. Jangan pikirin hal yang begitu. Sekarang makan saja soto-nya. Nanti keburu dingin."
Kara mengangguk. "Iya, besok pagi aku bakal test."
Hanya sedikit soto yang dapat Kara makan. Tubuhnya meriang dengan keadaan yang selalu mengantuk. Elno menghabiskan soto bekas istrinya setelah itu menyusul Kara masuk kamar.
"Besok ke dokter saja kalau enggak ada perubahan," kata Elno.
"Aku baik-baik saja, kok. Mungkin kelelahan."
"Kamu tidur saja," kata Elno yang ikut merebahkan diri di samping Kara.
"Enggak balik kantor?"
__ADS_1
Elno menggeleng. "Mau tidur juga."
Kara tersenyum, lalu masuk dalam dekapan tubuh suaminya. Dipeluk begitu sangat nyaman. Tidak butuh waktu lama untuk Kara memejam mata dan terlelap bersama Elno.
Elno terbangun ketika matahari sudah terbenam. Sementara Kara masih pulas dalam tidurnya. Ia rasa kening sang istri yang hangat. Elno kecup, lalu ia naikkan selimut tebal itu sampai batas leher.
"Kasihan istriku. Mungkin dia lelah mengurusku dan usahanya," gumam Elno, lalu turun dari tempat tidur.
Elno kumpulkan pakaian kotor yang ada di keranjang cucian. Ia pisahkan baju dan dalaman milik Kara serta dirinya. Kemudian membawa pakaian itu ke bawah.
Untuk pakaian, maka bibi yang akan mencucinya. Sementara pakaian dalaman adalah bagian Kara. Karena sang istri tengah sakit, maka Elno yang mengerjakannya.
"Biar saya saja, Tuan," ucap Bibi pelayan.
Sang bibi malah tersenyum. Inilah yang membuatnya betah bekerja di rumah Elno. Keduanya begitu baik.
"Biar Bibi siapkan makan malam."
"Iya, nanti Kara mau makan," kata Elno.
Asik mencuci, Elno tidak sadar kalau Kara sudah bangun dan menyusul ke kamar mandi belakang rumah. Melihat Elno, tentu saja mengingatkan Kara di rumah sewa. Dulu Elno juga tidak segan untuk mencuci pakaian.
"Yang bersih, ya, Sayang. Kan, kamu juga yang buat kotor," tegur Kara.
__ADS_1
Elno menoleh. "Iya, Nyonya."
"Kenapa enggak pakai mesin cuci saja? Tinggal nyemplung beres."
"Enggak bersih. Dalaman ini sudah dua hari tidak kamu ganti," ucap Elno seraya menunjukkan dalaman yang mirip kacamata. "Ada daki yang menempel."
"Sayang, kamu fitnah. Aku tiap hari ganti, kok," protes Kara.
Elno tertawa. "Iya, aku tahu, Kok. Kamu makan malam dulu sana. Aku bilas pakai mesin cuci saja."
"Makan bersama," kata Kara.
Kara menunggu Elno di meja makan. Setelah suaminya itu selesai dengan pekerjaan dan duduk di kursi kepala keluarga, Kara pun melayaninya.
"Maaf, ya, Sayang. Malam ini kamu enggak makan masakan aku," kata Kara.
"Enggak apa-apa. Kan, aku dilayani sama kamu," sahut Elno seraya mencubit kecil pipi istrinya.
"Habiskan makanannya kalau gitu."
Selesai makan, Kara malah beranjak dari duduknya dan berlari menuju wastafel. Ia memuntahkan makanan yang baru masuk ke perutnya.
"Sayang, kamu hamil," kata Elno yang ikut mengekor dari belakang.
__ADS_1
Bersambung